Kamis, 02 Mei 2013

Saadiah Gaon Al-Fayyumi


Falsafah Yahudi Abad Pertengahan dimulai pada awal abad ke 10 sebagai bagian dari kebangkitan budaya umum di Timur Islam dan berlanjut di negara-negara Muslim—Afrika Utara, Spanyol, dan Mesir—selama sekitar 300 tahun. Orang Yahudi periode ini bercakap-cakap, membaca, dan menulis dalam bahasa Arab dan ini memungkinkan mereka ikut serta dalam budaya umum pada masa mereka. Meskipun orang Yahudi menghasilkan suatu literatur yang kaya akan subjek-subjek biblikal dan rabinik dan banyak puisi religius dan sekuler, mereka tidak menghasilkan suatu literatur yang ekstensif tentang topik-topik yang murni ilmiah dan filosofis. 

Bagaimana para filsuf Yahudi berpotensi terpengaruh oleh para filsuf Islam? Alasannya sangat sederhana. Dengan mengetahui bahasa Arab, mereka mempunyai akses mudah terhadap literatur ilmiah dan filosofis dalam bahasa itu dan ini sudah cukup bagi kebutuhan mereka. Upaya-upaya spekulatif utama mereka selama periode ini tercurah pada karya-karya yang mengkaji hubungan antara tradisi Yahudi dan pemikiran filosofis. Kebanyakan karya filosofis yang mereka hasilkan ditulis dalam bahasa Arab.



Sekilas Saadiah Gaon Al-Fayyumi
Masterpiece Saadiah Gaon Al-Fayyumi


Saadiah (882-942 M) lahir di wilayah Fayyum, Mesir, merupakan filosof Yahudi pertama yang menulis karya-karya sistematik. Selain itu, ia juga penafsir pelopor, leksikografi, liturgi, ahli gramatika, dan kronologi. Ia terdidik dalam hukum kitab suci dan Rabinik, ia memublikasikan kamus Ibrani-Arab, Egron, versi awalnya pada 913 M, dan mengembangkannya dalam fase-fase, hingga pada 930 M kamus itu berisi lebih dari seribu entri yang menganalisis pemakaian bahasa Ibrani dalam Bibel dan pasca-Bibel.  

Sebagai peminat falsafah ia terdorong melakukan surat-menyurat dengan Isaac Israeli dari Kairouan (sekitar 855-955 M), seorang filosof-dokter, yang, karena terpengaruh oleh Al-Kindi, memprakarsai tradisi filsafat Neoplatonik di kalangan orang Yahudi berbahasa Arab dan meninggal dunia pada usia lebih dari seratus tahun.

Saadiah menjadi terkenal dalam sebuah kontroversi dengan Aaron ben Meir, seorang Rabi Jerusalem, yang pada 921 M mengusulkan modifikasi kecil pada konvensi-konvensi yang dipakai dalam mengakurkan bulan-bulan Qamariah dengan tahun Syamsiah dalam kalender Ibrani Tradisional. Selisih empat belas menit akan menimbulkan perbedaan dua hari dengan konvensi waktu yang ditetapkan. Didorong oleh hasrat untuk mengembalikan hegemoni otoritas Rabi Palestina, Ben Meir mendesakkan implementasi pandangannya. Kaum Rabi lainnya menanggapi dengan hati-hati, karena usulan itu akan memecah belah komunitas Yahudi.

Orang-orang yang menerima perubahan itu akan merayakan hari-hari raya pada hari-hari berbeda dengan orang yang tidak menerimanya. Kepala Diaspora Yahudi, Exilarch di Bagdad, David ben Zakkai, mengangkat tanggapan terperinci dari Saadiah, yang meminta Ben Meir agar mencabut pandangannya yang membangkang. Dengan bersandar pada astronomi, kitab suci, dan hukum kerabian, Saadiah berhasil menangkis klaim-klaim Ben Meir dan diangkat sebagai seorang Alluf, atau kolega akademi Talmud kuno di Pumpedita. 

Pada 933 M, Saadiah menyelesaikan karya utama filsafatnya, yang memperlihatkan dan sering menggunakan epistemologi eksplisit. Realismenya mengenai alam dan Penciptanya bertumpu pada empirisisme rasionalistik-konstruktif. Rasionalismenya didukung oleh Platonisme yang lentur seperti Platonisme Al-Kindi. Dan gagasannya tentang pengalaman diperkaya oleh tradisionalisme selektif, yang bergantung pada sejarah dan hermeneutika para leluhur terpercaya, tetapi tidak memperlakukan tradisi sebagai sumber pengetahuan yang independen dari akal, pengalaman langsung, dan kesimpulan rasional dari keduanya. 

Insan Kritis dan Argumentatif

Saadiah mempunyai banyak buku karangan yang menggambarkan betapa dalam ia menguasai banyak bidang keilmuan. Terkait dengan pemikirannya sebagai seorang filsuf Yahudi yang berkaitan dengan Islam, ia menulis sebuah kita berjudul, dalam bahasa Ibrani disebut, Sefer Emunot ve-De’ot, kemudian dialihbahasakan secara bebas sebagai “Buku tentang Kepercayaan dan Pendapat”, karya itu lebih tepat diberi judul dalam bahasa Arab dengan Kitab Al-Mukhtar fi Al-Amanat wa Al-I’tiqadat. 

Dalam karya itu, seperti Aristoteles dan Plato, Saadiah meninjau dan mengkritik pandangan-pandangan lawannya tentang isu-isu yang ia diskusikan, dengan menetapkan suatu pandangan tertentu untuk diterima. Sebagaimana dijumpai dalam kalam, dia menyusun serangkaian argumen, baik skriptural maupun tradisional, melawan pandangan-pandangan yang ditolak, dan menjawab keberatan-keberatan terhadap pandangan-pandangan yang digunakan. Hasilnya adalah sekumpulan doktrin yang diuji secara kritis, yang paralel dengan tuntutan akal dan ketentuan agama.

Seperti dengan kalam, usaha itu bukan hanya semata apologetik, karena doktrin-doktrin yang mempertahankan proses ini agar tetap hidup tidak mungkin tak dipengaruhi oleh tuntutan-tuntutan kecerdasan kritis. Inti pada pergumulan pemikirannya dalam karya tersebut adalah pengertian kitab suci tetap terbuka untuk diinterpretasi ulang apabila makna lahirnya tidak memenuhi kriteria akal sehat, pengalaman, dan koherensi yang benar. 

Saadiah dan Mu’tazilah

Filsuf besar Yahudi pertama Abad Pertengahan yang umum disepakati adalah Saadiah Gaon (882-942 M), kepala akademi kerabian di Sura (dekat Baghdad). Terpengaruh oleh Mu’tazilah, sekalipun ia memakai juga pandangan-pandangan Platonik, Aristotelian, dan Stoik, ia mencoba merumuskan kalam Yahudi.  Ia mengemukakan gagasannya dalam komentarnya atas Bibel, komentarnya atas Sefer Yezhirah (“Kitab Kejadian”), tetapi, karya utamanya adalah Books of Opinions and Beliefs. Prihatin bahwa banyak orang yang semasanya terserang sifat ragu dan bimbang, Saadiah mengawali dengan mengemukakan argumen-argumen yang menentang tentang pandangan skeptis mereka dan menganalisis bagaimana kepercayaan yang meyakinkan dapat diperoleh. 

Dengan gaya khas Mu’tazilah, Saadiah mengawali buku kebenaran dengan empat bukti mengenai penciptaan dunia: dari keterbatasan (finitiness) dunia, dari komposisinya, dari aksiden-aksiden, dan dari hakikat waktu. Yang tipikal dari bukti-bukti ini adalah bukti tentang keterbatasan dunia (finiteness). Dimensi terbatas alam semesta, kata argumen ini, mensyaratkan adanya suatu kekuatan terbatas niscaya mempunyai permulaan dalam waktu. Dari bukti-bukti penciptaan dunia ini, Saaidah berpendapat bahwa pasti ada pencipta dunia yang berbeda dengan dunia itu dan yang menciptakan dunia dari ketiadaan. 

Dari bukti-bukti tentang penciptaan yang juga merupakan bukti-bukti tentang eksistensi Tuhan, Saadiah membahasa sifat-sifat Tuhan. Di sini, Saadiah mempertegas ke-Esaan Tuhan dengan menjelaskan bahwa sifat-sifat Tuhan bermaksud untuk menjelaskan hakikat Tuhan, tidak merusak ke-Esaan Tuhan, tidak pula mengisyaratkan adanya kemajemukan dalam diri Tuhan. Tuhan digambarkan dengan banyak sifat karena bahasa manusia tidak mempunyai satu kosakata yang mampu melukiskan semua sifat itu. Dengan penjelasan ini, Saadiah menentang konsepsi-konsepsi dualistik dan trinitarian tentang Tuhan. 

Selanjutnya Saadiah berlanjut tentang tentang filsafat hukum dan masalah yang berkaitan dengan kenabian. Tuhan, dalam kemurahanNya, menyediakan dan membekali hukum, Taurat, bagi makhlukNya, yang memberi petunjuk menuju kebahagiaan dunia dan kebahagiaan abadi. Hukum ini menjadi duam macam: hukum rasional, seperti berterimakasih kepada orang dermawan dan larangan membunuh dan mencuri, yang secara intuitif dimaklumi dengan sendirinya oleh akal manusia. Adapun hukum tradisional, seperti hari Sabath, ketentuan-ketentuan perayaan dan makanan, yang merupakan sebab kehendak Ilahi sebagaimana dikomunikasikan melalui wahyu. 

Untuk memecahkan masalah ‘keadilan Ilahi’, Saadiah menegaskan eksistensi pilihan bebas. Jika manusia menjadi sebab perbuatannya sendiri, maka Tuhan adil jika menghukum dosa dan kesalahan mereka. Saadiah menawarkan dua argumen untuk mendukung pilihan bebas manusia: manusia menjalani hidup mereka sendiri dengan bebas dan tidak ada bukti kalau tindakan mereka itu terpaksa; menuntut manusia bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan mereka sendiri mensyaratkan mereka bebas. Pengetahuan Tuhan sebelum kejadian tidak bertentangan dengan kebebasan manusia, karena mengetahui sebelum-kejadian apa yang akan dikerjakan manusia itu tidak sama dengan sebab tindakan. 

Dengan mengadopsi model-model Islam, Saaidah, lagi-lagi membuat klasifikasi berbagai kelompok manusia yang saleh dan jahat. Pertama adalah orang yang menyesal yang mengatasi rasa penyesalannya dalam empat langkah: mencela dosa yang dilakukan, menyesal sedalam-dalamnya, bertobat, dan menerima kewajiban untuk tidak mengerjakan dosa lagi. 

Ujaran penutup

Agama itu satu sama lain saling bantu-membantu dalam melengkapi argumentasi ajaran-ajaran mereka. Saling melengkapi. Kira-kira begitulah kesimpulan sementaraku usai mengkaji sekilas filsafat Yahudi. Sekali sebuah agama merasa paling benar dan mengklaim yang lain salah, saat itu juga tersingkap karakteristik ketidaksingkronan antara pengikut agama tersebut dengan spirit agamanya.

Aku kagum dengan pemikiran Mu’tazilah yang dikagumi oleh penganut agama non-Islam, Yahudi. Betapa kreatifitas para filosof Islam abad pertengahan sangat berpengaruh kuat bagi konsep teologi agama Yahudi. Meskipun begitu, orang Islam juga tak laik menutup mata bahwa sebelumnya, mereka juga berkenalan dengan filsafat Yunani melalui orang-orang Yahudi, yakni pada Abad Pertama (2 Abad SM- pertengahan Abad pertama).

Penyebaran filsafat Islam ke dalam Yahudi sangatlah erat kaitannya dengan budaya, dalam hal ini bahasa. Setiap bahasa mempunyai muatan filosofis tersendiri. Bahasa Arab kala itu, sebagai bahasa internasional baik di bidang ilmu pengetahuan, politik, ekonomi. Sebagai golongan minoritas, Yahudi terpengaruh oleh golongan mayoritas Islam kala itu. Berikut sekilas tentang Saadiah Gaon Al-Fayyumi, pendulum filsuf Yahudi yang setelahnya juga banyak terpengaruh oleh pemikiran falsafah Muslim.

Aku juga salut dengan spirit keilmuan Islam kala itu. Para ilmuwan Muslim begitu terbuka dalam mempelajari berbagai ilmu. Mereka tak melakukan dikotomi keilmuan, dan inilah yang menghantarkan Islam, dan juga bagi semua manusia, menuju ke gerbang kehidupan dan peradaban terdepan. Optimalisasi akal dan sikap keterbukaan untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan adalah peta yang akan mengantar manusia kepada Tuhan. Keyakinan yang tak ditopang dengan pembuktian akal itu adalah keyakinan buta.




Dian inspirasi:


- Sayyed Husein Nasr dan Oliver Leaman, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, jilid II, (Bandung: Mizan Pustaka, 2003)
- www.jewishencyclopedia.com/articles/12953-saadia-b-joseph-sa-id-al-fayyumi
- saadia –gaon.generalanswers.org
- en.wikipedia.org/wiki/Saadia_gaon

Load disqus comments

0 komentar