Jumat, 13 Oktober 2017

Jangan Lupa Bahagia

Sebuah organisasi di Inggris, Varkey Foundation, melalukan riset mengenai kebahagiaan anak muda di dunia. Riset tersebut mewawancarai generasi Z dari 20 Negara. Di antaranya, Amerika, Jepang, Turki, Jerman, Australia, Rusia, Itali, Korea Utara, Afrika Selatan, Israel dan Indonesia.

Responden adalah anak-anak muda yang lahir pada periode 1995-2001 atau yang disebut sebagai generasi Z. Jumlah responden sekitar 20.000 orang. Generasi Z merupakan angkatan pertama umat manusia yang menjadi ‘penduduk’ dunia digital (netizen), terutama untuk kegiatan sosial media.
https://www.shrm.org/
Read more

Argumentasi Pluralisme Agama



Dulu, Utsman bin Affan melalui kekuatan politiknya menunggalkan Al-Qur’an. Pelbagai Al-Qur’an milik sahabat yang berbeda dari mushaf versi Utsman diberangus. Salah satu alasan penunggalan tersebut adalah pertikaian para sahabat akibat perbedaan versi Al-Qur’an, terutama ihwal bacaan. Padahal, para sahabat tersebut juga hidup bersama dan menerima langsung (talaqqi) Al-Qur’an dari Muhammad.


Panitia seleksi ayat untuk pembukuan (kodifikasi) Al-Qur’an pada waktu itu, agaknya, tak pernah menduga bila beberapa ayat yang mereka loloskan untuk menjadi bagian dari Al-Qur’an yang dapat kita baca saat ini, di kemudian hari menjadi dalil suci guna merayakan pertikaian. Suatu perkara yang dahulu melambari mereka menegaskan penunggalan.


Read more

Sungging



Para wanita itu pulang dari tempat pemujaan. Tak jauh dari mereka, seorang pemuda, Ken Arok, mengintai yang paling jelita. Setiap langkahnya memendarkan cahaya. 

Menurut kepercayaan, wanita yang anggota badannya memancarkan sinar akan menurunkan para raja dan ratu di masa akan datang. Dialah Ken Dedes, isteri Tunggul Ametung, Akuwu dari Tumapel.
Read more

Sabtu, 24 Juni 2017

Ustad Hotel


Abdul Razaq, sang ayah, harus menunggu hingga kelahiran kelima untuk punya anak lakilaki, Faizal. Jatuh sakit, di usia batita, Faizal, dan keempat kakak perempuannya, sesenggukan menyaksikan kemangkatan ibu mereka. Farida. Razaq pun memboyong seluruh anaknya ke Dubai meninggalkan kampung halaman.

Sesungguhnya, dalam diri Faizal (Faizi) mengalir bakat sang kakek, Karim Ikka. Sejak kecil, ia begitu menggemari urusan perdapuran. Razaq sendiri teramat menentang hal itu karena dianggapnya sebagai pekerjaan memalukan. Ia keras ingin memutus mata rantai generasi anak cucunya dari label ‘tukang masak’.

Saat dewasa, jelang merantau ke Swiss untuk berkuliah, Faizi dan Razaq bersepakat agar bungsunya itu mengambil jurusan perhotelan. “Sepulangmu, Nak, dengan harta kekayaanku, kita akan mendirikan hotel bintang lima untuk kau kelola,” kata Razaq.

Read more

Sabtu, 27 Mei 2017

Islam, Tuhan, dan Manusia

Meningkahi usianya yang akan memasuki 60 tahun, Haidar Bagir mengumpulkan tulisantulisannya selama satu dekade terakhir. Melalui proses koleksi-seleksi-eliminasi-publikasi lahirlah ini buku.
“Kalaupun saya menulis biografi, maka saya katakan kepada temanteman, bentuknya adalah semacam-istilah saya sendiri-‘mistakografi’ atau ‘errografi’,” tulis Haidar, yang sesungguhnya, keberatan ulang tahunnya dirayakan (h.xxvi).
Keterbitan buku ini, agaknya, menghadirkan sebuah ironi. Apa pasal? Begini. Pada bab I, ada sebuah tulisan berjudul “Dunia Kita yang Sedang Meluruh”. Tulisan tersebut merupakan karya perdana Haidar yang dimuat Harian Kompas pada tahun 1985 alias 32 tahun silam.
Read more

Selasa, 25 April 2017

Mewaspadai Internet

Nicholas Carr
Adalah Nicholas Carr, pegiat teknologi dan budaya, pria kelahiran tahun 1959. Hitung saja usia Carr tahun itu. Dari situ kusimpulkan bahwa Carr, agaknya, begitu gelisah menghadapi masa transisi dirinya dari menggunakan media konvesional, cetak-kertas, ke media teranyar, digital-layar.

Buku ini sepenuhnya mengartikulasikan kerisauan Carr mengenai dampak destruktif internet bagi dirinya, manusia, terutama pada organ vital kita, yakni otak.Ia yakin betul bahwa internet, berikut segala perangkatnya, punya konsekuensi fisik dan budaya umat manusia. Oleh karena itu, temuan abad mutakhir ini patut diwaspadai, sewaspadawaspadanya.
Read more

Sabtu, 04 Maret 2017

Tengok



Kalau ada buku yang harus kupilih sebagai buku favorit, maka itu adalah buku diary. Buku diary, dengan pengertian tertentu, terhimpun oleh luapan kejujuran si penulis ihwal dirinya.
Pada perbincangan mendalam seseorang kepada dirinya sendirilah, kita dapat menilik sekaligus mengkonfirmasi sisi kemanusiaan kita yang bersamasama kita punyai. Mematutmatut diri.
Dan pada lembar demi lembar buku ini, saya mengeja kejujuran itu: kejujuran kisah perjalanan ‘naik’ seorang insan merindukan Sang Sumber nun jauh di ‘atas’. Sebuah perjalanan naik yang "hanya dilakukan oleh ‘yang mau’ (murid) saja” (hal.27).
Dari segenap refleksi penulis mengenai perjalanan hidupnya, ini bagian yang paling estetis. “Saya suka filsafat. Filsafat adalah dunia saya. Awalnya, saya suka eksistensialisme, terutama Jean Paul Sartre. Sartre menyeret saya sampai di bibir jurang ‘kehampaan makna’. Rumi menyelamatkan saya!” (h.38).

Read more