Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

Absurd

Dekan

Zainun Kamal itu, hematku, orang sederhana dalam berpenampilan. Meski menjabat sebagai dekan fakultas Ushuluddin, ia tak ubahnya seperti dosen. Dalam satu semester, kata dia, dirinya mengampu mata kuliah tak kurang dari 20 SKS, dan itu di luar tanggung jawabnya sebagai dekan. Suatu kali kepadanya kutanya perihal tersebut. "Saya cinta kalian semua, kalian lahan saya untuk beramal dengan mengajarkan ilmu yang ada pada saya," katanya.

Sesekali ia tampak seperti office boy. Seluruh fasilitas di fakultas, seperti WC, AC, proyektor, tanaman hias, dan lain sebagainya, tak luput dari pantauannya. Hampi setiap usai mengajar di kelasku ia selalu bertanya. "Bagaimana? ada kendala apa di fakultas?",  "Kalau ada dosen yang jarang masuk, nggak sreg dengan kalian, fasilitas fakultas yang kurang memadai, langsung lapor ke saya!" katanya.

étudier

Tengah mempelajari satu bahasa asing lagi, yakni Prancis, di LBI, UI Depok. Bermula dari Sabtu (11/5) lalu. Gampang-gampang susah. Sekadar memotivasi diri bahwa, dalam beberapa bacaan tentang sejarah Indonesia, dampak positif dari kolonialisme adalah banyaknya penduduk pribumi yang poliglot atau menguasai banyak bahasa. Kala itu teknologi tak secanggih sekarang, akses untuk belajar pun tak mudah. Kini, kemajuan taknologi dan arus globalisasi memungkinkan kita mempelajari bahasa negara lain. Jangan mau kalah sama orang dulu.

Bahasa ibu dari Napoleon Bonaparte ini sering disebut sebagai bahasa paling romantis di dunia. Kejelimetan struktur bahasanya, jika dikuasai, hematku, akan mengantarkan seseorang kepada pola pikir yang terstruktur dan rapih pula, sekaligus njelimet, sebagaimana peraturan-peraturan yang ada dalam bahasa itu. Lumayan, untuk memperkaya jumlah sel dalam otak. 

Saadiah Gaon Al-Fayyumi

Falsafah Yahudi Abad Pertengahan dimulai pada awal abad ke 10 sebagai bagian dari kebangkitan budaya umum di Timur Islam dan berlanjut di negara-negara Muslim—Afrika Utara, Spanyol, dan Mesir—selama sekitar 300 tahun. Orang Yahudi periode ini bercakap-cakap, membaca, dan menulis dalam bahasa Arab dan ini memungkinkan mereka ikut serta dalam budaya umum pada masa mereka. Meskipun orang Yahudi menghasilkan suatu literatur yang kaya akan subjek-subjek biblikal dan rabinik dan banyak puisi religius dan sekuler, mereka tidak menghasilkan suatu literatur yang ekstensif tentang topik-topik yang murni ilmiah dan filosofis. 
Bagaimana para filsuf Yahudi berpotensi terpengaruh oleh para filsuf Islam? Alasannya sangat sederhana. Dengan mengetahui bahasa Arab, mereka mempunyai akses mudah terhadap literatur ilmiah dan filosofis dalam bahasa itu dan ini sudah cukup bagi kebutuhan mereka. Upaya-upaya spekulatif utama mereka selama periode ini tercurah pada karya-karya yang mengkaji hubungan antara t…