Minggu, 10 Februari 2013

Resume Buku Twelve Powers in You, 12 Kekuatan Dinamis untuk Menghasilkan Kesehatan, Cinta, dan Kesuksesan, Karya David Williamson, D.Min. dkk.


Alkisah seorang lelaki menjual semua miliknya untuk membeli sebidang tanah. Di situ ia menemukan sebuah mutiara yang begitu mahal. Barangkali kita seperti lelaki itu: mencari, mungkin harus mengalami banyak kesulitan, menghadapi tantangan, ingin merasa lebih berdaya, bijaksana, dan terbimbing. Apakah kita mencari mutiara itu di berbagai bidang, hubungan, dan pekerjaan? Kendati kita telah sekian lama mencari di “luar sana” untuk menemukan jawaban, bisa jadi mutiara atau kekuatan kita tidak berada di “luar sana”.

Ladang yang subur dan mutiara yang sangat berharga itu tidak ada di luar diri kita. Ladang itu lah diri kita sendiri. Mutiara itu ada dalam diri kita. Mutiara tersebut adalah diri kita yang sejati, diri spiritual kita, jati diri kita yang mengetahui dan memunyai mutiara kebijaksanaan. Dalam diri kita terdapat 12 kekuatan luar biasa yang apabila dioptimalkan maka hal tersebut akan mentransformasikan hidup kita sepenuhnya. Mutiara itu adalah diri kita sendiri. Kekuatan ada dalam diri kita.

Kita juga akan mendapati bahwa masing-masing dari dua belas Kekuatan itu dikeluarkan dan diekspresikan pada tubuh fisik kita sebagai suatu organ atau sistem tertentu. Dengan kata lain, tubuh fisik kita memunyai cetak biru kosmis.  Dua belas Kekuatan dan tubuh jasmaniah kita bukanlah aspek-aspek yang terpisah dari keseluruhan keberadaan kita. Sebaliknya, keduanya merupakan dua sisi dari keeping uang yang sama. Sebagai contoh, kekuatan cinta kita mengalir melalui dan terekspresikan sebagai jantung dan sistem peredaran kita.


Kedua belas Kekuatan luar biasa yang terdapat dalam diri kita adalah, Iman, Cinta, Potensi, Kebijaksanaan, Kuasa, Imajinasi, Pemahaman, Kehendak, Tatanan, Antusiasme, Pelepasan, dan Hidup.dalam karya yang komprehensif namun mudah diikuti ini, kita dapat mempelajari rahasia pengayaan dan pemberdayaan hidup yang dipraktikan ribuan orang di seluruh penjuru negeri. Kunci bagi kesejahteraan fisik batin, dan emosi terletak di dalam dua belas Kekuatan yang melekat di dalam diri kita masing-masing. 

Manakala kita menggunakan salah satu dari dua belas Kekuatan mana pun dengan cara yang seimbang, sehat, dan harmonis, organ fisik yang berkaitan dengannya pun mencerminkan dan mengejawantahkan keseimbangan dan harmoni ini. Masing-masing Kekuatan tersebut mempunyai pusat fungsi pada organ atau sistem, yakni, Iman pada Otak besar (cerebrum), 

Cinta pada jantung dan sistem peredaran, Potensi pada Sumsum dan saraf tulang belakang, Kebijaksanaan pada sistem endoktrin, Kuasa pada pangkal tenggorok, oto dan anggota badan, Imajinasi pada Talamus di otak, Pemahaman pada pancaindra, Kehendak pada sistem pernapasan, Tatananan pada sistem pencernaan, kulit, dan tulang, Antusiasme pada hipotalamus dan medula oblongata, Pelepasan pada usus besar dan sistem uriner (urinary system), dan Hidup pada sistem reproduksi.

Iman adalah kekuatan yang dimiliki semua orang. Iman adalah wawasan. Iman adalah kemampuan untuk mengetahui pemikiran kita. Kita kerap kali menganggap iman hanya berkaitan dengan pengalaman religius kita sendiri. Kita menggunakan istilah “Iman Katolik” atau “Iman Islam”. Maksud dari istilash-istilah itu adalah iman dalam agama. Padahal, sesungguhnya iman adalah kekuatan yang dimiliki oleh semua orang, baik yang menjadi bagian dari sebuah agama yang terorganisasi maupun tidak.

Kita dapat melihat dengan jelas bahwa tatkala kita mengimani diri sendiri, kita akan mencapai lebih banyak dibandingkan dengan ketika kita tidak memercayai diri dan kemampuan kita sendiri. Jika kita meragukan diri sendiri, berarti kita memandang rendah diri sendiri. Jika kita memiliki iman yang kuat terhadap diri sendiri, kita akan menangkap nilai dan harga diri kita yang sejati.

Jadi ini lah landasan hidup: mengetahui kebenaran tentang diri sendiri, memahami bahwa kita adalah ekspresi dari Sang Daya Hidup Kreatif. Ini lah batu penjuru yang menjadi landasan hidup kita membangun—kebenaran yang menjadi landasan sikap kita. Kita harus memunyai iman yang sekeras batu bahwa kita ini baik, sebab kita berasal dari Tuhan, bahwa dalam kehadiran dan kekuatan ini lah kita hidup, bergerak, dan memiliki keberadaan kita.

Ketika kita menfokuskan kekuatan iman kita kepada harapan untuk menjadi sehat, sukses dan menemukan solusi, kita menjadi lebih mungkin untuk mewujudkan hal-hal tersebut. Penggunaan iman kita secara positif akan memberdayakan kita untuk mengekpresikan perdamaian, cinta, kelimpahan, dan harmoni yang lebih besar. iman adalah kemampuan yang kita miliki untuk memahami realitas Kerajaan Allah yang dipenuhi kebaikan, biarpun kelihatannya justru sebaliknya. 

Pemakaian yang positif atas iman memastikan bahwa kita memiliki kekuatan untuk melakukan hal-hal yang tampaknya mustahil. Penggunaan iman semacam ini menuntun kita menyelami keinginan dalam hati kita, dan mengerahkan keluar semua potensi kemungkinan kebaikan spiritual yang tak kasatmata.

Setelah Iman, Kekuatan Cinta adalah suatu mutiara terpendam dalam masing-masing jiwa manusia. Cinta bukan sekedar sebuah emosi. Cinta adalah sebuah kekuatan nyata yang kita miliki. Hidup kita dibentuk dengan cara kita memanfaatkan kekuatan atau kemapuan cinta kita, bersama-sama dengan berbagai kekuatan kita yang lain. Mencintai berarti menjalani hidup!

Ilmuwan dan pendeta Skotlandia, Henry Drummond, menyatakan dalam buku klasik kecilnya, Love: The Greatest Thing in the World demikian, “Ketika Anda mengenang masa lalu, Anda akan menemukan bahwa saat-saat yang mengesankan dan membuat Anda merasa benar-benar hidup adalah di kala melakukan hal-hal dengan semangat cinta.”

Aliran hidup yang dinamis terungkap melalui diri kita. Kita menyebut kekuatan hidup ini dengan berbagai sebutan yang religius dan ilmiah: Tuhan, energy, prana, atau chi. Kekuatan hidup ini berupaya mengungkapkan dirinya sendiri secara utuh dan bebas dalam diri kita melalui kita, sungguh-sungguh sebagai diri kita. Kita membebaskan atau memaksimalkan aliran hidup dengan cinta. Mencintai berarti bearada dalam aliran hidup, sirkulasi hidup, dan kelimpahan hidup.

Dalam Lama mengatakan bahwa agamanya dirangkum dalam satu kata: kebaikan. Ia mengikuti jejak langkah Budha Gautama yang semua ajaran dan teladannya berpusat pada belas kasih. Cinta, kebaikan, dan belas kasih: apakah semua ini bukan sekadar kata-kata lain untuk melukiskan kekuatan yang persis sama dengan kekuatan cinta?

Cinta ternyata mempunyai efek penyembuhan terhadap berbagai penyakit serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia. Bagaimana kita mempertahankan sistem kekebalan kita selalu sehat, sehingga kita tetap terbebas dari penyakit? Semakin banyak ilmuwan yang menemukan bahwa kebanyakan kita melakukannya dengan cinta. Itulah sebabnya, cinta merupakan kunci utama dalam penyembuhan—cinta kepada Tuhan, saling mengasihi sesama, cinta kepada musuh kita, tubuh kita sendiri, dan kepada segala hal yang kita ambil di dalam hidup kita.

Cinta melindungi kita dari penyakit infeksi karena ia menguatkan sistem kekebalan kita. Dalam sebuah studi, para mahasiswa Harvard disuruh menonton sebuah film tentang Bunda Teresa yang memperlihatkan cinta tanpa pamrih dalam melayani kaum yang sakit sekarat di Kalkuta. Setelah menonton film itu, air liru mereka memperlihatkan terjadinya peningkatan dalam muatan antibody pelindungnya, sehingga membantu tubuh mereka untuk menghancurkan virus. Dalam kajian lainnya, para periset meletakkan rhinovirus (virus yang menyebabkan salesma) di hidung para relawan. Orang memiliki paling banyak dan keragaman hubungan yang paling luas, dengan kata lain orang yang memiliki paling banyak aliran cintga dalam hidup mereka, memperlihatkan peluang yang paling sedikit untuk benar-benar terserang salesma.

Kekuatan selanjutnya adalah Potensi (strenght). Potensi adalah keseimbangan. Orang yang seimbang sungguh-sungguh kuat. Jika seseorang mendorong Anda dan ternyata Anda mampu bertahan tanpa goyah dengan kedua kaki tetap di lantai, berarti Anda kuat. Anda mampu menanggung tekanan dan stress, karena Anda seimbang dengan kuat. Tetapi, apa yang terjadi jika Anda hanya berdiri dengan satu kaki saja? Anda akan dapat didorong jatuh oleh satu jari oleh siapa pun. Anda tetap memunyai semua bagian tubuh yang sama, tetapi Anda tidak seimbang, sehingga Anda dapat “didorong jatuh.”

Keseimbangan adalah kekuatan. Apa sajakah yang perlu kita seimbangkan dengan baik? Pemikiran-perasaan, kesadaran-bawah sadar, intelektual-intuisi, bekerja-istirarahat-bermain, memberi-menerima,. Hal ini juga berlaku bagi pria maupun wanita, sebab kita melihat diri kita sendiri sebagai pribadi utuh.

Carl Jung, psikiater dan pengeksplorasi roh dan jiwa manusia yang terkenal itu menyebutkan dua aspek: animus-anima, pria-wanita. Prinsip pria dan wanita terdapat pada segenap umat manusia. Kita perlu memiliki satu pusat yang kuat, sehingga kita dapat menyatukan kedua ciri alamiah kita itu. Dengan demikian, akan terintegrasikan dengan baik dan seimbang sempurna, bagaikan pesawat terbang yang mempunyai dua sayap. Kuda-kuda kita tetap dapat kokoh dan stabil tatkala kita didorong ke satu arah atau arah lainnya dalam keberadaan utuh kita.

Potensi sejati tidak akan menjadi ketat atau kaku. Potensi berarti kemampuan bersikap luwes di tengah tekanan dan stress. Sebuah pohon willow lebih kuat dibandingkan dengan pohon oak ketika sama-sama diterjang angin badai yang kuat.

Sikap menerjang secara membabi buta bukan potensi. Demikian pula dengan sikap keras kepala. Potensi adalah kemampuan untuk menyimank gagasan baru, mengakui bahwa kita sendiri melakukan kesalahan, mengubah cara pikir kita sendiri, dan melakukan segala sesuatunya dengan cara yang lebih baik.

Kekuatan Kebijaksanaan yang berada pada urutan ini berarti penilaian yang baik. Kita perlu menggunakan kebijaksanaan dan penilaian terbaik kita sendiri untuk memilih yang berharga, bermanfaat, sehat, menyembuhkan, positif, mendamaikan, dan demi kebaikan semua pihak yang bersangkutan. Sudah pasti, acap kali kita harus menghadapi keputusan yang sulit dan melibatkan faktor yang pelik. Lebih jauh lagi, tiap-tiap orang mungkin saja tidak menyukai atau menyetujui setiap keputusan kita. Kita masih perlu mengandalkan daya kebijaksanaan dan pertimbangan baik kita untuk memilih dengan arif dan welas asih.

Keputusan yang paling kreatif dan seimbang dalam hidup kita berasal dari suatu kombinasi antara kemampuan rasional dan kemampuan intuitif kita. Kita menghasilkan putusan yang terbaik jikalau kita menghargai kepala dan hati kita, pemikiran dan perasaan kita, serta logika dan intuisi kita. Sebagian besar orang lebih mahir dalam salah satu cara, tapi kurang dalam cara satunya lagi. Boleh jadi, kita cenderung untuk logis dan analitis, tetapi tidak memanfaatkan atau menghargai sisi intuitif kita sendiri. Atau, kita mungkin hanya menuruti dorongan hati dan perasaan, tanpa menggunakan akal sehat atau analitis logis dalam menghasilkan putusan kita.

Lakukan lebih daripada sekadar membuat putusan dengan cepat. Temukan cara yang benar dan paling baik bagi diri Anda sendiri dan semua pihak yang bersangkutan. Anda selalu memunyai pilihan. Mungkin kadang kala Anda merasa seolah-olah hanya perlu menjalani segala sesuatu apa adanya. Padahal Anda selalu memiliki pilihan. Buatlah putusan yang baik dan bijaksana!

Kekuatan Imajinasi yang berada di urutan selanjutnya adalah kekuatan untuk membayangkan yang ada dalam diri kita. Imajinasi kerap disebut visualisasi. Citra adalah bahasa tubuh. Kita “berbicara” dengan tubuh kita melalui citra. Tubuh kita tidak “mendengar” kata-kata sebanyak mendengar atau merasakan citra.

Saat seseorang mengupas sebuah jeruk lalu memakannya dan orang lain menyaksikan hal itu, barangkali orang lain tersebut akan tergiur dan menelan ludah. Pemakan jeruk itu tidak memberikan arahan apa pun agar orang lain tersebut berbuat demikian, tetapi citra itu mendatangi orang itu dan ia memberikan reaksi fisik. Imajinasi kita penuh kekuatan memengaruhi kita secara fisik.

Albert Einstein, seorang fisikawan kuantum, berujar, “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.” Ia juga mengatakan bahwa kita hidup dalam hamparan samudra energi. Einstein dan para pakar fisika lainnya telah menunjukkan bahwa kita hidup dalam bentangan alam semesta yang berisi segala sesuatu yang ada dengan berbagai tingkat getarannya. Kita acap kali berkata, “Ke maa kita pergi, ke situ lah energi mengalir.” Energi memunyai bentuk atau pola “citra diri” atau “tata pikiran” yang akan dialirinya.

Lebih dari 2.000 tahun lampau, Plato telah memperingatkan kita untuk waspada terhadap citra yang kita tanamkan dalam pikiran kita. Ia menyarankan agar kita tidak menaruh citra yang menyeramkan, kekerasan, atau ketakutan dalam pikiran kita. Sebaliknya, kita harus menyebarkan citra yang menyenangkan seperti keindahan, kegembiraan, kedamaian, dan harmoni.

Adapun Kekuatan selanjutnya adalah Kekuatan Pemahaman. Kekuatan Pemahaman membantu kita memahami semua Kekuatan lain yang diangugerahkan kepada kita dan membentuk hidup kita. Kekuatan kita berfungsi secara menyatu dan harmonis, kita mampu mencapai potensi kita yang sepenuhnya sebagai makhluk spiritual. Namun, tatkala Kekuatan kita yang beragam itu tidak seimbang, ekspresi hidup kita pun jadi menyimpang.

Kita percaya manusia adalah makhluk ilahi, diciptakan sesuai citra Tuhan, sehingga pada dasarnya kita baik adanya. Mistikus Katolik Abad Pertengahan, Meister Eckhart, menulis, “Benih Tuhan ada dalam diri kita semua. Dengan digarap oleh petani kerja keras, benih itu akan berkecambah dan tumbuh dengan subur kea rah Tuhan yang menghasilkan benih itu. Dengan cara serupa, buah-buahnya pun akan mempunyai sifat Tuhan. Benih pir akan tumbuh menjadi tanaman kacang, dan benih Tuhan akan tumbuh menjadi Tuhan.”

Pengetahuan tentang “kematangan potensial” ada dalam sebutir benih. Benih mengandung pola atau instruksi yang “mengetahui” maksud keberadaan pohon dan cara memenuhi maksud tersebut. Tesktur kulit kayu, bentuk daun, dan struktur umumnya secara generic telah tercantum di dalam benihnya.

Jadi, serupa dengan itu, pengetahuan atas kematangan potensial pun terdapat pada diri seorang manusia. Seperti halnya benih bagi tanaman atau pohon “mengetahui” apa jadinya mereka kelak, maka umat manusia pun mempunyai pola di dalam dirinya, suatu pengetahuan dasar mengenai apa dan bagaimanakah kita akan mengekspresikan diri melalui dua belas Kekuatan.

Pemahaman tidak pernah selesai. Boleh jadi kita “melihat cahaya” dan seketika menyatakan, “Ah, sekarang aku paham!” Namun, sesungguhnya kebijaksanaan dan tinggi tubuh kita selalu mengalami evolusi dan bertumbuh.

Pemahaman tidak diserahkan begitu saja. Kredo, doktrin, definisi, dogma, opini, ajaran dan tulisan lah yang diberikan begitu saja. Alfred Lord Tennyson menulis, “Ada lebih banyak iman di dalam keraguan yang jujur ketimbang dalam pernyataan iman setengah hati”. 

Semua peziarah terbesar telah menemukan peta mereka sendiri—Budha Gautama, Yesus, Lao-Tzu, Socrates, Musa, Yesaya, Paulus, Santo, Fransiskus, dan Santa Theresia. Masing-masing orang hebat ini memiliki peta jalannya sendiri yang memang dapat menunjukkan jalan kepada bagi kita, tetapi kita tetap harus menempuh jalan untuk mendapatkan terang dan pemahaman kita sendiri. Filsuf kenamaan Yunani, Socrates, mengatakan bahwa kunci kehidupan adalah “mengetahui dirimu sendiri”.

Kekuatan selanjutnya yakni Kekuatan Kehendak di mana di sini manusia merupakan seorang CEO bagi hidupnya sendiri. Kehendak merupakan kekuatan spiritual, satu dari dua belas Kekuatan. Ini lah kemampuan eksekutif kita. Kehendak adalah kekuatan spiritual yang membaut kita mampu melakukan begitu banyak hal. Saya membuat keputusan lalu mengeksekusinya, yakni, melaksanakan keputusan tersebut.

Kekuatan kehendak kita perlu dikuatkan dan diarahkan oleh Yang Tertinggi dan Terbaik yang berada di dalam diri kita sendiri. Namun, dengan memiliki kehendak yang kuat tidaklah berarti kita boleh memasukkan kehendak pada orang lain. Jika demikian, kita justru akan mendominasi, menjadi kepala batu, sok bergaya bos, dan bersikap kaku. Kita semua mengenal orang-orang semacam ini. Mereka suka mengganggu, melecehkan dan menganiaya. Kita semua pernah mengalami “gangguan kekuatan” yang berupa “pertentangan kehendak”. Semua ini merupakan penggunaan kekuatan kehendak yang negatif.

Sisi sebaliknya dari sikap suka menguasai adalah memiliki kehendak yang lemah, merasa tidak sanggup bersikap tegas terhadap diri sendiri, plin-plan, tak menentu, sulit mengambil keputusan, membiarkan orang lain memutuskan bagi kita, dan terus mengikuti arus.

Jadi, dalam pendekatan kita untuk menjadi seorang pribadi yang utuh dan hidup sepenuhnya, kita mengembangkan dan menyeimbangkan, serta mengkoordinasikan berbagai Kekuatan kita, bukannya malahan melemahkan atau menumpasnya. Kita tidak berkata, “Aku harus bersikap keras terhadap kekuatan kehendak, pertimbangan, atau antusiasmeku”. Yang kita katakan adalah ‘‘Jadilah kehendak-Mu’’ sebagai suatu cara untuk menegaskan Kebaikan Universal yang mengekspresikan diri-Nya melalui diri kita sebagai pribadi utuh dan seimbang, sebab itulah kehendak Tuhan atas diri kita. Ketika kita berdoa, “Jadilah kehendak-mu”, maka kita memohon untuk menjadi saluran bagi Kebaikan Tak Terbatas yang tercurah keluar melalui kita ke sesama dan dunia luas.

Kehendak yang kita gunakan dengan kreatif dan inspirasional ini merupakan penggerak dan pemberi energy yang dahsyat. Melalui kekuatan kehendaklah kita sanggup menjalani hidup, membuat keputusan yang bisa dijalankan dan jernih, serta menindaklanjutinya dengan tindakan tegas yang positif dan produktif.

Kekuatan selanjutnya adalah Kekuatan Tatanan. Kekuatan ini menitikberatkan pada upaya seseorang agar mendahulukan yang utama. Kekuatan tatanan kita terutama menyangkut kemampuan kita untuk menjernihkan nilai kita, menentukan prioritas hidup kita, dan menyimak sesuatu yang sungguh-sungguh penting. 

Kita perlu memeriksa nilai-nilai kita sendiri untuk memastikan bahwa kita lebih mengutamakan manusia dalam membelanjakan uang dan waktu kita. Kita mengatakan saling mencintai, tetapi marah terhadap orang yang kita cintai hanya karena memindahkan lampu, memecahkan piring, merobek jok, atau menggores cat mobil. Banyak perusahaan memecat pegawainya hanya agar kelihatan menarik bagi para pembeli sahamnya. Semua ini merupakan masalah dan keprihatinan yang menyangkut “penataan”. Kita perlu “menata rumah kita sendiri”. Yakni, membentuk suatu tatanan ilahi mengenai apa dan siapa yang benar-benar penting.

Sebagai sebuah Kekuatan guna menjadi pribadi yang baik Tatanan ini dalam penerapannya pada sistem pencernaan sangatlah baik. Diet, misalnya. Dahulukan yang utama. Yang utama dalam upaya adalah memilih makanan yang sehat dan vital, buah-buahan, sayur-mayur, serta biji-bijian, makanan rendah lemak, makanan yang bebas dari bahan kimia beracun, dan tidak melahap junk food yang merusak. Selain itu, berarti pula mengambil makanan berdasarkan diet yang tepat bagi kita. Waspadalah terhadap sistem diet yang ketat, yakni sistem yang menyatakan bahwa setiap orang seharusnya hanya makan makanan tertentu dengan kombinasi tertentu atau pada waktu-waktu tertentu saja. Kelihatannya, memang seperti petunjuk yang tertata, dan benar-benar manjur untuk sebagian orang. Namun, sistem diet ini tidak memperhitungkan bahwa setiap oranmg itu berbeda dan memunyai kebutuhan gizi berlainan. Temukan sistem diet yang paling baik bagi diri Anda sendiri!

Setelah Tatanan Kekuatan selanjutnya adalah Antusiasme. Antusiasme adalah kekuatan yang menyalakan diri kita dengan energy. Inilah kekuatan yang membuat kita mulai dan terus memiliki daya. Inilah yang mendorong kita untuk berkembang, merangsang kita untuk menjadi unggul, menggairahkan kita untuk meningkat dan berkontribusi. En-theos berarti “menyala bersama Tuhan”. Antusiasme terekspresikan secara fisik melalui hipotalamus dan medulla oblongata yang terletak di bagian dasar otak kita.

Antusiasme atau semangat ada;ah kekuatan dalam diri yang mendorong kita maju, menyalakan kita dengan energi. Inilah bahan bakar yang diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan kita. Inilah dorongan untuk berkembang, rangsangan untuk menjadi unggul, gairah untuk meningkatkan diri dan berkontribusi. Boleh jadi kita merasa bosan, jenuh, letih, kalah, sedih. Kita semua menyimpan perasaan itu pada saat-saat tertentu. Jika kita tampaknya kekurangan kekuatan antusiasme dalam hidup kita, kembalilah pada keheningan, yakni ke dalam suasana tenang dan berkontak batin dengan Sumber Kita yang tak terbatas, Sumber yang memasok Kita, Tuhan di dalam diri kita sendiri.

Kita membutuhkan antusiasme untuk mencapai apa pun. Jika dipahami dengan tepat dan disalurkan dengan bijaksana, antusiasme kita akan menghasilkan semangat untuk hidup, bergembira, senang, dan mampu untuk mengubah gairah positif menjadi hasil yang sukses dan memberikan kontribusi positif bagi dunia.

Kemampuan spiritual kita akan tatanan adalah mitra bagi antusiasme. Bersama-saama keduanya membentuk suatu tim yang saling melengkapi. Kemampuan menata memampukan kita untuk “mendahulukan yang utama” dan menyusun berbagai prioritas positif dalam hidup kita. Ingat, tatanan adalah kemampuan kita untuk mengetahui hal-hal yang paling penting, menyusun prioritas, menganggarkan, menyusun batasan yang sehat, mengorganisasikan, membuat jadwal, dan merencanakanya.

Orang yang memiliki semangat meluap-laup cenderung menjadi terlalu aktif dan terlibat dalam banyak sekali proyek, namun tak mampu menyusun batasan yang sehat terhadap tuntutan dan kebutuhan orang lain, memiliki terlalu banyak “arang dalam api”, serta mendorong diri mereka sendiri “dengan kecepatan penuh untuk maju terus”. Orang dengan semangat berlebihan yang tidak diimbangi dengan penggunaan kemampuan tatanan mereka ini boleh jadi akan gugur, habis, hancur, dan kehilangan orang yang mereka pedulikan.

Antusiasme kita dapat tersedot habis dan terangkut dalam egoism, materialisme, dan ambisi, dengan mengorbankan kesehatan, keluarga, dan nilai spiritual kita. Menjadi antusias dan menikmati hal-hal yang kita miliki barangkali merupakan hal yang lebih penting ketimbang antusiasme untuk mendapatkan hal-hal baru dan mencapai sukses lebih besar. bagi orang tamak, lebih banyak tak akan pernah cukup.

Kita bisa mengubah sikap dan tindakan kita untuk menghasilkan antusiasme yang lebih tinggi. Kita dapat menjadi antusias dalam segala hal: bermain bersama anak-anak kita, bercengkrama dengan anjing atau kucing, mencari cara untuk meningkatkan pekerjaan kita, bergumul di dalam suatu penyembuhan suskes, berprestasi baik di sekolah, mengeksplorasi kota, mengubah rutinitas kita, menemukan cara untuk menjadi lebih romantic dalam sebuah perkawinan jangka panjang, atau mengupas jeruk dengan semangat. Antusiasme kita untuk hidup tidak sekadar melibatkan kita dalam hal-hal “besar”, melainkan juga dalam hal-hal “kecil” yang kita hadapi sehari-hari.

Adapun Kekuatan berikutnya yakni Pelesapan adalah kemampuan kita untuk berkata, “Tidak, terima kasih” terhadap hal-hal yang tidak benar, tidak diinginkan, dan using. Inilah kemampuan kita untuk memaafkan, membebaskan diri sendiri, menghentikan kebiasaan buruk, tidak dikuasai, dan melepaskan. Pelepasan menggunakan “prinsip kosong” dengan melepaskan hal-hal yang bersifat mental dan fisik, sehingga Tuhan memunyai ruang dan tempat untuk hadir. Yang dilepaskan boleh jadi tidaklah “buruk”, tapi perlu dibuang dan digantikan dengan sesuatu yang lebih baik.

Pelepasan adalah kekuatan atau kemampuan kita untuk mengubah pikiran atau keyakinan kita, untuk merelakan, dan membiarkan Tuhan turun tangan. Apakah sejumlah keyakinan yang jelas-jelas membatasi dan mungkin perlu kita lepaskan? Tentang Tuhan: Tuhan adalah hakim yang bengis. Tentang manusia: kita adalah pendosa tak berharga dan tanpa harapan, serta ditakdirkan untuk masuk neraka bila tidak bertobat. Tentang kondisi umat manusia: inilah dunia di mana di dalamnya manusia saling memangsa, balas dendam itu manis, dan perang menciptakan perdamaian. Semua ini merupakan “pemikiran salah” yang harus dilepaskan dan digantikan dengan kebenaran.

Kita telah mengetahui bahwa melepaskan sesuatu bukan sekadar hal-hal yang kita anggap buruk. Acap kali kita harus rela melepaskan cara berpikir, keyakinan, pola, tempat, pekerjaan, dan bagian-bagian yang dulunya bagus serta berguna dalam hidup kita, namun harus kita lepaskan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Istilah yang digunakan untuk proses “melepaskan” ini semula adalah “pembuangan” atau “eliminasi”. Kekuatan untuk melepaskan mencakup eliminasi fisik dan bahkan meluas di luar hal itu. jelaslah bahwa kita mengetahui masalah dalam tubuh kita yang mungkin terjadi ketika kita menghadapi kesulitan dalam soal eliminasi itu. Namun demikian, melepaskan atau merelakan juga merupakan suatu proses alamiah dalam “merelakan dan membiarkan Tuhan yang menangani”. Umpamanya, kita melepaskan kecemasan yang menyangkut sejumlah orang atau situasi dan “menaruhnya di dalam tangan Tuhan”. Ini artinya melepaskannya pada Tuhan Yang Mahabaik.

Kita semua pernah mengalami keharusan untuk merelakan kepergian teman, orang yang kita cintai, atau rekan kerja karena kematian. Kita tahu bahwa pelepasan itu merupakan suatu proses yang bukan saja dilakukan dengan cepat dan hanya terjadi sekali serta akan tinggal kenangan belaka, melainkan juga berlangsung melalui tahap-tahap dalam waktu yang cukup lama. Kita tidak begitu saja “memusnahkan” orang atau hubungan, melainkan harus menjalani suatu pengalaman “melepaskan”.

Kekuatan pamungkas dari Kekuatan-Kekuatan lainnya adalah Hidup. Hidup adalah kekuatan untuk memulihkan, menyembuhkan, memperbaiki, menciptakan, meregenerasikan, mempertahankan, dan memberikan energi. Kekuatan hidup kita tidak menjadi tua, pudar atau mati. Kita merayakan hidup. Kita menghargai seksualitas kita sebagai ekspresi hidup suci dan positif.

Kita memiliki kekuatan hidup. Hidup menjalani evolusinya dalam banyak tahap dan ekspresi. Bahkan dalam konsepsi dan perkembangan kita di dalam rahim pun, kita menjalani semua tahap evolusi kemanusiaan dari sel-sel yang sederhana menjadi manusia yang kompleks. Bentuk kehidupan terus berubah bagi kita. Kita tidak lagi memiliki bentuk tubuh yang sama dengan yang kita miliki ketika kita baru dilahirkan atau berusia lima tahun. Kekuatan hidup itu sendiri tidak berusia, tanpa bentuk, dan terbentang selamanya. 

Tubuh kita adalah ekspresi dari kekuatan hidup. Hidup tampaknya datang dari tubuh kita, padahal tidak demikian. Kita kerap kali bicara tentang hidup seolah-olah hidup itu “datang dan pergi”. Hidup tidak “dimulai” dengan kelahiran atau “berakhir” dengan kematian. Kita memang berbicara mengenai “hidup baru yang akan datang” dan bahwa hidup seseorang telah “berlalu” serta “dikuburkan”. Namun, kita percaya bahwa hidup itu berkesinambungan, terbuka, dan diperbaharui dengan sendirinya secara terus-menerus. 
Kita juga ikut menciptakan “hidup” manusia yang mengejewantah. Kita memiliki bagian misterius dalam perjalanan jiwa ke dalam suatu inkarnasi fisik yang berkembang, dengan dibantu oleh pembuahan sperma terhadap sel telur dalam saluran tuba wanita. 

Tradisi Ibrani mengajarkan bahwa seks, konsepsi, kelahiran, tubuh daging, dan tulang itu menjadi penyebab perayaan dan keterpukauan spiritual. Dalam tradisi agama lainnya bagian dari keberadaan kita ini acap kali ditolak, disebut sebagai “kedagingan”, “penuh dosa”, “kesadaran indrawi”, “fana”, “hewani”, “salah”, “tidak nyata”, “maya”, dan “lebih rendah”. Bukankah menarik bahwa mungkin ada lebih banyak nama negatif bagi tubuh dalam banyak agama daripada perayaan bagi tubuh kita sebagai sesuatu yang “baik”?

Suatu spiritualitas yang menyeluruh (holistic) merengkuh roh, jiwa, dan badan kita sebagai satu energi – seperti uap, cairan, dan es yang sesungguhnya sama-sama air - yang sama, hanya dalam bentuk-bentuk ekspresi yang berlainan. Uap tidaklah “baik” dan es tidaklah “buruk”. Serupa dengan itu, kita adalah makhluk yang menyeluruh dan utuh. 

Kita harus menyembah dengan hormat dan bersyukur atas anugerah Tuhan di dalam dan sebagai ekspresi kedagingan, seperti otak, mata, telinga, tangan, kaki, hidung, paru-paru, jantung, kulit, lambung, ginjal, rambut, urat syaraf, tulang, dan organ-organ reproduksi, semuanya dari begitu banyaknya bagian tubuh kita yang menakjubkan. Tidak ada bagian dari diri kita yang jahat, penuh dosa, atau lebih rendah. Tubuh kita merupakan keseluruhan diri kita tetapi pastilah merupakan suatu ekspresi hidup yang memukau. Tubuh, seks, dunia “alamiah”, dan planet kita bukan sesuatu yang perlu disingkirkan, ditaklukan, ditanggalkan, atau diabaikan. Kita harus memiliki sikap hormat terhadap tubuh kita dan semua tubuh lainnya. 

Kita berkembang di dalam rahim ibu kita selama sembilan bulan, lalu dilahirkan untuk memasuki kesempatan memperoleh perkembangan dan ekspresi yang agung. Pengalaman hidup di dalam rahim berakhir, tetapi secara alamiah menuju berbagai kemungkinan lainnya. Perkembangan di dalam rahim diikuti dengan berbagai kesempatan hidup yang semakin meningkat. inilah cara kerja Sang Pencipta (proses hidup kreatif). 

    

Load disqus comments

0 komentar