Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2012

Respon

Setiap kali buka facebook hal paling banyak ditulis oleh teman-teman facebookku adalah tentang seseorang, terutama sosok yang sedang ia benci. Selebihnya adalah kata-kata mutiara, motivasi, puisi, pepatah, aktifitas, situasi, kondisi, lelucon, informasi, pengumuman dan berita singkat seputar kegiatan sehari-hari.

Layaknya media nasional yang tanpa henti memberitakan kasus korupsi, status-status tentang seseorang yang dibenci senantiasa menghiasi wall-ku di facebook. "Dasar manusia nggak tahu diuntung", "Aku telah membedebahkan diriku dari orasi cinta palsumu", "Apa sih hebatnya dia dibanding aku, dasar picek!", dan lain-lain (baca. Dan lalalala).

Cuci Gudang

Oktober tiba kembali. Sejak kali pertama menggunakan facebook, sekitar tahun 2009, setiap tahun di bulan ini aku selalu membersihkan hal-hal yang ku anggap tak perlu diabadikan pada akun sosial tersebut. Tanpa berlama-lama memilah-milah, tahun 2010 lalu, usai meninggalkan kampung Inggris sebelum terjun ke dunia kampus, ku hapus bersih berbagai poto-poto, catatan-catatan, hingga komentar-komentar yang ku pikir hanya akan menggangguku di masa depan kelak. Pun di tahun sebelumnya.

Jika diprosentase, barangkali yang tersisa hanya 0,1 persen dari keseluruhan dari yang terhapus. "Cuci gudang tahunan," pikirku saat itu.Kenapa? Ku pikir, seseorang tak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan, hanya saja masa lalu tentu saja berpotensi menjadi batu sandungan untuk kemajuan di masa depan. Siapa sangka, seorang tokoh yang terlanjur terkenal harus menelan pil pahit saat lembaran masa lalunya dikuak oleh orang yang membencinya?

Narasi Revolusi dalam Facebook

Saya seorang dosen, Pak Presiden. Nyaris setiap hari saya membicarakan hal-hal ideal dengan mahasiswa. Kepada para mahasiswa saya selalu mengajarkan mimpi tentang Indonesia yang lebih baik di masa depan. 
Jadi, tolong saya, Pak Presiden, tolong bantu saya untuk menjadikan ajaran itu bukan ilusi, apalagi dusta. Maka jawablah permohonan ini dengan sebuah tindakan: bahwa besok pagi, saat fajar tuntas memintal malam, Anda akan menjadi presiden yang revolusioner. Atas nama apa pun yang bernama kuasa, jadikanlah diri Anda Arok, Sang Pembangun itu! (h 280).

Muhbib: Kode Etik sebagai upaya preventif

Tahun ajaran 2012/2013 ini UIN kembali menerbitkan Kode Etik Mahasiswa (KEM). Dalam sambutan buku tersebut Kode Etik tersebut, Purek III Kemahasiswaan Sudarnoto Abdul Hakim, mengungkapkan tujuan Kode Etik tersebut guna terciptanya suasana kampus yang tertib dan mendukung bagi pelaksanaan program-program akademik dan non-akademik secara lebih baik.
Berikut hasil wawancara Institut dengan Ketua Tim Penyusun Revisi Kode Etik, Muhbib Abdul Wahab terkait beberapa pasal, yakni, pada Bab VII tentang pasal 26 (rokok), pasal 32 (berzina) dan pasal 39 (terlibat organisasi dan atau aliran sesat), Rabu (10/10).