Senin, 23 April 2012

Mahasiswa, Apa Peranmu?


Mahasiswa: Agent of Change
Dalam sejarahnya, Mahasiswa Indonesia selalu berada di garda terdepan dalam mengontrol kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak kepada rakyat. Terhitung sejak rezim Pemerintahan Belanda hingga rezim Orde Baru, peran mahasiswa tidak dapat dipandang sebelah mata dalam sejarah Indonesia. Segala bentuk perubahan sosial di tengah masyarakat banyak diawali dari pergerakan mahasiswa, yang kemudian barangkali karena itulah mahasiswa disebut sebagai agent of change.

Peran dan aksi mahasiswa jaman dulu sangat terasa di jamannya. Hal tersebut, tercatat dalam tinta emas sejarah perkembangan Negara Indonesia. Selain sebagai aktor ulung pejuang suara masyarakat pada ranah sosial-lapangan, perpaduan budaya intelektualitas dan integritas tak luput pula menjadi sebuah instrumen primer dalam memangkuh jabatan sebagai mahasiswa.


Seiring berjalan waktu, arus kehidupan pun berubah. Hal tersebut, berimplikasi pula dalam pola berkehidupan mahasiwa. Jika dulu, terakhir sejak tumbangnya rezim Orde Baru, mahasiswa sangat bergairah dalam menjalankan perannya dalam bentuk aksi yang sesuai konteks jamannya. Idealisme menjadi komoditas utama yang menjadi pegangan sebagai landasan inti melakukan pergerakan. 

Setelah tumbangnya rezim tersebut, mahasiswa kehilangan (musuh bersama) common enemy. Hal tersebut, berimplikasi kepada perihal bahwa mahasiswa kehilangan orientasi tujuan dan arah dalam berperan di tengah masyarakat. 
Stigma terhadap mahasiswa pun semakin berkembang belakangan ini. Baik untuk kalangan mahasiwa akademis maupun aktivis. Kalangan akademis senantiasa terlihat skeptis dengan beragam fenomena sosial di sekitar. Hal tersebut, disebabkan oleh tuntutan akademis yang meninabobokkan mahasiswa ke dalam ranjang kursi pendidikan yang hanya membangun sisi kognitif mahasiswa. Kepekaan terhadap fenomena sosial tergerus oleh dominasi tuntutan orientasi mencari pekerjaan.

Corak jaman yang semakin berkembang mewarnai pola kehidupan mahasiswa dewasa ini. Kaptitalisme secara teratur meresap di tengah kehidupan mahasiswa. Ditambah pula pola hidup konsumerisme, hedonisme dan materialisme yang kian menggerogoti hidup mahasiswa kini. Beragam hiburan dan fasilitas modern semakin membuat mereka terlena, memetakanya ke dalam berbagai komunitas yang tak jelas arah dan tujuannya bagi masyarakat.

Untuk kalangan mahasiswa aktivis, seringkali aksi yang mereka tunjukkan melahirkan tanda tanya besar pula. Dalam beberapa aksi, seperti demontrasi, yang dilakukan mahasiwa aktivis yang tampak, malahan menjadi instabilitas di tengah kehidupan sosial. Seperti menyebabkan kemacetan jalan, kerusakan fasilitas umum, dan lain sebagainya.

Belakangan, aktivisme mahasiswa ternodai pula oleh stigma adanya upaya pergerakan dengan menggunakan uang. Nilai-nilai luhur seperti keadilan, kejujuran, dan sebagainya, yang seharusnya menjadi titik awal guna melangkah memperjuangkan hak masyarakat, belakangan menjadi kuda tunggangan pihak tertentu, baik yang besifat politis, pragmatis, dan sebagainya. Belum lagi anarkisme yang semakin memudarkan wajah idealisme berkehidupan mahasiwa.

Hal tersebut, hanyalah gambaran sekilas dari asumsi realitas yang ada dan nyata. Dan, tidaklah menutup kemungkinan masih ada banyak hal positif dari mahasiswa jaman kini yang masih belum terjamah dalam abstrak yang merupakan latar belakang talkshow ini. Namun, di tengah fenomena sosial pemerintahan saat ini, seperti budaya korupsi, hilangnya integritas, pudarnya kepercayaan, merosotnya moral, tergerusnya sikap amanah, setidaknya posisi mahasiswa sebagai agent of change kurang begitu insentif membawa angin perubahan dalam kondisi bangsa saat ini, ada hal yang perlu direstorasi kembali dari para sosok penerus bangsa ini guna melakukan perubahan. (Ciputat, 2011)
Load disqus comments

1 komentar: