Sabtu, 15 Oktober 2011

Bedah Buku Novel "Muhammad: Para Pengeja Hujan"

"Jika suatu saat nanti dengan buku ini akan timbul perbedaan pendapat, orang akan mencaci maki saya, melempari saya dengan batu, saya akan meyakini bahwa mereka melakukan itu karena mereka mencintai Nabi, dan saya juga menulis buku ini karena hal yang sama," Ujar Tasaro GK, di tengah diskusi bedah buku novel biografis karyanya yang berlangsung di Aula Student Center, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (8/10).

Pria bernama asli Taufik Saptoto Rohadi ini, dalam buku novel biografisnya, selain bercerita sisi kehidupan di Mekkah dan Madinah ia juga mengangkat kisah dua imperium yang ada pada saat itu, Romawi dan Persia. "Maka membicarakan tentang Nabi akan selalu tetap relevan jika dikaitkan dengan dua imperium besar saat itu". Protagonis lelaki, Kashva, dikisahkan masih terlibat dalam pencariannya terhadap Maitreya, sang Al-Amin, yang hidup sejaman dengan Nabi. "Persia memiliki blueprint yang sangat luar biasa dalam membangun peradaban, dan itu menarik bagi saya, dan saya memilih Persia untuk memunculkan tokoh yang melakukan pencarian sosok Akhir Zaman Terakhir yang ternyata dikisahkan oleh kitab sucinya,"ujarnya.
Saat acara bedah buku berlangsung


Pria asal desa Gunung Kidul, Yogyakarta, yang juga mantan Wartawan ini mengatakan buku tersebut mengandung pesan perbedaan dan toleransi, "Kebetulan dalam sebuah buku yang bicara tentang Nabi di dalam kitab Hindu, Budha, Kristen, Yahudi, maka kemudian menjadi benang merah yang sangat menarik bagi saya untuk memunculkan sebuah dialog tentang Agama," tukasnya. Buku novel biografis "Muhammad: Para Pengeja Hujan" adalah novel kedua dari "Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan".

Tasaro mengatakan bahwa hujan adalah analogi dari wahyu. Para pengeja hujan yang dimaksud pada novel kedua di sini ialah para sahabat, mereka yang mencoba memahami wahyu dengan konteks mereka masing-masing, sehingga menimbulkan berbagai perbedaan dan perpecahan. "Perbedaan itu seharusnya menjadi pelajaran, karena hal tersebut mengajari kita adalah tidak mungkin menyeragamkan cara pandang dan cara berpikir manusia," ungkapnya. Perbedaan itu sudah ada sejak jaman Nabi dan puncaknya ketika Nabi wafat.

Saat beberapa peserta bertanya tentang kemurnian kisah Nabi dalam novel tersebut.Tasaro mengatakan, meskipun ditulis dalam bentuk sebuah novel dan menghadirkan dua tokoh fiktif dari Persia, namun seluruh kisah yang menceritakan Nabi sesuai dengan fakta sejarah, "Seluruh hal yang berbicara tentang Nabi dalam buku ini, itu bukan fiktif, tidak ditulis dengan pendekatan fiktif, tidak!" Tegasnya. Rosida Erowati, Dosen Bahasa dan Satra Indonesia FITK, sebagai narasumber dalam acara tersebut berpendapat novel tersebut teknik bertutur orang kedua dengan fokalisasi pada tokoh Nabi Muhammad dan Fathimah mengantarkan misi sang penulis, Tasaro GK, pada batas yang ia inginkan, yaitu wujud menulis kisah Nabi sebagai wujud kecintaannya pada sang Nabi. Meski menurutnya sangat terkesan ambisius karena memasukkan tiga tokoh dan ruang waktu dalam satu cerita, Muhammad, Kasvha dan Atusa atau Astu.

Kreatifitas dalam menggunakan diksi terutama pada sisi morfologis menjadikan karya Tasaro tersebut berkualitas. "Secara kebahasaan, saya menganggap bahwa ini bukanlah masalah fiksi dan fakta, tapi ini tentang bagaimana penggunaan bahasa bagaimana dipakai dalam pembuatan sebuah karya sastra, berkualitas atau tidaknya suatu karya sastra itu dari bahasa. Di sana saya bisa merasakan Tasaro sangat teliti memilih diksi itu cukup berhati-hati, artinya, mengalir dan mengutamakan kepadatan juga inovasi, saya menemukan aspek morfologis, seperti 'mendanau', penulis telah memperluas kosa kata bentukan," tuturnya.

Sakti Wibowo, Novelis dan Penulis Naskah Skenario, sebagai pembicara juga mengatakan tentang banyaknya tokoh dalam karya Tasaro tersebut, "Saya kurang suka karena setiap momen itu, pelakunya itu satu RT, tadi kan saya sudah dibantai bawah sana (sebelum acara dimulai, red), " ujar pria tersebut sembari melirik ke arah Tasaro, suasana diskusi pun cair oleh suara tawa penonton. "Pembantunya, tetangganya pembantunya dikasih nama semua." Satu hal berbeda dengan penulisan ini, menurut Sakti, keberaniannya menghadirkan tokoh Kasvha menyebabkan sudut pandang yang lebih maju dan lengkap dari yang sudah ada sebelumnya tentang Nabi Muhammad, sebab selama ini Nabi banyak diketahui dari kisah yang dituturkan oleh sahabat Nabi.

"Ini semakin memperkaya, keberaniannya menghadirkan Kasvha, ini akan menambah referensi kita," ujarnya. "Muhammad tampak lebih total, Muhammad tampak lebih dekat dengan orang Indonesia. Buku tentang Muhammad untuk orang Indonesia itu ya buku ini, karena pendekatan kultur dan emosinya Indonesia banget!" Imbuhnya.

Mensosialisasikan Muhammad Secara Produktif

Tasaro mengungkapkan filosofi pembuatan buku novel tersebut dari kisah Nabi pada saat usai dilempari oleh penduduk Thaif, Jibril datang dan berkata, "Izinkan aku menghempaskan gunung kepada penduduk kota itu," pintanya kepada Nabi. Nabi tidak memperkenankan hal tersebut dan berkata, "Mereka orang-orang yang belum tahu, kata Nabi," Ia mengisahkan. Dirinya bercerita, banyak menemukan pengalaman yang luar biasa dengan teman-teman nonmuslim, pemahaman mereka selama ini tentang sosok Muhammad jadi lebih baik, mereka pun cukup memahami agama mereka dari buku novel tersebut.

"Itu filosofi yang saya bawa hari ini, ketika Islam masih sering disalahpahami, Muhammad menjadi tokoh yang paling sering disalahpahami di dunia, kita sebagai umatnya, mau berbuat apa? Kepribadian Beliau memang luar biasa. Hanya saja tidak terkomunikasikan dengan produktif. Bagi saya setiap generasi memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda, dan novel adalah pola komunikasi yang baik," ungkapnya.
Tasaro, Penulis buku, memberikan doorprize buku kepada beberapa peserta di akhir acara.
Load disqus comments

0 komentar