Rabu, 18 April 2012

Pengertian Islam




 Islam merupakan salah satu agama besar di dunia diantara agama lainnya. Akan tetapi, apakah kalian mengetahui apa pengertian islam itu sendiri. Sebagian orang, di kalangan Barat, mengidentikkan agama Islam dengan istilah Muhammadanism dan Muhammadean.

Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang arti Islam secara etimologi dan karakteristik ajaran Islam. Dua hal merupakan pembahasan inti makalah ini. Kedua hal tersebut sangatlah luas dan tentu saja makalah ini hanya mampu menyajikan bagian kecil dari kompleksitas penjelasan kedua hal tersebut.


B.  Pengertian Islam

Pengertian Islam dalam artian etimologis (lughawi) begitu banyak pendapat dan para languistis, musafir dan orientalis telah mencoba mencari itu dengan pendekatan secara etimologis. Dari hasil pembahasan mereka menjadi banyak sekali dan juga kontroversial. At-Thabarah mencatat pandangan-pandangan yang dianggap terkuat mengenai arti etimologis Islam itu , sebagai berikut:

·        Berarti Al-Khulush wa Al-Thohari mina’l Afati’z-Zhahirati awi’l-Bhatinati; (bebas dan bersih dari penyakit lahir dan batin).

·        Berarti As-Shulhu wa Al-Aman; (damai dan tentram)
·        At-Tha’atu wa Il-Idz’anu. (taat dan patuh).[1]

Menurut Drs.Shalahudin Sanusi menerangkan bahwasannya Islam menurut arti bahasa sebagai berikut:

Menurut arti bahasa kata-kata “Islam” mempunyai beberapa arti:

·        Islam dari kata-kata “assalamu”,”assalamu”dan”assalamatu” yang berarti: Bersih dan selamat dari kecacatan-kecacatan lahir dan batin.
·        Islam dari kata-kata “assilmu” dan “assalmu” yang berarti: perdamaian dan keamanan.(as-shulhu wal amaan).

·        Islam dari kata-kata “assalamu” (la=dibaca pendek),”assalamu”dan “assilmu” yang berarti: menyerahkan diri, tunduk dan taat (al-istislamu – al-idz’aanu – ath thaa’atu)[2]

Menurut pembahasan mengenai arti Islam menurut terminologi ( Istilah ).Banyak sekali para ahli yang mengajukan arti Islam, Din (dalam arti: Wahyun Ilahiyun). Di bawah ini kami kutipkan beberapa diantaranya:

Syaikhul al-Azhar Kairo Almarhum Mahmud Syaltut menulis: Islam adalah agama Allah yang diperintahkannya untuk mengajarkan pokok-pokok serta peraturan-peraturannya kepada Nabi Muhammad SAW, dan menugaskannya untuk menyampaikan agama tersebut  kepada seluruh manusia mengajak mereka untuk memeluknya.[3]

Majelis Ulama Persatuan Islam (Persis) merumuskan tentang ad-Din sebagai berikut:
Ad-Dinu Wahyun IIahiyun Munazzalun min’indi ‘I-Lahi’ala Rasuli-Hi li-yuballighahu ‘n-Nasa[4] Agama ialah wahyu Ilahi yang diturunkan dari Allah kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap manusia.

Sementara itu al-Ustadz K. H. E. Abdurrahman, salah seorang guru besar Persatuan Islam sendiri, merumuskan: Agama itu adalah ketetapan ketuhanan karena kebaikan Allah kepada manusia dengan melalui lidah (dengan penyambung) dari antara mereka; untuk mencapai kerasulan itu tidak dapat dengan usaha dan tidak  pula dibuat-buat,dan tidak akan mendapatkan wahyu itu dengan cara belajar; In huwa illa wahyun yuha, yang demikian itu tidak lain hanya semata-mata wahyu yang diwahyukan kepadanya.[5]

Dr.Ahmad Fatih Gazali berpendapat bahwa Islam itu adalah agama yang sangat luas, yang mendekatkan melewati bahasa yang lebih identik mengartikan Islam dengan kata selamat. Dari kata selamat itu dikembangkan menjadi setiap agama yang mengajarkan tentang keselamatan adalah agama Islam. Dan mengartikan potongan ayat Inna Al-dina indaLlahi Al-Islam (Ali ‘Imraan 3:19,85). Yang berarti agama disisi allah adalah agama yang membawa keselamatan.

C.  Karakteristik Ajaran Islam

Setiap agama manapun pasti memiliki ciri atau karakteristik yang berbeda, sesuai dengan keyakinan umatnya masing-masing. Islam adalah agama yang memiliki visi rahmatan lil alamin  yakni bagaimana posisi agama yang diyakini umat manusia bisa berperan sebagai penentu rasa aman, memecah segala problematika hidup, dan mampu menstimulus manusia agar senantiasa taat terhadap segala yang dititahkan Tuhan. 

Visi itu tersebut tidak terbatas pada kalangan umat Islam, tetapi bagaimana rahmat juga bisa dirasakan oleh seluruh makhluk yang lain termasuk umat-umat yang beragama lain. Universalitas yang terdapat dalam visi tersebut menandakan bahwa sejak diturunkan, Islam sudah berupaya menjadi satu agama yang memiliki ciri yang universal. 

Keberadaannya semestinya dapat dirasakan secara lebih luas, tidak hanya terbatas untuk umat yang meyakini keberadaannya saja, tetapi Islam mampu menunjukkan sebagai agama yang menyejukkan seluruh alam.

Kedua, ciri lain yang terdapat dalam Islam adalah pengakuan terhadap adanya pluralisme agama. Pluralisme menurut Nur Cholis Madjid adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak akan berubah, sehingga tidak mungkin dibantah. Islam adalah agama yang kitab sucinya secara tegas mengakui hak agama lain kecuali paganisme dan syirik. Untuk hidup dan menjalankan ajaran masing-masing dengan penuh kesungguhan.

Karaktersitik ajaran Islam tersebut disamping adanya pluralisme sebagai adanya pluralisme sebagai suatu kenyataan, juga mengakui adanya universalisme, yakni mengajarkan kepercayaan kepada Tuhan dan hari akhir, menyuruh berbuat baik, dan mengajak kepada keselamatan. Inilah yang pada akhirnya nanti melahirkan toleransi antar umat beragama. Meminimalisir bentuk fanatisme beragama secara membabi buta, menghilangkan rasa paling benar sendiri, dan sikap-sikap fanatik lainnya.

Ketiga, Islam bersifat autentik dan orisinal sebagai agama yang lahir atas wahyu Allah yang langsung diterima Muhammad Saw secara rasio adalah agama yang betul-betul terjaga keasliannya. 

Orisinalitas tersebut dapat dianalisa mulai dari mulai dari proses penerimaan wahyu Allah Swt melalui Malaikat Jibril yang langsung diterima Rasulullah Saw tanpa perantara lain. Sehingga pada proses ini kelihatan tidak mungkin ada campur tangan pihak lain, dengan sendirinya orisinalitas dapat terjaga dengan baik. Bahkan secara normatif, Allah Swt telah memberikan satu penjelasan yang  meyakinkan bahwa “Sesungguhnya Kami (Allah) yang telah menurunkan Al-quran (Ajaran Islam) dan Kami pula yang menjaganya”. Artinya tidak ada satu lagi alasan yang menolak Islam sebagai agama yang otentik, orisinal, terjaga keasliannya.

Islam dikenal sebagai agama selalu mengedepankan sikap progresifitas, dinamis dan inovatif. Hal ini dibuktikan dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang melarang umat Islam untuk berkeluh kesah jika ada permasalahan yang secara kebetulan menimpanya. Islam menganjurkan selalu berfikir, menganalisa semua persoalan dengan penuh pijakan yang jelas.[6]


Daftar pusaka:
-         Anshari, Endang Saifuddin. Kuliah Al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi. Rajawali,Jakarta 1986-1992.

-         Gholib, Drs. H. Achmad, MA. Studi Islam, Pengantar Memahami Agama, Al-Qur’an, Al-Hadits, Dan Sejarah Peradaban Islam. Faza Media, Jakarta, 2006.



[1] Anshari,Endang Saifuddin, Kuliah Al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi,(Rajawali,Jakarta 1986-1992, hal:68)
[2] Anshari,Endang Saifuddin, Kuliah Al-Islam Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi,(Rajawali,Jakarta 1986-1992, hal:68)

[3] Syaik Mahmud Syaltut,Islam sebagai’Aqidah dan Syari’ah,terjemahan A.Gani dan B. Hamdani Ali,Bulan Bintang,Jakarta 1967,hlm:15.
[4] Mu’tamar Persatuan Islam ,19 September 1953,di Bandung.
[5] Saifuddin Anshari ,Pokok-pokok Pikiran tentang Islam, c.v.Pelajar,Bandung ,1969,hlm.25.
[6] Drs. H. Achmad Gholib, MA. Studi Islam, Pengantar Memahami Agama, Al-Qur’an, Al-Hadits, Dan Sejarah Peradaban Islam. (Faza Media, Jakarta, 2006), h. 34
Load disqus comments

2 komentar