Minggu, 14 Agustus 2011

dia bercerita (Berlarilah, Risto!)

"Masih di 94.3 FM Planet Radio, Spirit of The City.. Kali ini gue, Ardan Don bakal nemenin lu selama dua jam ke depan dengan single-single manis spesial malam mingguan. Buat yang lagi di jalan, otewe ke tempat dinner bareng gandengan, atau yang lagi meluk guling menikmati kegalauan, ini dia first track kita, Mocca dengan On The Night Like This."


Risto mendelik mendengar cuap-cuap penyiar di radio favoritnya. Guling yang sedari tadi dikelonnya ia lempar ke bawah kasur. Galau bapak lu pitak, makinya dalam hati.

Hati lelaki baru gede ini memang sedang rusuh. Sohibnya, Bimbim, baru saja jadian dengan cewek kelas tetangga, meninggalkan dirinya yang masih menyandang predikat single fighter alias jomblo. Kalau dihitung-hitung, cuma dia saja cowok yang belum punya gandengan di kelasnya. Perhitungan ini mengecualikan para pria berjenggot tipis anggota rohis yang sepertinya tidak berminat untuk bermain hati dengan wanita di masa SMA.

Risto menatap langit-langit kamarnya. Intro 'Terdiam' dari Maliq and D'essentials membawa khayalnya pada sosok manis di kelas sebelah.

Vega namanya. Gadis tinggi semampai ini berkenalan dengan Risto di awal tahun ajaran, saat Masa Orientasi Sekolah.

Sosoknya yang senang bercanda dan bibirnya yang kerap mengulas senyum membuat Risto serasa menjalani MOS di taman. Berbunga-bunga. Perlahan mata Risto terpejam, membawa memori akan Vega mengalir ke rekam mimpinya.

+++

"To, To, bangun To!!" sorak Bunda.
"Bentar lagi..," gumam Risto sambil ngulet.
"Banguun! Jam tujuh ini jam tujuh! Kamu ga mau sekolah apa??" suara Bunda meninggi.
"Ben.."
BYUURRR!!
Kasur dan wajah Risto basah kuyup diguyur Bunda.
"Makanya kalo disuruh bangun tuh ya langsung bangun!" Dengus Bunda kesal. Ditentengnya ember pengguyur tadi seraya kembali ke dapur.
"Sial..," rutuk Risto pelan.

Sesampainya di sekolah, jam telah mengacungkan jarumnya ke pukul setengah delapan. Risto telat setengah jam. Di depan meja piket, dengan sabar ia menyimak kicauan guru yang sedang jaga. Sambil menahan kuap, dikerlingkannya mata ke sekeliling. Deg! Ada Vega sedang berjalan ke arah kantor guru. Mata Risto hampir saja tak lepas dari si gadis bila guru piketnya tak menghardik.
"Kamu dengerin saya ngga?? Tidak sopan kamu ya!"
"Maaf Bu.."

Seusai ceramah singkat dari guru piket, Risto pun melangkah gontai ke kelasnya. Sebelum memasuki pintu kelas, nada dari surga menyentuh cuping telinganya.
"Risto!" panggil Vega.
"Eh, kenapa Veg?" sahut Risto gugup.
"Tadi Pak Maman bilang, nanti sore kita olahraga jam tiga, ambil nilai lari. tolong bilangin ketua kelasnya ya," pesan si gadis.
"Oh oke."
"Ya udah, gue masuk kelas dulu ya," ujar Vega sambil tersenyum.
"Iya," balas Risto, berusaha mengeluarkan cengiran termanisnya.

Di dalam kelas, seringai di wajahnya belum juga hilang. Bunga-bunga imajinasi di hatinya masih terlalu kembang untuk dikontrol otak. Badannya terasa ringan saat melangkah ke meja, sebelum gelegar bariton suara Pak Endang menghentikan langkahnya.

"Manis sekali cengiran kamu nak.. Tidak pakai salam, tidak pakai ketuk pintu pula. Berdiri bebek di pojok!"
"Maaf pak."
Dan berdirilah Risto di sudut kelas, menirukan prototype unggas yang malas terbang itu.
Tapi otaknya tak lepas dari bayang gadis kelas sebelah. Pokoknya, nanti sehabis olahraga, gue musti bisa pulang bareng Vega, tekadnya dalam hati.

+++

Matahari masih cukup terik saat Risto dan kawan-kawannya berkumpul di GOR Agus Salim. Dari jauh, Risto melihat Vega sesekali mengusap keringat dengan punggung tangannya. Harus bisa, harus bisa, gumamnya mengingat tekad tadi pagi.

Para siswi mengambil nilai lari terlebih dahulu. Mata Risto masih mengawasi gadis idamannya yang mencapai garis finish di urutan terdepan.
Keren, gue aja biasanya ngos-ngosan, batin Risto.
Tak lama kemudian, ia mendengar Pak Maman berteriak memanggil namanya. Ia pun mengambil posisi. Sejurus pluit disemprit, ia pun mulai berlari.

Saat melewati tiga perempat lapangan, dari kejauhan Risto melihat pria bermotor mendekati seorang gadis manis. Vega!, batinnya berteriak. Jangan-jangan ada yang menjemputnya pulang, jangan-jangan niat gue hari ini gagal lagi, pikirnya panik. Ia mempercepat larinya. Kakinya serasa terbang di sepanjang rataan bata dan pasir yang ditapakinya.

Sayang, meski badannya yang kurus mencapai garis finish paling awal, hanya asap sepeda motor si pria yang menyambut deru nafasnya.

+++
 

Badan Risto serasa remuk. Kakinya malah sudah tak terasa lagi, seperti putus setelah berlari tadi. Bego, udah tau ni badan ngga kuat, masih aja digeber, ujarnya dalam hati, memaki diri.
Tangannya yang lemas menggapai-gapai tombol power radio. Dipejamkannya mata sambil berbaring, mengisi energi kembali dengan cuap-cuap dari radio favoritnya.
"Masih di Planet Radio, selamat malam?"
"Malam.."
"Dengan siapa ini?"
"Ve Mavarinda."
"Bujug, panjang amat namanya neng geulis.. .au request apa malam ini?"
"RAN-Karena Kusuka Dirimu.."
"Aih sweet amat neng..salam-salamnya buat siapa?"
"Mmm..buat si kurus yang tadi lari paling kenceng aja..selamat ya nyampe paling depan di finish.."
"Asik deh si kurus..Namanya siapa neng?"
"Ada deh.."
"Oke ini dia..RAN dengan Karena Kusuka Dirimu, pesenan Ve Mavarinda biat si kurus, check this out."

Mata Risto sontak melotot. Dadanya berdegup kencang. Yang tadi lari nyampe finish duluan kan gue, anak sekolahan lain tadi juga ga ada yang lari di GOR, batinnya berdetak. Ve Mavarinda..siapa ya? Selintas memorinya melayang ke masa awal MOS, saat gadis idamannya dibentak-bentak senior galak.

"Siapa nama kamu?!!"
"Vega Mavarinda kak.."

Kamarnya serasa menjadi taman penuh
bunga. (TW)

Load disqus comments

0 komentar