Sabtu, 05 Mei 2012

Semalam Bersama Gus Dur


UIN Jakarta, Student Center,- Acara Orasi Budaya dan Pagelaran Wayang ”Semalam Bersama Gus Dur” berlangsung pada Jum’at malam (13/1) di Lapangan Student Center UIN Jakarta, pukul 19.00 WIB. 

Jika Ingin memperjuangkan sesuatu,
jangan hiraukan segala kendala yang ada._GD
Acara tersebut dihelat dalam rangka mengenang dua tahun wafatnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada akhir Desember 2009 silam. 

Acara yang diadakan secara out door tersebut berlangsung khidmat hingga usai meski sempat beberapa kali diguyur hujan.


Beberapa tamu undangan yang hadir sebagai pembicara diantaranya Alissa Wahid, Bondan Gunawan, Adhie Massardi, dan AS Laksana. Turut hadir pula tamu kehormatan keluarga Almarhum Gus Dur, Ibu Sinta Nuryah Wahid.

Masing-masing pembicara  tampak bersemangat ketika menyampaikan orasinya. Acara diisi dengan sambutan ketua panitia Nurdiansyah, tahlil, pembacaan do’a bagi almarhum beserta para pejuang bangsa Indonesia.

Tampil sebagai pembicara pertama dengan tema orasi ‘Gus Dur dan Gerakan Kultural’, Alissa Wahid mengatakan, tantangan bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi adalah bagaimana berakar pada nilai dasar bangsa. 

Bangsa yang tidak berpegang pada nilai dasarnya sendiri akan mudah gamang. Senantiasa terpengaruh oleh karena tidak memiliki ikatan ketika menghadapi budaya asing. “Lihat bangsa Korea, mereka bisa maju karena memelihara identitas bangsa mereka,” katanya.

Adhie Massardie, dalam orasinya, mengatakan kebanyakan orang yang dulu mengkritik Gus Dur itu bukan karena kebijakannya, melainkan karena hal yang bersifat pribadi. 

“Semua kebijakan Gus Dur itu baik, kecuali kebijakannya mengangkat SBY menjadi jendral bintang  empat kala itu,” candanya disambut tepuk tangan hadirin.

Pemimpin zaman sekarang banyak tidak mampu melihat realitas masyakarat, karena mata hatinya tak mampu melihat. 

Menurutnya pula, buah pemikiran Gus Dur sangat perlu diperjuangkan. “Tidak penting mengkaji pemikiran Gus Dur, tapi bagaimana memperjuangkannya,” tegasnya.

Sebagai pembicara ketiga, Bondan Gunawan menghimbau tidak melihat Gus Dur dari apa yang ia capai, tapi hendaklah mempelajari dan menghayati flash back perjuangannya.

Gus Dur, baginya, bagai sumur di tengah kemarau, pembela hak manusia, pemimpin yang berani mengambil resiko. “Dia tidak mau menciptakan banyak pengikut, tapi mencetak kader,” ujarnya. 

Bondan mengatakan bahwa Gus Dur merupakan sosok yang melampaui zaman, sehingga orang seringkali salah memahaminya. “Kalau ada yang pernah dengar tentang kenyelenehan Gus Dur, datangi saya untuk konfirmasi,” kata Bondan.

Pembicara terakhir, AS Laksana mengungkapkan beberapa kekagumannya dari sosok Gus Dur, yaitu pemikiran, pola tidur, humor, gaya komunikasi, dan kepemimpinannya. Menurutnya, Gus Dur memiliki gaya komunikasi yang cerdas dan unik. 

Pada saat tidur Gus Dur masih dapat mendengar suara sekitar. “Saat tidur, alam bawah sadarnya tetap aktif, hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang yang benar-benar khusuk,”  tuturnya. 

Yang menarik lainnya dari Gus Dur adalah sikapnya yang selalu rileks. “Dengan skill dan pola permainan yang sama, orang yang tampil rileks sangat berpeluang memenangkan pertandingan oleh karena tidak tertekan oleh faktor psikologis di lapangan,” tuturnya beranalogi.

Usai acara orasi kebudayaan,  acara ditutup dengan pagelaran wayang oleh Wayang Kampung Sebelah. Group wayang kontemporer tersebut tampil heboh dengan kombinasi kultur, budaya, dan genre musik yang beragam. 

Pementasannya yang berjudul ”Tragedi Jual Beli Mimpi”menghibur penonton. Wayang tersebut menggambarkan potret realitas orang miskin yang kewalahan menghadapi ‘ketidakadilan kehidupan’ di Indonesia yang disebabkan oleh para aparatur negara sendiri. 

Meski hujan, beberapa penonton tampak antusias berdiri di bawah curah hujan menyaksikan wayang tersebut dari dekat hingga usai.

Acara orasi budaya dan pagelaran wayang tersebut terselenggara atas kerjasama berbagai 18 organisasi dan komunitas intra kampus UIN Jakarta Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu:

BEM Fakultas Dirasah Islamiyah, PMII Cabang Ciputat, GMNI Cabang Tang-Sel, Buletin Muara, Piramida Circle, Forum Studi Makar,  Ikatan Remaja Masjid Fathullah, Kelompok Kajian Rasionalika, Tongkrongan Sastra Senja Kala, Koin Sastra, Komunitas Saung, LPM INSTITUT, UKM RIAK, Teater Syahid, KMF Kalacitra, El Kaffi, dan PSM UIN Jakarta.

Selain berbagai komunitas dan organisasi dalam kampus, acara tersebut juga turut terselenggara atas kerjasama dari luarkampus yaitu Pojok Gus Dur, Wahid Institute, LAKPESDAM NU, Dewan Kesenian Jakarta, Federasi Teater Indonesia, Rahima, Master, Transkrip, Angkringanwarta, RM Online dan Phillocoffeproject.com.

(Januari, 2012)
Load disqus comments

0 komentar