Minggu, 14 Agustus 2011

dia bercerita


Suara itu...

Rabu, 11 Maret 2011 (22:45)

Tadi pagi kak Renny sedikit berbeda dari hari sebelumnya, entah, dia tampak pucat, namun dia tetap saja tersenyum jik|

''Hayyooo!, lagi ngetik apaan! Pasti tentang si ehm, ehm''

''Djuancuuuk! bikin kaget aja lu rin! Sono tutup pintu, masuk kagak salam, nyelonong bae''

Ahfa sigap menutup folder di notebook-nya dan mengganti folder lain.

''Tugas gua tuh numpuk, nih lagi garap makalah buat dipresentasiin besok Senin''

''Ciee, yang tugasnya numpuk''

Ahfa memang sangat pemalu dalam urusan perempuan, sejak mengetahui bahwa gadis pujaannya lebih suka kepada ketua kelas ketimbang dirinya pada saat kelas tiga SD dulu di kampung halaman, hingga menjelang semester tiga di bangku kuliah pun dia masih begitu tangguh berposisi sebagai juara bertahan pemangguh gelar Joker (jomblo keren), sakit, tapi sakit itu kini mulai mencair sejak memasuki dunia kampus. Fahrin, teman sedari kecilnya di Lamongan hingga kini ke Ibukota, pun tak tahu banyak tentang itu, kecuali tentang Fia dan Vina, dua sahabat yang pernah bertengkar hebat demi memenangkan 'piala' perhatian Ahfa. Beberapa adik kelasnya pun hingga kini masih saja tanpa henti silih berganti menghubunginya, lewat sms, telpon, facebook, email, sampai kepada dua hari lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak di kosan setelah menerima paket kiriman kantor pos dari Irma, sebuah foto editan Ahfa dan Irma tengah duduk bersanding di belakangnya tertulis terjemahan kidung Tuhan an-nur 26. Aktifis perempuan Rohis luluh di tangan anak Band, apa kata dunia.

Ahfa memang tampak supel, senantiasa ceria, semi-sanguinis padahal ia melankonlis, segala lakunya tampak introvert, meski begitu ia begitu piawai dalam berbicara, dan satu lagi, urusan 'casing' luar sudah banyak yang mengetahuinya, di kelas pun begitu, orang bisa saja terkecoh membedakan antara dia dan aktor pria ganteng Indra Brugman, jika saja ia memiliki postur lebih tinggi dan di bagian kening kirinya tidak ada bekas luka jahitan, dia memang pecinta olah raga sepak bola fanatik, luka tersebut bekas tawuran dengan SMAN 75 Lamongan pada sesi final melawan sekolahnya.

''Sudahlah fa, masih banyak gadis lain di kampus bisa lu taklukin, entar kualat lo, masak suka ama kakak semester sendiri, eling bro, eling, ntar kualat anak lu bisa juling semua, hahaha, ayo mangan, gua udah bungkusin nasi tuh, selak kebengen (keburu malam)'', Fahrin menggoda, hampir satu tahun di Ciputat membuat bahasa mereka perlahan berganti dengan bahasa Ibukota, gaul katanya, meski Fahrin tidaklah sejago Ahfa, tapi Ahfa selalu akrab berbicang bersama sahabat semata wayangnya itu dengan bahasa jawa, karena bahasa mengandung rasa, begitu slogan Ahfa. ''Berisik ah! tak kemplang raimu rin, aq ijek nggarap tugas iki lo, wis diseko (berisik, mukamu gua tabokin lo, gua masih garap tugas, duluan saja lah)''.

''Hey kawan, lu kaga ingat kata Soekarno, jangan sekali-kali melupakan sejarah, kakek buyut kita dulu bertempur berjuang melawan kaum Pasundan, sebagai cucu yang baik hargailah patron pendulum bangsa jawa, udah urangnya lebih, urang sunda pula, lu mau kehilangan hurup ep (f), ntar balik ke SD lagi dong, kang ahpa, kang ahpa, week!''. Fahrin memang begitu, putra semata wayang yang selalu manja bersama 'kakak'nya, Ahfa Anggono.

''Seharusnya, kakek buyut kita itu dulu belajar mencintai bangsa lain, jika bukan karena Aceh, Sumatra, Makassar, Maluku, dan Papua konsep Nusantara mungkin hanya menjadi sebuah dongeng indah untuk menemani tidur anak-anak, lagian ini kan udah jaman modern, jaman globalisasi, masih aja hidup dalam nilai kebudayaan klasik yang berbau patriarki, patronisme, paternalistik dan...''

''Nah lo, widih, widih, serem ah, takut ah, mulai ceramah lagi, ya wis, ya wis karepmu, karepmu,'' Fahrin sangat paham kalau berbicara tentang sejarah, Anhar Gonggong pun bisa kalah kalau diadu dengan Ahfa, begitu menurutnya.

Malam menggelap, angin lembut bertiup masuk melalui jendela kamar yang masih terbuka, Fahrin tidur dengan pulas, wajahnya begitu sumringah, barangkali karena percakapan terakhir menjelang tidur tadi dengan Rina, pacarnya, hari minggu ini mereka berdua akan menonton film terbaru 'Tanpa Judul (?)' karya sutradara idolanya, Hanung Bramantyo. Ahfa masih tetap terjaga sembari melanjutkan menggarap 'tugas'nya, hingga menjelang pukul 01.00''

Semoga dalam dua bulan ke depan aku bisa menjadi yang terbaik, hmm, pesimis banget, DUA BULAN KE DEPAN AKU PASTI MENJADI YANG TERBAIK DAN LOLOS! I'll be your best partner|

Tulisnya sebagai penutup di malam itu.

+++

Kepulan debu dan asap menyesakkan suasana pagi, hilir mudik kendaraan bermotor berseliweran dengan berbagai arah tujuan, tanpa peduli keselamatan pejalan kaki dan sesama pengendara, saling salip satu sama lain, tiga mahasiswa tampak rapi dipinggir jalan bersiap menyeberang. Lokasi Universitas Islam Tangerang (UIT) memang strategis karena berada dipinggir jalan raya besar yang menghubungkan Ibukota dengan kota lain seperti Depok, Bogor. Melahirkan banyak tokoh nasional dan prestasi di bidang keilmuan, merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi peminatnya, selain karena murah dan sebagai universitas alternatif.
Tiga mahasiswa itu sendiri tak begitu memiliki alasan tersendiri mengapa harus berkuliah di UIT, yang pasti mereka sudah cukup senang bisa lolos seleksi beasiswa BIDIK MISI lalu berkuliah di kampung halaman mereka, ketimbang harus kehilangan masa penghujung usia remaja mereka setelah sebelumnya harus hidup tanpa menggoreskan sejarah hidup bahwa, 'saya dulu mahasiswa', setidaknya ada kebanggaan tersendiri ketika kelak hidup di kampung halaman, atau sekedar sebagai 'pelarian' karena universitas yang mereka impikan harus benar-benar menjadi mimpi belaka, atau mungkin orang tua mereka terlalu khawatir jika sang buah hati kelak tidak menjadi manusia yang beragama sehingga harus berkuliah di sana, atau apalah...

Sepertinya bagi Ahfa, Fahrin, dan Joko itu bukan sebuah alasan, namun setelah semester pertama perlahan Joko, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, sudah menemukan jati dirinya, pemikiran Whitehead dan Arkoun telah memantapkannya bersiap menjadi tokoh filsuf pula. Buktinya, teman Ahfa dan Fahrin saja rela ia tinggalkan ngekos di tempat lain hanya karena menurutnya kurang komunikatif dengan mereka, meski keduanya tidak tahu alasan kepindahannya dua bulan lalu, biar dekat masjid katanya. Sementara Fahrin, masih terjebak dalam nuansa romantisme SMAnya, sepertinya semua harus selalu berada di bawahnya, persis ketika ia menjadi ketua OSIS dulu. Persetan dengan guru! Ia aktif di UKM KAPAK, kegitan mahasiswa di bidang musik. Ahfa seorang mahasiswa fakultas komunikasi, jurusan jurnalistik, sama seperti Fahrin. Ia lebih bersemangat di dunia infotainment, penyiaran dan kejurnalistikan, hal tersebut semakin menggebu-gebu setelah kehadiran sosok Renny, kakak kelas semesternya di fakultas yang sama namun berbeda jurusan, Renny mahasiswi KPI.

Pagi ini, pagi yang cerah sekaligus hari yang melelahkan, begitu seterusnya dalam dua minggu ke depan, mereka tengah melaksanakan UAS. Meski begitu Ahfa tak begitu peduli dengan hasil UAS, sebab dua hari lalu ia baru usai mengikuti ujian seleksi menjadi penyiar di Radio Komunikasi Kampus (RKK), kak Renny sendiri adalah ratu penyiar di radio komunitas tersebut. Ahfa senantiasa merasakan kekuatan tersendiri mendengar suara kak Renny di balik sana, karakter suara ka Renny seperti candu, candu yang begitu nikmat bagi jiwa Ahfa, iya, dia begitu mengidolakan kak Renny.

Senin, 16 Juni 2011 (01.45)

UAS hari ini lumayan melelahkan. Awal bulan depan pengumuman kelulusan seleksi penyiar RKK. Jika tidak lulus UAS, aku rela saja, tapi jika tidak lulus seleksi jadi penyiar di RKK...duh Gusti|

+++
''Radio itu seperti benda ajaib, dan penyiar itu adalah seorang penyihir! Seorang penyiar harus bisa memberikan nuansa magis kepada pendengarnya, memotivasi, menginspirasi, dan selalu memberi. Anda sekalian juga dituntut dapat menampilkan sesuatu yang abstrak dan nonvisual menjadi sesuatu visual, dengan penggambaran yang teliti. Anda semua harus bisa menyajikan sesuatu yang tampak sepele menjadi hal yang bermakna bagi pendengar, sentuh unsur indera mereka, buat mereka menghirup, merasa, mendengar, meraba, mainkan imajinasi mereka, hingga mereka hanyut dalam festifal simfoni imajinasi mereka, bring them to the their own theater of minds! Kunci kesuksesan siaran radio adalah 80%personalitas penyiarnya''

Kata sambutan kak Renny begitu menghujam dalam sanubari Ahfa, dia hampir saja menangis jika saja tak malu karena duduk di depan. Bulu kuduknya merinding. Dia bak musafir kehausan yang menemukan oase dengan segala kenikmatannya. Sebenarnya bukan karena kata-katanya, melainkan sosok yang berbicara itu... ''Terlalu jauh masuk ke hati, bulan lalu saat demamku, hari rabu, kamis, dan jum'at adalah hari yang kunantikan, sekedar untuk mendengarmu berbicara, tertawa, bercoleh. Awal semester kau juga yang pertama mengatakan, ''Selamat berpetualang di dunia kampus, jaga semangat ya buat adik-adik baru!'' lagu yang aku request for someone kemarin, sebenarnya untuk kamu...''

Jantungnya berdetak kencang ketika kepala RKK usai menyampaikan sambutan pada terakhir di hadapan segenap hadirin. Suasana dingin air conditioner semakin membuat segenap peserta seleksi lainnya kedinginan, cemas, dan takut. Tiga bulan mengikuti pelatihan, dari puluhan peserta yang lolos hanya akan ada delapan orang. Empat mahasiwa dan mahasiswi.

Selasa, 3 Juni 2011 (22.45)

Thanks God...! I'll be her best partner in broadcasting, I swear.|
+++

Sudah tujuh bulan Ahfa menjadi penyiar kampus di RKK, suaranya begitu merdu, ada puluhan sms request yang tak sempat terbaca setiap di on air, gaya bahasanya sangat berkarakter, kelancaran ngomong, kehalusan mixing- memadukan lagu, memutar iklan, mengatur keseimbangan level bunyi, begitu rapi. Sebuah pelajaran peninggalan berharga dari kak Renny yang begitu 'digilainya' pada waktu masa pelatihan dulu, setelah sebelumnya kak Renny pun memutuskan untuk tidak maju pada pemilihan ketua RKK karena mengundurkan diri, padahal tidak ada yang meragukan skillnya. Ingin fokus kuliah dan bekerja di luar katanya, dia gadis mandiri.

Harapan Ahfa pupus untuk bisa lebih dekat dengan kak Renny, butuh beberpa waktu untuk melupakannya, ia adalah idolanya, dan kini ia duduk di kursi di mana kak Renny dulu pernah 'menyihirnya'. Dia duduk berdampingan dengan Agnes, mahasiswi sunda asal Depok, partnernya dalam bertugas. Tanpa ia sadari namanya kini selalu menjadi obrolan para mahasiswi di kampus UIT.

Senin, 6 Maret 2012 (22.35)

Tuhan, skenariomu begitu anggun...|

+++ (RK)


Load disqus comments

0 komentar