Senin, 30 April 2012

Telusuri Sejarah Lambang Garuda


Tak banyak orang tahu siapa pembuat lambang Negara Republik Indonesia. Berbeda  dengan simbol Negara lainnya, seperti bendera Merah  Putih, lagu Indonesia Raya, orang Indonesia telah banyak tahu sejarah dan pembuatnya.

 Firman bersama Max Al-Kadrie, asisten pribadi Sultan Hamid II Al-Kadrie,
saat wawancara di kediamannya di Jakarta Selatan. 
Berangkat dari rasa penasaran tentang  siapa sang pembuat Burung Garuda Pancasila sebagai lambang Negara Indonesia, menurut Firman Faturohman, hal tersebut juga merupakan sebuah ironi  bangsa Indonesia yang melupakan sejarah proses pembuatan lambang pemersatu Negara Republik Indonesia tersebut.


Dengan mengusung karya tulis berjudul “Sultan Hamid II Al Kadrie, Pembuat Lambang Pemersatu Bangsa”, Mahasiswa kelahiran Majalengka, 9 Agustus 1992 tersebut bulan September lalu berhasil mengibarkan bendera UIN di kancah nasional sebagai kategori karya terbaik 10 besar pada Lomba Karya Tulis Sejarah (LKTS) tingkat mahasiswa.

“Hal ini jarang diketahui oleh orang banyak, bahkan kadang terlupakan oleh para akademisi dan pemerhati sejarah,” tutur mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, Universitas Islam Negeri Jakarta ini.

Lomba tersebut dihelat dalam rangka Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS), yang diselenggarakan oleh tiga instansi pemerintah yakni Direktorat Nilai Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, di Sulawesi Tengah, Palu, 9-15 September 2011.

 “Alhamdulillah, sekitar 137 peserta dari berbagai universitas di Indonesia,  aku nggak nyangka masuk 10 besar, rasa syukur juga bisa ke Palu, Sulawesi Tengah, atas undangan Kemenbudpar mengikuti dialog interaktif kesejarahan  beserta para mahasiwa  pemenang lainnya ,” tuturnya salah satu anggota olahraga voli unit kegiatan mahasiswa  Forsa (Federasi Olahraga Mahasiswa, red) tersebut.

Pada saat di Palu ia mengaku sempat grogi ketika berkumpul dengan mahasiswa lainnya, setelah beberapa waktu akhirnya ia bisa akrab dan beradaptasi, “Maklum, saat itu aku masih semester dua, yang lainnya udah pada semester akhir”.

Meski proses membuat karya tersebut dirinya menghadapi berbagai kendala, usaha keras dan berkat dorongan orang-orang terdekat membuatnya berhasil menyelesaikan karya ilmiahnya dalam satu bulan, “Pas ngebuatnya bertepatan UAS, mana di Forsa juga lagi sibuk, terus orang tua waktu itu lagi sakit, mau dioperasi,” tuturnya.

CINTA SEJARAH

Sejak kecil Firman mencintai pelajaran sejarah. Meski dulu saat SMA berada di jurusan IPA, dan pernah menjadi finalis terbaik ke enam saat mewakili Propinsi Banten pada perlombaan pelajaran IPA tingkat propinsi di Jakarta, tapi pada saat mendaftar kuliah ia meneruskan minatnya di bidang sejarah. “Guru SMA saya banyak yang nyayangin masuk jurusan sejarah, ” kenang mahasiswa semester tiga ini.

Baginya, ilmu sejarah sangatlah penting, selain memperkaya wawasan “Sejarah itu sangat penting bagi kehidupan, salah satu faktor pentingnya sejarah adalah bisa mempersatukan bangsa,” ujar pengagum Presiden Soekarno ini.  Dia mengatakan bahwa sejarah juga bisa menjadi sumber motivasi. Kelak ia ingin menjadi peneliti sejarah.

(November 2011)
Load disqus comments

1 komentar: