Langsung ke konten utama

Bendungan Situ Gintung

Kenyataan lahirkan kesadaran 

Menghalal keraguan... 

Saat ini kita menuai cinta 

Maka biarkanlah waktu berjalan Apa adanya...

Alunan lagu Tony Rastafara menghangatkan suasana santai Jarot dan beberapa kawannya di bibir Situ Gintung. Aziz yang masih berseragam abu-abu putih dengan rancak memetik gitar dan terus bersenandung di bawah indah pemandangan terbenamnya matahari sore hari.

Situ Gintung menjelang terbenamnya matahari
Sesekali menyeruput kopi hitam di sampingnya, lalu menghisap rokok di tangannya(13/10). "Kopi, Bro!" tutur Hasan(19) kepada orang berlalu di sekitarnya sembari kembali bernyanyi. Matanya menatap jauh ke arah danau Situ Gintung. Sekelompok mahasiswa Universitas Pamulang itu mengatakan sering berkumpul bersama di atas bendungan Situ Gintung. "Lagi cari angin, ya, sambil nongkrong bareng teman-teman". 

Lokasi tragedi jebolnya bendungan pada 27 Maret tiga tahun silam itu, Situ Gintung, sejak setelah direnovasi kembali diminati oleh pengunjung dari berbagai daerah Tangerang dan sekitarnya. Selain untuk bersantai menikmati pemandangan Situ Gintung pengunjung bisa membeli berbagai makanan dan minuman di sekitar bendungan tersebut. 

Akses menuju bendungan Situ Gintung cukup mudah, bendungan yang terletak di Tangerang, Ciputat, tepatnya di desa Cirendeu, dapat didatangi dengan menaiki angkutan umum arah Lebak Bulus dari depan kampus UIN Jakarta, cukup dengan Rp 2000. Bagi pengunjung bersepeda motor, di sekitar bendungan harus membayar karcis parkir sebesar Rp 2000. 

Tempat ini seringkali digunakan tempat nongkrong oleh pengunjung dari berbagai usia. "Tiap sore, kalau cuaca bagus di sini ramai, apalagi hari Minggu pagi," ucap Indah (15), siswi kelas 1 SMK Thamrin. Dia baru saja pulang sekolah lalu mampir sejenak bersama kawan-kawannya. "Kalau mau yang ramai, malam Minggu ke sini aja," imbuh Yanni (15), teman satu kelas Indah.

Beberapa pengunjung tengah asyik memancing
Pengunjung Situ Gintung juga banyak yang datang untuk memancing ikan. Biasanya mereka membawa perlengkapan pancing dari rumah. Bagi yang ingin menyewa perlengkapan pancing, biasanya pada hari Minggu, beberapa warga setempat yang menyewakan jasa alat pemancingan. 

Di sepanjang bendungan Situ Gintung bisa dijumpai penjual makanan dan minuman seperti somay, bakso, mie ayam, cimol, roti bakar, tahu petis, kopi susu, es kelapa, es teh dan lain sebagainya. Menurut Mama Eva (43), penjual minuman, pada hari Sabtu sore bendungan ini juga ramai didatangi oleh pengunjung, terutama kalangan muda mudi. 

Tiap sore bendungan Situ Gintung ramai oleh pengunjung, hal tersebut membuat Mama Eva dan penjual lainnya dapat menambah rezeki dengan berjualan, meski demikian terkadang ia harus membayar uang 'pajak' Rp 5000 agar bisa tetap berjualan di sana,"Tergantung, Mas, kalau lagi ramai kadang-kadang ditarik uang dua kali," ujarnya dengan dengan logat Jawa.

"Hari minggu pagi itu yang paling rame, Mas, di dekat tugu itu ada senam bersama, olahraga pagi, jogging, bersepeda, tapi kalau cuaca buruk ya sepi," tuturnya. Dari atas bendungan, pengunjung dapat melihat sebuah Tugu yang didirikan guna mengenang korban jebolnya bendungan Situ Gintung tersebut beberapa waktu silam. 

Di dekat tugu itu juga terdapat Masjid Jabal Rahma. Konon, pada saat tragedi Situ Gintung masjid tersebut tidak mengalami kerusakan yang parah dan tetap berdiri kokoh, padahal jaraknya hanya sekitar 20 meter dari lokasi jebolnya tanggul, lagi, bangunan di sekelilingnya hancur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…