Senin, 30 April 2012

Mendidik Anak Pemulung


Abdul Basyir bersama seorang anak pemulung murid didiknya seusai mengajar.

Suatu kali, seusai mengajar, Basir sembari mengernyitkan dahi mencari sandalnya yang hilang usai mengajar. Setelah beberapa saat dia mendapati sandal tersebut ternyata berada di atas batu nisan kuburan. Apa sebab? “Disembuyiin anak-anak,” kenang pria kelahiran Pemalang, 26 Mei 1990 ini.

Menjadi guru relawan di lingkungan tempat pembuangan sampah  itu membutuhkan semangat lebih. Tumbuh di lingkungan kumuh yang tidak kondusif berdampak pada psikologis anak-anak pemulung. “Mereka cenderung lebih agresif dibanding anak seusia mereka,” kata Basyir. 


Meski begitu, pria bernama panjang Abdul Basyir ini menyayangi mereka. “Saya menyayangi mereka. Ada rasa kepuasaan tersendiri saat kita bisa berbagi, terutama dengan anak-anak bangsa yang belum beruntung seperti mereka,” katanya. Menurutnya, mentransformasikan pengetahuan kepada anak-anak pemulung yang tidak dapat mengeyam pendidikan laiknya anak lain pada umumnya merupakan kegiatan sosial yang penting.

Kegiatan menjadi guru relawan tersebut merupakan kerjasama antar organisasi yang kini dinakhodainya dengan Sanggar Islam Al-Hakim, Ciputat. Basyir mengkoordinatori lima tempat belajar anak pemulung di sekitar daerah Ciputat. Yakni Gang Kubur, Gang Mawar, Gang Jambu dan dua sanggar lagi di daerah Kampung Sawah.

Masing-masing sanggar belajar tersebut dipimpin oleh satu orang kepala sekolah dari mahasiswa. “Yang paling ‘angker’ itu di Gang Kubur,” katanya. “Pernah ada guru relawan dari mahasiswi menangis karena tak kuat dengan ulah murid didik mereka,” ujar Ketua Umum Ikatan Remaja Fathullah (Irmafa) periode 2011/2012 tersebut.  

Tantangan kondisi psikologis murid didiknya tak kalah dengan suasana belajar-mengajar. Bau busuk sampahdi sekitar tempat belajar terkadang mengganggu, namun baginya itu sudah hal biasa. “Apalagi kalau musim hujan, aroma sampahnya masyaAllah. Pernah juga ada rekan mahasiswi mengadu kepada saya merasa ketakutan melihat banyak belatung keluar dari bongkahan sampah,” tuturnya.

Tempat belajar sanggar sangat sederhana, menggunakan tempat seadanya. Di Gang Kubur sendiri mereka memanfaatkan musholla kuburan sebagai tempat belajar. “Pernah di pertengahan belajar kami berhenti sejenak karena ada mayat ingin disholatkan oleh warga setempat,” mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris angkatan 2008/2009 tersebut sambil tersenyum.

Misi sosial

Ditopang oleh beberapa donatur dari masyarakat, Basyir tidak hanya mengajar anak para pemulung di masing-masing tempat tersebut, pria yang tengah dalam proses menyelesaikan skripsinya ini juga memiliki misi sosial yakni pengentasan kondisi kehidupan penghuni setempat. “Kami pernah membelikan beberapa bebek kepada orang tua mereka (pemulung) agar mereka beternak, beberapa waktu kemudian bebek-bebek itu mereka jual,” ujarnya.

Lingkungan tempat mereka mengajar relatif primitif, di tengah warga setempat  tak jarang timbul perselisihan oleh adanya gap yang disebabkan perbedaan status sosial. Anak didik mereka berkelahi dan menangis, jika tidak disikapi dengan baik,  hal tersebut bisa saja berlanjut kepada pertikaian orang tua mereka. “Tak jarang ketika pulang dari mengajar saya dicegat orang tua mereka yang anaknya menangis karena berkelahi saat belajar,” tuturnya.








Load disqus comments

1 komentar: