Rabu, 23 Januari 2013

Rabiah Al-Adawiyah



A.    Pembukaan

Segala puji bagi Allah, salawat dan salam bagi Muhammad, para sahabat dan karib kerabatnya. Setelah abad pertama Hijriah, kehidupan duniawi mulai memengaruhi kaum muslimin. Di antara kaum muslimin ada yang sudah tenggelam dalam kehidupan materi, karena terjadi perlombaan di antara mereka untuk merebut harta duniawi. Akhlak manusia telah merosot sedemikian rupa, kemungkaran terjadi di mana-mana, sehingga keadaan itu menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Melihat keadaan ini, para ulama salaf yang merasa terpanggil untuk menyelamatkan umat Islam, dengan membersihkan agama Islam dari ajaran yang tidak benar. Para ulama yang berjasa dalam mempertahankan kesucian agama Islam dari ajaran yang tidak benar, para ulama yang berjasa dalam mempertahankan kesucian agama Islam dapat digolongkan dalam tiga kelompok besar. Masing-masing kelompok mengemban tanggung jawab sesuai dengan tuntutan masa waktu itu.[1]

Timbulnya tiga kelompok ini bukan secara kebetulan, tapi mempunyai dasar agama yang kuat. Jibril a.s. ketika mendatangi Rasulullah untuk mengajar kaum muslimin pernah bertanya kepada beliau tiga masalah Islam, Iman, dan Ihsan. Tugas dari kelompok pertama adalah menjaga kedudukan Islam, dan pokok-pokok ajarannya. Pemimpin-pemimpin kelompok dengan pengikut-pengikut mereka yang mulia. Kelompok kedua bertugas memelihara dan mempertahankan kedudukan iman, dan dasar-dasarnya. Di antara tokoh-tokoh kelompok ini adalah Al-Asy’ari dan para sahabatnya.



Adapun kelompok ketiga berusaha menjaga kedudukan al-ihsan, menerangkan seluk-beluknya berdasarkan sunnah Rasulullah. Di antara tokoh kelompok ini adalah Hasan Al-Basri, Ibrahim bin Adham, Junaid, dan Rabiah Al-Adawiyah. Kelompok ketiga ini memiliki dua sasaran. Sasaran pertama adalah membersihkan hati dan memupuk sifat-sifat yang mulia dan terpuji ke dalam jiwa mereka, sehingga mampu meningkatkannya ke arah yang lebih sempurna. Inilah yang dinamkan muamalah. Sasaran kedua adalah usaha untuk melatih dan mengembangkan jiwa dalam ibadah dan memupuk perasaan cinta serta hal-hal yang dapat memperkokoh hubungan antar manusia dan Tuhannya. Inilah yang dinamakan riyadat ar-ruhiyah (latihan jiwa).

Tokoh-tokoh kelompok ketiga ini pada umumnya adalah pendidik. Mereka telah berkecimpung dalam ilmu jiwa, sebelum para ilmuwan menemukan istilah ini. Mereka pada hakikatnya telah mendalami masalah-masalah kejiwaan yang dihadapi manusia sehingga mengetahui hal-hal yang bertalian dengan sifat-sifat manusia, lama sebelum para ilmuwan mengenal ilmu jiwa. Mereka tidak hanya mendalami masalah-masalah kejiwaan yang dihadapi manusia, tapi mencoba mengatasi masalah kejiwaan yang dihadapi manusia pada waktu itu, dengan mengembangkan akhlak yang mulia.

Dalam hal ini  Rabiah Al-Adawiyah merupakan salah satu kelompok al-ihsan. Ia adalah salah seorang pelopor dan seorang guru. Pada hakikatnya ia tidak membawa masalah yang baru, walaupun ia mengajak orang pada hubbullah (mencintai Allah). Kata ini bukan hal yang baru bagi kaum muslimin, tetapi Rabiah telah berusaha mengembangkannya sebagai sumber pancaran cahaya yang hendak mengeungkapkan wawasan makrifah. Ia telah mengembangkannya sedemikian rupa sehingga menjadi senandung jiwa yang memikat hati. Ia bahkan mengajak manusia untuk menjadikannya sebuah taman untuk menikmati kebahagian dan ketenangan jiwa.

Ketenaran Rabiah tersebar ke mana-mana, sampai menjangkau Eropa. Para sarjana Barat sangat kagum akan sejarah hidup wanita yang shalih ini, lebih-lebih lagi karena ia orang yang pernah menginjakan kakinya di perguruan tinggi ternama. Namun buah renungannya kaya akan ilmu yang mendalam sehingga para sarjana itu sangat menaruh minat untuk meneliti buah pikirannya. Banyak sarjana Barat yang telah menulis riwayat dan gagasan-gagasannya, di antaranya, Margareth Smith yang telah menulis sebuah buku berjudul Rabiah dan Sufi-Sufi Wanita dalam Islam buku itu diterbitkan di Cambridge, tahun 1928. Tak kurang pentingnya adalah penelitian yang dilakukan Masignon. Menurut Masignon, Rabiah telah mewariskan suatu peninggalan yang tak ternilai harganya. Ilmuwan Barat lainnya, Nicholson, menyatakan, Rabiah telah merintis jalan sehingga membangkitkan minat orang terhadap kehidupan Sufi.[2]

Makalah ini mencoba mengupas sekelumit kisah tokoh Sufi terkenal tersebut. Atas bimbingan dan panduan dosen pengampu mata kuliah tasawuf  ini, penulis haturkan beribu-ribu terimakasih. Semoga Tuhan memberkahi proses pembelajaran yang telah berlangsung selama satu semester ini. Jika untuk sempurna sebuah gading harus retak, maka makalah singkat ini masih memerlukan perbaikan sana-sini karena keterbatasan pengetahuan penulis untuk merekam jejak agung tokoh Sufi yang terkenal dengan konsep mahabbah ini.

B. Sekilas Biografi Rabiah Al-Adawiyah

Dalam sejarah Islam, wanita Sufi sudah menampakkan dirinya pada periode sangat awal, dan dalam perkembangan evolusif penghargaan terhadap para Sufi oleh orang-orang muslim, penghargaan terhadap kesucian diberikan sama tingginya antara kaum perempuan dan kaum laki-laki. Sejauh pembahasan mengenai “sahabat-sahabat Tuhan” ini dibicarakan, maka tidak akan nada perbedaan dalam jenis kelamin tersebut.

Perkembangan Sufisme dalam Islam memberikan kesempatan luas pula kepada kaum perempuan untuk mencapai gelar keSufian itu. tujuan utama pencapaian kaum Sufi adalah untuk dapat menyatu denga Yang Maha Suci, dan dalam pencarian Tuhan itu, mereka telah meninggalkan keindahan dan daya tarik gemerlapnya dunia, untuk dapat menyatu dengan Yang Esa dan keinginannya itu, menggelora membakar api cintanya kepada Tuhan, secara terus-menerus, guna mencapai tujuan paling akhir. Menggapai pencerahan dalam kehidupan, bersama kegembiraan dan kegairahannya, dan perenungan kehidupan yang lebih tinggi, hingga akhirnya dapat mencapai makrifat dan menggapai bayang-bayang Tuhan, dimana sang pecinta tersebut akan menjadi satu dengan Yang Dicintainya, dan kekal bersama-Nya selamanya.

Konsep hubungan antara Sufi dengan Tuhannya tersebut tidak memberikan ruang perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Dalam kehidupan spiritual “tidak memperdulikan laki-laki maupun perempuan.”[3] Gelar keSufian ini akan dapat dicapai dengan mengikuti jalur Tuhan, untuk menyatu dengan-Nya, dan bagi mereka yang mencapainya akan mendapat derajat tinggi, dalam kehidupan spiritualnya, di dunia.

Islam tidak memiliki kasta sebagaimana dalam kependetaan, maka tidak ada halangan bagi perempuan untuk  mencapai kedudukan tertinggi dalam agama, di dalam hirarki orang-orang suci muslim. Bahkan beberapa ahli teologi menyebut Fatimah, putri Nabi Muhammad, sebagai Quthb pertama  atau pemimpin spiritual dari sahabat-sahabat Sufi. Dibawah Quthb tersebut ada empat Autad, di mana tingkatan-tingkatan penerusnya terpilih, dan di bawah mereka lagi, tingkatan selanjutnya dalam hirarki itu, terdapat empat puluh Abdal atau pengganti, yang menjadi pemimpin dunia dan merupakan dasar serta pendukung semua urusan kehidupan orang-orang muslim selanjutnya.

Tingginya kedudukan yang dapat diraih oleh para Sufi perempuan dibuktikan oleh adanya kenyataan bahwa kaum Sufi itu ternyata memberikan kedudukan utama bagi kaum perempuan di antara para Sufi pada masa-masa awal dan menjadikan kaum perempuan ini sebagai wakil yang representatif dari perkembangan pertama Sufisme dalam Islam.[4]
Tersebutlah Rabiah, seorang Sufi perempuan yang suci, perempuan pembebas dari Al-Atiq suku Qays bin ‘Adi, di mana ia lebih terkenal dengan sebutan Al-Adawiyah atau Al-Qaysiyah atau juga disebut Al-Bashriyah, tempat di mana ia dilahirkan. Seorang penulis modern mengatakan, “Rabiah adalah seorang Sufi agung dari aliran Sunni,”[5] Aththar, menulis tentang dirinya sebagai berikut:

Seorang yang menyendiri dalam kesucian, perempuan yang menghijabi dirinya keihlasan agama, seorang yang selalu membara oleh api cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Seseorang yang terpikat oleh kecenderungannya untuk selalu dekat dengan Tuhannya dan dilumatkan oleh keagungan Tuhannya, seorang perempuan yang telah menanggalkan dirinya guna menyatu dengan Yang Agung, seorang perempuan yang dianggap sebagai Maryam kedua—Rabiah Al-Adawiyah, semoga Tuhan mengampuninya. Jika seseorang mengatakan, “ Mengapa engkau menganggapnya sebagai sekelas dengan laki-laki?” Aku harus mengatakan, “ Tuhan tidak melihat manusia dari pandangan luarnya…. Jika saja diperkenankan menerima dua pertiga keimanan kita dari Aisyah yang Terpercaya, maka dapat pula kita diperkenankan untuk menerima manfaat kebajikan keimanan dari salah seorang hamba perempuannya, yaitu Rabiah. Apabila seorang perempuan berjalan di jalan Allah seperti seorang laki-laki, ia tidak dapat disebut sebagai seorang perempuan.

Seorang penulis biografi lainnya, Al-Munawi berkomentar:

Rabiah Al-Adawiyah dari Bashrah adalah pimpinan dari murid-murid perempuan dan pimpinan dari perempuan-perempuan zahidah, yang mengabdikan dirinya untuk penelitian hukum kesucian, yang sangat takut dan taat kepada Tuhan… Dan ia adalah seseorang yang ahli dan berpengalaman dalam kebajikan dan kerahmatan.

Sayangnya tidak ada seorang penulis pun, yang sangat dekat dengan masa kehidupannya dan mengungkapkan tentang kisah awal kehidupannya sebagai bahan, kecuali hanya karya Aththar yaitu Tadzkiratul Aulia (Memoir of The Sains). Banyak dari apa yang ia kisahkan tersebut sebagai karya legendaris asli. Meskipun karya itu mungkin, atau dalam beberapa hal sama sekali tidak masuk akal, memberikan gambaran-gambaran kenyataan sejarah. Paling tidak, memberikan gambaran tentang kepribadian dan keagungan namanya.

Rabiah mungkin lahir sekitar tahun 95-99 H. (717 M.)[6] di Bashrah, di mana ia banyak menghabiskan banyak waktu kehidupan di sana. Dilahirkan di tengah keluarga termiskin, peristiwa-peristiwa ajaib tak jarang terjadi di masa kelahirannya. Aththar mengatakan bahwa pada malam kelahirannya tidak terdapat minyak di dalam rumahnya, tidak juga penerangan lainnya, bahkan tidak terdapat kain bedung untuk membungkus bayi yang baru lahir itu. ayahnya telah memiliki tiga putri sebelumnya, dan oleh karena itulah ia diberi nama Rabiah (artinya putri ke empat). Ibunya meminta agar ayahnya mencari minyak kepada tetangganya untuk lampu penerangan itu, tetapi ia telah berucap janji atau sumpah bahwa tidak akan meminta bantuan kepada sesama manusia, maka kembalilah ia tanpa membawa apa yang dibutuhkannya. Di saat ia tertidur malam itu dalam keadaan tertekan karena tidak memiliki sesuatu pun di saat kelahiran putrinya, ia bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad dan bersabda, “ Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh tujuh ribu ummatku.”

Kemudian Nabi bersabda lagi, “ Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Bashrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jumat sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jumat ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”

Ayah Rabiah terbangun dan menangis; ia lalu bangkit dari tempat tidurnya dan langsung menulis surat serta mengirimkannya kepada Amir melalui pembawa surat pemimpin itu. Ketika Amir telah selesai membaca surat itu, ia berkata: “ Berikan dua ribu dinar kepada orang miskin itu sebagai tanda terimakasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orangtua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku; akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan jenggotnya.[7]

Tetapi meskipun telah terjadi peristiwa pertanda baik itu, Aththar menceritakan kemalangan yang terjadi dalam keluarga ini, dan pada saat Rabiah menjelang dewasa, ayah dan ibunya meninggal. Jadilah ia seorang anak yatim piatu. Kelaparan melanda Bashrah dan semua saudaranya terpencar berpisah. Suatu hari, ketika ia sedang berjalan ke luar kota, ia berjumpa dengan seorang laki-laki yang memiliki niat buruk, lalu menarik serta menjualnya sebagai seorang budak seharga enam dirham. Dan laki-laki yang membelinya itu menjadikan rabiah budak yang berkerja keras terus-menerus. Suatu hari, seorang asing datang kepadanya dan melihat Rabiah sedang tidak memakai cadar. Lalu laki-laki itu mendekatinya. Rabiah meronta-ronta dan menarik dirinya, hingga ia terpeleset dan jatuh. Mukanya tersungkur di pasir panas, dan berkata, “ Ya Allah aku adalah seorang musafir tanpa ayah dan ibu, seorang yatim piatu dan seorang budak. Aku telah terjatuh dan terluka, meskipun demikian aku tidak bersedih hati oleh kejadian ini, hanya aku ingin sekali ridho-Mu. Aku ingin sekali mengetahui apakah Engkau ridho kepadaku atau tidak.”

Setelah itu ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, “ Janganlah bersedih, sebab pada saat Hari Perhitungan nanti derajatmu akan sama dengan orang-rang yang terdekat dengan Allah di dalam syurga.”

Setelah  itu Rabiah kembali pulang kepada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari, dan dalam menjalankan ibadah kepada Tuhan ia mampu berdiri di atas kakinya hingga siang hari. Suatu malam, tuannya terbangun dari tidurnya tampak melalui jendela kamarnya Rabiah sedang sujud beribadah. Dalam shalatnya itu ia berdoa, “ Ya Allah, Ya Tuhanku, Engkau adalah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah. Jika persoalannya hanya terletak padaku, maka aku tidak akan henti-hentinya barang satu jam pun untuk beribadat kepada-Mu, Ya Allah. Karena Engkaulah yang telah menciptakanku.” Ketika Rabiah masih asyik dalam kelelapan ibadahnya, tampak oleh tuannya sebuah lentera yang bergantung di atas kepala Rabiah tanpa ada sehelai tali pun. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew yaitu Shekina, artinya cahaya rahmat Tuhan) dari seorang muslimah suci—seperti lingkaran keramat orang Kristen suci—yang sering disebut dalam biografi orang-orang Sufi.[8]

Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabiah merasa ketakutan, ia bangkit lalu kembali ke tempat tidurnya semula dan duduk tercenung hingga fajar menyingsing. Kemudian ia memanggil Rabiah. Ia berbicara secara baik-baik kemudian membebaskan budaknya itu pergi lalu meninggalkan tempat di mana ia bekerja. Kemudian Rabiah pergi mengembara di padang pasir. Setelah beberapa saat ia tinggal di padang pasir, ia menemukan tempat tinggal. Di tempat itu ia menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadat. Menurut salah satu ceritanya, pada mulanya Rabiah mengikuti perjalanan seorang peniup seruling yang berjalan berkeliling di mana ia menjadi budaknya. Ia membangun tempat untuk mengasingkan diri dan melakukan pekerjaan-pekerjaan mulia di sana.

Di antara kisah-kisah kehidupan Rabiah pada periode ini adalah menceritakan bagaimana keinginannya untuk dapat melakukan ibadah haji di Mekkah. Akhirnya berangkatlah ia menuju tanah suci ditemani seekor keledai yang mengangkut barang-barangnya, tetapi sungguh malang, di tengah perjalanan keledai itu mati. Ia berjumpa dengan beberapa orang yang sedang berjalan dengan karavannya dan menawarkan bantuan untuk membawakan barang miliknya. Tetapi bantuan itu ditolaknya sambil berkata bahwa ia tidak akan pernah bergantung kepada orang selain Tuhan. Ia hanya percaya pada bantuan Allah dan tidak pada ciptaan-Nya.

Maka berlalulah orang-orang itu meninggalkan Rabiah seorang diri di tengah padang pasir. Di sana ia menundukan kepalanya sambil berdoa,

“Ya Allah, apalagi yang akan Engkau lakukan kepada perempuan asing dan lemah ini? Engkaulah yang memanggilku ke rumah-Mu (Ka’bah), tetapi di tengah jalan Engkau mengambil keledaiku dan membiarkan aku seorang diri di tengah padang pasir ini.”
Setelah ia puas berdoa, maka tampak di depannya keledai yang mati itu bergerak kembali dan bangun. Lalu diletakannya barang-barang itu di atas punggung keledai tadi, kemudian melanjutkan perjalanannya. Pembawa cerita ini mengatakan bahwa tak lama kemudian ia melihat keledai yang sama itu dijual di pasar.

Kisah lain mengatakan bagaimana ia pergi ke padang pasir itu dan berdoa di sana, “Ya Allah, ya Tuhanku. Hatiku ini merasa bingung sekali, kemana aku harus pergi? Aku hanyalah debu di atas bumi ini dan rumah itu (Ka’bah) hanyalah sebuah batu bagiku. Tampakkanlah Wajah-Mu di tempat yang mulia ini.” Begitulah ia berdoa hingga tiba-tiba ia mendengar suara Allah Yang Maha Kuasa berfirman langsung di dalam hatinya tanpa ada lagi jarak, “Wahai Rabiah… Ketika Musa ingin sekali melihat Wajah-Ku, Aku hancurkan Gunung Sinai dan terpecah menjadi empat puluh potong. Tetaplah berada di situ dengan Nama-Ku.”[9]

Diceritakan pula bagaimana dalam perjalanannya ke Mekkah, dan tiba-tiba di tengah jalan melihat Ka’bah datang menghampiri dirinya dan berkatalah Rabiah, “Tuhan-lah yang aku rindukan, apalah artinya rumah ini bagiku? Aku ingin sekali bertemu dengan-Nya yang mengatakan, ‘Barangsiapa yang mendekati Aku dengan jarak sehasta maka Aku akan berada sedekat urat nadinya.’ Ka’bah yang aku lihat ini tidak memiliki kekuatan apa pun terhadap diriku; kegembiraan apa yang aku dapatkan apabila Ka’bah yang indah ini dihadapkan pada diriku?”

Sehubungan dengan cerita di atas, yang menggambarkan betapa besar bantuan Allah kepada Rabiah, di mata penulis biografinya, kisah ini dihubungkan dengan Ibrahim bin Adham yang telah menghabiskan waktunya selama empat belas tahun berjalan menuju Ka’bah, sebab di setiap langkahnya ia melakukan shalat dua rakaat, dan pada akhirnya tibalah ia di Ka’bah, tetapi ia tidak melihat rumah Allah itu.

Ia berkata, “Wahai, gerangan apakah yang terjadi? Mungkin mataku telah terluka oleh sesuatu.” Sebuah suara yang tak tampak terdengar, “Matamu tidak terluka oleh sesuatu apa pun, tetapi Ka’bah sedang menjumpai seorang perempuan, yang sedang menuju tempat ini.” Ibrahim sangat cemburu mendengar cerita itu. “Oh ya, siapakah gerangan orang itu?” Ia lalu berlari dan melihat Rabiah datang dan Ka’bah itu kembali pada tempatnya semula. Ketika Ibrahim melihat peristiwa aneh itu, ia bertanya kepada Rabiah, “Oh Rabiah apakah kiranya beban dan kesulitan yang telah engkau lakukan di dunia ini?” Ia menjawab, “Aku tidak membawa kesulitan ataupun beban di dalam dunia ini, melainkan engkaulah yang telah mengganggu dunia, sebab engkau telah terlambat selama empat belas tahun untuk menuju ke Ka’bah ini.’ Lalu Ibrahim berkata, “Ya, benar. Aku telah menghabiskan waktuku selama empat belas tahun untuk menyeberangi padang pasir itu, sebab aku shalat.” Lalu Rabiah menyahut lagi, “Engkau melewati padang pasir ini dengan beribadah (namaz), tetapi melewatinya dengan memohon (niyaz).” Setelah melakukan ibadah haji, Rabiah kembali ke kota Basrah dan mengabdikan hidupnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan mulia.

Selama masa-masa awal ini hanyalah legenda yang tertinggal, tetapi telah memberikan gambaran tentang seorang perempuan yang telah menanggalkan dunia dan keindahannya dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjalankan perintah-perintah Allah, suatu langkah pertama dalam dunia tasawuf yang telah ditempuh oleh seorang Sufi suci.[10]

C.    Rabiah Al-Adawiyah dan Cinta (Mahabbah)

Rabiah telah memperluas makna atau lingkup cinta ilahi. Ia dulunya mencintai Allah karena mengharapkan surga-Nya, atau takut neraka-Nya, sehingga ia selalu berdoa, “O, Tuhan, apakah Engkau akan membakar hamba-Mu di neraka, yang hatinya terpaut pada-Mu, dan lidahnya selalu menyebut-Mu, dan hamba yang selalu takwa padaMu?” Setelah menyadari, bahwa cinta seperti itu adalah cinta yang amat sempit, ia meningkatkan dirinya, sehingga ia luluh dalam cinta Ilahi. Ia mencintai Allah, karena Allah patut dicintai, buna karena takut neraka, atau mengharapkan surga-Nya. Dengan pendiriannya it uia ingin mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi “pekerja wanita yang tidak baik”, seorang yang meninggalkan pekerjaan yang tidak baik, lalu melakukan kebaikan dengan mengharapkan ganjaran, yaitu surga.[11]

Jika bukan karena surga atau neraka, untuk apa seseorang menyembah Allah? Mengapa orang taat kepada-Nya? Kemudian hatinya yang bergelora dengan cinta dan kerinduan berseru, “Ya Allah, jika aku menyembahmu karena takut pada neraka-Mu bakarlah aku dengan api neraka-Mu. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu, maka haramkanlah surga-Mu untukku. Tapi jika aku menyembah-Mu demi mencintai-Mu, maka limpahkanlah padaku ganjaran yang lebih baik. Berikan aku kesempatan melihat wajah-Mu demi mencintai-Mu, maka limpahkanlah padaku ganjaran yang lebih baik. Berikan aku kesempatan melihat wajah-Mu yang Maha Agung dan Maha Mulia. Melihat wajah-Mu yang Maha Agung dan Maha Mulia.” Yang menjadi dambaan dan  harapan Rabiah hanyalah memandang wajah Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia[12] dan merasakan kebahagiaan dengan berada di dekat-Nya pada hari berbangkit. Rabiah membayangkan andaikan surga atau neraka, supaya dapat diketahui siapa hamba Allah yang hakiki, yaitu hamba yang mengabdi pada-Nya dengan seikhlas-ikhlasnya, tanpa mengharapkan surga atau takut pada siksa neraka. Agar dengan demikian dapat diketahui siapakah yang menyembah Allah swt, karena Dia adalah Khalik yang mampu memberikan kebahagiaan, tidak takut karena takut azab, atau mengharapkan ganjaran.

Rabiah tidak menyembah atau mengabdi pada-Nya oleh karena pamrih. Oleh karena itu, ia selalu berkata, “Ya Allah, jadikanlah neraka tempat bagi orang-orang yang membangkang, dan jadikanlah surga bagi orang-orang yang menaatiMu. Namun, untukku cukuplah keridhaan-Mu saja.” Pada suatu hari, seseorang bertanya kepada Rabiah, “Apa pendapatmu tentang surga?” Rabiah menjawab “Yang penting tetangga dulu, baru rumah, atau surga.”
Al-Attar meriwayatkan, bahwa Rabiah selalu menangis sehingga orang-orang bertanya padanya, “Mengapa engkau menangis, apakah karena engkau menderita karena-Nya?” Rabiah menjawab, “Oh, nasib penderitaan dan sakit yang aku derita tak seorang pun dokter akan mampu mengobatinya. Mereka tak akan mampu menolongku menghilangkan derita ini, kecuali jika harapanku telah terwujud di alam lain yaitu ketika aku melihat wajah-Nya yang Maha Mulia.” Al-Kalabadzi meriwayatkan, sekelompok orang datang melihar Rabiah untuk menanyakan kesehatannya. Mereka bertanya, “Bagaimana keadaanmu? ” Rabiah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu penderitaan yang aku derita sekarang ini. Aku merasa seolah-olah digoda oleh surga, sehingga hatiku hampir tertarik pada surga. Namun, aku merasakan seolah-olah Tuhan mencela diriku.”[13]

Al-manawi memaparkan dalam Kitab Tabaqatnya, bahwa Sofyan Ats-Tsauri pernah bertanya kepada Rabiah, “Bagaimana sebenarnya hakikat imanmu?” Rabiah menjawab, “Aku mengabdi pada-Nya, bukan karena takut akan neraka-Nya atau, karena mengharapkan surga-Nya. Kalau demikian aku seperti pekerja yang menyembah atau mengabdi pada-Nya karena mengharap sesuatu.”

Rabiah menghendaki, agar manusia mengenal Allah sebaik-baiknya. Karena bila seorang telah mengenal Allah, maka ia akan mencintai-Nya, dan ikhlas mencintai dan beribadah pada-Nya, bukan karena mengharapkan pahala, atau takut pada siksa neraka-Nya. Mengenai hakikat hal ini terjadi suatu dialog antara Rabiah dan Sofyan Ats-Tsauri. Pada suatu hari Rabiah bertanya pada Sofyan Ats-Tsauri.

Rabiah: “Bagaimana pendapatmu tentang sifat pemurah?”
Sufyan: “Menurut orang yang mencari keduniawian, pemurah berkaitan dengan harta. Dan menurut orang yang mencari akhirat, pemurah berkaitan dengan diri.”
Rabiah: “Engkau keliru.”
Sufyan: “Bagaimana pendapatmu mengenai pemurah?”
Rabiah: “Engkau menyembah-Nya karena cinta pada-Nya bukan meminta pembalasan ganjaran.”[14]

Pada suatu hari yang lain, Sofyan Ats-Tsauri bertanya lagi pada Rabiah, “Bagaimana sebaiknya seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah swt?” Rabiah menjawab, “Engkau tidak mengharapkan apa-apa, baik dari dunia atau akhirat selain Dia.” Rabiah memang terkenal karena kecintaannya yang amat besar terhadap Allah swt. Oleh karena itu, ia selalu memohon rahmat dan ampunan-Nya seperti diungkapkannya dalam sebuah sajaknya.

O kekasihku, tak ada yang kuharapkan selain-Mu,
Limpahkanlah rahmat-Mu pada orang yang datang menghadap-Mu.
O harapan, ketentraman dan kebahagiaan hatiku. Hatimu hanya pada-Mu jua.[15]

Pada suatu hari ada yang bertanya kepada Rabiah, “Bagaimana pendapatmu tentang cinta?” Rabiah menjawab, “Sukar menjelaskan apa hakikat cinta itu. Ia hanya memperlihatkan kerinduan gambaran perasaan. Hanya orang yang merasakannya dapat mengetahuinya. Bagaimana mungkin engkau dapat menggambarkan sesuatu yang engkau sendiri bagai telah hilang dari hadapan-Nya, walaupun wujudmu masih ada oleh karena hatimu yang gembira telah membuat lidahmu bungkam.”

Rabiah mempunyai syair yang memperlihatkan betapa dalam cintanya kepada Ilahi.

Kekasihku tak ada yang menandingi-Nya
Hatiku hanya tercurah pada-Nya
Kekasihku tidak tampak padaku
Namun dalam hatiku tak pernah sirna

Ia pernah pula bersyair,

O kegembiraan, tujuan dan harapanku,
Engkau semangat hatiku
Engkau telah memberikan kebahagiaan padaku
Kerinduan pada-Mu, merupakan bekalku
Kalau bukan karena mencari-Mu,
Tak kujelajahi negeri-negeri yang luas ini
Betapa banyak limpahan nikmat kurnia-Mu
Cinta pada-Mu tujuan hidupku

Rabiah merupakan orang yang pertama yang mampu membuat pembagian cinta sehingga lebih mendekat pada perasaan. Cinta menurut Rabiah ada dua macam; cinta karena dorongan hati belaka, dan cinta yang didorong karena hendak membesarkan dan mengagungkan. Rabiah mencintai Allah karena ia merasakan dan menyadari betapa besarnya nikmat dan kekuasaan-Nya, sehingga cintanya menguasai seluruh relung hatinya. Ia mencintai Allah karena hendak mengagungkan dan memuliakan-Nya.

D.    Kekeramatan Rabiah

Beberapa buku yang memaparkan riwayat hidup Rabiah menyebutkan kekeramatan yang terjadi pada Rabiah. Mengenai kekeramatan itu sendiri ada pendapat yang menerima adanya peristiwa itu tetapi ada pendapat pula yang menolaknya. Di antara kekeramatan yang diriwayatkan mengenai Rabiah, ada peristiwa yang dipaparkan oleh Al-Manawi dalam bukunya Tabatu-l-awliya.

Al-kisah, seorang pencuri memasuki kamarnya, ketika ia sedang tidur. Ia mengumpulkan segala harta milik Rabiah seperti pakaian dan lain-lain. Setelah itu ia menuju pintu, tapi ia tidak berhasil menemukannya, sehingga ia meletakkan barang-barang itu di lantai, setelah itu ia mencari pintu dan menemukannya. Tetapi ketika ia membawa barang-barang itu kembali, pintu itu pun hilang kembali. Hal itu terjadi berulang kali. Kemudian ia mendengar suara memanggilnya, “Letakkanlah barang-barang itu, karena kami telah melindunginya dan tidak akan membiarkan engkau membawanya walaupun pemiliknya sedang tidur.”[16]
Diriwayatkan pula, seorang pencuri pada suatu hari memasuki rumahnya, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa di rumah Rabiah kecuali sebuah kendi. Ketika pencuri itu hendak keluar, Rabiah menegurnya,

Rabiah: O jika engkau memang seorang cerdas, maka engkau jangan keluar dengan tangan kosong.
Pencuri: aku tidak menemukan apa-apa.
Rabiah: Sayang sekali! Berwudhulah dengan air kendi ini lalu masuklah ke kamar ini dan lakukanlah shalat sebanyak dua rakaat. Engkau harus keluar membawa suatu.
Pencuri itu melakukan apa yang disuruh Rabiah padanya. Ketika ia sedang melaksanakan shalat, Rabiah menengadahkan kepalanya ke langit sambil bermohon.

“Ya Allah Tuhanku. Orang ini telah datang berkunjung ke rumahku, tapi ia tidak mendapatkan apa-apa dari rumahku. Karena itu, janganlah Engkau biarkan ia pergi dengan tangan hampa, tanpa mendapat kurnia dan pahala dari-Mu.”

Setelah pencuri itu selesai melaksanakan solat, ia merasa amat berbahagia, karena hatinya terasa lega. Oleh karena itu ia terus beribadah sampai larut malam. Pada waktu fajar, Rabai datang menemuinya sedang bersujud. Dalam sujudnya ia bermohon pada Allah, memohon ampun dan menyesali perbuatan dirinya:

Hai diri, bila Allah telah datang memanggil,
Apakah engkau tidak malu berbuat durhaka?
Dosa telah menutupi setiap kejadianku
Aku datang penuh dosa
Apa yang akan kukatakan pada-Nya
Bilamana Dia mencelaku..[17]

Ketika laki-laki itu selesai beribadah malam itu, Rabiah berkata padanya, “Bagaimana engkau menghabiskan waktu malammu?” Laki-laki itu menjawab, “Baik-baik saja. Aku berdiri memohon ampun pada-Nya dengan penuh khusyuk. Dia telah menerima permohonanku, dan telah mengampuni dosaku.” Laki-laki itu lalu meinggalkan rumah Rabiah tanpa tujuan yang pasti. Rabiah mengangkat tangannya, memohon kepada Allah swt, 
“Ya Allah, Ya Tuhanku, orang itu telah berdiri di depan pintu-Mu, maka terimalah ia dan aku telah berdiri di depan-Mu memohon sudilah kiranya Engkau mengabulkan permohonanku.” Sayup-sayup, terdengar seolah-olah terdengar bisikan dalam hati Rabiah, “Kami telah menerima permohonanmu.”

Dari riwayat lain dikisahkan pula, bahwa Rabiah menanam tumbuh-tumbuhan di kebunnya. Tapi hama belalang telah datang hinggap di atas tanam-tanaman itu. lalu ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, Ya Tuhanku, inilah rezki yang kuharap dapat memenuhi kebutuhanku. Namun, jika Engkau menghendaki lain, berikanlah pada musuh-musuh-Mu atau wali-wali-Mu.” Setelah itu belalang-belalang itu pada terbang seperti tak pernah ada.[18]

Menurut riwayat yang lain, ada dua orang alim datang mengunjunginya. Kedua orang itu dalam keadaan sangat lapar. Rabiah memberi mereka dua potong roti yang ada padanya. Pada saat itu pula datang seorang tua meminta makanan padanya. Lalu Rabiah memberikan padanya kedua potong roti itu. Kedua orang alim itu terkejut, sambil memikirkan apa sebenarnya yang telah terjadi. Maka kedua orang itu melihat seorang pembantu wanita membawa taplak meja berisi roti lalu diletakkannya di depan Rabiah lalu berkata, “Tuhanku akan mengurus keperluan Anda.” Tatkala Rabiah menghitung jumlah roti, terdapat di dalam taplak itu delapan belas potong roti. Lalu dikembalikannya roti itu kepada pembantunya dengan taplak sambil berkata, “Bawalah roti ini dan pergilah engkau. Engkau salah menghitungnya.” Pelayan menjawab, “Tidak!” aku tidak salah menghitungnya. Rabiah menjawab, “Tidak! Memang terdapat kesalahan.” 

Lalu pelayannya mengambil taplak dan membawanya kembali kepada Rabiah dan menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi. Lalu Rabiah meletakkan dua potong roti lagi, dengan roti-roti yang telah diberikannya sebelumnya. Rabiah lalu menghitung jumlahnya. Semuanya berjumlah dua puluh potong roti, lalu diletakkannya di depan tamunya, para ulama itu. setelah kedua tamunya selesai makan, mereka bertanya, “Apa sebenarnya yang telah terjadi.” Rabiah menjawab, “Ketika Anda berdua datang dalam hatiku, aku hanya punya makanan sedikit (dua potong roti). Dalam pada itu datang pula orang meminta makanan, lalu kuberikan kepadanya kedua potong roti itu. kemudian aku berdoa kepada Tuhan, O Tuhanku! Engkau telah berkata, barangsiapa yang berbuat kebajikan, maka ia akan memperoleh sepuluh kali lipat amalannya.[19]” maka aku, demi mencari keridhaan-Mu telah aku berikan kedua potong roti itu. Maka berikanlah padaku, untuk setiap sepuluh. Ketika pelayan itu datang membawa delapan belas potong roti, maka aku berkata dalam hatiku, “Mungkin saja roti itu bukan untuk kami, naum ketika pelayan mengembalikan kelebihan dua potong roti, mengertilah aku, bahwa roti yang dua potong itu untuk kami.”[20]

Itulah beberapa kekeramatan Rabiah, yang merupakan kemuliaan yang diberikan Allah kepada Rabiah, tanpa menimbulkan rasa angkuh dalam dirinya, serta tanpa ia berani mencoba-coba sendiri membuat kekeramatan. Karena ia tahu dan sadar, bahwa hanya Allah awt sajalah yang memungkinkan ia dapat melakukan kekeramatan itu. Ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan atau keinginan untuk melakukannya. Tidak jarang ia bertemu dengan kaum untuk mengetahui Rabiah sebagai sufi yang amat saleh.

Pada suatu hari seorang laki-laki bertemu Rabiah di tengah jalan lalu berkata padanya, “Ya Rabiah, doakan aku pada Tuhan!” Rabiah lalu bersandar ke dinding, menatap dalam-dalam laki-laki itu, dan berkata, “Dari aku? Moga-moga Allah melimpahkan rahmat-Nya padamu. Taatlah pada Allah dan berdoala pada-Nya, karena Dia mengabulkan permohonan orang yang menderita.”[21] Ibnu Manzur berkisah tentang Rabiah:
Ketika ia sedang sujud. Aku melihat tempat sujudnya bersimbah air mata. Aku memberi salam kepadanya, lalu ia datang padaku. Ia berkata, “Hai anakku, apakah engkau ada keperluan menemuiku?” Aku berkata, “Aku datang untuk memberi salam padamu.” Ia kelihatan menangis, lalu berkata, “Semoga Allah memberi perlindungan pada-Mu.” Ia mengucapkan doa-doa, lalu pergi dan melanjutkan ibadahnya.[22]

Rabiah, dengan segala ibadahnya itu, sama sekali tidak ingin menonjolkan hal-hal yang bersifat lahiriah, atau membanggakan kekeramatan yang dilakukannya. Wali-wali Allah hanya memikirkan bagaimana meningkatkan ketaatan pada Allah swt dengan melakukan ibadah. Oleh karena perhatiannya yang amat besar terhadap Allah swt dengan berzikir dan beribadat, cintanya kepada Tuhan telah merasuki seluruh jiwa raganya. Dengan demikian, bila ia berbicara, maka pembicaraannya hanya tercurah pada Allah swt. Namun, adakalanya perasaan cemas juga menghinggapinya, karena ia takut kalau-kalau Allah tidak menerima zikir atau ibadahnya. Orang pernah bertanya padanya, “Apakah kau melakukan amalan, yang engkau anggap diterima Allah?” Rabiah menjawab, “Justru yang aku takutkan jika amalan itu ditolak.”

Betatapun kelihatan amal ibadahnya, ia sama sekali tidak ingin terlalu menonjolkannya. Di antara ucapan yang sering dilontarkannya, “Bagaimanapun kelihatan amal ibadahku, aku tidak menganggap sebagai hal yang luar biasa.”

E.     Berpulang ke Rahmatullah

Rabiah mencapai usia delapan puluh tahun. Bukan hanya semata-mata tahun yang panjang, tapi waktu yang penuh dengan berkat hidup yang menyebar ke sekitarnya atau seperti dikatakan Masignon, suatu kehidupan yang menyebarkan wangi yang semerbak ke daerah sekitarnya dan cinta yang tak pernah padam.

Mengenai akhir hidup Rabiah, Muhammad bin Amr berkata, “Aku datang melihat Rabiah, ia seorang wanita yang sudah tua, berusia delapan puluh tahun, seolah-olah kelihatan seperti tempat air yang hampir jatuh dari gantungannya. Di rumahnya kulihat tempat gantungan baju dari kayu Persia, tingginya kira-kira dua hasta. Selain itu terdapat pula sebuah kendi dari tanah liat, sebuah tikar dari bulu. Ketika ajalnya hampir tiba, ia memanggil Abdah binti Abi Shawwal yang telah memenaminya dengan baik, sehingga ia merupakan sahabat dan pembantunya yang paling baik dan setia. Kepada Abdah, berpesan, “Janganlah kematianku sampai menyusahkan orang lain; bungkuslah mayatku dengan jubahku.”[23]

Rabiah memang tidak ingin menyusahkan orang lain. Beberapa orang saleh ingin mendampingi di saat-saat terakhirnya, tetapi Rabiah menolak didampingi di saat-saat terakhirnya, tetapi Rabiah menolak didampingi pada saat-saat seperti itu. “Bangunlah dan keluarlah!” Lapangkanlah jalan untuk utusan Allah (malaikat) yang akan datang menjemputku.” Mereka bangkit lalu keluar. Ketika mereka menutup pintu, terdengar suara Rabiah mengucapkan syahadat, lalu dijawab oleh suara:

Wahai jiwa yang tenang , kembalilah pada Tuhanmu dengan senang dan mendapat keridhaan. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.[24]

Jiwa yang datang telah berpulang ke rahmatullah untuk menikmati kehidupan abadi. Sesuai dengan pesan Rabiah, pembantu dan sahabatnya yang setia, Abdah mengapaninya dengan jubah dan selendang dari bulu yang selalu dipakainya. Rabiah telah tiada, namun ia telah meninggalkan kenang-kenangan yang penuh dengan nilai yang luhur.

Tidak diketahui dengan pasti di mana letak kubur Rabiah. Sebagian sumber sejarah menyebutkan ia dikuburkan di Jerusalem di atas sebuah bukit. Tapi yang pasti wafat di Basrah, daerah Syam, sehingga kubur yang terdapat di Jerusalem, agaknya, adalah kuburan Rabiah Ash-Shamiyah.[25]

Sumber Referensi:

-          Al-Quran Al-Karim
-          Muhammad Atiyah Khamis, Rabiah Al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi, terjem. Aliudin Mahjudin, Pustaka Firdaus: Jakarta, 1991
-          Sayru-s-salikatu-l-mu’minati-l-khayrat oleh Abu Bakar Al-Husni.
-          Sifatu-s-safwah oleh Ibnu Al-Jauwzi.
-          Margareth Smith, Rabiah: Pergulatan Spiritual Perempuan, terjem. Jamilah Baraja, Risalah Gusti: Surabaya, 1997.




[1] Muhammad Atiyah Khamis, Rabiah Al-Adawiyah: Penyair Wanita Sufi, terjem. Aliudin Mahjudin, Pustaka Firdaus: Jakarta, 1991, hlm 1
[2] Muhammad Atiyah Khamis, Ibid., hlm 3.
[3] Bandingkan Al-Hujwiri, Kasyful Mahjub, hlm. 210
[4] Goldziher, Muhamm. Studien, ii, hlm. 300
[5] Margareth Smith, Rabiah: Pergulatan Spiritual Perempuan, terjem. Jamilah Baraja, Risalah Gusti: Surabaya, 1997, hlm. 6
[6] M. Zihni, Meshahir An-Nisa, hlm. 225
[7] Attar, op. cit. hlm. 59 dan 60.
[8] Lihat pula Goldziher, “Le culte des saints chez les Musulmans”, Revue de l’historie des Religions, 1880, hlm. 270, 271.
[9] Margareth Smith, Op. Cit., hlm. 11
[10] Margaret Smith, Op. Cit., hlm 11, 12.
[11] Anhafa-s-sadati-muttaqin hlm. 567
[12] Tazkiratu-l-awliya’ hlm. 67
[13] At-Ta’aruf li-mazdhab ahli-t-tasawuf, al-kalabadzi hlm. 121
[14] Tabaqatul-awliya oleh Al-Manawi hlm.106
[15] Ar-Raudhu-l-fa’iq hlm. 117
[16] Muhammad Atiyah Khamis, Op. Cit., hlm 73
[17] Muhammad Atiyah Khamis, Op. Cit., 74
[18] Tabaqatu-l-awliya hlm. 105
[19] Al-Quran, Al-An’am, ayat 160
[20] Tazkiratu-l-awliya oleh Attar hlm 62
[21] Sayru-s-salikatu-l-mu’minati-l-khayrat oleh Abu Bakar Al-Husni hlm. 26
[22] Sifatu-s-safwah oleh Ibnu Al-Jauwzi hlm. 57
[23] Sifatu-s-safwah jilid iv hal 58 dan Raudu-r-rayyani hlm. 101
[24] Al-quran, Al-Fajr, ayat 27-30
[25] Pendapat ini didukung oleh Ibn Batutah jilid I hlm. 124 dan Al-Harawi dalam bukunya Az-Ziyarat
Load disqus comments

0 komentar