Sabtu, 05 Mei 2012

Kiat Sukses Menulis Hebat ala Wawan Susetya


Pendahuluan

Tulisan adalah Kamu
Bahwa menulis itu penting, menurut saya karena berdasar ayat Allah Swt yang turun pertama kali dalam Surah Al-‘Alaq (QS 96: 1) berbunyi: “Iqra’ bismi rabbikal ladzi kholaq” (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan)! 

Dan, ayat berikutnya artinya: (96:2) “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, (96:3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (96:4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. (96:5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Ketika Malaikat Jibril a.s menyampaikan ayat pertama “Iqra’ bismi rabbikal ladzi kholaq” (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu), apakah pada saat itu Malaikat Jibril menyodorkan lembaran kertas atau buku (kitab) agar dibaca oleh Muhammad? Tentu tidak! Lantas, apa yang harus “dibaca” oleh Nabi Muhammad?

 
Perlu diketahui bahwa ayat-ayat Allah itu tidak hanya berupa teks-teks Qur’an saja, tetapi mencakup tiga hal jenis ayat, yaitu 1) ayat yang tersurat (al-Qur’an); 2) ayat yang tersirat (ayat alam) atau kosmos (jagad raya), yakni terdiri ayat sosial yang berupa sejarah dan perilaku masyarakat; dan 3) ayat nafsiyah (ayat diri manusia itu sendiri). 

Sedangkan, fokus perintah “membaca” Malaikat Jibril a.s kepada Nabi Muhammad pada saat itu, yakni membaca ayat alam yang berupa perilaku masyarakat Jahiliyah Arab yang memiliki tiga kejahatan atau penyimpangan besar, yakni;

Pertama, menyimpang dari segi ketauhidan (meng-Esa-kan Tuhan), yakni menyembah kepada thaghut (banyak berhala atau patung). Bahkan, mereka mempunyai kebiasaan sering mengadakan kontes atau semacam perlombaan mengenai banyaknya berhala (patung) yang disembah dan dipujanya membuat berhala sebanyak 365 buah. 

Kedua, menyimpang dalam hal cara beribadahnya, yakni masyarakat Arab Jahiliyah saat itu dalam beribadahnya dengan cara telanjang bulat—laki-laki dan perempuan—di depan Ka’bah hingga terjadinya adegan kumpul kebo.

Ketiga, dalam sejarah peradaban umat manusia, masyarakat Jahiliyah Arab dikenal sebagai orang yang paling kejam di dunia, yakni memiliki kebiasaan menimbun anak-anak perempuan mereka ke dalam tanah dalam keadaan hidup-hidup dikarenakan merasa malu memiliki anak perempuan. Tindakan tersebut jelas lebih kejam dibanding tindakan Raja Fir’aun dan Raja Namrud yang memerintahkan membunuh bayi-bayi laki-laki pada saat itu. 

Meski perintah “membaca” pada ayat di atas tidak secara langsung dimaknai membaca buku (kitab) atau lembaran-lembaran teks, tetapi membaca berdialektika atau memiliki hubungan timbal-balik dengan menulis, sebagaimana ada laki-laki-perempuan, langit-bumi, baik-buruk, suka-duka, dan seterusnya.

Kegiatan menulis menjadi lebih bermakna lagi, terutama untuk menulis tentang alam, karena mengamati dan mempelajari alam merupakan kegiatan orang ‘alim. Maka, sebagaimana dikatakan oleh Hernowo Hasyim, ikatlah ilmu pengetahuan yang Anda baca, pelajari, hayati, dan renungkan dengan menuliskannya. Itulah yang kemudian disebut dengan “mengikat makna” oleh Hernowo Hasyim, seorang penulis dan pelatih kepenulisan dari Penerbit Mizan. 

Alhamdulillah, saat ini buku karya saya yang diterbitkan penerbit nasional (ber-ISBN) telah mencapai 70-an buku, antara lain Penerbit Tiga Serangkali Solo, REPUBLIKA Jakarta, Imania (Pustaka Iman) Depok, Galang Press, Kreasi Wacana, Diva Press, Qudsi Media, Tugu Publisher, Narasi (Media Pressindo Utama) Yogyakarta. Selain itu ada 6 buku saya yang diterbitkan penerbit Malaysia yaitu PTS MILLENNIA. Buku-buku saya tersebut dengan genre agama, budaya, motivasi, novel sejarah (cerita rakyat) dan novel wayang. 

Pernah pada suatu malam, saya kedatangan seorang tamu eksentrik dari Surabaya yang mengatakan kepada saya: “Orang yang paling bahagia adalah orang yang menulis.” 

Ia juga mengatakan, “Orang besar adalah orang yang menulis atau ditulis.” 
Tentu, ungkapan seperti itu semakin membangkitkan saya untuk terus menulis (buku) dan berusaha untuk senantiasa belajar meningkatkan kualitas tulisan saya. 

Bagaimana Kata Tokoh tentang Menulis?

Aku Menulis Maka Aku Ada
Imam al-Ghazali yang dikenal dengan sebutan ‘Hujjatul Islam’ mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”. 

Barangkali, yang dimaksud Imam al-Ghazali dengan pernyataannya itu bahwa seorang Muslim dapat beramal sholeh dengan menulis buku. Sebab, dengan menulis buku, ia secara otomatis harus belajar ilmu terlebih dahulu, lalu diamalkan dengan ikhlas.

Berbeda dengan anak raja yang dengan segala fasilitas dan kekuasaannya ia dapat beramal sholeh. Demikian halnya dengan anak seorang ulama besar, yang dengan ilmunya ia langsung dapat berdakwah di tengah-tengah masyarakat.

Imam al-Ghazali sendiri adalah seorang ulama besar yang karya bukunya mencapai 313, sedang yang sudah masuk ke Indonesia sekitar 18 buku. Salah satu karya Imam Ghazali yang paling kesohor yaitu berjudul Ihya’ Ulumuddien.

Selain Imam al-Ghazali, ada pula tokoh Muslim yang juga menulis buku, yaitu Syech Ibnu Atho’illah Asy-Syakandari yang terkenal dengan karyanya; Al-Hikam, yang sangat fenomenal. Mengapa fenomenal, lantaran Syech Ibu Atho’ menulis bukunya berdasarkan ilham yang diterimanya. 

Memancing Ilham: Proses Penciptaan Sebuah Karya

Saya sering mendapat pertanyaan dari kawan, “Bagaimana caranya mendapatkan ilham, inspirasi, atau gagasan tulisan?”

Secara umum, penulis pemula biasanya memang disibukkan dengan kata mood atau tidak mood ketika hendak menulis.
Hal ini rupanya memang merupakan suatu keniscayaan. Kalau kita tidak merasa mood menulis, maka kita pun tak menulis. Baru setelah kita memiliki mood, maka kita mulai menulis. 

Lalu, bagaimana caranya memancing untuk mendapatkan ide, gagasan, inspirasi atau ilham untuk menulis? 

Sebagaimana diuraikan di atas, maka cara untuk mendapatkannya yaitu dengan membaca! Ini mutlak diperlukan bagi seorang penulis! Tetapi, agar ide, inspirasi, gagasan atau ilham tersebut benar-benar mendalam, maka diperlukan beberapa cara untuk memancingnya, yakni;

Pertama, memperbanyak diam atau mengurangi bicara.
Kedua, menyendiri di tempat yang sepi.
Ketiga, sering begadangan (berjaga) di waktu malam.
Keempat, mampu menahan rasa lapar.
Itulah proses pencarian ide, gagasan, inspirasi atau ilham dalam menulis, terutama bagi para penulis pemula sehingga timbul suatu mood untuk menulis. Berbeda, misalnya, dengan yang dituturkan Fauzil Adhim—penulis buku tentang parenting (kepengasuhan)—bahwa yang ia lakukan tetap menulis, baik ada mood atau tidak ada mood! 

Hal itu, tentu berkaitan dengan jam terbang dalam menulis, sebagaimana dikatakan Stephen King: “Kita tidak harus menunggu datangnya inspirasi itu, kita sendirilah yang menciptakannya”. 

Dan, menurut Stephen King, ketika seorang penulis hanya menunggu dan menunggu datangnya inspirasi itu, maka sebenarnya ia belum menjadi dirinya sendiri”. 

Memang, sebagaimana mencipta sebuah lagu, maka menulis buku pun merupakan suatu proses penciptaan sebuah karya. Sabrang Damar Mawa Panuluh atau biasa dipanggil Noe, vokalis group band Letto, ketika ditanya tentang proses penciptaan lagu-lagunya yang menyentuh, ia mengatakan bahwa proses membuat sebuah lagu seperti proses ‘membuat anak’! Artinya, hal ini memerlukan suatu proses tertentu, misalnya perenungan dan doa. 

Hal itu seperti dinyatakan pula oleh Stephen King: “Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya.” 

Dengan demikian, tentunya kita berharap bahwa karya tulis kita berupa buku akan menjadi bermanfaat dan memberikan pencerahan serta memberikan inspirasi bagi orang lain atau para pembaca kita.

Sebagaimana yang ditempuh budayawan Emha Ainun Nadjib dalam memberikan pencerahkan kepada masyarakat melalui kegiatannya termasuk menulis easy, puisi atau buku, bahwa semua itu mengisyaratkan bergerak untuk terus-menerus ‘menjadi’—meminjam terminologi Erich Fromm—berproses menuju ‘keabadian’.

Menulis pun, kata Pramoedya Ananta Tour identik bekerja untuk keabadian! Sehingga, hasil karya berupa novel atau buku nantinya akan dapat dinikmati sepanjang masa oleh generasi sesudah kita hingga anak-cucu kelak dan seterusnya.

“Kata Kunci” dalam Dunia Tulis-Menulis

Beberapa penulis di negeri kita setidaknya telah mampu menorehkan karya besarnya, seperti novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, Ayat-Ayat Cinta Habiburrahman El-Shirazy, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Trilogi Makrifat Cinta, Taufiqqurrahman Al-Azizy, Arok-Dedes Pramoedya Ananta Tour, atau bahkan Tafsir Al-Mishbah Dr. Quraish Shihab, Catatan Pinggir Gunawan Muhammad, Slilit Sang Kiai Emha Ainun Nadjib dan sebagainya. 

Lalu, adakah mereka memiliki resep khusus dalam pembuatan karya besar mereka?

Menurut hemat saya, sebenarnya tidak ada resep bagi mereka, meskipun mereka telah menghasilkan karya buku yang dahsyat. Hanya saja mereka memiliki dua “kata kunci” yang tak pernah lekang dalam kehidupan mereka, yakni membaca dan menulis. 

Membaca
Sebagaimana ayat pertama yang diturunkan Allah Swt dalam Surah Al-‘Alaq dalam al-Qur’an, yaitu iqra’ (bacalah), hal itu jelas mengisyaratkan bahwa membaca merupakan sesuatu yang sangat penting bagi umat manusia.

Tentu, membaca di sini disesuaikan dengan bacaan sesuai selera atau kesenangan Anda! Jika Anda senang buku sastra atau novel, silahkan baca buku sastra. Jika Anda senang buku ilmu pengetahuan, bacalah buku ilmu pengetahuan.

Jika Anda senang terhadap persoalan agama, silahkan baca buku-buku agama. Jika Anda senang komputer, silahkan baca buku tentang komputer. Jika Anda senang terhadap pertanian, silahkan baca buku pertanian. Atau mungkin Anda senang dengan tulisan artikel/opini di media, dan seterusnya.

Meski demikian, hendaknya Anda jangan hanya sekedar membaca buku biasa, tetapi diusahakan membaca buku yang berkualitas atau berbobot.

Dalam akumulasi tertentu atau semakin sering Anda membaca buku tersebut, niscaya tulisan Anda pun akan diwarnai oleh bacaan yang telah Anda baca itu.

Nah, dengan demikian di sini ada hubungan dialektika antara membaca sebagai input dan menulis sebagai out put atau produk yang Anda hasilkan.  Renungkanlah penuturan Stephen King: “Membaca adalah pusat yang tidak bisa dihindari oleh seorang penulis”. 

Menulis
Karena membaca merupakan input bagi seorang penulis, maka out put nya adalah tulisan yang kita hasilkan. Oleh karena itu, hendaknya kita terus melatih dan mengasah ketrampilan dalam menulis setiap hari.

Dan, perlu diketahui bahwa dalam hal menulis ini menyangkut jam terbang, sebagaimana halnya mengajar, menyetir mobil, bercocok tanam, dan sebagainya. Artinya, semakin terbiasa Anda menulis atau semakin tinggi jam terbang Anda dalam kegiatan menulis, maka Anda pun akan semakin ahli.
 
Sekali lagi, dalam menulis ini ada hubungan timbal-balik dengan membaca, seperti dinyatakan oleh Hernowo Hasyim, “Penulis yang baik, karena ia menjadi pembaca yang baik”.
 
“Syarat untuk menjadi penulis ada tiga, yaitu: menulis, menulis, menulis,” demikian dikatakan budayawan dan penulis Dr. Kuntowijoyo.

Demikianlah dua “kata kunci” yaitu membaca dan menulis, yang identik dengan “two in one”, satu-kesatuan dan tak dapat dipisah-pisahkan. Sebagaimana burung yang terbang dengan mengepakkan dua sayapnya yang kanan dan yang kiri, maka seorang penulis pun dituntut dua syarat mutlak, yaitu gemar membaca dan kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Bagaimana Cara Menulis Buku yang Hebat, Baik dan Indah? 

Menulis buku itu sebenarnya hanyalah aktivitas merangkai huruf, kata, kalimat, paragraf atau alinea, dan lembaran-lembaran tulisan hingga menjadi sebuah buku.

Dengan demikian, kita sesungguhnya dapat mengatakan bahwa buku itu merupakan kumpulan bab, sedang bab itu sendiri merupakan kumpulan paragraf-paragraf (alinea-alinea), sedang paragraf merupakan kumpulan dari beberapa kalimat, sedang kalimat merupakan kumpulan dari beberapa kata, dan kata hanyalah kumpulan dari huruf-huruf. Setidaknya, inilah perspektif atau cara pandang baru dalam melihat buku.

Tergelitik bagi kita untuk dapat menulis buku yang hebat, baik dan indah, menggugah, bahkan dapat menginspirasi orang lain, apalagi dapat menjadi best seller di pasaran. 

Beranikah kita bermimpi seperti itu?

Di samping penguasaan teknik menulis yang baik dan benar, tentu hal ini menyangkut tantangan bagaimana tulisan kita dapat diterima oleh penerbit nasional (ber-ISBN), yang tergolong penerbit menengah sampai besar. Yang tak boleh dilupakan yaitu harus mengetahui visi-misi penerbit yang hendak kita tuju.

Jika tulisan kita tentang agama atau motivasi, hendaknya jangan memasukkan naskah kita kepada penerbit yang berorientasi pada komputer atau elektronika. Pada dasarnya dicari penerbit yang senafas dengan naskah yang kita tulis. 

Selain itu, sebagai penulis kita harus membangun rasa optimistis bahwa tulisan kita dapat diterima oleh penerbit berskala nasional yang memiliki jaringan luas. Saya kira, dengan memiliki niat yang baik dan jujur, memiliki semangat dalam menulis, serta menguasai teknik-teknik menulis yang baik, maka hal itu akan menjadikan buku kita memiliki “ruh” yang baik pula.

Sehingga, diharapkan akan enak dibaca, dijadikan referensi bagi penulis lain, dikoleksi di perpustakaan umum, dijadikan pegangan akademisi, dan terlebih dapat mencerahkan para pembaca kita. 
Adapun langkah-langkah kiat sukses menulis buku, syukur kalau dapat menjadi best seller, yakni sebagai berikut;

1). Membangun Keyakinan
Bahwa buku kita akan diterima publik, dapat memberikan inspirasi dan menggugah orang lain atau bahkan menjadi best seller, sebenarnya dalam hal ini memiiki peluang yang sama dengan penulis hebat sekali pun. Jadi, antara penulis pemula dengan penulis senior tak ada bedanya. 

2). Persepsi Menulis Buku Mudah
Ini penting, sebab orang yang tidak memiliki persepsi bahwa menulis buku itu sebenarnya mudah, maka ia akan menganggap bahwa menulis buku itu sulit. Kalau demikian, selamanya ia merasa sulit menulis buku.

3). Memilih Tema Yang Tepat 
Dalam memilih tema ini disesuaikan dengan kesenangan atau minat Anda dalam menulis buku. Selain itu, bolehlah jika kita menengok tentang tema buku yang sedang ngetren atau menjadi best seller saat ini. Dan, jika Anda mampu menuliskannya, mengapa tidak?

4). Membuat Outline atau Kerangka Tulisan 
Pembuatan outline atau kerangka tulisan ini tujuannya agar penulisan kita menjadi efektif, lebih fokus dan tidak melebar. Tetapi, bagi Anda yang dapat menulis tanpa membuat outline atau kerangka tulisan, hal itu juga tidak masalah.

5). Memiliki Gaya Penulisan Sendiri
Boleh jadi, pada saat awal latihan menulis, Anda boleh meniru gaya penulis yang Anda senangi, seperti gaya Gunawan Muhammad, Emha Ainun Nadjib, Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy dan sebagainya. Setelah berulangkali Anda menulis seperti gaya penulis idola, maka Anda berusaha menjadi menjadi diri Anda sendiri. Artinya, Anda sudah mempunyai gaya penulisan sendiri, sehingga berbeda dengan gaya penulis idola Anda sebelumnya.

6). Menguasai Teknik Penulisan 
Sebagai seorang penulis, maka kita dituntut untuk menguasai teknik penulisan berdasarkan pilihan kita, apakah kita hendak menulis buku fiksi atau non fiksi. 

7). Mengalirkan Gairah, Semangat, Visi dan Misi
Salah satu rahasia keberhasilan buku-buku bestseller adalah pada kemampuannya dalam “berbicara” atau menjalin hubungan emosional dengan para pembacanya. Buku yang mengesankan adalah buku yang mampu memengaruhi dan menggerakkan pembacanya, miscalnya dengan mengungkapkan pikiran-pikiran atau ide-idenya. Dengan demikian penulis mampu mentransfer antusiasme, keyakinan, visi-visi, dan kejujurannya kepada pembaca. 

8). Menguasai Teknik Pengayaan Dan Penyuntingan Naskah
Setelah kita selesai melakukan penulisan buku, hendaknya kita lakukan pengolahan atau editing naskah kita sehingga menjadi sempurna. Dalam hal ini termasuk mengecek lagi tentang penyuntingan dan pengayaan, istematika tulisan, judul bab dan sub bab, ketepatan teori dan pendekatan, kelengkapan data maupun variasi contoh kasus, pengembangan gaya bahasa populer, dan termasuk editing bahasa.

9). Memilih Judul yang Tepat
Judul-judul buku seperti Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, atau buku-buku saya; Cermin Hati, Kontroversi Ajaran Kebatinan, Perdebatan Langit Dan Bumi, Brawijaya Moksa, dan seterusnya, menurut saya sudah bagus. Diharapkan paling banyak tiga kata, tidak lebih. Kalau lebih dari tiga kata, jadinya malah membosankan. Setidaknya, dengan tiga kata, maka judul tersebut dapat memberi kesan positif kepada pembaca.

10). Mencari Penerbit yang Sesuai
Langkah terakhir jika buku kita sudah selesai, yakni mencari penerbit yang memiliki misi yang sesuai dengan isi tulisan kita. Semakin besar penerbit tersebut, maka akan semakin terbuka peluang buku kita diterima pubik atau menjadi laris-manis di pasaran, syukur best seller. 

Semoga manfaat
Load disqus comments

1 komentar: