Senin, 14 Mei 2012

Wawancara dengan Rektor UIN Jakarta


 Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.
"Modal mahasiswa itu dua: akhlak (karakter) dan ilmu, itu saja."
Paska menjadi UIN dari IAIN, dinamika kehidupan akademis semakin kompleks. Gagasan integrasi keilmuan yang melandasi perubahan ini menggeser paradigma sekuler antara Ilmu Agama  dan Ilmu non-Agama. 


Pula, dalam perkembangan tersebut ragam aliran keIslaman mulai berkembang di Universitas Islam di Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. 

Seperti apa pandangan Rektor terhadap fenomena tersebut? Ke depan, UIN seperti apa? Berikut hasil wawancara Saya dengan Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (11/5) lalu.


Tentang Integrasi Keilmuan di UIN Jakarta menurut Anda?

Integrasi keilmuan pada tahapan ontologis, ilmu itu hanya satu. Kalau dalam agama, ya itu dari Allah, hanya satu.

Kemudian dalam perkembangannya muncul cabang-cabang baru. Tapi semuanya dari Allah. Itu dari satu sudut pandang.

Adalagi cara pandang lain. Cabang ilmu itu yang menonjol ada empat. Ilmu alam, semua ini, aspek-aspek ini, semua ilmu alam. Yang kedua, humaniora, kayak psikologi, filsafat,  ini namanya humaniora.

Yang ketiga ilmu Sosial: sosiologi, ilmu politik itu. Nah, sekarang ini tambah lagi, diviniti, ilmu keagamaan: Ada empat cabang ilmu.

Jadi, kalau Anda lihat fakultas kedokteran, nah, itu sesungguhnya, campuran antara ilmu alam dan humaniora. Ilmu alam karena berbicara ilmu eksak, humaniora karena  menyangkut manusia.

Kalau Fakultas Adab, nah itu kandungannya ilmu sosial, bicara sejarah. Dan, diviniti kaitannya dengan keagamaan. Ada empat itu.

Jadi kalau pada level ontologis, ilmu itu hanya dari Allah, satu. Kalau pada dunia epistemologis ada empat itu, yang keempat-empatnya itu kemudian saling berkaitan.

Misalnya ilmu ekonomi atau kedokteran. Keduanya itukan applied sience. Statistic. Itu kan, egh, jadi ilmu itu semuanya saling berkait-kaitan, maka kalau Anda bicara masalah integrasi, hampir semua ilmu itu, sesungguhnya saling terkait dan terintegrasikan dengan yang lain.

Karena berbicara tentang ilmu alam itu juga berkaitan denga ilmu sosial, humaniora. Dalam agama, ini kaitannya dengan kesadaran keagamaan.

Di UIN dengan dibukanya fakultas non-agama, fakultas agama tertinggal?

Mengapa IAIN jadi UIN, satu, ini menghidupkan kembali sejarah kejayaan peradaban islam. Dulu, masa kejayaan islam, yang namanya pusat pendidikan Islam: universitas, ya, seperti UIN ini. 

Jadi, tidak ada pemisahan, ini ilmu alam, ini ilmu agama, sosial, enggak ada.
Makanya dulu, kalau kita membaca karya-karya seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina semuanya ilmu terintegrasi. Makanya kalau ada orang kok heran, kenapa kok IAIN jadi UIN, kemungkinan dia tidak membaca sejarah.

Yang  kedua, mengapa membuat universitas yang banyak fakultas, itu kan terinspirasi dari ajaran Al-Quran, karena Al-Quran itu yang dibicarakan tidak hanya ritual,  tapi juga bicara sejarah, psikologi, perbintangan, lautan,  ekonomi.

Jadi, pengembangan ilmu-ilmu IAIN itu adalah kelanjutan dari inspirasi pesan Al-Quran. Makanya, aneh, kalau kemudian ada yang berpandangan ini semakin jauh dari agama. Justeru ini mengembangkan ilmu-ilmu keislaman, baik dari sejarah masa lalu maupun pesan Al-Quran.

Al-Quran itu kan sangat jelas menyuruh umat islam itu berdagang, agar eknonomi berkembang, makanya fardhu kifayah, ada fakultas ekonomi.

Al-Quran nyuruh umatnya sehat, jadi fardhu kifayah kalau umatnya sehat, ada fakultas kedokteran. Al-Quran menyuruh umatnya pinter, sekolah fardhu kifayah, membuat fakultas tarbiyah, jadi semuanya itu kan lanjutan perintah Al-Quran.

Berubah menjadi UIN membuka peluang masuk berbagai paham keagamaan?

Umat islam itu sangat kaya dengan warisan intelektual, beragam paham keagamaan. Itu sangat kaya, dan itu ditandai dengan banyaknya mazhab: dalam ilmu fiqih banyak mazhab; ilmu teologi banyak mazhab; politik banyak mazhab. Semua ilmu-ilmu dalam islam itu mempunyai mazhab.

Umat itu sangat kaya dengan itu. Jadi, dulu ketika islam berkembang di satu wilayah, dia akan menemukan peradaban baru, wilayah baru, problem baru. Kemudian umat islam berijtihad. Ijtihad itulah kemudian melahirkan satu pengkayaan terhadapa mazhab baru.

Nah, sekarang kalau ketika islam masuk ke Amerika, ada situasi baru, ada sebuah ijtihad baru di sana. Ketika islam sampai ke benua kutub, bagaimana solatnya, bagaimana puasanya, (maka) timbul ijtihad baru.

Sekarang, ada pesawat terbang, itu muncul fiqih baru, fiqih angkasa. Masuk di daerah maritim, lahir mazhab maritim. Jadi, mazhab itu tak asing dalam islam dan itu sejalan dengan dinamika.

Jadi umat islam itu dituntut untuk bisa memahami itu semua, terlepas dari ada UIN atau tidak, umat islam di mana pun berada dituntut untuk selalu belajar memahami dinamika.

Dan, dengan banyaknya fakultas itu sekaligus menunjukkan keragaman objek-objek kajian tertentu. Jadi fakultas syari’ah, itu kan dia mengambil titik kajian hukum. Itu kan sebuah cabang pemikiran. Ushuluddin, dasar-dasar agama. Nanti kedokteran bagaimana islam dengan kedokteran. Adab.

Jadi, semua fakultas dan prodi itu seklaigus menunjukkan cabang-cabang keilmuan. Karena sifat-sifat ilmu itu berkembang dan bercabang lalu terus beranting.

Tentang paham dan aliran yang ada di UIN?

Nah, begini, cabang-cabang itu ada bidang keilmuan. Ada mazhab bidang ritual. Ada mazhab bidang politik, misalnya, kalau dalam politik: apakah islam mewajibkan Negara islam, harus islam, atau islam itu yang penting kepada masyarakatnya? Bukan pada negaranya. Nah, itu juga akan berkaitan dengan situasi di mana islam berkembang.

Ketika islam berkembang di eropa, di barat, tidak relevan umat islam ngomong masalah Negara. Islamisasi eropa, amerika.  Ketika di timur tengah yang cocok barangkali dinasti, Saudi Arabia. Kemudian juga di Yordan, dinasti Hasyimiyah.  Di Brunei, Sultan Bolkiyah.

Nah, di Indonesia ini negara kebangsaan. Jadi, umat Islam itu dalam merespon situasi politik berkaitan di mana ia tumbuh. Sehingga, menimbulkan banyak cara pandang. Menjadi problem kalau cara pandang itu dipaksakan pada satu wilayah di wilayah lain yang 
variabelnya berbeda.

Bagaimana jika UIN membuat data base untuk memantau paham keagamaan mahasiswa?

UIN itu lembaga pendidikan, lanjutan dari sekolah-sekolah sebelumnya. Ada madrasah, ada pesantren. Ini lembaga pendidikan. Kalau di perguruan tinggi, titik tekannya pada transfer knowledge. Kalau pendidikan karakter, lebih banyak SMA ke bawah. Makanya, kualitas mahasiswa, akhlaknya itu akan dipengaruhi oleh kualitas sebelumnya.

Jadi, di kampus itu perjumpaan dosen dan mahasiswa itu hanya sebentar.  Dan dosen mahasiswa juga nggak kenal dengan mahasiswanya. Karena di kampus itu, sesungguhnya, titik tekannya, memang lebih memberikan wawasan keilmuan. 

Untuk karakter lebih banyak ditentukan oleh bagaimana keluarga dan pendidikan sebelumnya. Kampus itu sulit untuk mengawasi satu per satu. Begitu keluar dari kampus, ya, sudah. Itu kan kehidupan pribadi mereka. Kampus terlalu sulit mengawasi kehidupan mereka satu persatu. Mereka udah dewasa kok.

Kalau mereka masuk jalan raya, yang berlaku lalu lintas. Begitu masuk ranah birokrasi, yang berlaku ya hukum birokrasi. Di situ makanya, modal pendidikan keluarga dan sebelumnya sangat penting.

Saya amati, ada anak yang bagus-bagus, memang sebelumnya udah bagus kok. Ada mahasiswa yang dasarnya nggak bagus, ya memang dasarnya nggak bagus kok. Ada mahasiswa perokok, aslinya sudah emang perokok kok.

Tentu saja dosen-dosen itu selalu memberikan pendidikan karakter, tapi pada akhirnya, sesungguhnya, mahasiswa bersangkutan yang harus bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Karena udah dewasa.

Yang kedua, bahwa islam itu begitu luas pahamnya, ditambah lagi hubungan kampus dengan masyarakat itu begitu dekat. Di Indonesia, lebih-lebih UIN, itu masyarakat dengan kampus sangat dekat. Lalu politik juga sangat dekat. Jadi, kalau pengaruh luar masuk kampus di sini, itu memang sangat sulit dihindari.  

Pengaruh apa saja sulit dihindari. Egh. Makanya, gini, yang penting bagaimana, satu, menegakkan etika, kedua juga meningkatkan kualitas disiplin pembelajaran, jadi kalau orang kalau nggak mencapai IP (indeks prestasi) sekian seharusnya diDO (drop out), silakan. Di kampus-kampus yang maju itu berlaku. Kalau gada target, ya, diDO.

Di kampus-kampus besar tiap tahun itu ratusan jumlah yang diDO. Kalau ga memenuhi target kehadiran masuk, ga boleh ujian, ya ga boleh ujian. Jadi memang begitu. Karena memang kampus itu harus ditegakkan aturannya. Bagi mereka yang ga berminat, ya keluar aja.

Kalau soal data base, untuk soal penelitian atau riset ya bagus-bagus saja, untuk mengamati tren perkembangan, itu bagus saja. Saya setuju. Tapi kita tidak bisa memaksakan. Mahasiswa kan masa pencarian. Pembentukan pribadi. Jadi, kalau toh ada ada anak yang nakal, nakal dibedakan dengan jahat, ya, ada anak yang kadang kritis, ya, memang kampus buat berfikir kritis.

Jadi, kampus itu bukan lembaga ideologi. Bukan lembaga gerakan. Tapi, lembaga ilmiah dan riset. Sebagai lembaga ilmiah, di kampus dimungkinkan dan didorong berfikir kritis apa saja. Jangan kan islam. Komunisme pun dipelajari. Agama apapun dipelajari sebagai ilmu pengetahuan.

Karena, diharapkan itu kan alumninya itu nanti tinggal di tengah masyarakat yang plural, jadi pemimpin. Kalau nanti jadi pemimpin, dia tidak memahami pluralitas masyarakatnya, bagaimana jadi pemimpin?

Kampus itu lembaga sivitas akademika, bukan sivitas politika. Ini, akademis, putera-putera terbaik. Yang ketiga di UIN Jakarta, kita harapkan, ini sebagai miniatur Indonesia masa depan. Dosennya, mahasiswanya datang lintas propinsi.

Kemudian, pertama, memahami dinamika perubahan masyarakat di bawah. Mahasiswa UIN ini hendaknya jangan tercerabut dari masyarakat bawah, yang kedua memahami dinamika arah perkembangan bangsanya.

Oleh hendaknya, nah, yang ketiga, memahami perkembangan global. Karena kita bagian dari masyarakat dunia. Jadi nanti ketika mahasiswa udah sarjana. Itu kan dia adalah putera daerah. Dia adalah juga sebagai warga Negara, terlahir sebagai putera indonesia, kemudian juga warga dunia.

Makanya, di samping juga mempelajari ilmu sesuai bidangnya, hendaknya juga peduli dengan dinamika perkembangan. Jadi secara keilmuan dan karakter. 

Modal mahasiswa itu kan dua: satu akhlak; dua ilmu. Itu saja. Cinta ilmu tapi nggak punya akhlak, ya, untuk apa? Punya akhlak tapi bodoh, ya, gimana? Kan dua itu.

Jadi, karakter dan ilmu. Kalau sudah tamat, ya, silakan. Mau ke politik, ya, silakan, professional silakan. Tapi selama di kampus mari kita jaga ini adalah pusat keilmuan dan peradaban, untuk menyiapkan putera-putera bangsa ke depan.

Ini bukan lembaga partai, buka lembaga politik, ekonomi. Ini adalah lembaga keilmuan. Itu titik tekannya. Bagi teman-teman yang aktifi di politik ya ngerangkap aja, di LSM atau di partai sana, di organisasi buruh jug asana, silakan, di luar banyak sekali kalau mau. Tapi, ini lembaga keilmuan untuk membentuk kerakter. 
Load disqus comments

0 komentar