Senin, 15 Juli 2013

Gede

Rabu, Kamis,  Jumat (3-5/7) lalu, beserta sembilan kawan-kawan berangkat mendaki Gunung Gede, Bogor, Jawa Barat. Suasana gunung kurasa tak sedingin kali pertama aku ke sana. Biasa saja. Mungkin karena telah terbiasa. Sebelum berangkat latihan fisik yang kulakukanpun tak seberapa. Malam hari sebelum berangkat aku terpeleset dari tangga kosan teman. Terkena besi jari kakiku sobek. Ah, sial. Syabaslah, aku berhasil mendaki dengan selamat dan baik-baik saja.
Pemandangan pagi hari di kaki TNGP



Ini kali pertama aku mendaki Gunung Gede. Pada tahun 2012 lalu aku dan kawan-kawan sebelumnya pernah mendaki gunung di sebelahnya, Pangarango. Dari puncak Pangarango aku melihat pemandangan yang sangat indah. Berbeda dengan Gunung Gede, tiba di puncaknya, kami tak banyak menikmati pemandangan karena hujan badai. Dahsyat sekali. Itulah kali pertama pula aku melihat angin badai (norak, ya).


Gunung yang terletak di kawasan puncak Bogor itu tak terlalu sulit untuk didaki. Selain karena jalan atau rute mendaki mudah, juga banyak sumber air di sepanjang perjalanan. Kandang Batu dan Kandang Badak merupakan tempat peristirahatan para pendaki sebelum mendaki ke puncak Pangarango ataupun Gede. Saat mendaki kami hanya menggunakan jalur satu arah, naik dan turun dari Cibodas.

Barangkali saat Tuhan menciptakan surga, material yang digunakanNya menetes sehingga jadilah Bogor. Indah. Tapi sayang, kondisi badan jalan sempit ditambah dengan volume kendaraan bertumpuk, seringkali membuat kawasan wisata ini macet hingga berpuluh-puluh kilometer.

Keindahan yang kurasakan sepanjang pendakian kukira tak ada yang bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bagi kalian yang melakukan pendakian tentu akan merasakan hal yang mungkin saja berbeda, atau lebih indah dari yang kurasakan. Tak percaya? Coba saja kau mendaki , lalu persiapkan dirimu terkesima mengintip bumi dari kolong awan.
Salam menanjak!


Pendakian ke Gunung Gede kali ini menyadarkanku satu hal, yakni pentingnya menghayati kelambanan. Apa? Menghayati kelambanan? Iya, kira-kira begitulah. Kali pertama mendaki gunung, ditambah kurangnya latihan fisik sebelum menanjak, dalam perjalanan turun, tiba-tiba Imu terpeleset lalu kakinya keseleo. Kami berjalan berdua menuju ke bawah, menurutku, dengan sangat lamban. 6 jam. Yakni dari pukul 17.30 kami meninggalkan Kandang Badak, tiba di bawah pukul 11.30. Sementara kawanku yang berjalan di depan ada yang tiba di bawah sekitar pukul 21.00.

Berjalan lamban seperti itu membuatku lemas. Aku terbiasa berjalan cepat. Bahkan jika perlu ingin rasanya aku berlari ke bawah. Hmm. Barangkali ini efek dari kehidupan yang serba cepat di bawah sana. Aku terbiasa berjalan cepat. Dalam keseharian, di bawah sana, aku terbiasa dengan kecepatan dan keterburu-buruan. Misalnya, saat menggunakan internet, browsing, mengirim email, sms, dan lain sebagainya. Aku terbiasa dengan kecepatan.

Dalam arus kecepatan seperti itu aku kadang kehilangan kesadaran. Mudah termanipulasi oleh pelbagai hal, yang sebenarnya tak seberapa dibanding kesejatian hidup itu sendiri. Di bawah sana, kukira, semua orang banyak terkagum-kagum akan kecepatan memori dan kemajuan tekhnologi informasi. Banyak orang melakukan pemujaan atas kecepatan, sekaligus penistaan terhadap keleletan dan kelambanan.

Perjalanan lamban sedemikian merupakan olah tubuh agar aku menyadari betapa relatifnya apa disebut dengan kecepatan. Kekuatan, ketabahan sebenarnya tak kalah terujinya ketika orang berlatih menghayati kelambanan. Hanya dengan kelambanan, mengutip Bre Redana, orang disadarkan betapa jarak sebenarnya cuma ilusi. Kecepatan yang kita agung-agungkan tidak seberapa dibanding sesuatu yang kita telah kehilangan, yaitu kekuatan, ketabahan menghadapi kelambanan, keheningan, kesabaran, berproses seperti alam yang menjadi sumber inspirasi segala pengetahuan.

Aku jadi teringat sebuah pribahasa, “Padi tumbuh tak bersuara”. Meski lamban, ia dengan pasti menjadi besar hingga kemudian berisi. Di bawah sana banyak sekali orang tak sanggup menghadapi kelambanan. Akibatnya segala jalan pintas diraih guna segera sampai ke tujuan. Misalnya dengan mencontek, melakukan tindak korupsi, dan berbagai akses atau jalan cepat lainnya.

Hmm. Alam memang punya cara sendiri mendidik manusia…   


Belakang ki-ka: Kiki, Imu, Nola, Ema, Azizah, Rahman
Depan ki-ka: Raka, Giwang, Jafri, Umar
Lari pagi sebelum mendaki


Istirahat sejenak menikmati angin...

Ngemah di Kandang Badak
Pemandangan di puncak Gede: Badainya minta ampun!
Ini nih, si Imunya. #Chayyo!


Load disqus comments

0 komentar