Sabtu, 17 Agustus 2013

Merdeka

Apa yang membuat sebuah bangsa dapat merumuskan masa depannya? Kukira, salah satunya adalah sejarah. Benar kiranya jika Bung Karno mengatakan jangan sekali-kali melupakan sejarah, dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Inilah momentum yang justeru menggugahku menjelang hari ulang tahun kemerdekaan ke-68, yakni mengintip sejarah Indonesia, tenimbang upacara seremonial belaka.

Bulan puasa lalu aku menjadi sempat "mahasiswa" Universitas Indonesia. Waktu itu aku mengikuti, kalau benar, mata kuliah Sejarah Asia Tenggara. Sebenarnya segan juga, sih. Takut kalau ketahuan ada mahasiswa luar yang ikut belajar di kelas. "Tenang aja, Kak. Aman, kok. Dosennya nggak kenal wajah mahasiswa," kata Mumu. Akhirnya, akupun mengikuti perkuliahan semester pendek itu.


Rasanya? Wah, banyak. Baiklah, kita mulai dari kondisinya ruangan yang dingin. Sumpah, aku kedingingan. AC di ruang kelas gedung FIB itu, bagiku, sangat dingin. Syabas, saat itu aku mengenakan sweeter. Beberapa mahasiswa juga tampak mengenakan pakaian tebal. Kondisi dingin tersebut membuat beberapa mahasiswa terlelap dalam mimpi.

Ruang kelas di fakultasku memang beda. Aku terbiasa belajar tanpa AC. Jika masuk siang, tak jarang kami bak dipanggang, apalagi kalau berada di lantai tujuh. Iyuh! Untung saja kami punya kipas angin raksasa, yang suaranya lumayan merdu (baca, berisik), tapi nikmat. Dalam kondisi seperti itu aku sangat menyaksamai betapa bermaknanya hembusan angin. Kondisi dingin seperti itu membuatku bertanya dalam hati, "Kira-kira kalau suatu saat kita berada dalam kondisi tak menemukan AC dan harus belajar, gimana, ya?"

Salut dengan kualitas sang dosen, hanya saja cara mengajarnya saja yang mungkin tampaknya hampir sama di fakultasku: monoton, bahasa gaulnya, ngebosenin. Pak dosen menceritakan seputar pelbagai sejarah di dunia seperti seorang penggila sepak bola yang jadi komentator di tv. Lancar, mengalir, detail, serta lugas. Sesekali ia menyampaikan opini dan mengaitkannya dengan permasalahan kehidupan teranyar. Ditambah dengan sedikit aksi anekdotal, suasana garing di kelas sedikit terobati.

Ketimbang mendengar informasi-informasi tentang sejarah dari ceramahnya, aku lebih menggemari uneg-uneg sang dosen. Informasi seputar sejarah yang disampaikan, kukira, bisa dengan sangat mudah didapatkan dengan bantuan Mbah Google, tapi kalau ide, selentingan perihal pengalaman pribadi, opini, uneg-uneg sang dosen, kukira, itu jauh lebih berharga dan otentik. Ada proses internalisasi nilai dan psikologis dari hal otentik tersebut, daripada paparan data-data sejarah sarat dengan nuansa kering gersang.

Aku suka saat pak dosen menyinggung sedikit soal kemerdekaan Republik Indonesia. Mengetahui jerih payah para pejuang dahulu, ia merasa minder dengan kondisinya saat ini, terlebih dengan kondisi carut marut bangsa saat ini. Ia mengungkapkan, para pejuang kemerdekaan sangat loyal terhadap negara. Semua mereka kerahkan demi membela negara, harta, waktu, pikiran, bahkan nyawapun mereka sumbangkan agar kemerdekaan tegak.

"Lha, sekarang? Lihat perilaku para pejabat saat ini.," kata sang dosen. "Saya sendiri sebenarnya malu hanya sanggup berkontribusi untuk negeri ini sebagai dosen. Sudah usia 40 tahun begini-begini aja. Hehe. Hanya segini kemampuan saya."Hmm. Entah apa yang dirasakannya. Di negeriku ini, kukira, ada banyak cerdas cendekia yang frustasi menyaksikan kondisi dan situasi sehari-hari. Salah satunya mungkin dosen itu. Berkuah keringat mendalami sebuah disiplin ilmu, hanya untuk mengantarkannya kepada kekecewaan atas ekses dan perilaku pejabat yang kerap berseberangan dengan nilai-nilai moral.

Lagipula, kukira, susah sekali memang untuk tidak berpikiran buruk tentang negeri ini, mengingat realitas di lapangan mengamini hal tersebut. Tengoklah sejumlah perusahaan di negeri ini, hampir semua milik asing: transportasi, Toyota, Nissan, Honda, Yamaha, Suzuki, Ford; elektronik, Nokia, Samsung, Sony, LG, Motorola; merek pakaian dan parfum; bank; asuransi; makanan dan minuman; dll. Hampir seluruhnya produk luar. Anak bangsa sebagai tuan rumah, hanya menjadi fasilitator, pengamat dan penonton atas festival perekonomian yang dibintangi oleh aktor-aktor asing.

Belum lagi dari sektor pertambangan, perminyakan, pendidikan, olahraga, dan kebudayaan, bangsa ini nyaris tak punya harga diri lagi. Duh. Aku sendiri sedikit pesimis dengan rutinitas ritual perayaan kemerdekaan setiap 17 Agustus ini. Apakah benar kita sudah merdeka? Kisah patriotik dwi tunggal Soekarno-Hatta membangun bangsa hanya menjadi kisah romantisme guna menjadi obat penenang sesaat atas ketidakbecusan para penerus bangsa ini; Empat Pilar Bangsa hanyalah sebuah kedok untuk segelintir penguasa melangsungkan penggarongan dana dan SDA negeri ini; Slogan Bhineka Tunggal Ika difungsikan menyamarkan spirit kerajaan feodal "Nusa" atas "antara". Miris

Usia ke 68 tahun, Ibu pertiwi tampak semakin rapuh bertubi-tubi diterjang korupsi, kolusi, nepotisme, globalisasi, modernisasi (tepatnya, westernisasi), pembalakan liar, kekerasan, kemiskinan, kemelaratan, kecelakaan, bencana, ketidakpedulian, diskriminasi, konsumerisme, kolonialisme, separatisme dan feodalisme. Miris. Saat menulis ini, aku tengah menyaksikan upacara ulang tahun kemerdekaan RI. Aku bertanya, "Apa setelah ini? Semoga ini bukan seremonial tahunan tanpa makna belaka?"

Kukira jika setiap tahun ataupun setiap waktu kita hanya merayakan upacara seremonial tanpa melakukan kerja nyata dalam memperbaiki negara, kita hanya tinggal menunggu waktu saja untuk segera tenggelam dalam kondisi memilukan. Semoga benih optimisme tetap ada di sanubari anak bangsa guna mempertahankan NKRI. Jika tidak, boleh jadi ungkapan "Dulu, pernah ada sebuah negara bernama Indonesia" menjadi kenyataan.

Indonesia telah merdeka, benarkah?
Bung Karno dan Bung Hatta, andai kalian ada saat ini menyaksikan generasi penerusmu...




Load disqus comments

0 komentar