Senin, 23 April 2012

Penghapal Al-Qur'an Belia di Desa Sumberpasir


Suasana gedung hijau di desa Sumberpasir itu selalu tampak ramai setiap usai solat subuh, gemuruh lantunan ayat-ayat Al-Qur’an menggema ke hingga langit-langit, terlihat beberapa lingkaran kecil (kafilah) yang terdiri dari beberapa santri, masing-masing kafilah dipimpin oleh seorang atau dua orang santri senior. Kegiatan deresan seperti itu memang merupakan tradisi pondok pesantren tersebut.



Beberapa santri yang tak memiliki alas duduk seperti sajadah terpaksa duduk dengan posisi jongkok, namun tak mengurangi kekhusu’an mereka menghapal dan mengulangi hapalan. Beberapa diantara mereka ada yang masih mengantuk bahkan tertidur sembari memeluk mushaf Al-Qur’an.



Syamsul Alam (14) tak bergeming dari tempatnya, mulutnya komat-kamit, matanya memeram dalam sambil mengernyitkan dahi, tangan kanannya memegang sebuah mushaf kecil al-Qur’an, sesekali dia membenarkan posisi duduk, ketika menyetor hapalan jika terdapat kesalahan tajwid dalam bacaannya, terlebih apabila terhenti karena melupakan beberapa ayat, pembimbing dihadapannya akan segera menegur (28/4).



Dia adalah seorang santri asal Samarinda, Kalimantan Timur, tekad kuat yang telah membawanya pergi menuntut ilmu di kota Bunga ini, ‘’Aku ingin dapat sesuatu yang lebih dengan bersekolah jauh dari kampung halaman,’’ tutur bocah berdarah Bugis ini. Meski pada awalnya merasa dipaksa orang tua, kini bocah berdarah bugis tersebut mengaku menikmati lingkungan barunya.


Untuk beradaptasi dengan budaya setempat, pada awalnya Ia merasa kesulitan, penduduk desa setempat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa. Sangatlah mudah membedakan antara penduduk setempat dengan pendatang dari luar. ‘’Ya lumayan mas, wis oleh pitung wulan aku nang kene’’ ungkapnya dengan bahasa Jawa yang kaku.



Matahari mulai merangkak perlahan tinggi keatas, seperti biasa pukul 06:05 beberapa santri yang bersekolah di luar menyudahi kegiatan deresan terlebih dahulu. Mereka harus mempersiapkan diri berangkat sekolah. Sistem pembelajaran pondok tersebut mempunyai pembagian masing-masing. Secara garis besar santri terbagi menjadi dua, junior dan senior. Kemudian masing dari kedua pembagian tersebut terbagi lagi menjadi dua, ada yang bersekolah formal di luar, ada juga yang belajar di pondok saja.



Beberapa santri mulai meninggalkan gedung untuk berangkat, pamit dan bersalaman satu persatu dengan pengasuh pondok yang duduk mengawasi kegiatan di sisi pojok gedung, ‘’Mas saya berangkat sekolah dulu ya,’’ tutur Muhammad Aidil Rizky (16), Salah satu pelajar SMA kelas dua asal Berau, Kalimantan Timur, dia telah menghapal sekitar 10 juz.



Bagi yang telah menyetor hapalannya hari itu, Zainul Arifin (26), petugas yang mencatat daftar setoran santri menyambungkan garis linier di papan besar absensi yang tertempel di dinding. Kualitas kerajinan dan kedisiplinan santri dalam menyetorkan hapalannya begitu jelas tertera di dinding, hal ini menurut Zainul agar memberikan sangsi moral bagi santri yang malas menyetor hapalan. Semua bisa melihatnya dengan jelas di dinding.



Beberapa kafilah mulai berkurang satu persatu-satu. Ibrahim (14) masih saja tampak larut dalam bacaannya. Postur tubuhnya kecil, meski begitu tak jarang beberapa santri yang lebih tua dari dia memintanya untuk menyimak hapalan mereka. Saat berusia sebelas tahun Dia telah behasil menghapal 30 juz di bawah bimbingan ayahnya, kultur budaya keluarga yang dibentuk oleh ayahnya sangat keras, seluruh saudaranya telah merampungkan hapalan 30 juz rata-rata saat berusia sembilan tahun, ‘’Aku ini paling nakal di keluarga ,Kak, baru bisa menyelesaikan hapalan pas usia sebelas tahun,’’ terangnya.



Saat teman-teman sebayanya berangkat ke sekolah, dia tetap saja berada di gedung menantikan kegiatan selanjutnya, shalat dhuha’ berjamaah. Dirinya menceritakan selepas SD kelas empat dia tidak lagi pernah mengenyam pendidikan formal. Ayahnya menginginkan dirinya hanya fokus dengan ilmu agama saja. Di pesantren saat ini, Ia bocah asal kota Batu, Jawa timur, tersebut ingin mentashih bacaannya kembali dan mempelajari Qiro’ah Sab’ah (tata cara membaca Al-Qur’an dalam versi bacaan riwayat lain, red).



Jadwal rutinitas sekolah yang padat, kondisi alam yang dingin, kampung halaman jauh, dan sesekali harus terjaga di tengah malam untuk mengulang hapalan, bukanlah hal yang banyak dilakukan oleh anak-anak seusia mereka, namun tekad kuat serta dorongan motivasi dari pembimbing dapat memompa semangat mereka kembali.


Menurut Abdullah (29/4), selaku pembina santri junior dahulu pesantren ini tak banyak dihuni oleh anak-anak kecil seperti saat ini. Dahulu, para santri rata-rata biasanya sudah pernah menghapal sebelumnya lalu ingin mendalami keberbagai cabang ilmu Al-Qur'an lainnya, terutama Qiro'ah Sab'ah, Tafsir, dan Tahsin Tajwid. Menjelang tahun 2006 lalu banyak orang tua yang membawa anaknya untuk menghapal dan mempelajari Al-Qur'an di sini.



Terkadang ada saja beberapa anak kecil yang menangis karena usia rindu ingin pulang, apalagi ketika mendapat ta'dzir karena setoran hapalan mereka tidak mencapai target. Muhammad Anshor (15) menceritakan proses menghapal pada saat dia masih anak baru tiga tahun lalu, dia merasa berat, namun seiring berjalannya waktu hal tersebut kini bukan hal yang berat, ''Iku wis biyen, saiki ben dino paling minim telung juz,'' ungkapnya dalam bahasa jawa. Kini dia berhasil menyelesaikan hapalannya 30 juz.



Pelajaran mengenai Qiro'ah Sab'ah memang menjadi materi yang cukup ditekankan di pesantren ini. Untuk memudahkan para santri mengingat para imam perawi tersebut, tujuh dari kamar di asrama putra pesantren tersebut menjadikannya sebagai nama kamar; Nafi', Ibnu Katsir, Abu 'Amrin, Ibnu 'Amir, Ashim, Hamzah dan Al-Kasa'i..
Perjalanan mencari ilmu bukanlah hal mudah, ada banyak rintangan menanti di depan, tak terduga dan sesekali membuat goyah langkah kaki untuk terus melangkah, terlebih jika usia masih muda belia. Dibalik keterpaksaan ada pintu keterbiasaan.



Perpaduan antara alah bisa karena biasa dan bak menulis di atas batu sangat indah jika diselingi dengan kemauan dan tekad kuat. Mengingat budaya menghabiskan waktu untuk hal-hal tidak bermanfaat begitu mengakar pada bangsa ini, kekurangan motivasi mengejar cita-cita. Rupanya masih ada saja beberapa anak belia di negeri ini yang memiliki kekuatan dalam melakukan percepatan dan keuletan menggapai tujuan. Secepat anak-anak tersebut berlarian ke dapur untuk sarapan beberapa saat setelah kegiatan mereka berakhir di pagi itu. 
(Jawa Timur, Malang, Sumberpasir, 2011). 

a. Topik feature ini memotret sekelumit kisah beberapa penghapal muda al-Qur’an, Pondok Pesantren Al-Qur’an As-Salafi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, masa bermain dan pertumbuhan mereka begitu disiplin, berbeda dengan anak-anak seusianya yang identik dengan istilah masa bermain, tak jarang beberapa dari mereka tak kuat sehingga jatuh sakit melawan iklim dingin Malang, ada pula yang tidak bersekolah karena keinginan orang tua mereka agar fokus menghapal saja. 
b. Dengan intro feature Tipe Unik
c. dengan penutup Ajakan Bertindak.
d. Alamat jalan Raya Sumberpasir no.99 A, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Telp. (0341) 787762
e. Referensi Penulisan Jurnalistik Sastrawi: JURNALISTIK INDONESIA, Menulis Berita dan Feature, oleh Drs. AS Haris Sumadiria M. Si
Load disqus comments

0 komentar