Minggu, 14 Agustus 2011

dia bercerita

Ikhlaskanlah

Hari ini aku bertengkar lagi dengannya. Ia pulang lewat tengah malam, membuatku cemas menunggunya di ruang tamu sejak makan malam usai.
"Vega kan tadi sudah bilang, tidur saja duluan. Vega bawa kunci kok," ujarnya sambil melepas sepatu.
"Tidur, tidur! Kamu tuh tuh ya, udah dibilangin berapa kali, milih temen tuh yang bener! Disuruh nganterin dari ujung ke ujung, kok mau aja. Kita tuh tinggal di Otista, mau-maunya kamu capek-capek bolak-balik dari kampus ke Pulogadung dulu," delikku kesal ke arahnya.
"Tapi kan kasihan, udah malem juga," ujarnya masih membela temannya.
"Kasihan-kasihan, dia kasihan nggak sama kamu?? Dia kan bisa nginep dulu sama temen yang kosannya deket kampus. Temen jahat gitu kok masih dibelain terus," tangkisku sewot.
"Yaudah lah, Vega tidur dulu," sahutnya letih.

Perlahan ia beringsut ke kamar, tak menghiraukan kesalku yang masih meletup.

+++
Aku tak mengerti sikapnya teman-temannya itu. Terkadang aku berpikir, sedemikian butuhnyakah ia akan teman, sehingga begitu jarang menggeleng kepada teman-temannya yang meminta bantuan?
"Ndaa pinjem hp dong," pintanya dari balik kamar.
"Ya ke sini lah, kan kamu yang butuh," jawabku.
Tak lama, ia keluar dari kamarnya, mengambil handphone yang kugenggam. Sejurus kemudian jemarinya asyik menari di atas keypad, ber-smsan dengan temannya.

"Bukannya pulsa kamu kemarin sudah diisi? Sudah dikasih kan uangnya?" tanyaku.
"Err..maaf..uangnya hilang. Kayanya kececer waktu Vega beli bakso," sahutnya pelan.
"Uangnya hilang apa kamu sumbang-sumbangin ke teman kamu heh? Uang kamu yang minggu-minggu kemarin dipinjam Tami juga belum dibalikin kan??"
ungkitku sebal. Dia sering seperti itu, meminjamkan uang jajannya sampai habis, lalu dengan mudahnya meminta uang saku tambahan padaku.
"Tami belum punya uang, Nda," kilah Vega.
"Lalu memangnya kamu punya uang, gitu? Kamu kan kerjaannya cuma minta uang sama Nda! Jadi uang yang Nda kasih sama kamu itu jangan kamu sumbang-sumbangin gitu aja ke temen-temen kamu! Nda yang capek kerja nyari duit buat kamu, eh kok temen-temen kamu yang keenakan?!" semburku lagi.
"Ya ampun Nda.. Ya udah nanti Vega ganti! Maaf kalo Vega kerjanya cuma ngabis-ngabisin duit!" ujarnya kesal seraya bangkit dari duduk.
Dilemparkannya handphoneku ke sofa, lalu masuk ke kamarnya.
"Kenapa jadi kamu yang ganti?? Ajarin tuh temen kamu! Nyari temen kok ngasal aja," omelku dari luar kamar. Tak kudengar sahutan apapun dari kamarnya. Aku pun beringsut ke dapur, kesal.

+++

Hari ini dia demam. Kukompres lagi dahinya sambil menunggunya tertidur.
"Makanya, kalo hujan ya pulang aja. Ini malah nganterin orang dulu kemana-mana," omelku sambil merendam handuk kompres.
"Kesian tadi Dini ngambil sampelnya sendiri, dia kan juga gatau jalan ke rumah sakitnya," jawab Vega.
"Emang temennya Dini cuma kamu? Emang cuma kamu yang tau jalan ke rumah sakit?" cibirku lagi.
Dia tak menjawab, hanya kembali memejamkan matanya.
"Kalau mereka butuh, mereka merengek-rengek sama kamu. Tapi kalo kamu yang minta tolong, mereka bantuin, ngga?
Kemarin, katanya mau ngurus skripsi sama Arin, tapi ujung-ujungnya ngurus sendiri kan? Terus, waktu Mega ngga nemenin kamu, kamu nyasar sendirian sampe Ciledug kan?" cecarku.
"Vega mau tidur Nda," ujarnya sambil membalikkan punggung, membelakangiku.
Kuhela nafas, menahan marah akan ketidakmengertianku pada kelakuannya.

+++

Hari ini teman-temannya berdatangan ke rumah. Aku kembali bercerita dengan mereka tentang Vega, mengenangnya.

"Dia ga pernah ngeluh. Kami kira hobinya mengurut dada itu memang kebiasaannya. Tak tahunya.. Kami menyesal tak mengetahuinya, bahkan sampai di akhir dia..," ujar Dini di tengah cerita.

Memoriku melayang ke hari itu, lima tahun yang lalu. Vega pulang dengan badan menggigil. Skripsi hasil print terakhir di map kecilnya basah. Buru-buru kuganti bajunya sambil mengomel.
"Tadi kan sudah dibilangin, minta anterin sama temen kamu. Kamunya ngotot pergi sendiri. Temen-temen kamu kemana? Pada ngilang kalo kamu lagi butuh?"
Dia lagi-lagi tak menjawab, lalu masuk ke kamarnya.

Saat menaruh teh hangat di mejanya satu jam kemudian, kulihat dia berbaring memejamkan mata. Kusentuh lengannya. Jantungku seakan berhenti saat kurasakan nadinya tak berdenyut.

Panik, kubawa ia ke rumah sakit. Di dalam ambulan yang berlari membawanya, Vega berbisik untuk yang terakhir kali, "Vega cuma mau belajar jadi orang ikhlas, Bunda.."  (TW)

Load disqus comments

0 komentar