Sabtu, 27 April 2013

Eksistensialisme, Sebuah Narasi Mungil


Istilah “eksistensi” berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Dengan istilah ini hendak dikatakan oleh para eksistensialis bahwa eksistensi manusia (apakah itu terdapat dalam seni, filsafat, atau psikologi) seharusnya dipahami bukan sebagai kumpulan substansi-substansi, mekanisme-mekanisme, atau pola-pola statis, melainkan sebagai “gerak” atau “menjadi”, sebagai sesuatu yang “mengada.” Eksistensi menunjuk kepada kehadiran pribadi yang mengada atau menjadi. 


Sesungguhnya, eksistensialisme tidak senantiasa mengacu kepada upaya  ‘penyingkiran’ Tuhan. Eksistensialis, bahkan oleh banyak filsuf yang beragama, Islam misalnya, merayakan paham eksistensialisme, hanya saja mereka pada akhirnya berkompromi dengan Dzat Maha Agung, Tuhan. Muhammad Iqbal (1877-1938), misalnya. 


Donny Gahral Adian menyarah perihal eksistensialisme tersebut dalam bukunya Percik Pemikiran Kontemporer (2005). Menurutnya, apa yang melambari paham eksistensialisme lahir adalah kegalauan para filsuf melihat narasi besar yang selalu mempersoalkan kodrat manusia. Manusia diutak-atik seperti mengutak atik benda-benda.

Kecenderungan esensialistis ini mendapat reaksi keras dari segerombolan filsuf yang dikenal sebagai kelompok filsuf eksistensialis. Mereka berpendapat bahawa pertanyaan tentang esensi dan kodrat sudah using dan layaknya diganti dengan pertanyaan seputar eksistensi. Eksistensi yang selalu dianggap remeh didudukkan di bawah esensi sekarang mendapat posisi istimewa.

Manusia adalah manusia bukan karena esensinya, melainkan karena ia bereksistensi. Bereksistensi mengandaikan kebebasan dari jerat kodrat.  Ketika kebebasan manusia bersinggungan dengan Tuhan. Pada titik inilah eksistensialisme bertarung dengan agama.
Eksistensialisme bukanlah sebuah filsafat atau the way of life yang komprehensif, melainkan suatu cara dan upaya untuk menangkap kenyataan.  Salah satu pokok daripada eksistensialisme adalah bahwa eksistensi mendahului hakikat (esensi). Eksistensialisme adalah suatu usaha untuk perbaikan pribadi.

Bagi para filsuf eksistensialis yang berdamai dengan Tuhan, merayakan keberadaanNya, disebut eksistensialisme-teistik. Gerombolan filsuf eksistensialis yang menafikan Tuhan disebut eksistensialisme-ateistik. 

Kelahiran Eksistensialisme


Pada awal kelahiran aliran ini adalah karakteristik utama paruh pertama abad kesembilan belas, yakni tercerai-berainya atau retaknya (fragmentasi) kepribadian. Fragmentasi ini tampak dari gejala emosional, psikologis, dan spiritual yang terjadi baik dalam tingkat kebudayaan maupun pada tingkat individu.
Eksistesialisme tidak menentang rasionalitas.
Ia menetralisir rasionalitas dari racun industrialistik


Retaknya kepribadian ini sejalan dengan industrialisme yang sedang berkembang, baik sebagai sebab maupun akibat. Seorang manusia yang dapat menjaga atau mempertahankan bagian-bagian yang berbeda dari kehidupannya secara terpisah, yang selalu mempunyai program kerja yang sama pada setiap hari dan setiap saat, yang tindakan-tindakannya selalu dapat diramalkan, yang tidak pernah merasa terganggu atau tersentuh oleh dorongan-dorongan irrasional atau visi-visi puitis, yang dapat memanipulasi dirinya dengan cara yang sama seperti ia memanipulasi sebuah mesin—tentu saja orang semacam ini merupakan pekerja yang sangat beruntung bukan hanya karena sudah terpola seperti sebuah mesin, tetapi juga karena sudah mencapai taraf tinggi dari sebuah produk.

Namun, akibatnya, adalah seperti yang dikatakan oleh Marx dan Nietszche, yakni “keberhasilan sistem industri dengan akumulasi uang yang bisa mengabsahkan suatu kebajikan dan harga diri, dan yang sepenuhnya merupakan tangan-tangan manusia, mempunyai akibat timbale balik yang mendepersonalisasikan dan mendehumanisasikan manusia dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan dirinya sendiri.” 
Terhadap kecenderungan-kecenderungan yang mendehumanisasikan inilah, yakni kecenderungan yang menjadikan manusia sebagai mesin, dan yang membuat manusia mempunyai citra sebagai komponen dari sebuah sistem industri besar, yang sesungguhnya dilawan oleh para eksistensialis.

Jean-Paul Sartre (1905-1980): “Manusia Dikutuk Bebas”

Para filsuf bergenre eksistensialisme sejatinya berjumlah tak tunggal. Trend filsafat teranyar pada abad kesembilan belas ini menyimpan daftar urut para filsuf ‘pendekar  pembunuh’ Tuhan, di antaranya, Nietzsche (1844-1900) , Martin Heidegger (1889-1976) , dan lain sebagainya. 

Di sini, penulis hanya menyarah sekilas pikiran tokoh eksistensialis-ateistik kelahiran Perancis, Jean-Paul Sartre.  Menurut Sartre, kebebasan asli harus bersifat total. Kalau tidak bukan kebebasan lagi. Dan jika Tuhan ada, makan manusia kehilangan kebebasannya. Manusia harus bergantung pada dirinya saja. Adalah sekunder apakah Tuhan ada atau tidak. Bahkan, seandainya Dia ada, maka martabat manusia akan menuntut untuk mengingkari-Nya. 

Menurutnya, hormat terhadap realitas memaksa memaksa untuk mengakui bahwa terdapat nilai-nilai moral yang membebani saya, yang lebih tinggi daripada saya, yang tak tergantung dari saya. Sartre mengingkarinya, sebab dia menyangka bahwa menerima baik nilai-nilai selain yang diciptakannya, berarti mengingkari kebebasannya. Nilai-nilai itu ditujukan kepada kebebasanku. Oleh karena itulah maka mereka menjadi efektif.

Akulah, boleh dikatakan, yang membuat mereka terwujud secara konkret, dalam kehidupan dan lingkunganku. Namun bukan aku yang menciptakan nilai-nilai itu. kebebasanku sekaligus adalah terbatas dan nyata. Sekalipun aku lebih suka memiliki suatu kebebasan total dan mutlak, namun realitas menunjukkan kepadaku sebaliknya. Dan kebebasanku yang sifatnya terbatas seperti seluruh hakikatku, hanya bisa mempunyai arti sebagai partisipasi pada suatu kebebasan pencipta yang tak terbatas. 

Kebebasan, meskipun demikian, tidak tanpa tanggung jawab. Sartre mengatakan bahwa kebebasan mengindikasikan tanggung jawab. Artinya, harus ada pengakuan batin sayalah yang pelaku yang mewujudkan situasi, dunia, dan nilai-nilai. Bahwa tidak ada pedoman apapun yang membimbing saya dari belakang tentang apa yang harus saya lakukan. 

Hal ini menyebabkan rasa cemas, rasa cemas yang dirasakan seperti saat kita berjalan di tepi jurang dan menyadari bahwa tidak ada yang menahan kita untuk tidak memilih kemungkinan untuk melompat ke jurang. Kebebasan dikutukkan pada manusia berdampak pada kecemasan. Manusia cemas karena sadar betul bahwa apa pun ia dulunya tak bisa menentukan dirinya sekarang. 







Daftar Pustaka:

- Dr. Zainal Abidin, M.Si. Analisis Eksistensial (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007), Hlm. 59
- Dr. Moh. Iqbal, Asrar-I Khudi, Rahasia-Rahasia Pribadi, terj. Drs. H. Bahrum Rangkuti, Bulan Bintang: Jakarta, 1953.
- Donny Gahral Adian, Percik Pemikiran Kontemporer, Sebuah Pengantar Komprehensif (Yogyakarta: Jalasutra, 2005), cet. ke tujuh. Hlm. 160
- Harsa W. Bachtiar, Percakapan dengan Sidney Hook tentang 4 Masalah Filsafat: Etika, Idiologi Nasional, Marxisme, Eksistensialisme (Jakarta: Djambatan, 1986 ), cet. ke tiga. hlm. 175
- Prof. Dr. Louis Leahy SJ, Lihat Aliran-aliran Besar Ateisme (Yogyakarta: Kanisius, 1985), hlm. 58.
- St. Sunardi, Nietzsche, Lkis: Yogyakarta, 2006, cet.v.
- Ali Maksum, Pengantar Filsafat, Dari Masa Klasik Hingga Postmodernisme, Ar-Ruzz Media: Yogyakarta, 2011, cet. iv.




Load disqus comments

0 komentar