Rabu, 17 Oktober 2012

Narasi Revolusi dalam Facebook




Saya seorang dosen, Pak Presiden. Nyaris setiap hari saya membicarakan hal-hal ideal dengan mahasiswa. Kepada para mahasiswa saya selalu mengajarkan mimpi tentang Indonesia yang lebih baik di masa depan. 

Jadi, tolong saya, Pak Presiden, tolong bantu saya untuk menjadikan ajaran itu bukan ilusi, apalagi dusta. Maka jawablah permohonan ini dengan sebuah tindakan: bahwa besok pagi, saat fajar tuntas memintal malam, Anda akan menjadi presiden yang revolusioner. Atas nama apa pun yang bernama kuasa, jadikanlah diri Anda Arok, Sang Pembangun itu! (h 280).


Kutipan di atas merupakan bagian inti mengapa buku ditulis. Tak dimungkiri sosok pemimpin merupakan hal yang terpenting guna kemajuan sebuah negara. Saat status seorang pemimpin Indonesia justru seringkali kontradiksi dengan peranan yang sewajibnya ia laksanakan --terlebih atas apa yang telah ia janjikan—sosok penulis, Acep Iwan Saidi (ais), mempunyai cara unik tersendiri merespon realitas tersebut.

Ironi memang. Ketika dalam perjalanan intelektualnya, seorang putera bangsa, ais, justru menghantarkannya kepada rasa frustasi, karena melihat kondisi negaranya dipenuhi abnormalitas dalam berbagai aspek. Secara garis besar, buku ini membincang budaya, politik, sejarah, pendidikan, sosial, pun pada ranah agama yang kesemuanya tentu saja melalui perspektif kebudayaan.

“Aku bukan ahli agama, tapi dari perspektif kebudayaan aku berani mengatakan bahwa agama ini sangat ‘demokratis’. Jika tidak, mana mungkin lahir kota Madinah, sebuah ‘kota berbasis masyarakat sipil (civil society)’,” tulisnya pada status 345 (h. 219).
Menjadi orang yang “terlanjur” tahu dan merasakan himpitan batin terhadap realitas tersebut, sebagai upaya konstruktif, ais mengajak publik mendiskusikan serangkaian abnormalitas tersebut melalui akun facebooknya. Rupanya ais tidak sendiri. Statusnya banyak mendapat respon dari berbagai kalangan yang juga gelisah terhadap situasi bangsa. Berbagai komentar hampir dapat dijumpai di setiap statusnya.  

Buku yang terhimpun dari narasi 501 statusnya di facebook ini akan menggugah kesadaran kita tentang hal yang selama ini luput dari panggung diskusi. Buku ini terdiri dari delapan narasi besar. Masing-masing narasi, dengan pola penyampaian yang ringan dan menarik, berkelindan merangkai sebuah narasi besar, Revolusi sosial (h 165).

Menyoal Pendidikan Indonesia

Jika pengarang tidak mati (Foucault), maka ais adalah simbol perlawanan. Perlawanan terhadap sistem pendidikan yang, menurutnya, mengerdilkan bangsa Indonesia (h.323). Lama bergelut di dunia pendidikan, ais banyak menemukan kebobrokan sistem kurikulum kita. Melalui narasi ringkas padat, buku ini membongkar genealogi sistem pendidikan Indonesia yang berimplikasi memproduksi manusia-manusia pragmatis.

“…Dekade 60-an…Salah satu hal menarik, yang kiranya tidak tampak di permukaan karena tertimbun hingar bingar politik, adalah bergesernya orientasi pendidikan, yakni dari pendidikan yang berorientasi pada eropa kontinetal (Belanda) ke studi terpimpin (guided study system)—yang kemudian kita kenal dengan SKS—Amerika…”(296).

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemenangan Orde Baru juga identik dengan kemenangan Amerika. Barangkali tidak ada yang salah dengan SKS. Akan tetapi, peluang sistem ini untuk mencetak peserta didik menjadi manusia pragmatis memang sangat terbuka. Dan, dalam perkembangannya Orde Baru memang menginginkan masyarakatnya menjadi manusia pragmatis sedemikian…”

“…Sedangkan di tingkat perguruan tinggi, SKS telah memaksa mahasiswa untuk menjadi individu yang taat administratif dan pengejar sertifikat belaka. Tentu, dari perspektif politik, sistem itu mudah dibaca: Kuasa pendidikan adalah Kuasa Raja, individu tidak boleh punya suara di hadapannya (h. 300).

Terkait dengan sistem ujian nasional, seseorang berkomentar, “Saya seorang guru di sebuah SMAN, sudah kering air mata, menangisi keadaan ini. Hanya sekali saya ikut mengawas pelaksanaan UN. Selanjutnya, saya selalu menolak untuk jadi pengawas UN, karena saya tidak mau bertolong-tolongan dalam kebatilan. Efek yang sekarang terasa, semangat belajar siswa terus merosot. Mereka berpikir tidak perlu belajar, toh kakak-kakak kelas yang paling ‘aneh’ sekalipun bisa lulus dengan nilai-nilai yang fantastis. Ingin rasanya saya hidup di Indonesia yang lain”(h. 223).

Ide besar dalam kemasan ringan

Menelusuri rangkaian narasi buku ini akan menggelitik kita agar segera bangkit dari 
kemapanan atas kejumudan merespon realitas bangsa kita. Rangkaian bualan ais senantiasa segar dikonsumsi siapa saja yang merindukan perubahan tatanan sosial yang lebih baik.
Meski kemudian pada beberapa percakapan terlihat sedikit jenaka, laiknya pengguna fasilitas facebook pada galibnya, namun perbincangan dengan pola satire yang sarat pesan-pesan filosofis menjadikan diskusi alam maya ini berbeda. Bernas dan berdaya konstruktif.

Ais dengan baik mengartikulasikan kompleksitas realitas yang tengah merundung bangsa ini ke dalam percakapan ringan, sembari menyemai bibit-bibit perlokusi agar pembaca harus tetap optimis mengupayakan perubahan, sekecil apa pun upaya itu. Tak terkecuali melalui media sosial facebook.

Buku ini bak miniatur kota yang dihuni penduduk yang merindukan perubahan ke arah baik. Kekuatan buku ini adalah kesederhanaannya dalam menarasikan ide-ide besar. Sebagai budayawan, yang pula telah malang melintang di dunia tulis menulis, ais akan membawa pembaca hanyut dalam perbincangan besar melalui narasi-narasi ringan, sederhana dan bersahaja.

Load disqus comments

0 komentar