Kamis, 23 Mei 2013

Dekan


Zainun Kamal itu, hematku, orang sederhana dalam berpenampilan. Meski menjabat sebagai dekan fakultas Ushuluddin, ia tak ubahnya seperti dosen. Dalam satu semester, kata dia, dirinya mengampu mata kuliah tak kurang dari 20 SKS, dan itu di luar tanggung jawabnya sebagai dekan. Suatu kali kepadanya kutanya perihal tersebut. "Saya cinta kalian semua, kalian lahan saya untuk beramal dengan mengajarkan ilmu yang ada pada saya," katanya.

Sesekali ia tampak seperti office boy. Seluruh fasilitas di fakultas, seperti WC, AC, proyektor, tanaman hias, dan lain sebagainya, tak luput dari pantauannya. Hampi setiap usai mengajar di kelasku ia selalu bertanya. "Bagaimana? ada kendala apa di fakultas?",  "Kalau ada dosen yang jarang masuk, nggak sreg dengan kalian, fasilitas fakultas yang kurang memadai, langsung lapor ke saya!" katanya.


Aku sering mendapati ia jalan kaki seorang diri. Padahal, setahuku, ia punya mobil berikut sopir pribadi. Barangkali karena fakultasku membuka jurusan baru untuk mahasiswa S2, jurusan Konghucu, jadwal hidupnya semakin bertambah untuk mengajar. Di hari Sabtu dan Minggu, beberapa kali kulihat ia berjalan di antara gedung dan ruang sepi kampusku.

Beberapa waktu lalu, dalam perjalanan menuju Ciputat, usai magrib, kala itu hujan lumayan deras, tak sengaja aku bersua dengannya di angkot. Di tengah suasana apek, sesak, basah dan macet, aku kaget bukan kepalang. Aku duduk di sampingnya pas.

"Lho, Pak, kok nggak naik mobil pribadi saja?"

"Nggak apa-apa, enak begini," sahutnya sembari tersenyum.

"Dari mana, Pak?"

"Dari ngajar."

"Kamu dari mana?"

"Dari Bogor, Pak, saya sedang ada survey."

Sungkan. Aku tak melanjutkan bertanya. Kami diam. Setelah itu ia tertidur di antara ratusan kendaraan yang tengah memenuhi ruas jalan, padat merayap; di tengah kebisingan klakson dan deru mesin.

"Klik."


Terlelap di tengah kemacetan saat pulang dari mengajar






Tanpa pamit kuabadikan gambarnya. "Mohon maaf sebelumnya, Pak," batinku.

***

Tulisan ini kubuat saat baru saja aku sedikit gusar karena pukul 13.00 siang tadi, aku putuskan meninggalkan satu mata kuliah untuk menonton film "Anak Sabiran Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip)". Film itu dihentikan di tengah jalan. Entah apa gerangan sebab. Padahal aku tengah asyik menyeksamai alur film dokumenter hasil besutan sutradara Hafiz Rancajale, yang baru dirilis Maret 2013 tersebut. Hadeuh.

"Mohon maaf karena film ini masih belum sempurna," kata seorang panitia. Pemutaran film diadakan oleh BEM-F bekerjasama dengan Forum Lenteng. Di awal acara Pak Zainun memberi sambutan yang cukup menarik, ia berbicara tentang kebudayaan di Indonesia. Menurutnya, anak muda harus mengangkat kebudayaan Indonesia karena bangsa kita sangat kaya raya akan hal itu. "Nggak usah pakai embel-embel Islam, cukup kebudayaan Indonesia itu sendiri," katanya.

Zainun Kamal juga menyayangkan potret suram perfilman di Indonesia. "Kita belum menjadi tuan rumah di rumah kita sendiri, film di Indonesia kebanyakan impor," ujarnya, "Kalau pun yang bikin orang Indonesia, mereka memilih syuting di luar negeri, seperti Ayat-Ayat Cinta, di Mesir." Ia menambahkan, "Padahal panorama alam Indonesia berikut kebudayaannya sangat indah, sayang sekali tidak kita angkat."
Peduli dengan kegiatan mahasiswa

Saat pemutaran film berlangsung, kulihat penonton keluar satu per satu. Hingga yang tersisa hanya sekitar 13 orang, kalau tak salah. Jumlah yang sedikit untuk ruangan teater sebesar itu. Wajah panitia tampak panik. Entah apa yang diperbincangkannya dengan para tamu undangan, kru pembuat film. Aku menyayangkan penghentian pemutaran film itu. Semoga bukan karena terlampau berharap karyanya ditonton orang banyak, tapi karena memang kendala teknis di luar itu semua.


Semoga nanti bisa ketemu film itu lagi.

Terima kasih sudah bikin penasaran.


***

Kuletak kedua kakiku di bibir jendela ruang lobi lantai empat fakultas ini sembari memainkan jemari tangan di atas handphone guna menceritakan kisah "Nonton dan Kandas di Tengah Jalan" ini. Hadeuh. Aku tersentak karena di sampingku, kira-kira 3 meter, Zainun Kamal berdiri menunggu lift. Kuturunkan kakiku dari bibir jendela sembali memperbaiki posisi duduk.

Jabatannya sebagai dekan akan beakhir di tahun 2014 nanti. Semoga penggantinya nanti tak kalah baik dari dirinya. Bertanggung jawab, bekerja keras, peduli terhadap mahasiswa, meski sekali-sekali ia juga sangat garang terhadap perilaku kontraproduktif mahasiswanya. Tahun 2010 lalu, fakultasku tak punya BEM karena dibekukan oleh dia akibat aksi anarkisme mahasiswa.

Salam menanjak, Pak Dekan!

FU, 4, 23/5/13


Mengintip langit di atas bumi Ciputat sesaat usai hujan deras, FU, lt 4, 23/5/13.
Andai bisa berjalan di atasnya, tanah lapang tak berpenghuni.

Load disqus comments

0 komentar