Minggu, 14 Agustus 2011

dia bercerita



Diari Denting Hati

Alvin masih terlelap. Aku kembali membaca Yasin dalam diam. Tetap saja tak fokus. Benakku sedari tadi hanya memutar ulang vonis dokter semalam. Leukemia.
Mataku kembali memanas.

Aku tidak rela Ya Rabb..bolehkah aku tidak rela? Mengapa jalan yang kau berikan terasa berliku sejak aku menjalani hidup?

Aku kembali memutar-mutar waktu dalam rekam otak. Aku dibesarkan dalam keluarga muslim yang taat, yang menjadi panutan warga sekitar dalam beribadah dan berbuat. Tapi Ayah adalah pribadi yang keras, tak menghendaki kata tidak dalam jawabku atas pinta dan perintahnya.

Aku menjadi penurut, seperti Ibu. Namun Ibu yang lembut dan patuh itu seringkali menemukan buku harianku yang berisi kemarahan dan kekecewaan atas sikap ayah dengan tinta luntur dimana-mana, terkena tetes tangisku. Aku menentangnya sebatas tulisan. Saat itu.



Tapi Ayah semakin jauh saat ia dan Ibu mengatakan sesuatu di hari kedua aku berumur dua puluh dua tahun. Aku bukan anak kandung mereka. Seakan petir menggelegar di hatiku. Tapi itu belum apa-apa. Kuterima pengakuan mereka dengan bersyukur atas kasih sayang yang dicurahkannya hingga detik itu.
Bagian yang menyakitkan adalah ketika mereka melarangku menemui ayah kandungku, yang kemudian kusebut Bapak,setelah memberitahukan siapa dan dimana lelaki itu. Jiwo namanya, tukang sampah komplek. Ia tinggal di sebuah rumah papan, di belakang komplek kami.
Ayah bilang, ia tidak ingin aku nanti disakitinya, karena banyak yang tidak kutahu tentang dirinya. Sontak aku membantah dalam hati, bagaimana mungkin lelaki tua yang selalu ramah menyapa setiap aku menaruh sampah di depan rumah itu mampu menyakitiku?

Maka setiap hari selanjutnya, teduh wajahnya yang lewat di depan rumah memupuk rindu di hatiku. Ingin rasanya kucium tangannya yang letih menarik gerobak bau itu, atau sekedar menyuguhinya teh saat pulang ke rumah.

Tapi harapku tak pernah sampai. Aku tak pernah bisa hingga ia ditemukan dengan mulut berbusa dan bir oplosan tumpah membasahi lantai papannya. Keracunan. Malamnya aku demam. Dalam igauanku, kulihat Bapak tersenyum mengelus kepalaku yang tunduk mencium tangannya.

Lusanya, badanku masih tak segar. Namun kupaksakan juga datang ke kampus, mengurus wisudaku yang tinggal menghitung hari. Biarlah otakku dipenuhi tetek-bengek acara itu, agar bayang Bapak tak begitu menggerogoti.
Tapi tetap saja aku tak bisa berlama-lama menyimpan sedihku dalam hati. Josh, sahabatku, mampu melihatnya dalam hitungan detik. Kutumpahkan semua sesakku akan Bapak dan Ayah.
"Kenapa harus kehilangan ketika aku baru mengetahuinya," ujarku dengan mata basah.
"Tenanglah Din, kau masih punya aku kan? Aku kan juga keluargamu," jawabnya.
"Tapi darahnya mengaliri darahku, Josh."
"Kalau begitu, buatlah keluarga denganku. Kita satukan darah ini pada anak kita nanti."
Mataku melotot pada mata coklatnya yang indah. Tak kutemukan nada gurau atau dusta.
"Menikahlah denganku, Dini," ujarnya perlahan.
Kutatap parasnya yang diam-diam mengisi sudut hati. Wajahku memerah.

+++

Ayah tentu saja murka saat kuungkapkan keinginan aku dan Josh. Bagaimana tidak, Josh itu Atheis. Tapi kemarahannya tak kupedulikan lagi. Toh Ayah memang tak bisa menjadi wali nikahku.
Nafasnya sedikit tersengal di detik-detik aku meninggalkan rumah.
"Bila kau menikah dengan lelaki tak beragama itu, maka putuslah hubungan kita, Nak."
Kutahan air mataku sambil menarik koper, menyumbat telinga dari tangis Ibu.

+++
Dan di sinilah aku sekarang. Menunggui Alvin, darah dagingku dan Josh di kamarnya. Baru saja akan kutangkupkan tangan saat anak semata wayangku itu membuka mata.
"Mom?"
"Ya, sayang?"
"Mom sedang apa?"
"Mom baru mau berdoa sayang, biar Vin cepat sehat," ujarku sambil tersenyum.
"Amin.. Dad mana, Mom?"
"Dad belum pulang, sayang."
"Apa Dad akan berdoa untuk kesehatanku?"
"Tentu, sayang."
"Tapi, kepada siapa Dad akan berdoa, Mom?"

Saat itulah pertama kalinya aku berharap memiliki suami seperti Ayah, agar mampu kusebut nama-Mu, menjawab pertanyaan Alvin dengan mantap. (TW)

Load disqus comments

0 komentar