Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2012

Mendidik Anak Pemulung

Suatu kali, seusai mengajar, Basir sembari mengernyitkan dahi mencari sandalnya yang hilang usai mengajar. Setelah beberapa saat dia mendapati sandal tersebut ternyata berada di atas batu nisan kuburan. Apa sebab? “Disembuyiin anak-anak,” kenang pria kelahiran Pemalang, 26 Mei 1990 ini.
Menjadi guru relawan di lingkungan tempat pembuangan sampah  itu membutuhkan semangat lebih. Tumbuh di lingkungan kumuh yang tidak kondusif berdampak pada psikologis anak-anak pemulung. “Mereka cenderung lebih agresif dibanding anak seusia mereka,” kata Basyir.

Telusuri Sejarah Lambang Garuda

Tak banyak orang tahu siapa pembuat lambang Negara Republik Indonesia. Berbeda  dengan simbol Negara lainnya, seperti bendera Merah  Putih, lagu Indonesia Raya, orang Indonesia telah banyak tahu sejarah dan pembuatnya.
Berangkat dari rasa penasaran tentang  siapa sang pembuat Burung Garuda Pancasila sebagai lambang Negara Indonesia, menurut Firman Faturohman, hal tersebut juga merupakan sebuah ironi  bangsa Indonesia yang melupakan sejarah proses pembuatan lambang pemersatu Negara Republik Indonesia tersebut.

Penghapal Al-Qur'an Belia di Desa Sumberpasir

Suasana gedung hijau di desa Sumberpasir itu selalu tampak ramai setiap usai solat subuh, gemuruh lantunan ayat-ayat Al-Qur’an menggema ke hingga langit-langit, terlihat beberapa lingkaran kecil (kafilah) yang terdiri dari beberapa santri, masing-masing kafilah dipimpin oleh seorang atau dua orang santri senior. Kegiatan deresan seperti itu memang merupakan tradisi pondok pesantren tersebut.


Beberapa santri yang tak memiliki alas duduk seperti sajadah terpaksa duduk dengan posisi jongkok, namun tak mengurangi kekhusu’an mereka menghapal dan mengulangi hapalan. Beberapa diantara mereka ada yang masih mengantuk bahkan tertidur sembari memeluk mushaf Al-Qur’an.


Syamsul Alam (14) tak bergeming dari tempatnya, mulutnya komat-kamit, matanya memeram dalam sambil mengernyitkan dahi, tangan kanannya memegang sebuah mushaf kecil al-Qur’an, sesekali dia membenarkan posisi duduk, ketika menyetor hapalan jika terdapat kesalahan tajwid dalam bacaannya, terlebih apabila terhenti karena melupakan beber…

Mahasiswa, Apa Peranmu?

Dalam sejarahnya, Mahasiswa Indonesia selalu berada di garda terdepan dalam mengontrol kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak kepada rakyat. Terhitung sejak rezim Pemerintahan Belanda hingga rezim Orde Baru, peran mahasiswa tidak dapat dipandang sebelah mata dalam sejarah Indonesia. Segala bentuk perubahan sosial di tengah masyarakat banyak diawali dari pergerakan mahasiswa, yang kemudian barangkali karena itulah mahasiswa disebut sebagai agent of change.

Peran dan aksi mahasiswa jaman dulu sangat terasa di jamannya. Hal tersebut, tercatat dalam tinta emas sejarah perkembangan Negara Indonesia. Selain sebagai aktor ulung pejuang suara masyarakat pada ranah sosial-lapangan, perpaduan budaya intelektualitas dan integritas tak luput pula menjadi sebuah instrumen primer dalam memangkuh jabatan sebagai mahasiswa.

Euforia Ahistoris Mahasiswa UIN Jakarta

Paruh pertama Januari lalu, segenap mahasiswa yang terhimpun dari  berbagai organisasi ekstra dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) berdemonstrasi di depan gedung rektorat, untuk menuntut agar sistem Student Government (SG) tetap diberlakukan. Aksi demonstrasi yang menyebabkan beberapa mahasiswa dilarikan ke rumah sakit akibat terluka tersebut tidak menemukan titik terang, yakni berupa penerapan kembali sistem SG untuk mahasiswa pasca dibekukan pihak rektorat tahun 2010 lalu. Kemudian paruh kedua Maret lalu, pihak rektorat menginstruksikan mahasiswa melaksanakan pemilu.
Pemilu diselenggarakan di fakultas masing-masing berdasarkan SK Rektor Un.01/R/10/2012. Rangkaian prosedur dan mekanisme pemilu versi rektorat tersebut berlangsung singkat. Atas instruksi pihak rektorat, hanya dalam seminggu seluruh fakultas dan jurusan telah memiliki ketua baru. Usai pemilu, beberapa mahasiswa merayakan kemenangan dengan melakukan konvoi bersepeda motor sembari mengibarkan bendera organisasi ekstra mengita…

Pythagoras

A.Pythagoras
Pythagoras adalah matematikawan dan filsuf Yunani yang paling dikenal melalui teoremanya. Belakangan, ia lebih dikenal sebagai “Bapak Bilangan”. Dia telah memberikan sumbangan penting terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke-6 SM. Kehidupan dan ajarannya tidak begitu jelas disebabkan banyaknya legenda dan kisah-kisah buatan mengenai dirinya.
Namun demikian, Pythagoras dan murid-muridnya tetap percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berhubungan dengan matematika, dan merasa bahwa segalanya dapat diprediksi dan diukur dalam siklus beritme. Menurut dia, dasar segala sesuatunya adalah bilangan. Sehingga, orang yang tahu dan mengerti betul akan bilangan, ia juga tahu akan segala sesuatu. Pythagoras adalah ahli ilmu pasti dan ahli musik. Penyelidikan alamnya memang mendalam dan besar pengaruhnya dalam lingkungan ahli pikir zamannya.

Pengertian Islam

A.Pendahuluan
 Islam merupakan salah satu agama besar di dunia diantara agama lainnya. Akan tetapi, apakah kalian mengetahui apa pengertian islam itu sendiri. Sebagian orang, di kalangan Barat, mengidentikkan agama Islam dengan istilah Muhammadanism dan Muhammadean.
Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang arti Islam secara etimologi dan karakteristik ajaran Islam. Dua hal merupakan pembahasan inti makalah ini. Kedua hal tersebut sangatlah luas dan tentu saja makalah ini hanya mampu menyajikan bagian kecil dari kompleksitas penjelasan kedua hal tersebut.

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.