Jumat, 29 Maret 2013

Frustasi


Maret akan berlalu. Cepat sekali waktu berlalu, rasanya baru kemarin tanggal muda. Pada libur Paskah  hari ini aku sejenak merenungi kondisi negeriku, Indonesia. Sudah masuk usia kepala dua, sedari kecil aku selalu mendengar hal negatif tentang negeriku ini. Korupsi, teroris, bencana alam, perilaku amoral, kelaparan, kemiskinan, pembunuhan, peculikan, mutilasi, konspirasi, oligarki politik, intoleransi beragama, narkoba, tawuran pelajar, bentrok antar aparat keamanan, dan masih banyak lagi.

Di satu sisi mendengar kemajuan negara-negara lain, terutama di wilayah Eropa, seringkali membuatku berfikir angkat kaki dari negeri ini. Payah. Jangankan dari negara Eropa, yang notabenenya memang sudah maju jauh terlebih dahulu, dengan negara wilayah Asia saja Indonesia jauh tertinggal. Seperti  Cina, Jepang, Korea, Singapura. Malaysia sendiri, negara jiran yang dulunya tertinggal, kini jauh meninggalkan Indonesia.


Aku juga membayangkan negara ini mempunyai tokoh terpandang di dunia, seperti dulu. Banyak tokoh-tokoh Indonesia kaliber yang melanglang buana namanya hingga ke penjuru dunia. Soekarno, Hatta, misalnya. Dalam bidang keagamaan pun, ulama-ulama Indonesia banyak yang berkelas internasional, Syekh Ahmad Khatib Sambasi, Syekh Abdussomad Palembani, Syekh Yusuf Al-Makassari. Para pendahulu bangsa ini adalah orang-orang hebat. 

Prestasi baik tak kunjung diraih, sebaliknya, negara ini berhasil menorehkan beberapa prestasi buruk. Termasuk negara dengan tingkat korupsi tertinggi, misalnya. Duh. Jika media massa pada umumnya berpendapat sama dan aku coba tak menirunya, dari pengamatan kecil-kecilanku negara ini memang sedang dalam kondisi memprihatinkan. Iklim politik rapuh digerogoti kepentingan jangka pendek. Bagaimana, ya, jika para founding fathers negara ini menyaksikan kondisi saat ini?

Hidup di Ibukota itu mempertemukanku dengan banyak hal yang tak masuk akal namun dianggap masuk akal. Payah. Kondisi jalan yang setiap waktu macet, tak kunjung menemukan solusi, padahal ini berlangsung bertahun-tahun.  Kondisi psikososial di sini, menurutku, sakit, kronis, dan komplikasi. Anak-anak kecil banyak yang hidup di jalan sebagai pengamen. Lapangan pekerjaan sempit mengakibatkan tingginya angka pengangguran dan kriminalitas.

Beberapa hari lalu aku sempat ikut survey sebuah LSM swasta di gedung DPR, respondennya anggota DPR dari berbagai fraksi. Kaget bukan kepalang rasanya melihat kondisi para perwakilan rakyat tersebut. Sekali lagi, ini hanya survey kecil-kecilan berdasarkan pengamatanku. Pada saat rapat, banyak sekali anggota DPR di yang absen. Kalau saja mereka kuliah, bisa saja mereka terancam mengulang mata kuliah, bahkan di-DO (drop out). Beberapa di antara mereka juga banyak yang tidak berada di tempat karena sedang ada urusan pribadi di luar kota, seperti memantau perkambangan partainya pada pilkada di daerah. 

Belum lagi, di saat rapat, selain anggota yang hadir sedikit, banyak kursi yang kosong, beberapa anggota yang berbicara hanya segelintir saja. Selebihnya diam bagaikan batu kali. Padahal mereka tengah mengurus nasib masyarakat. Sesekali kuamati perdebatan karena perbedaan pendapat mereka. Duh. Mereka meributkan permasalahan-permasalahn sepele, tidak substantif. “Pimpinan sidang, saya setuju dengan pendapat si A, sekian!” kata seorang anggota DPR.


Tanah airku, aku seorang penghunimu yang sedang meratapimu.
Dengar kah? 
Memang tidak semuanya begitu, masih ada beberapa yang tampak serius. Tapi tingkah laku mereka saat sidang jujur membuatku sesekali terpingkal. Ada juga yang dipertengahan sidang keluar ruangan, dan tak kembali lagi hingga sidang ditutup. Hadeuh. Bagaimana bangsa ini mau maju jika sedari di ruang sakral DPR diisi oleh manusia-manusia seperti itu. Payah.



Di kampus, seperti apa pula? Duh, janganlah membandingkan dengan masa silam, jauh rasanya. Jika membaca kisah heroik para mahasiswa angkatan bahari, kecil rasanya hati ini. Di kampusku sendiri, kebetulan saat ini tengah berlangsung pemilihan ketua BEM di tingkat fakultas dan jurusan. Carut marut, beberapa fakultas sempat terjadi bentrok, pemilu ricuh. Mahasiswa sebagai agen penerus bangsa sejak kuliah telah bermental sedemikian.

Aktivisme dibenalui dengan narsisme dan pragmatisme. Belum lagi mahasiswa yang hanya mengejar kemapanan akademik. Sikap mereka apolitis, barangkali begitulah kurikulum mengajarkan, jauh dari kebutuhan realitas sosial masyarakat. Beberapa di antaranya ada pula yang menjalani kehidupan kampus dengan pola hedonis. Dosen-dosen tidak memberikan contoh yang baik dalam mendidik, pola pengajaran mereka sesuai dengan posisi profesi mereka, pegawai negeri. Bukan sebagai pendidik, tapi pengajar yang digaji setiap bulan oleh negara karena bekerja di instansi pendidikan milik negara.

Aku sendiri ada di mana? Wah, aku lupa mempetanyakan eksistensiku sendiri di tengah lingkungan ini. Di mana aku? Aku tengah berada di dalam diriku sendiri, mengamati realitas sosial, sembari merapal sandi-sandi self determination. Memimpikan berada di suatu tempat di mana manusia mencintai kebajikan, memanusiakan manusia, bergerak atas kebebasan yang bertanggung jawab. Terlalu tebal buku jika hal-hal negatif negara ini ditulis. Negaraku dalam kondisi kritis. Aku ingin mencari suaka, rasanya.

Aku tahu waktu tak kan banyak membantu, walau Maret datang dan pergi berkali-kali.




Load disqus comments

0 komentar