Rabu, 05 Desember 2012

Senior


Hari ini nuansa hatiku sedikit mendayu. Malam tadi, aku (dan kawan-kawan) baru saja mengeliminasi beberapa anggota muda—kami menyebut mereka dengan istilah caang, calon anggota. Delapan bulan bersama berada di bawah naungan payung organisasi menyisakan banyak kisah.

Setiap manusia terlahir bersama kelebihan dan kekurangannya tersendiri. Aku percaya teman-teman anggota muda yang tereliminasi mempunyai kelebihan lebih dari pada teman seangkatan mereka, atau bahkan para pengurus. Hanya saja, keterbatasanku sebagai pengurus untuk menguak kelebihan yang terpendam itu membuat kami harus mengambil kebijakan tersebut.

Lagi pula, tenggang masa yang disediakan oleh mekanisme periodesasi kampus dan organisasi meniscayakan keterlalu-lamaan ketika kami semua harus menanti terkuaknya kelebihan-kelebihan mereka yang terpendam dan meminta perhatian khusus, atau mungkin bukan di sinilah kelebihan itu layak disemai. Dan di sana, hematku, masih terdapat keputusan-keputusan terdistorsi oleh sentiment individual-emosional, bukan komunal-intelektual.

Sebenarnya aku sedikit gerah dengan istilah ini, mengingat relasi sosial yang ada dalam konsepsi diksi tersebut, di negeri ini, sarat dengan feodalisme. Bukannya munafik bahwa setiap manusia ingin dihargai, hanya saja aku merasakan ketidaknyamanan hati ketika orang yang menghormati itu tidak menyadari bahwa dirinya telah merendahkan dirinya sendiri; menumbuhkan budaya menjilat; menciptakan stratifikasi sosial yang tidak proporsional dan profesional. Kira-kira begitu.

Budaya feodal bangsa Indonesia benar-benar nyata dalam kehidupan sehari-hari di negeri ini, bersemayam di bawah alam sadar penduduknya, dan diproduksi kembali serta diajarkan turun temurun melalui berbagai aspek, situasi dan kondisi. Berbagai pedoman moral, etika, agama yang membincang tentang kesetaraan hak serta merta tereduksi dengan sendirinya dalam pola relasi satu sama lain, tak terkecuali di organisasiku sendiri.

Jika bisa memilih, tentu keadaan akan lain. Aku tak pernah bermimpi dan merencanakan hal ini sedari awal, bahwa aku harus berada di atas mereka dan membuat mereka merasakan pengalaman tereliminasi. Aku dan mereka sejatinya sama, hanya saja aku lebih dahulu berada di organisasi ini. Lantas, hal tersebut bukanlah sebuah yang menjadikan mereka tidak bisa menjadi lebih baik dari aku. Sekali lagi, aku percaya setiap manusia terlahir bersama kelebihan dan kekurangannya.

Menjadi senior bukanlah sebuah tiket untuk seseorang bisa memperlakukan orang lain seenaknya saja. Senior harus terbuka, tahan kritik dan senantiasa berjiwa besar. Menjadi teladan, berintegritas dan bertanggung jawab lebih serta senantiasa berupaya mengeluarkan sisi terbaik orang-orang yang kebetulan saja secara struktural mereka atasi, dan tentu saja tidak pada aspek lain, misalnya intelektual, moral, finansial.

Betapa banyak kehidupan orang terbentuk oleh sikap dan perilaku yang mereka tiru dari orang lain, termasuk senior mereka di organisasi di mana mereka berada guna mengembangkan bakat dan minatnya. Selain berfungsi sebagai tauladan, senior juga, sedikit banyak, adalah sebagai objek guna identifikasi sikap dan perilaku berkehidupan orang-orang sekitar mereka kelak.

Menjadi senior itu memang bukan hal mudah. Itulah, menurutku, tantangan berat dalam sebuah kehidupan berorganisasi. Lebih dari sekedar berburu waktu untuk menyelesaikan rangkaian program kerja, berceloteh ria merapal kutipan-kutipan atau kata-kata mutiara bak seorang rabi suci, dan lain sebagainya.

Aku tak tahu apa yang orang-orang kuatasi rasakan sekarang, baik mereka yang masih bertahan maupun yang harus tereliminasi. Hanya saja jika memang keputusan tersebut memberatkan sebagian pihak, kupikir tentu saja hal itu niscaya, dan oleh sebab itu aku hanya bisa berharap suatu saat mereka kelak merasakan berada di posisi yang sama. Senior.

Ah, baru saja aku kebingungan menutup mengaksarai perasaan gundahku tentang mereka siang ini, handphoneku tiba-tiba berbunyi menyambut sebuah pesan singkat:

Yadi:

“Asalam. . .
Ka gmn kbr.y ? ka sbelum.y yd minta mf kpada sluruh pngurus, jika yd slama d lpm dah mnyusahkan atau pun yg tlah m’buat lpm menjadi tercidrai. . . Tp ju2r yd sngat bangga kpada k2 semua, ..
Sekali lg yd minta mf bila tu2r kata, prilaku, atau pun yg lain.y tlah mengusik k2 smua !
Wasalam. . .”

Aku:

“Iya Yadi. Aku juga minta maaf klw udh banyak salah. Aku prcaya kmu psti lbih hebat dri yg lain. brngkali situasi n kndsi di sini aja yg kurang mmbantu.
Aq hrap di luar sana kmu lbih baik. Tetap smangat.silaturahmi ga boleh putus ya sama aku.”

Yadi:

“Ia bang siap!”

Aku:

“Okre. Manstap! Aku akan selalu kangen senyummu yg lebar itu kawan. :D”

I hope all of you will be better outside there!


Bukan tentang apa yang kita pilih, tapi bagaimana kita memaknai sebuah pilihan.

(Saung Bambu Ina, Pesanggrahan, Ciputat, 27 November 2012)
Load disqus comments

0 komentar