Jumat, 02 November 2012

Hari lahir

Daya ingatku masih kuat untuk meniti kembali masa lalu. Belum pernah sekalipun dalam hidup ini aku merayakan hari lahir atau yang lazim disebut banyak orang dengan istilah ulang tahun. Dan tahun ini merupakan kali pertama hari lahirku dirayakan.

Hari lahir, ya. Aku suka istilah ini, selain, hematku, logis, pula mengandung spirit kebaruan di mana hari kali pertama aku hadir di dunia ini. "Selamat hari lahir ya, Kakak!", tulis gadis energik itu, kakakku, dalam kado kecilnya. Kakak? Ya, begitulah kira-kira. Dia memang begitu, selalu berubah-berubah. Sesekali ia tampak seperti sahabat, tak jarang bak adik, guru, pula seorang ibu. Malam itu dia seperti kakak. Ah, dia...



Waktu tak mungkin berulang. Walau sedetik. Mustahil. Apalagi satu tahun. Bagaimana caranya seseorang mengulang tahun? Oleh karena itu istilah ulang tahun itu, hematku, kurang tepat. Entah kenapa istilah tersebut galib digunakan orang Indonesia. Hari lahirlah yang ku pikir pas untuk menyimbolkan momentum tahunan tersebut, atau dalam bahasa Inggris disebut Birthday. Dalam bahasa lainnya tersebutlah, seperti Dies Natalis. Dies adalah hari, Natal sendiri bermakna kelahiran.


Aku suai dalam Qur'an orang kali pertama menyebut hari lahir tersebut adalah nabi Isa, "Wassalaamu alayya yauma wulidtu", "Dan keselamatan bagiku hari di mana aku dilahirkan" (Maryam:33). Barangkali, itulah mengapa agama Kristen menjadikan hari kelahirannya sebagai hari raya, Natal, sebuah ritual umat Kristen yang ada dalam kitab suci agamaku, Islam. Uniknya lagi, dalam sebuah hadits, salah satu alasan kenapa Nabi Muhammad melanggengi berpuasa setiap hari Senin karena dirinya, kata Muhammad, dilahirkan di hari tersebut. "Wulidtu fihii", "Aku dilahirkan hari itu (Senin)."


Hari lahir merupakan momentum introspeksi dan kontemplasi diri, mengingat perjalanan meniti hidup kian mendekati batas akhirnya. Jika standar kebajikan kehidupan seseorang dalam menjalani hidup adalah kebermanfaatannya, maka seseungguhnya aku tak tahu seberapa bermanfaatkah diriku selama sepanjang usia ini.

Aku kurang tahu siapa kali pertama mengadakan perayaan ritual hari lahir tersebut, sejak kapan dan di mana. Sudahlah, tak penting. Banyak orang seringkali menggunakan momentum hari lahir ini sebagai wadah guna menyemai semangat baru, introspeksi diri guna menyambut lembaran kehidupan baru pada tahun selanjutnya, mengingat tenggang masa menjalani kehidupan kian berkurang

Waktu terus berlalu. Pada titik ini, usia ini, aku merasa prihatin dengan polaku selama ini menjalani hidup. Terlebih dua tahun belakangan ini. Ada percepatan waktu yang kurang terkejar dengan pemahaman mendalam akan tujuan hidup. Begitu banyak hal yang aku tak pahami, tetapi harus aku jalani. Seolah aku dipaksa secepatnya dewasa. Ragu dan yakin silih berganti. Namun, waktu terus berlari sekencang-kencangnya. Dan, tak peduli dengan apa yang aku, dan tentu saja semua manusia, alami.

Masa laluku berkelindan merajut diri ini dengan segala isi berikut kapasitasnya. Di kini, aku disila merajut masa depan, dengan tanpa daya guna mencipta akselerasi dengan memintal benang waktu. Segalanya berjalan, menelikung jiwa berujar: Jika bisa memilih, tentu aku sudah mengakhiri perjalanan hidup yang melelahkan dan penuh dengan tanda tanya ini.

Kita tak pernah tahu jawabannya, kecuali dengan kesadaran. Membangun kesadaran bukan hal mudah: Akal harus berdamai dengan intuisi. Selama tanpa itu, maka segalanya hanyalah kesimpulan sementara yang menanti terpecahkan atas kehadiran kesimpulan selanjutnya. "Bukan karena jalan itu terlampau panjang, lantas ia disebut tak berujung, tapi begitulah kenyataan menarasikannya."

Hari lahir itu taksa. Taksa bagi manusia yang belum kesadaran dirinya dengan baik pada menapaki titian kehidupan. Pun dengan waktu, ia hanya menjadi ruang-ruang yang terlewatkan jika berlalu bersamaan dengan ketiadaan pemaknaan. Yang ada hanya ukuran-ukuran statis:



60 detik = 1 menit 
60 menit = 1 jam
24 jam = 1 hari dan malam
7 hari = 1 pekan
30 hari = 1 bulan
12 bulan = 1 tahun
10 tahun = 1 dasarwarsa
100 tahun= 1 abad.

Dan bahwa:

Usia manusia pada umumnya 63 tahun. 63 tahun sama dengan: 765 bulan atau 22.680 hari (dengan estimasi dalam 1 bulan terdapat 30 hari) atau 544.320 jam atau 32.659.200 menit.

Jika dalam sehari manusia tidur selama 8 jam, maka selama 63 tahun tersebut ia telah 'tertidur' sebanyak kurang lebih 21 tahun! (8 jam x 22680 hari = 183960 jam. 183960 jam : 24 jam/@hari = 7665 hari. 7556 hari = 21 tahun).

63 - 41 = 42 tahun. Belum lagi jika dipotong masa puber untuk memulai membangun kesadaran seutuhnya menjalani kehidupan, anggaplah usia 15 tahun. Berarti 42 - 15 = 27 tahun. 

Dalam sehari manusia tentu banyak melakukan kegiatan ringan misalnya makan, minum, mandi, menonton, ngerumpi, ngelamun, terjebak macet, dan lain-lain. Jika waktu kegiatan ringan tersebut dikalkulasi, kira-kira, andaikanlah, 3 jam perhari. Maka 3 jam x 22680 hari = 68040 jam atau 2835 hari, kira-kira sekitar 7 tahun. Jadi 27 - 7 = 20 tahun.

20 tahun adalah waktu yang sedikit jika total usia manusia pada umumnya 63 tahun. Belum lagi dalam jika dalam setahun seseorang mendapat hal tak terduga di tengah melakukan rutinitasnya guna mencapai sebuah tujuan, misalnya sakit, masa tua, cuti bersama, hari kejepit, dosen bolos, dan lain-lain. Lagi pula, siapa yang tahu kalau usia seseorang akan sampai 63 tahun? Benar kiranya jika Tuhan tidak main-main dengan sumpah-Nya. "Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian."

Bukan. Lebih dari sekedar berhitung dan berpacu dengan waktu. Waktu itu entitas tanpa makna. Taksa. Ia hanya memberi 'ruang' untuk dimaknai, tanpa pernah mengijinkan siapa pun mengetahuinya.

Menjalani hidup dengan penuh kesadaran itu bukan hal mudah. Hidup bukan hanya sekedar mewaktu dan meruang, meniti waktu hingga di penghujung usia lalu pergi dalam keseketikaan, tanpa isyarat, pun markah. Ada untaian detik yang menanti maknanya ditemukan oleh panggilan naluri kita sendiri, dan tentu saja bersamaan itu pula ada perjuangan membangkitkan kesadaran itu.

Di usia yang kedatangannya membuatku terkesima ini, karena kejutan perayaan tersebut, aku terus tanpa henti mempertanyakan, jika saja kesadaran itu aku miliki, apakah makna hakiki yang dapat ku ketahui dalam perjalanan hidup ini?

Hidup itu rangkaian pertanyaan tanpa henti, dan hari lahir adalah sebuah oase perhentian manusia mereka jawab dalam kontemplasi.





Thank you for the surprise, My little angel .
Load disqus comments

0 komentar