Kamis, 18 Oktober 2012

Cuci Gudang

Oktober tiba kembali. Sejak kali pertama menggunakan facebook, sekitar tahun 2009, setiap tahun di bulan ini aku selalu membersihkan hal-hal yang ku anggap tak perlu diabadikan pada akun sosial tersebut. Tanpa berlama-lama memilah-milah, tahun 2010 lalu, usai meninggalkan kampung Inggris sebelum terjun ke dunia kampus, ku hapus bersih berbagai poto-poto, catatan-catatan, hingga komentar-komentar yang ku pikir hanya akan menggangguku di masa depan kelak. Pun di tahun sebelumnya.

Jika diprosentase, barangkali yang tersisa hanya 0,1 persen dari keseluruhan dari yang terhapus. "Cuci gudang tahunan," pikirku saat itu.Kenapa? Ku pikir, seseorang tak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan, hanya saja masa lalu tentu saja berpotensi menjadi batu sandungan untuk kemajuan di masa depan. Siapa sangka, seorang tokoh yang terlanjur terkenal harus menelan pil pahit saat lembaran masa lalunya dikuak oleh orang yang membencinya?


Di luar negeri, beberapa perusahaan seringkali mencari tahu informasi tentang seseorang dari akun-akun pribadi mereka di dunia maya, tak ayal di antara harus menelan pil pahit karena ditemukan hal-hal yang disukai oleh instansi-instansi tertentu tempat di mana mereka melamar pekerjaan.Dalam berbagai aspek kehidupan, seseorang, ku pikir, sangat rentan tersandung masa lalu. Politik, ekonomi, agama, budaya, sejarah, asmara, dan lain sebagainya. Aku teringat dengan almarhum Presiden Republik Indonesia, Gus Dur.

Di tengah carut marutnya atmosfer politik kala beliau menjabat sebagai orang nomor satu Indonesia, kebijakan-kebijkan beliau yang seringkali menuai kontroversi membuat rival politiknya jengah dengan dirinya. Sebelum lengser dari jabatannya, bertubi-tubi isu dilontarkan untuk menjatuhkannya sesegera mungkin. Salah satu isu yang paling ku ingat saat itu adalah isu perselingkuhannya dengan seorang wanita. Ku pikir, bukan hanya dia yang pernah mengalami peristiwa tersandung masa lalu tersebut.

Oleh karena itu, dulu, setiap bulan Oktober aku bersihkan segala yang ku pikir berpotensi menyandungku di kemudian hari. Perkembangan teknologi kian canggih memengaruhi pola interaksi masyarakat satu sama lain. Aku teringat seorang tetanggaku yang rajin menulis diari. "Kalau sudah penuh buku diariku ku bakar, hanya tempat pelampiasan perasaan sesakku sesaat. Aku takut kalau aku mati, terus ada yang baca dan merasa tersakiti. Lagian, aku pasti malu kalau ada yang baca," ujarnya, "Tapi kalau yang baik-baik, aku tinggalkan, aku biarkan ia abadi".

Jaman sekarang, manusia seringkali hanyut dalam pelbagai situasi dan kondisi serba cepat. Akumulasi pengetahuan bertumpuk di otak kurang sehat jika tak dikelola dengan baik. Seiring berkembangnya teknologi, diari konvesional seperti buku tulis, pun mengalami evolusi. Medial sosial, facebook misalnya, seringkali menjadi ruang pelarian, bak buku diari. Padahal pembuat akun mengatakan fungsi akun tersebut untuk berkomunikasi dan menjalin pertemanan di dunia maya.

Nuansa hati si pengguna akun facebook senantiasa berganti seiring suasana hati, ke semuanya serta merta terefleksi ke dalam dunia maya. Sebenarnya hal tersebut tidaklah salah, hanya saja di kemudian hari bisa saja sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Belum lagi, poto atau gambar yang dapat menyebabkan si pemilik akun mengalami ketersandungan di masa depan.Terkait hal di atas, sebagai pengguna akun facebook pula, hal yang paling sering ku lihat tentang ketersandungan tersebut adalah kisah asmara.

Begitu kuat instrumen tulis mengabadikan sesuatu, sampai-sampai ada pepatah arab yang berbunyi, Qoyyidul 'ilma bil kitabah, "Ikatlah ilmu itu dengan menulis." Ilmu bak binatang buruan yang sangat liar, untuk mengurungnya agar tak bisa lari, maka ia harus diikat dengan menulis. Kata itu mengabadi. Berbeda dengan instrumen verbal yang dapat seketika hilang.


Persoalannya ketika yang diabadikan itu adalah hal yang bersifat negatif, atau pun juga sesuatu yang berpotensi kurang baik di masa depan, maka seseorang tentu perlu mempertimbangkan kembali apa saja yang telah ia 'abadikan' ke dalam tulisan. Tentu saja ini hanyalah analogi bahwa tulis menulis adalah dunia keabadian, tapi yang pasti dunia keabadian itu menuntut kita lebih bijaksana memilih hal apa yang pantas diabadikan, baik tulisan dan selainnya.

Ini adalah tahun ke empat aku menggunakan akun facebook. Ada banyak kisah yang telah terlewatkan bersamanya. Aku ingat kali pertama mempunyai akun pertemanan sosial ini, sangking senangnya (norak, red) kadang kala aku harus pergi jauh mencari warnet dan membayar mahal hanya demi memoloti layar monitor sembari saling mengomentari status teman-teman.

Ada kepuasan tersendiri saat berbincang di dunia maya dan orang-orang menyaksikan itu semua.Terhitung sejak 2009 hingga kini, karena beberapa hal, pernah aku tutup akun facebook-ku. Selain mempunyai sisi positif, facebook juga tak jarang membawa dampak negatif. Tergantung bagaimana seseorang menggunakannya.Aku teringat pesan kawanku, sedikit lucu sih. "Hati-hati dengan facebook, segala data-data pribadi kita disimpan oleh intelijen Amerika".

Kehilangan? Kadang-kadang memang terasa seperti itu. Saat mencoba membuka lembaran atau kronologi di masa lalu, aku merasa memerlukan segala sesuatu yang ku hilangkan itu. "Untuk apa?" pikirku. Selama hal tersebut, ku pikir, berpotensi menjadi batu sandungan di masa depan, tak ada salahnya mengantisipasinya sedari dini. Kalau kata pepatah, "Jika ingin mematikan api besar, padamkan ia sedari kecil". Aku selalu berharap, apa pun yang menjadi 'abadi' dari jejak langkahku merupakan sebuah kebaikan, baik bagi diriku maupun orang lain.

Oktober ini, entahlah, apakah aku akan tetap melanjutkan tradisi hapus 'cuci gudang' lagi di akun facebook-ku seperti tahun-tahun sebelumnya. Bersih, bak pemilik akun facebook baru. Hmm. Bahkan untuk berfikir apakah harus menghapus semua gambar saja aku seperti akan melakukan proyek besar saja. Dulu, tak hanya berbagai poto, hampir semua komentar-komentarku di status teman-temanku yang kurang baik menurutku aku bersihkan semua, catatan-catatan, dan lain sebagainya.

Hematku, selama tidak ada yang berpotensi menjadi batu sandungan di masa depan, atau barang kali ada suatu catatan mau pun gambar yang dapat menyakiti perasaan orang lain, ku pikir tak ada yang perlu dihapus.

Oktober, kita bersua lagi. Dan seperti biasa, kau membuatku ingin berlari menangkapmu. Abstrak.
Load disqus comments

0 komentar