Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

dia bercerita

Suara itu...

Rabu, 11 Maret 2011 (22:45)

Tadi pagi kak Renny sedikit berbeda dari hari sebelumnya, entah, dia tampak pucat, namun dia tetap saja tersenyum jik|

''Hayyooo!, lagi ngetik apaan! Pasti tentang si ehm, ehm''

''Djuancuuuk! bikin kaget aja lu rin! Sono tutup pintu, masuk kagak salam, nyelonong bae''

Ahfa sigap menutup folder di notebook-nya dan mengganti folder lain.

''Tugas gua tuh numpuk, nih lagi garap makalah buat dipresentasiin besok Senin''

''Ciee, yang tugasnya numpuk''

dia bercerita

Ikhlaskanlah

Hari ini aku bertengkar lagi dengannya. Ia pulang lewat tengah malam, membuatku cemas menunggunya di ruang tamu sejak makan malam usai.
"Vega kan tadi sudah bilang, tidur saja duluan. Vega bawa kunci kok," ujarnya sambil melepas sepatu.
"Tidur, tidur! Kamu tuh tuh ya, udah dibilangin berapa kali, milih temen tuh yang bener! Disuruh nganterin dari ujung ke ujung, kok mau aja. Kita tuh tinggal di Otista, mau-maunya kamu capek-capek bolak-balik dari kampus ke Pulogadung dulu," delikku kesal ke arahnya.
"Tapi kan kasihan, udah malem juga," ujarnya masih membela temannya.
"Kasihan-kasihan, dia kasihan nggak sama kamu?? Dia kan bisa nginep dulu sama temen yang kosannya deket kampus. Temen jahat gitu kok masih dibelain terus," tangkisku sewot.
"Yaudah lah, Vega tidur dulu," sahutnya letih.

dia bercerita (Berlarilah, Risto!)

"Masih di 94.3 FM Planet Radio, Spirit of The City.. Kali ini gue, Ardan Don bakal nemenin lu selama dua jam ke depan dengan single-single manis spesial malam mingguan. Buat yang lagi di jalan, otewe ke tempat dinner bareng gandengan, atau yang lagi meluk guling menikmati kegalauan, ini dia first track kita, Mocca dengan On The Night Like This."

Dia bercerita: Pulang Hari Ini

Yusran duduk lemas di kursinya. Ditopangkannya dagu ke tangan. Di hadapannya, meja makan belum lagi terisi. Kosong.
Cemberut, dipalingkannya wajah ke Emaknya yang sibuk menyalakan kompor minyaknya.
"Mak, buka masih lama ya?" "Kenapa? Uran sudah lapar?" ditatapnya Yusran, menahan geli melihat cemberutnya. "Tunggu sja sebentar lagi, belum juga adzan, Ran," lanjutnya sambil mulai menggulai.
Yusran mendorong kursinya ke belakang, beralih ke ruang tamu. Diambilnya sesuatu dari bawah meja tamu, lalu dibawanya ke dapur.

dia bercerita

Aku Cantik, Kan?

Arini menyendok sayur di piringku. Perlahan aku membuka mulut. Disuapkannya sepotong ikan dengan cah kangkung.
Kukunyah mujair goreng itu sambil menatap wajahnya.
"Kau tidak memakai bedak lagi ya, Arini?"
Ia menggeleng pelan.
Aku tersenyum, senang melihat wajahnya. Kuketuk piring di tangannya.
"Lagi," pintaku.
Ia pun menyendok lagi.

+++
Kutatap pantulan di cermin. Hari ini mestilah banyak yang menghubungiku, seperti biasanya. Kusemprotkan koleksi terbaru Victoria's Secret yang kubeli semalam bersama Pak Bintoro. Wangi.
Tak percuma aku memberinya service berlebih kemarin.
Kumasukkan make-up dan handphoneku ke dalam tas. Siang ini aku sudah ada janji dengan Pak Cahyo. Shangrilla, kamar 505. Sekilas kulayangkan pandang pada Casio di lenganku. Pukul 11.30.
Bergegas aku keluar dan mengunci pintu kamar. Nada tuk-tak-tuk dari hak sepatuku memelan saat aku tiba di garasi.
Kuhidupkan pintu mobil pemberian Pak Alfred saat ringtoneku bersenandung.
"…

dia bercerita

Diari Denting Hati

Alvin masih terlelap. Aku kembali membaca Yasin dalam diam. Tetap saja tak fokus. Benakku sedari tadi hanya memutar ulang vonis dokter semalam. Leukemia.
Mataku kembali memanas.

Aku tidak rela Ya Rabb..bolehkah aku tidak rela? Mengapa jalan yang kau berikan terasa berliku sejak aku menjalani hidup?

Aku kembali memutar-mutar waktu dalam rekam otak. Aku dibesarkan dalam keluarga muslim yang taat, yang menjadi panutan warga sekitar dalam beribadah dan berbuat. Tapi Ayah adalah pribadi yang keras, tak menghendaki kata tidak dalam jawabku atas pinta dan perintahnya.

Aku menjadi penurut, seperti Ibu. Namun Ibu yang lembut dan patuh itu seringkali menemukan buku harianku yang berisi kemarahan dan kekecewaan atas sikap ayah dengan tinta luntur dimana-mana, terkena tetes tangisku. Aku menentangnya sebatas tulisan. Saat itu.

dia bercerita

Bunda Jangan Marah..

Aku asyik tidur-tiduran di sofa ruang tv saat Arya sibuk dengan lego-legonya. Mataku memicing melihat bayangan di sudut sofa yang perlahan menjelas. Seorang nenek-nenek berkebaya rumahan tersenyum padaku dan Arya. Aku tersenyum balik pada nenek itu, namun dengan segera ia menghilang.

Kubisikkan pada kembaranku itu bahwa aku tadi melihat lagi nenek berkebaya duduk di sofa kami.
"Benarkah, Bim?" tanyanya penasaran. Aku mengangguk kuat-kuat. Belum selesai aku menjelaskan rupa nenek itu saat Bunda masuk ke ruang tv.
"Arya, yuk makan," ujarnya.
"Bima tidak diajak, Bunda?"
Bunda menghela napas sebelum mengusap kepala adikku itu.
"Bima pasti sudah kenyang," jawabnya.
Arya menoleh padaku sebelum beranjak ke ruang makan.
"Jaga istananya ya," bisiknya sambil meletakkan lego terakhir untuk atap istananya.
Aku mengangguk lagi.

+++

Sudah lama aku merasa bahwa Bunda tak sayang padaku. Terlebih saat aku bermain seharian sambil bercerita pa…