Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2013

Dewan Perwakilan Rakyat?

Prof. Dr. H.M. Rasjidi

Biografi Singkat

H. M. Rasjidi, lahir pada tanggal 20 Mai 1915 di Kota Gede, Yogyakarta. Gelar Ph. D diraih dari Universitas Sorbone, Perancis tahun 1956. Pada awal revolusi, aktif dalam dunia politik (diplomatik). Pernah menjadi Duta Besar di Pakistan dan Menteri Agama RI pertama. Atas jasa-jasanya itulah, tahun 1989, ia mendapat anugerah Bintang Maha Putra Utama dari Pemerintah RI. Selain itu, ia juga aktif mengajar menulis buku dan artikel di berbagai media massa. 

Eksistensialisme, Sebuah Narasi Mungil

Istilah “eksistensi” berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Dengan istilah ini hendak dikatakan oleh para eksistensialis bahwa eksistensi manusia (apakah itu terdapat dalam seni, filsafat, atau psikologi) seharusnya dipahami bukan sebagai kumpulan substansi-substansi, mekanisme-mekanisme, atau pola-pola statis, melainkan sebagai “gerak” atau “menjadi”, sebagai sesuatu yang “mengada.” Eksistensi menunjuk kepada kehadiran pribadi yang mengada atau menjadi. 

Sesungguhnya, eksistensialisme tidak senantiasa mengacu kepada upaya  ‘penyingkiran’ Tuhan. Eksistensialis, bahkan oleh banyak filsuf yang beragama, Islam misalnya, merayakan paham eksistensialisme, hanya saja mereka pada akhirnya berkompromi dengan Dzat Maha Agung, Tuhan. Muhammad Iqbal (1877-1938), misalnya.

Tarik Ulur Posisi Ideologi Agama dalam Negara

Sebuah analisis terhadap bab “Hubungan antara Kalangan Modern Islam dengan Kalangan Kebangsaan yang Netral Agama (hal. 338-344)” dari buku “Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942”, karya Deliar Noer, terbitan LP3ES.

Mayoritas penduduk Indonesia terdiri dari kalangan Islam. Dalam sejarahnya, posisi praktik doktrin khilafah dan penerapan syariat Islam tak sesekali menemukan perdebatan panas di antara para tokoh agama, antara nasionalis-sekuler dan nasionalis-muslim. Soekarno sebagai tokoh nasionalis-sekuler sekaligus presiden pertama Indonesia berhasil memadukan keragaman penduduk Indonesia di bawah payung Pancasila. Sementara, hingga kini, beberapa tokoh nasionalis-muslim masih menyangsikan falsafah negara yang dinilai tak sejalan dengan ajaran agama Islam tersebut.

Tulisan

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)

Benarkah ucapan lebih tinggi kedudukannya daripada tulisan? Benarkah tulisan adalah penghancur ingatan sejati? Bukankah peradaban dan sejarah pun ditandai dengan munculnya tulisan. Derrida, dengan  senjata rakitannya, dekonstruksi, mendobrak kebiasaan filsafat Barat yang bercorak logosentrisme, terutama Freud, yang mengutuk tulisan.

Tulisan dianggap sebagai racun, menghancurkan ingatan sejati, dan tak murni karena telah terkotori oleh mediasi—tak seperti ucapan (lisan) yang diyakini mewakili langsung emosi dan maksud pembicara. Derrida ‘menyelamatkan’ tulisan. Teks adalah ingatan tandingan—dan  Derrida sekaligus menggiring  masing-masing kita ke dalam perjalanan menuju Kebenaran yang hampir pasti tak diketahui di mana letaknya, namun ia ada.