Minggu, 14 Agustus 2011

dia bercerita


Bunda Jangan Marah..

Aku asyik tidur-tiduran di sofa ruang tv saat Arya sibuk dengan lego-legonya. Mataku memicing melihat bayangan di sudut sofa yang perlahan menjelas. Seorang nenek-nenek berkebaya rumahan tersenyum padaku dan Arya. Aku tersenyum balik pada nenek itu, namun dengan segera ia menghilang.

Kubisikkan pada kembaranku itu bahwa aku tadi melihat lagi nenek berkebaya duduk di sofa kami.
"Benarkah, Bim?" tanyanya penasaran. Aku mengangguk kuat-kuat. Belum selesai aku menjelaskan rupa nenek itu saat Bunda masuk ke ruang tv.
"Arya, yuk makan," ujarnya.
"Bima tidak diajak, Bunda?"
Bunda menghela napas sebelum mengusap kepala adikku itu.
"Bima pasti sudah kenyang," jawabnya.
Arya menoleh padaku sebelum beranjak ke ruang makan.
"Jaga istananya ya," bisiknya sambil meletakkan lego terakhir untuk atap istananya.
Aku mengangguk lagi.

+++

Sudah lama aku merasa bahwa Bunda tak sayang padaku. Terlebih saat aku bermain seharian sambil bercerita pada Arya tentang apa yang kulihat. Bunda mungkin menganggapku aneh, atau tukang bohong. Seringkali Bunda menghukum dengan tak mau bicara denganku.

Untung Arya percaya. Meski ia tak ikut melihatnya, Arya selalu bersemangat setiap kuceritakan 'hasil penglihatan'ku itu. Tapi kadang ia melaporkan hasil penglihatanku pada Bunda. Aku jadi semakin sering didiamkan.

+++
Aku menuruti langkah Arya ke kamar mandi, menyikati gigi setelah makan. Ditatapnya aku lekat-lekat. "Bima lapar ya?" tanyanya setelah berkumur.
Aku menggeleng.
"Tapi kamu pucat. Ah, kamu liat nenek itu lagi ya?"
Aku diam. Dipeluknya aku erat-erat.
"Bima jangan takut, kan ada Arya. Besok Arya bilang Ayah deh, siapa tau Ayah bisa bantu biar Arya juga ngeliat apa yang Bima liat.."
Perlahan air mataku meleleh. Bunda atau Ayah tidak pernah memelukku seperti yang adikku ini lakukan. Aku tahu aku aneh, tapi aku sedih dibenci begini.

Kami pun masuk ke kamar. Aku baru saja akan terpejam saat melihat nenek tadi berdiri di samping tempat tidurku. Tapi dia tidak sendiri, di sampingnya berdiri kakek yang tersenyum seperti dirinya. Aku berteriak tanpa suara, takut membangunkan Arya yang sudah lelap.
"Bima sudah besar..," ujar kakek itu pada wanita tua di sampingnya. Nenek itu mengangguk. Mereka pun menghilang.

+++

Pagi ini Bunda sibuk memakaikan Arya seragam merah putih pertamanya. Sambil menyisir rambutnya, ia bertanya padaku yang berpiyama, duduk di tepi kasur, memerhatikannya.
"Bima tidak ikut ke sekolah?"
Aku menggeleng.
"Rasanya aku sedikit tidak enak badan, mungkin demam," ujarku.
Rautnya sedikit kecewa, tapi cepat-cepat ia tersenyum menyemangatiku.
"Cepat sembuh ya, nanti jam sepuluh aku pulang kok."
Aku tersenyum balik padanya.

Sebelum berangkat, kudengar Arya bertanya pada Ayah tentang yang dikatakannya semalam.
"Jangan Arya, nanti Ayah dan Bunda sedih," jawab Ayah.
Kulihat paras Arya kembali kecewa.
Dari balik kamar kutatap bayang mereka yang melangkah menjauh ke halaman. Apa boleh buat, bisikku dalam hati.

+++

Aku duduk di samping Bunda, memerhatikannya membulat-bulatkan adonan tepung coklat kesukaan Arya. Kuraih sendok besar seraya mengaduk adonan tepung susu, hingga kulihat Bunda menatap sendok itu, nanar.
Kuhentikan lenganku saat melihat Bunda mulai menangis.
"Maaf..maafkan Bunda," ujarnya terisak.
Aku panik, ingin sekali menenangkannya.
Tapi badanku kaku mendengarnya berbicara.
"Maafkan Bunda, tidak bisa selamatkan Pak Mardi, Mbok Yem, dan kamu.. Kalau saja Bunda tidak jatuh di tangga, mungkin Pak Mardi dan Mbok Yem tidak akan panik membawa Bunda ke rumah sakit.. Mungkin mereka tidak akan melarikan mobil secepat itu.. Mungkin Bunda bisa melahirkan kamu..bersama Arya.. Maafkan Bunda.."
Isaknya terhenti saat melihatku menangis. Dipeluknya aku erat-erat. Di sudut dapur, tampak kakek-nenek yang kulihat semalam tersenyum seraya menghilang. Kulihat jemariku yang memeluk Bunda ikut memudar. Hei, kenapa aku mulai menghilang? Sebentar lagi Arya pulang, aku kan mau bermain dengannya! (TW)


Load disqus comments

0 komentar