Senin, 01 Juli 2013

Ingatan

“Siapapun yang menulis akan berhenti melatih ingatan dan menjadi pelupa. Mereka lebih mengandalkan tanda-tanda luar tulisan daripada kemampuan diri mengingat sesuatu.” “Anda”, lanjut Thamus, “menemukan pharmakon untuk mengingat-ingat bukan ingatan sejati…”


Demikianlah kutipan dari perkataan Thamus, Raja Dewa Mesir, kepada Theuth, sang penemu tulisan, dari percakapan antara Sokrates dan Phaedrus, yang disampaikan oleh Derrida. Dalam membedah kata pharmakon, Derrida menggunakan ambigiutas kata tersebut untuk menghantam pandangan filsafat Barat yang menuduh tulisan sebagai racun, terkutuk, penghancur ingatan sejati.


Tak seperti ucapan (lisan) yang dianggap mewakili langsung emosi dan maksud pembicara, tulisan dianggap telah ternodai oleh mediasi. Derrida menanamkan racun ke dalam filsafat Barat yang sarat dengan oposisi binner: seperti benar-salah, Barat-Timur, ucapan-tulisan, jiwa-tubuh. Menurutnya, melalui ambiguitas pharmakon tersebut, tulisan mempunyai logikanya tersendiri, yang tak bisa diputuskan begitu saja oleh oposisi binner, (Muhammad Al-Fayyadl, 2005).

Dengan mengusung tulisan sebagai ingatan tandingan, Derrida mengkritisi Freud yang dianggapnya mengamini Plato dalam menggambarkan tulisan sebagai alat untuk membantu ingatan, tetapi perlahan-lahan tulisan kemudian malah mengambil alih menjadi model ingatan itu sendiri. Menurut Derrida, karakteristik tulisan mendiami ingatan bagian dalam dan luar (Alfathri Adlin dalam Anton Kurnia, 2003).

+++

Mei 2013 lalu, publik penikmat Majalah Time dikejutkan oleh artikel Joel Stein, jurnalis Amerika Serikat, berjudul “The New Greatest Generation: Why Millennials Will Save Us All”. Sampul depan majalah berita mingguan Amerika itu menyebut para millenials (mereka yang lahir antara tahun 1980-2000) sebagai “Me Me Me Generation”. Generasi ini menurutnya, pemalas, berpikiran dangkal, terobsesi pada diri sendiri, egois dan narsis. Alhasil, tulisannya menuai banyak respon. Ada yang menyela, pula diam-diam tak sedikit yang menyetutui tulisan bernuansa satire itu.

Elise Harris dalam catholicnewsagency.com, misalnya, peraih gelar sarjana di bidang Filsafat, Universitas Northern Colorado, menanggapi artikel tersebut dengan menyebutnya sebagai ‘malapetaka’: 

“What has resulted is the catastrophic images of modern-day contemporary “art,” as some would call it, and young people in their 20s-30s plastering photos of themselves all over Facebook, Twitter, and various other social media outlets, and spending more time taking pictures of themselves and their pets, and checking hourly to see how many “likes” or re-tweets they’ve received than actually doing something with their lives besides move in with mom and dad and work at a part-time retail job with no benefits”, tulisnya.

Generasi Y atau lazim juga disebut millenials memang punya karakteristik hampir berbeda dengan generasi sebelumnya: Pre-Baby Boomers (1900-1945), Generation X (1965-1979). Mengingat lingkungan di mana kita hidup saat di mana perkembangan teknologi tengah berkembang pesat. Generasi ini disebut juga Network Generation, generasi yang selalu tersambung dengan internet dan sosial media di manapun berada dan setiap waktu bersentuhan dengan internet. Sebagai media sosial yang sarat akan perbincangan, di sinilah keterhamburan kata-kata menjadi niscaya.

Di media-media sosial, setiap hari ribuan kata diproduksi melalui tulisan untuk pelbagai hal. Siapa saja bebas berujar sekehendak hati membincang pelbagai topik, mulai dari yang penting hingga bersifat pribadi dan remeh temeh. Kondisi tersebut bukan tanpa hal negatif, dalam keterhamburan kata sedemikian rupa tak jarang terdapat pula pendangkalan bahasa di dalam masyarakat kontemporer kita.

Di kalangan anak muda seperti “Emangnya gue pikirin”, “Ciyus? Enelan, Miapah?,  atau “Yang penting kan penampilannya dong”, memberikan gambaran betapa bahasa kini sudah semakin ringan, semakin tidak dibebani oleh makna, semakin melepaskan diri dari komunikasi bermakna. Gambar-gambar video klip musik atau iklan-iklan komersial dalam televisi seakan-akan ikut memperkuat gambaran kedangkalan permukaan ini. Sarat idiom, sarat ekspresi anekdotal, sarat repertoir, sarat tema, sarat irama, akan tetapi miskin kedalaman (Yasraf AmirPiliang, 2004).

+++

Ada banyak hal positif di bertaburan di media sosial sana yang patut kita pelajari guna menambah kapasitas diri sebagai makhluk yang senantiasa mengada (human being). Saya menukil sebuah status facebook seorang teman saya. Begini: 

Di jaman facebook dan twitter ini boleh saja kita menutup rapat identitas diri kita, tapi ingat! Status-status yang kita update akan gamblang menuturkan kualitas nurani kita; komentar-komentar yang kita tulis akan gamblang menjelaskan kualitas kepala kita; foto-foto yang kita unggah akan gamblang mengungkap kualitas aktifitas kita; informasi-informasi yang kita share akan gamblang membeberkan kualitas literatur kita; group-group yang kita ikuti akan gamblang menguak kualitas jaringan-jaringan kita; halaman-halaman yang kita share akan gamblang membeberkan kualitas kegemaran kita; teman-teman yang kita terima akan gamblang membuktikan kualitas pergaulan kita.

Generasi manapun perpotensi hanyut mengkuti trend generasi millenials. Dengan segala kesadaran eksistensi yang kita miliki, tak ada salahnya menyempatkan waktu sedikit menekuri ingatan tandingan apa yang akan tertanam dalam benak Yang-Lain, saat kita memutuskan melepas tulisan ke tengah khalayak, bagi untuk kelak kita ingat, atau bagi diri kita untuk diingat.

Load disqus comments

0 komentar