Sabtu, 23 Juni 2012

Integrasi Keilmuan UIN, No Questions!


Pada seminar “Pesantren Studies vs Islamic Studies: Mempertanyakan Kembali Integrasi Keilmuan di UIN” yang berlangsung di Aula Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) Lantai II, Sudarnoto Abdul Hakim, Purek II Bidang Akademik, dalam sambutannya mengatakan saat ini UIN masih dalam tahap penyandingan ilmu, belum pada tahap integrasi keilmuan, Kamis (7/6).

Menurutnya, proyek integrasi keilmuan di UIN bukan hal mudah. Dibutuhkan proses dan waktu yang lama. Namun, UIN, katanya, saat ini tetap berkomitmen menghilangkan dikotomi ilmu. “Belum integrasi! Masih perlu perjalanan panjang. Jadi, kalau dipertanyakan (integrasi keilmuan), ya, no questions,” katanya.


Dalam sambutannya pula, Abuddin Nata, Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah, mengatakan latar belakang konversi IAIN ke UIN adalah paradigma Studi Islam. Pendalaman Studi Islam tersebut perlu agar Islam dapat masuk ke ‘bumi’. “Studi Islam adalah bagaimana Islam bisa masuk dan tidak ekslusif,” katanya.
 
Studi Islam, menurutnya, merupakan sebuah paradigma baru yang melihat Islam sebagai sebuah kajian yang memiliki interdependensi dengan bidang-bidang kajian sains, ilmu sosial, antropologi, serta responsif terhadap isu-isu kontemporer.

Ia mengatakan salah satu alasan kenapa terjadi konversi guna merespon pergeseran paradigma madrasah aliah yang semula adalah sekolah agama, kini bergeser menjadi sekolah umum berciri Islam. “Ciri mahasiswa IAIN itu harus bisa baca kitab. kalau nggak dikonversi, sudah nggak ada lagi mahasiswa di UIN ini,” katanya.

Tampil sebagai pembicara pertama, Fuad Jabali, pengajar program pascasarjana UIN, mengatakan konsep Integrasi Keilmuan, berdasarkan sudut pandang historis, kurang tepat. Seharusnya menggunakan istilah Reintegrasi Keilmuan. Karena, menurutnya, konsep Integrasi Keilmuan sudah pernah ada di zaman keemasan Islam di abad pertengahan.

Agar maju, menurut Fuad, umat Islam harus mempelajari ilmu dari Barat. “Dulu,” katanya, “Barat banyak belajar dari Timur. Oleh karena itu, kalau kita menolak peradaban Barat, itu berarti menolak sebagian peradaban Islam, karena apa yang ada di Barat itu adalah dulu punya islam,” tandasnya.

Ia menghimbau umat Islam meruntuhkan mitos integrasi keilmuan yang seringkali diasosiasikan berdasarkan tinjauan demografis kepada wilayah Timur Tengah. Padahal, menurutnya, asosiasi Islam dengan Timur Tengah itu hanya sebentar. ”Pusat peradaban islam berpindah-pindah tidak hanya dengan di Timur Tengah,” katanya. “Kita harus bersikap seperti umat Islam jaman dulu yang tidak takut dengan dengan peradaban apapun.”

Mulyadi Kartanegara, Guru Besar Filsafat Islam UIN Jakarta, dalam presentasinya mengatakan integrasi keilmuan harus menyinergikan potensi indera, akal dan hati dalam mempelajari segala yang ada di alam semesta ini sebagai ayat Allah. Menurutnya, tidak ada dikotomi dalam ilmu, seperti yang dilakukan oleh Barat yang bercorak eksperimental-empiris. “Integrasi bukan melebur, integrasi berhadapan dengan persoalan dikotomi,” katanya.

Menurutnya, UIN perlu mengadakan curriculum reform dengan memperbanyak referensi dari Islam jangan hanya dari Barat, mengadakan proyek karya-karya ilmiah dan membuat pengantar buku-buku pengantar Islam. “Kalau tidak, wacana Integrasi Keilmuan itu , ya, hanya wacana saja,” katanya.

Pembicara terakhir, Ahmad Baso, Intelektual NU, berpendapat pentingnya karakter berkebangsaan dalam integrasi keilmuan. Berdasarkan kitab Serat Centini hasil karya orang pesantren di Indonesia, ia mengatakan kontribusi orang pesantren dalam khazanah keilmuan sangatlah kaya. Bahkan, dulu, akibat kemajuan di bidang keilmuan tersebut membuat penjajah saat kewalahan menghadapi kaum pesantren. “Pesantren tidak membenci ilmu Barat, tapi kolonialisme, kapitalisme.”

Ia menghimbau UIN agar juga mempelajari teks-teks peninggalan nusantara, khususnya pesantren, yang banyak menyimpan khazanah keilmuan, tidak hanya mengutip karya-karya luar nusantara. Hal tersebut, menurutnya, akan bermanfaat untuk memperkuat karakter kebangsaan mahasiswa, “UIN kalau kalau manu ngomong integrasi, harus mempunyai karakter kebangsaan. Kalau tidak, yang ada cuma kutip mengutip dari luar,” katanya.

Seminar tersebut terselenggara atas kerjasama berbagai pihak, yaitu Komunitas Saung, LPM INSTITUT, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora, Badan Eksekutif Mahasiswa FDI dan HMJ Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin.   
Load disqus comments

0 komentar