Langsung ke konten utama

Postingan

Tiga Hal Yang Menarik Dari Diri Prabowo Jika Jadi Presiden

Seumur-umur lihat Pemilu, baru pada 2019 inilah yang paling menegangkan. Entahlah, akan seperti apa pemilu ke depan. Rematch antara Joko Widodo vis a vis Prabowo Subianto ini akan selalu terkenang dalam benak masyarakat Indonesia. Pasalnya, gelombang demonstrasi terus bergejolak, hingga gugur korban nyawa. Semoga ini kali terakhir kalinya, ya. Amin. ;)
Suasana keterbelahan hingga saat menjelang hari pencoblosan amatlah terasa. Kedua kubu saling menggelari. Cebong untuk kubu pendukung Jokowi. Kubu Prabowo sendiri disebut Kampret. Media sosial memfasilitasi terjadinya perang hujat dan caci maki yang amat mengerikan. Aduh, pokoknya kalau ingat masa kampanye, kadang sampai ketawa sendiri. Mungkin karena kelewatan panas, jadinya malah lucu. Segala jenis umpatan bertebaran ke sana ke mari.
Postingan terbaru

Mengenang KH. Ahmad Syarwani Zuhri

Kabar itu datang tibatiba: KH. A. Syarwani Zuhri meninggal dunia. Ia berseliweran di  laman berita instagramku @rakastambol. Segera kukonfirmasi kabar itu ke salah satu kawanku via WhatsApp. Iya, betul. Beliau memang telah kembali ke hadirat Ilahi, 26 Maret 2019. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Bayangan tentang sosok beliau segera memenuhi benakku seketika. Ada kesedihan yang tak mampu kujelaskan. Beberapa kenangan bersama beliau masih terpatri jelas di ingatan. Abuya, begitu biasa kami memanggil beliau.

Cinta Harus Segitiga

Aku mencintai guruku (Plato), tapi aku lebih mencintai Kebenaran.” Aristoteles. +++

Jika diringkas menjadi satu kalimat, buku setipis 177 halaman ini, agaknya, adalah ‘cinta harus segitiga’. Dan jika disederhanakan menjadi satu kata, maka ia adalah ‘kepentingan’.
Meskipun tergolong tipis, tapi buku ini membincang perihal amat penting dalam kehidupan umat manusia: persahabatan. Dalam kaitannya dengan persahabatan inilah cinta menemukan penjelasannya yang tidak biasa-biasa saja.


Buku ini adalah terjemahan dari teks klasik berjudul Lysis, salah satu karya filsuf masyhur asal Yunani, Plato(n). Filsuf ini hidup di Athena, Yunani, tahun 428/427-347/346 SM.
Sungguhpun demikian, pemikirannya hingga detik ini tak kunjung sepi dari perbincangan umat manusia sedunia.

Jangan Lupa Bahagia

Sebuah organisasi di Inggris, Varkey Foundation, melalukan riset mengenai kebahagiaan anak muda di dunia. Riset tersebut mewawancarai generasi Z dari 20 Negara. Di antaranya, Amerika, Jepang, Turki, Jerman, Australia, Rusia, Itali, Korea Utara, Afrika Selatan, Israel dan Indonesia.
Responden adalah anak-anak muda yang lahir pada periode 1995-2001 atau yang disebut sebagai generasi Z. Jumlah responden sekitar 20.000 orang. Generasi Z merupakan angkatan pertama umat manusia yang menjadi ‘penduduk’ dunia digital (netizen), terutama untuk kegiatan sosial media.

Argumentasi Pluralisme Agama

Dulu, Utsman bin Affan melalui kekuatan politiknya menunggalkan Al-Qur’an. Pelbagai Al-Qur’an milik sahabat yang berbeda dari mushaf versi Utsman diberangus. Salah satu alasan penunggalan tersebut adalah pertikaian para sahabat akibat perbedaan versi Al-Qur’an, terutama ihwal bacaan. Padahal, para sahabat tersebut juga hidup bersama dan menerima langsung (talaqqi) Al-Qur’an dari Muhammad.

Panitia seleksi ayat untuk pembukuan (kodifikasi) Al-Qur’an pada waktu itu, agaknya, tak pernah menduga bila beberapa ayat yang mereka loloskan untuk menjadi bagian dari Al-Qur’an yang dapat kita baca saat ini, di kemudian hari menjadi dalil suci guna merayakan pertikaian. Suatu perkara yang dahulu melambari mereka menegaskan penunggalan.

Sungging

Para wanita itu pulang dari tempat pemujaan. Tak jauh dari mereka, seorang pemuda, Ken Arok, mengintai yang paling jelita. Setiap langkahnya memendarkan cahaya. 

Menurut kepercayaan, wanita yang anggota badannya memancarkan sinar akan menurunkan para raja dan ratu di masa akan datang. Dialah Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung, Akuwu dari Tumapel.

Ustad Hotel

Abdul Razaq, sang ayah, harus menunggu hingga kelahiran kelima untuk punya anak lakilaki, Faizal. Jatuh sakit, di usia batita, Faizal, dan keempat kakak perempuannya, sesenggukan menyaksikan kemangkatan ibu mereka. Farida. Razaq pun memboyong seluruh anaknya ke Dubai meninggalkan kampung halaman.
Sesungguhnya, dalam diri Faizal (Faizi) mengalir bakat sang kakek, Karim Ikka. Sejak kecil, ia begitu menggemari urusan perdapuran. Razaq sendiri teramat menentang hal itu karena dianggapnya sebagai pekerjaan memalukan. Ia keras ingin memutus mata rantai generasi anak cucunya dari label ‘tukang masak’.
Saat dewasa, jelang merantau ke Swiss untuk berkuliah, Faizi dan Razaq bersepakat agar bungsunya itu mengambil jurusan perhotelan. “Sepulangmu, Nak, dengan harta kekayaanku, kita akan mendirikan hotel bintang lima untuk kau kelola,” kata Razaq.