Senin, 01 Juli 2013

Simaksi


Juli tiba sekarang, Juni entah berlalu ke mana. Satu semester usai sudah. Rasanya? Yah, semacam lega tapi masih sesekali terasa janggal. Andai waktu bisa terulang. Andai. Andai adalah pekerjaan yang mengasyikkan sekaligus membosankan. Kini saatnya menikmati masa liburan dengan pelbagai daftar aktifitas.

Terhitung sejak Januari 2013 lalu saat dipercaya menjabat sebagai pemimpin redaksi, semester ganjil ini, bersama kawan-kawan telah menerbitkan 4 tabloid: edisi Maret, April, Mei, Juni, dan newsletter edisi Pemira (pemilihan raya) ketua BEM universitas. Di tengah padatnya tugas perkuliahan dan aktifitas lain, bukanlah halangan yang berarti bagi kami menerbitkan tabloid. 



Add caption
Maret, kami membincang “Tertinggal di Nasional, Bermimpi Internasional”. “UIN di Bawah Kemenag, Tersisih Sebelum Berperang” terbit sebulan kemudian. Setelah itu, Mei, “Rektor Lamban Tangani Kasus Plagiat”. Dipamungkasi pada Juni dengan “Rokok Masuk Kampus, BEM FKIK Kirim Petisi ke Rektor”. Newsletter edisi Pemira terbit dengan judul “Rektorat Hapus Student Government (SG)”. Lebih lengkap sila kunjung www.lpminstitut.com.

Semua tercapai tentu bukan tanpa kendala. Selalu saja ada hal tak terduga sepanjang proses tabloid tersebut. Kadang-kadang aku merasa kasihan melihat para kawan penulis tabloid, karena mereka didominasi oleh kaum hawa. Di tengah tuntutan deadline, mereka harus berjibaku dengan tantangan seperti, berurusan dengan orang tua akibat pulang malam atau izin menginap; datang bulan, tentu ini sangat mengganggu kondisi psiko-biologis, dan masih banyak hal lagi yang kupikirkan tentang kendala ke-perempuan-an. Tampaknya menjadi seorang perempuan memang repot, barangkali.

Pernah, pada saat deadline, file cover yang baru saja didesain terhapus. Padahal esok hari seharusnya harus segera diantar menuju percetakan. Alhasil sang pembuat cover, menangis sesenggukan sembari membuat desain cover terbaru lagi. Ironisnya, ekspresi sedih seperti itu disambut riuh gemuruh tawa penghuni sekret. Aku sendiri juga tak kuat menahan pingkal.


Entah ada ‘virus’ apa, aku pun sering merasa heran, kenapa setiap rapat yang menurutku sakral dan membutuhkan keseriusan, kami sering tertawa terpingkal-pingkal, misalnya pada saat rapat redaksi. Otot perutku pernah sampai sakit gara-gara tertawa. Ada-ada saja hal menimbulkan tawa. Suatu kali, pada saat rapat redaksi, kami ditegur oleh UKM lain karena hingga menjelang subuh sekret kami masih memproduksi tawa keras. 

Sebuah majalah untuk edisi semester ganjil juga masih dalam proses cetak. Usai bergeming di edisi ke 39, 2005 silam, di tahun 2013 ini kami mencoba menghidupkannya kembali. Di majalah  berheadline “Cerita Seputar Tjipoetat” itu, aku menulis berita tentang Nikah Beda Agama dan sebuah kolom berjudul “Menekuri Ingatan Tandingan”. 
SG, selamat jalan.



Majalah Institut edisi 40/2013, semoga lekas terbit.
Libur semester kali ini aku berencana naik gunung. Kali ini tujuan pendakianku dan teman-teman lain adalah Gunung Gede. Tahun lalu aku juga pernah mendaki di gunung sebelahnya, Gunung Pangrango, tempat Soe Hok Gie dulu sering menyeksamai alam. Refreshing itu penting. Syukur Indonesia mempunyai kawasan pariwisata anggun pagi penduduknya yang ingin refreshing.

Saat simaksi (mengisi formulir izin dan pendaftaran mendaki) di kantor Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) kemarin, aku miris melihat kondisi sepanjang perjalanan. Macet. Ini benar-benar parah. Di tengah antrian panjang kendaraan tersebut aku sempat berbincang dengan seorang pengendara mobil.


Saat simaksi, koneksi internet mati. Calon pendaki daftar
dengan sistem manual. Ternyata lebih cepat.

“Mulai jam berapa, pak, di sini?” tanyaku.

“Sejak jam 1 siang,” jawabnya.

#glek, nelen liur.

Waw. Padahal saat itu sudah hampir pukul 5 sore. Antrian kendaraan sangat panjang. Di tengah keindahan alam puncak Bogor, ratusan mobil berjalan merangak sembari menghembuskan polusi udara. Gerah. Padahal kondisi pegunungan seharusnya sejuk dan berudara segar. Pulang dari refreshing malah stres lagi. Rata-rata pengunjung pengendara berplat B, Jakarta. Para turis asing tampak stres juga melihat kondisi tersebut. Entah sampai kapan akan seperti ini.


Biaya admnistrasi pendakian tahun ini lebih murah dibanding sebelumnya. Dulu Rp7000, sekarang Rp5000. Jumlah pendaki sangat banyak, kulihat di daftar yang tertera di sana. Beruntung kami masih dapat hari yang kosong saat mendaki. Pendakian ke Gunung Gede, semoga menjadi perjalanan refreshing yang indah.

Berhubung hanya menggunakan kamera handphone, kualitas gambar jadi kurang bagus, terlebih gambar diambil sembari mengendara motor. Padahal aku ingin sekali mengambil gambar turis asing, yang kebanyakan berwajah Arab, terpukau sekaligus geleng-geleng kepala lihat kondisi seperti ini. Ada yang mengumpulkan anak-anak bocah, tak jelas apa yang mereka bicarakan, tampaknya para pria dewasa itu tengah mengajari anak-anak kisaran 7 s/d 14 tahun berhitung dengan bahasa asing.

Mau lihat kondisi mengenaskan macet jalur puncak Bogor? Here we go!





Biasanya aku suka sebal lihat polisi. Kali ini aku salut. Jumlah personel mereka
yang turun ke jalan sangat minim ketimbang kendaraan dan jarak tempuh. Semangat, Pak.

Sistem saru arah tak efektif mengatasi jumlah kendaraan

Badan jalan longsor

Pejalan kaki juga mengalami kemacetan

Jalur satu arah

Udara sejuk terkontaminasi polusi kendaraan

Macet berpuluh-puluh kilo

Terik matahari tak terasa

Menghabiskan usia di jalan

Terabas sebisa mungkin




Terperosok ke dalam selokanpun tetap saja lanjutkan perjalanan




Konon, untuk melihat kondisi sebuah negara, cukup dengan melihat kondisi jalanan saja.








Load disqus comments

0 komentar