Langsung ke konten utama

Merdeka

Apa yang membuat sebuah bangsa dapat merumuskan masa depannya? Kukira, salah satunya adalah sejarah. Benar kiranya jika Bung Karno mengatakan jangan sekali-kali melupakan sejarah, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Inilah momentum yang justeru menggugahku menjelang hari ulang tahun kemerdekaan ke-68, yakni mengintip sejarah Indonesia, tenimbang upacara seremonial belaka.

Bulan puasa lalu aku menjadi sempat "mahasiswa" Universitas Indonesia. Waktu itu aku mengikuti, kalau benar, mata kuliah Sejarah Asia Tenggara. Sebenarnya segan juga, sih. Takut kalau ketahuan ada mahasiswa luar yang ikut belajar di kelas. "Tenang aja, Kak. Aman, kok. Dosennya nggak kenal wajah mahasiswa," kata Mumu. Akhirnya, akupun mengikuti perkuliahan semester pendek itu.


Rasanya? Wah, banyak. Baiklah, kita mulai dari kondisinya ruangan yang dingin. Sumpah, aku kedingingan. AC di ruang kelas gedung FIB itu, bagiku, sangat dingin. Syabas, saat itu aku mengenakan sweeter. Beberapa mahasiswa juga tampak mengenakan pakaian tebal. Kondisi dingin tersebut membuat beberapa mahasiswa terlelap dalam mimpi.

Ruang kelas di fakultasku memang beda. Aku terbiasa belajar tanpa AC. Jika masuk siang, tak jarang kami bak dipanggang, apalagi kalau berada di lantai tujuh. Iyuh! Untung saja kami punya kipas angin raksasa, yang suaranya lumayan merdu (baca, berisik), tapi nikmat. Dalam kondisi seperti itu aku sangat menyaksamai betapa bermaknanya hembusan angin. Kondisi dingin seperti itu membuatku bertanya dalam hati, "Kira-kira kalau suatu saat kita berada dalam kondisi tak menemukan AC dan harus belajar, gimana, ya?"

Salut dengan kualitas sang dosen, hanya saja cara mengajarnya saja yang mungkin tampaknya hampir sama di fakultasku: monoton, bahasa gaulnya, ngebosenin. Pak dosen menceritakan seputar pelbagai sejarah di dunia seperti seorang penggila sepak bola yang jadi komentator di tv. Lancar, mengalir, detail, serta lugas. Sesekali ia menyampaikan opini dan mengaitkannya dengan permasalahan kehidupan teranyar. Ditambah dengan sedikit aksi anekdotal, suasana garing di kelas sedikit terobati.

Ketimbang mendengar informasi-informasi tentang sejarah dari ceramahnya, aku lebih menggemari uneg-uneg sang dosen. Informasi seputar sejarah yang disampaikan, kukira, bisa dengan sangat mudah didapatkan dengan bantuan Mbah Google, tapi kalau ide, selentingan perihal pengalaman pribadi, opini, uneg-uneg sang dosen, kukira, itu jauh lebih berharga dan otentik. Ada proses internalisasi nilai dan psikologis dari hal otentik tersebut, daripada paparan data-data sejarah sarat dengan nuansa kering gersang.

Aku suka saat pak dosen menyinggung sedikit soal kemerdekaan Republik Indonesia. Mengetahui jerih payah para pejuang dahulu, ia merasa minder dengan kondisinya saat ini, terlebih dengan kondisi carut marut bangsa saat ini. Ia mengungkapkan, para pejuang kemerdekaan sangat loyal terhadap negara. Semua mereka kerahkan demi membela negara, harta, waktu, pikiran, bahkan nyawapun mereka sumbangkan agar kemerdekaan tegak.

"Lha, sekarang? Lihat perilaku para pejabat saat ini.," kata sang dosen. "Saya sendiri sebenarnya malu hanya sanggup berkontribusi untuk negeri ini sebagai dosen. Sudah usia 40 tahun begini-begini aja. Hehe. Hanya segini kemampuan saya."Hmm. Entah apa yang dirasakannya. Di negeriku ini, kukira, ada banyak cerdas cendekia yang frustasi menyaksikan kondisi dan situasi sehari-hari. Salah satunya mungkin dosen itu. Berkuah keringat mendalami sebuah disiplin ilmu, hanya untuk mengantarkannya kepada kekecewaan atas ekses dan perilaku pejabat yang kerap berseberangan dengan nilai-nilai moral.

Lagipula, kukira, susah sekali memang untuk tidak berpikiran buruk tentang negeri ini, mengingat realitas di lapangan mengamini hal tersebut. Tengoklah sejumlah perusahaan di negeri ini, hampir semua milik asing: transportasi, Toyota, Nissan, Honda, Yamaha, Suzuki, Ford; elektronik, Nokia, Samsung, Sony, LG, Motorola; merek pakaian dan parfum; bank; asuransi; makanan dan minuman; dll. Hampir seluruhnya produk luar. Anak bangsa sebagai tuan rumah, hanya menjadi fasilitator, pengamat dan penonton atas festival perekonomian yang dibintangi oleh aktor-aktor asing.

Belum lagi dari sektor pertambangan, perminyakan, pendidikan, olahraga, dan kebudayaan, bangsa ini nyaris tak punya harga diri lagi. Duh. Aku sendiri sedikit pesimis dengan rutinitas ritual perayaan kemerdekaan setiap 17 Agustus ini. Apakah benar kita sudah merdeka? Kisah patriotik dwi tunggal Soekarno-Hatta membangun bangsa hanya menjadi kisah romantisme guna menjadi obat penenang sesaat atas ketidakbecusan para penerus bangsa ini; Empat Pilar Bangsa hanyalah sebuah kedok untuk segelintir penguasa melangsungkan penggarongan dana dan SDA negeri ini; Slogan Bhineka Tunggal Ika difungsikan menyamarkan spirit kerajaan feodal "Nusa" atas "antara". Miris

Usia ke 68 tahun, Ibu pertiwi tampak semakin rapuh bertubi-tubi diterjang korupsi, kolusi, nepotisme, globalisasi, modernisasi (tepatnya, westernisasi), pembalakan liar, kekerasan, kemiskinan, kemelaratan, kecelakaan, bencana, ketidakpedulian, diskriminasi, konsumerisme, kolonialisme, separatisme dan feodalisme. Miris. Saat menulis ini, aku tengah menyaksikan upacara ulang tahun kemerdekaan RI. Aku bertanya, "Apa setelah ini? Semoga ini bukan seremonial tahunan tanpa makna belaka?"

Kukira jika setiap tahun ataupun setiap waktu kita hanya merayakan upacara seremonial tanpa melakukan kerja nyata dalam memperbaiki negara, kita hanya tinggal menunggu waktu saja untuk segera tenggelam dalam kondisi memilukan. Semoga benih optimisme tetap ada di sanubari anak bangsa guna mempertahankan NKRI. Jika tidak, boleh jadi ungkapan "Dulu, pernah ada sebuah negara bernama Indonesia" menjadi kenyataan.

Indonesia telah merdeka, benarkah?
Bung Karno dan Bung Hatta, andai kalian ada saat ini menyaksikan generasi penerusmu...




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…