Sabtu, 27 April 2013

Tulisan


“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)

Jacques Derrida (1930-2004)
Benarkah ucapan lebih tinggi kedudukannya daripada tulisan? Benarkah tulisan adalah penghancur ingatan sejati? Bukankah peradaban dan sejarah pun ditandai dengan munculnya tulisan. Derrida, dengan  senjata rakitannya, dekonstruksi, mendobrak kebiasaan filsafat Barat yang bercorak logosentrisme, terutama Freud, yang mengutuk tulisan.

Tulisan dianggap sebagai racun, menghancurkan ingatan sejati, dan tak murni karena telah terkotori oleh mediasi—tak seperti ucapan (lisan) yang diyakini mewakili langsung emosi dan maksud pembicara. Derrida ‘menyelamatkan’ tulisan. Teks adalah ingatan tandingan—dan  Derrida sekaligus menggiring  masing-masing kita ke dalam perjalanan menuju Kebenaran yang hampir pasti tak diketahui di mana letaknya, namun ia ada.




Jean-Paul Sartre (1905-1980)
Pada awalnya adalah kata. Seorang Pram, laiknya Sartre, tak bisa dipisahkan dari kata-kata. Dengan kata-kata, ia berlari dari kehidupan yang, meminjam Gustave Flaubert, “Saat kita menemukan dunia ini terlalu buruk, kita butuh mengungsi ke dunia lain”. Demikianlah Sartre, filsuf sekaligus novelis masyhur negeri Menara Eifell itu menemukan “dunia lain” itu dalam “dunia kata-kata”. Nulla dies sine linea, tiada hari tanpa baris-baris tulisan. Baris-baris itu senantiasa hidup, hingga kini. Merasuk ke dalam alam pikir, menjelma ke dalam karya-karya indah yang saling memperkaya atara “neraka” satu dengan “neraka” yang lain.

Sebuah peribahasa Kota Daeng berbunyi, “Eja pi nikana doang”, seseorang baru dapat dikenali atas karya dan perbuatannya, sungguh sangat berkaitan erat dengan para penulis di berbagai belahan dunia, dan kita kenal Pram. Tujuh tahun lalu Pram telah pergi menuju melanjutkan perjalanannya ke alam primordial. Sebagai anak bangsa yang turut serta menyaksikan realitas kelam sejarah bangsa yang berkelindan misteri ini, ia menghadirkan jejak realitas sejarah yang hilang dan tak hadir tentang narasi bangsa dalam bentuk lain, tulisan. Pram menolak lupa atas peristiwa kelam realitas bangsa yang tertutup oleh sepatu lars dan senapan rezim penguasa.

Pramoedya Ananta Toer
(1925-2006)
Pram telah pergi. Tinggallah kini hasil karyanya berkelindan di alam pikiran generasi selanjutnya. Ia kini telah menjadi teks terbuka: untuk dibaca dengan pembacaan yang tak hanya menempatkan penulis pada posisi mati, lebih dari itu, ia perlu didekati dengan keyakinan bahwa ketika teks ditulis dan beredar, tak ada otoritas dan pembawa wibawa yang dapat menentukan mana tafsir yang benar atas teks itu. Tapi, bagaimanapun, kita tahu, sang Pram tetap hadir, meskipun pembacanya tak seratus persen menguasai teks yang ditulisnya: Pram mulai muncul-dan-lenyap.

Pram adalah, meminjam Sartre, adalah kesadaran ĂȘtre-pour-soui, ada-begitu-saja, bagi kita sebagai kesadaran etre-pour-soi, ada-bagi-dirinya. kesadaran yang berkelindan satu sama lain dengan menegasi guna memperkaya khazanah sebuah eksistensi kesadaran: kesadaran sebagai anak bangsa dalam sebuah pergulatan panjang negerinya menemukan keadilan, kesadaran yang menolak bergeming menyaksikan rezim tak berhati nurani semarak dengan laku kuasa dan semena-mena yang disalahgunakan, kesadaran yang memprasasti realitas ke dalam barisan kata sebagai perlawanan atas lupa, sebagai ingatan tandingan yang tak lekang oleh zaman.

Load disqus comments

0 komentar