Minggu, 18 Desember 2011

Maafin Arif, tadz..

''Ana harus bagaimana? Hancurlah semua. Sebentar lagi mau liburan. Sampai rumah ana bilang apa?"

Ugh!'' Arif tanpa henti terus memelototi wajah yang ada dalam cermin. Murka. Sedih. Malu.

''Bahlul ente!, harusnya ente tau situasi dong. Tapi kan...urrrgghh! Hisyaaamm!! Seandainya ini di luar, ente udah ana habisi''

Tok, tok, tok. Suara pintu memecah lamunannya dalam kesendirian. Di lihatnya kembali wajah itu, memastikan tidak ada air kesedihan di sana.

''Kak Arif gak masuk? Kelas II Aliyah kan ada ustadz. Muin yang ngisi. Tadi kak Burhan juga baru berangkat tuh.''

''Oiya, syukran Miftah. Kakak lagi nyariin kitab Ihya' Ulumuddin yang juz dua, lupa ana taruh di mana. Ntar juga masuk. La ente ngapain ke asrama?''

''Iya nih, ana tadi keburu ke kelas, eh salah bawa kitab, harusnya kan belajar Nahwu, eh ana bawa kitab Akhlak, lagian sampulnya sama sih. Ok kak, ana duluan ya!''

Dubrak!

''Eh, nutup pelan-pelan aja, awas tangga licin''

''Iya kak...salamualaikuum!'' gema suaranya perlahan terdengar menipis mengudara di langit-langit asrama.

Kulihat jam di dinding menunjukkan pukul 08.32. Sesekali kutatap kalender kecil yang tergantung di belakang pintu. Setiap mataku berpindah ke angka selanjutnya, semakin sesak aku jadinya.

Pagi ini biarlah sejenak aku istirahatkan pikiranku. Hapalan tambahan alfiyah Ibnu Malik dengan ustadz Amir biar minggu depan saja aku tambal. Surat izin sakit kepala yang kutitipkan dengan Sarbaini pasti sudah sampai ke hati para asatidz hari ini. Tidur.

+++

''Jika ananda sekalian ingin mencari tempat yang indah dan sesuai dengan keinginan ananda sekalian, silahkan ananda cari dan tinggallah di sana, tapi saya pastikan tempat itu tidak akan pernah ada selama ananda tidak tidak mampu menentramkan tempat yang ada di sini, jika ini tentram, semua akan tentram'' terang Kyai Busyro sembari memegang bagian kiri dadanya. Suaranya memang tidak sekeras dulu lagi, namun apa yang mengalir dari mulutnya senantiasa merasuk ke relung hati pendengar. Sejuk.

Seperti biasa setelah mengimami sholat subuh berjama'ah di hari Jumat, beliau senantiasa memberikan wejangan dalam bentuk kultum kepada seluruh penghuni pondok pesantren. '' Ananda sekalian, ini adalah tradisi, setiap penuntut ilmu harus berhadapan dengan berbagai rintangan, ini tradisi alam, ini hukum Tuhan, untuk memupuk mental para pemangguh ilmu tersebut, ilmu betapa mahal, ia akan menjadi warisan terindah dalam kehidupan''

''Tuh dengerin bi, Kyai bilang apa, kena bisul di pantat doang udah mau bunuh diri, ini tradisi akh..tradisi ya akhi..!'' Rohim menggoda Robi yang tampak seperti orang memancing. Ngantuk.

''Ah berisik! ente kok ikutan ceramah sih, dengerin sono. kemarin sandal butut hilang aja ributnya minta ampun, kayak kehilangan duit 1,5 M aja, tradisi cuy, tradisi..''

Keduanya menoleh ke belakang karena merasa punggungnya disentuh. Tanpa perlu penjelasan bertele-tele Robi dan Rohim diam. Jinak. dan memperbaiki posisi duduk mereka, lebih sigap dan penuh perhatian kembali menyimak wejangan Kyai. Pemandangan sosok yang meletakkan jari telunjuk di bibirnya itu seketika menenangkan mereka, ''Iya kak Arif''.

Setelah berceramah Kyai menutup dengan do'a. Pengumuman pembagian tugas kerja bakti. Hari Jum'at memang libur, namun tetap saja semua santri masih mempunyai kegiatan, kerja bakti. Membersihkan seluruh penjuru pesantren. Masjid, asrama, jalanan, parit, sekitar rumah asatidz dan kyai, wc umum, pendopo, lapangan, taman dekat perpustakaan, dan...tempat paling favorit adalah sekitar asrama putri. Jreng.

Usai melakukan senam bersama, Arif menghampiri Sholeh. Keduanya sama-sama dari Tasikmalaya. Ibu Sholeh memang akrab dengan Arif. Mereka masih ada hubungan darah.

''Sampaikan ke tangan kak Humairoh. Dia ada di sekitar gerbang belakang kerja bakti juga. Paling benderang dia itu, he. Kalau udah selesai tugas kerja bakti kakak tunggu di kantin yak, minuman jus apa saja sudah menantimu di sana. Kalau ada apa-apa, bakar!'' ujar Arif memberikan korek api.

''Iya kak, ana pergi dulu ya, teman-teman satu tsanawiyah udah berangkat semua ke sekitar asrama putri, emang kakak tugas kerja bakti di mana?'' ujarnya polos.

''Kalau kelas kakak tugasnya di sekitar rumah Kyai, udah buruan pergi, jaga baik-baik, kalau perlu nyawamu taruhannya''

''Preet..'' Sholeh berlari mengejar gerombolan teman lainnya. Suasana hati Arif tak menentu menanti kabar selanjutnya dari Sholeh, sampaikah telah...

Ia menuju ke tempat kerja bakti kelasnya. Bekerja dengan penuh semangat. Canda. Berkeringat. Sesekali riuh tawa terdengar karena Jum'at ini Sobir lagi-lagi, seperti biasa, menjadi bahan tertawaan teman sekelasnya. Kali ini 'objek' Sobir tampak lebih lucu, ia begitu panik melihat seekor kodok besar hasil temuan Hasan. ''Tangkap Sobir..''

''Eh, jangan..dholim lo..ana jijik..jangan oy..'' Sobir berlari-lari kecil menjauhi Hasan yang tengah mendekat. Dilemparkannya kodok itu, mendarat tepat di punggung Sobir, ''Emaaaakkk....! Senin ini bapak ana datang tak laporin ente..''. Tawa pecah menghiasi suasana kerja bakti di wilayah kelas dua aliyah A. Sobir memang begitu, pada hingga kini setiap dua minggu sekali orang tuanya datang menjenguk. Dihitung sejak awal masuk pesantren sudah lebih lima kali ia hampir berhenti karena tak kuat. Untung saja Hasan dan Ismail selalu hadir menjadi sahabatnya, meski terkadang suka usil.
Arif hanya bisa tersenyum geli melihat kawan sekelasnya ini berlindung di balik tubuhnya tidaklah sebesar Sobir. Sobir anak seorang muallaf cina yang kaya raya. Kelas dua A aliyah memang beruntung memiliki Sobir, selain sosok yang selalu menghibur, tak jarang dirinya juga berfungsi sebagai koperasi simpan-pinjam-pinjam, satu kelas tidak ada yang selamat atas noda piutang dengan santri sipit ini. Kalau sudah sudah merasa terjebak dengan ulah usil Hasan, dia hanya punya tempat ia berlindung adalah Tuhan dan ketua kelasnya, Arif. Jajaran asatidz saja terkadang tertawa melihatnya. Lucu memang.

+++

''...Ridho kelas II A tsanawiyah kamar Al-Faruq, berikutnya Sandi Santoso kelas I B aliyah kamar Al-Amin, wa ba'dahu Sobir Jie kelas II A aliyah kamar Al-Khair...''

Suasana masjid riuh usai jama'ah dhuhur hari kamis, dalam seminggu semua santri yang melakukan tindak pelanggaran menghadapi 'hari pembalasan', ya, setiap kamis para pendosa harus bersiap dihukum. Tidak tanggung-tanggung seluruh nama yang dipanggil menghadap diumumkan melalui microphone, seluruh penghuni pesantren dapat dengan jelas mendengarnya. Kyai, asatidz, seluruh santri mulai dari adik kelas sampai ke tingkatan program takhsis (khusus), dan..asrama putri. Ya Salam.

Hisyam memang masih kelas II aliyah. Tapi ia sudah menjabat sebagai anggota mujassis (keamanan). Konon, kepandaian mencari muka dengan senior kelas III aliyah menjadikannya berhasil meraih posisi tersebut. Entah mengapa ia begitu suka menjadi mujassis, barangkali agar bisa dekat dewan asatidz. Iqbal, temannya sekelas sendiri saja pernah dihukum pukulan rotan oleh ustadz Sadri atas hasil laporannya. Suaranya terus berkumandang keras dengan microphone membacakan buku laporan untuk memanggil nama 'para pendosa',''...Badri Alamsyah kelas III tsanawiyah kamar Al-Furqon...wal akhir... Arif Dimyati kelas II A aliyah kamar Al-Ihlas!''

Semua jama'ah masjid terdiam mendengar nama terakhir yang baru disebut. Ustadz Dardiri menghentikan putaran tasbihnya lalu menoleh ke arah beberapa santri yang berbaris rapi di pelataran masjid. Semua berjumlah dua puluh tiga orang. Tidak biasanya ustadz senior itu terlihat seperti itu. Diperhatikannya satu persatu wajah segenap pelanggar tersebut. Sampai ke ujung barisan ia berdiri agak lama. terdiam. Matanya memerah. Tulang iganya tampak menonjol. Plaaakk...!. Arif tersungkur. Ia tak menyadari ustadz Dardiri begitu murka. Ia berdiri dan kembali menunduk sambil menahan rasa sakit di wajahnya.

''Ustadz. Afwan, ini tugas saya,'' ustadz Sadri memegangi tangan ustadz Dardiri. Suasana riuh seketika hening. Sehening malam hari. Semua mata tertuju kepada Arif. Siapa yang tidak kenal Arif, orangnya pandai, singa podium, striker kesebelasan sepak bola yang hebat, juara satu lomba debat bahasa arab tingkat provinsi jawa timur, sosok kesayangan kyai dan segenap dewan asatidz. Ustadz Dardiri berlalu keluar meninggalkan masjid, ''Saya kecewa dengan kamu rif, Kamu kira adalah saya sampah yang selama ini berbicara di kelas untuk pelajaran akhlaq kamu!''. Arif diam seribu bahasa. Lengang dalam sesal. Seperti benar-benar di padang mahsyar rasanya. Matanya berkaca. Tak kuasa melihat sosok dipuja murka.

''Arif Dimyati, pelanggaran berat. Berhubungan dengan lawan jenis. Telah tertangkap mengirim surat ke asrama putri dengan cara tidak senonoh pada hari Jum'at 10 Agustus 2009, yaitu melalui adik kelas atas nama Sholeh. Maka atas pelanggaran berat Arif kami takdzir (hukum) GUNDUL. Hukuman akan dilaksanakan setelah menghadap ke Kyai pada hari senin besok.'' suara Hisyam begitu lantang dan terdengar fasih membacakan hukuman Arif. ''Afwan tadz, ini barang buktinya,'' sembari setengah merunduk menyerahkan amplop putih setengah terbakar kepada ustdaz Sadri. Bangga rasanya melihat sosok yang pernah membantainya di depan umum pada saat putaran final seleksi debat bahasa arab beberapa bulan lalu. Group Kelas II B aliyah tidaklah memang sehebat kelas II A aliyah untuk menjadi wakil pondok pesantren mereka, di sana ada Arif sebagai panglima.

+++

''Maaf kak, habis kakak kasih surat Jum'at lalu, kak Hisyam manggil ana, katanya kalau tidak jujur ana mau dilaporin ke asatidz, ana tak punya daya kak, ana diancam kalau cerita ke kakak'' sholeh tertunduk. Tak berani matanya menatap sinar mataku. Walau sekejap.

''Ya sudah, jangan lagi hal ini ente cerita-cerita, ini urusan ana dan Hisyam. Nih duit jajanmu, jangan boros-boros ya, itu sampai sabtu depan''.

''Iya kak''. Sholeh berlalu meninggalkanku bersama minumannya yang masih tersisa setengah. Kebingungan. Mencoba menerawang apa yang terjadi di satu hari depan, hari senin.

''Woy, limadza ente khaliyan faqot ya akh!, nasinya habisin dulu baru ngelamun. Bu Romlah, pesen nasi lodeh satu'' sentuhan Hasan membuyarkan lamunanku. Belum lagi aku keluar dari kebingungan, suasana ramai menghiburku. Beberapa teman sekamar memang sangat baik datang menghiburku. Tapi jujur, aku sedang ingin sendiri.

''Ente gak makan di dapur?''

''Lagi perbaikan gizi rif, makan masakan nenek fatimah rasanya melelahkan, tempe, tahu, tempe, tahu, tempe..''

''Yudah, ana balik ke asrama duluan yak''

''Wah ente gimana rif, ana baru datang nih''
Aku berlalu dari kerumunan mereka deng meninggalkan senyuman. Satu-satunya tempat yang bagiku saat ini aman untuk menenangkan pikiran, barangkali di tamanlah tempatnya. Tak perduli mau ada setan atau mahkluk apapun di sana malam ini. Aku butuh tempat sepi. Aku malu membayangkan diriku bakal berhadapan dengan sosok kyai yang begitu kuhormati dengan posisi sebagai pesakitan. Aku benci dengan diriku sendiri kenapa begitu mudah terperdaya dengan sosok wanita. Aku semakin hancur mengingat reputasiku di depan seluruh adik, teman, dan kakak kelasku. Aku tak sanggup membayangkan kepalaku digundul. Lima tahun aku hidup di pesantren ini, belum pernah terlintas sedikit pun aku akan digundul. Dan sosok Hisyam kini bagiku seperti setan. Murkaku untuknya.

Langkah cepat beradu dengan pikiran kacau menuntunku ke taman belakang asrama. Belum lagi aku sampai di sana, sesosok tiba-tiba muncul dari sebelah dinding pertigaan. Kami bertabrakan.

''Wah! ente kalau jalan liat-liat dong!'' bentakku.

Belum sempat ia berkata sepatah kata, tahu bahwa ia adalah Hisyam, kudaratkan sekepal kananku bersama segala murkaku tepat di pelipisnya.

Buk! Dia rubuh bersimbah darah. Mencoba bangun untuk membalasku. Kuterjang ia sekuat tenaga. Kami berkelahi dalam suasana remang. Ada kepuasan tersendiri yang kurasa. Meskipun aku sadar, aku salah. Tapi segala sakit hatiku tak mampu lagi membuatku berfikir jernih. Sejurus kemudian orang-orang sudah ramai melerai kami. Hampir saja malam itu kelas A dan B II aliyah bertempur hebat. Untung saja ustadz Dardiri datang. Sosoknya begitu pendiam berubah drastis. Marah. Seperti sosok Umar bin Khattab, sosok sahabat nabi yang setan pun tak berani melewati bekas langkah kakinya.

Tanpa perlu menunggu hari Senin, minggu pagi setelah sholat subuh, aku dihadapkan dengan Kyai Busyro. Aku diam. Sedikit pun tak berani berkata. Aku betul-betul hancur rasanya. Hanya mendengarkan beliau memberi nasihat. ''Keamanan itu perpanjangan tangan dari dewan asatidz untuk menertibkan pesantren, kalau ananda Arif tidak suka dengan keamanan, ananda berarti bersikap begitu pula dengan dewan asatidz. Dewan asatidz itu adalaha perpanjangan tangan dari saya''

Suara kyai Busyro mengairi kegersangan jiwaku. Asalkan bukan hukuman gundul aku pasti mau melakukan apa saja, selain dikeluarkan, tapi itu pasti tak mungkin, pikirku. Kalau pun harus di gundul berarti aku harus merelakan liburan kali ini tidak pulang ke rumah lagi, seperti tahun lalu. Apa jadinya orang-orang di kampungku melihat kepalaku gundul. Pasti mereka akan berfikir buruk tentang aku. Telah melanggar di pondok.

Kyai Busyro adalah orang yang diplomatis, betata pun tinggi posisinya dan hanya atas perintahnya lah aku bisa selamat dari hukuman gundul ini, namun begitu ia memosisikan dirinye hanya sebagai wadah mediasi, keputusan tetap berada di tangan jajaran keamanan pondok.

''Bagaimana ananda Arif, lebih rela menjalani hukuman atau harus mengucapkan selamat tinggal dengan pondok pesantren ini ? keputusan di tangan ente'' ustadz Sadri seperti menawarkan buah simalakama.

Aku lengang, air mataku mengalir...

+++

Teeettt....teeett...tteeee​eeeettt..!!

Bel panjang berbunyi. Menggema menghentakkan seluruh penghuni asrama. Tanda kegiatan belajar-mengajar akan segera dimulai. Ku tolehkan kepala ke arah jam dinding. Kamarku sudah sepi. Hanya ada Miftah tengah bergegas berangkat pula.

''Duluan ya kak, smoga lekas sembuh''.

Baru saja pintu mau ia tutup, Hisyam yang tengah mengontrol kondisi asrama menanyainya,

''Kak Arifnya sudah sehat tah? masih terlelap ya?''

''Belum kak, badannya masih panas, tuh di dalam lagi nulis''

Aku tersedak mendengarnya. Kraakk...seketika ku robek buku catatanku barusan. Kusembunyikan dalam selimut. Kupejamkan mata berpura-pura tidur. Kudengar Hisyam menutup pintu perlahan lalu menghampiriku.

''Cepat sembuh ya akhi..'' tuturnya sembari membawakanku obat dari UKS dan beberapa makanan ringan.
-----
Load disqus comments

0 komentar