Selasa, 06 Agustus 2013

Tuhan

Adakah simbol, gambar, atau bahasa yang
bisa memenjarakan-Mu ke dalam "penjelasan", Han?
Selamat pagi, Tuhan. Sekitar 2 hari lagi, kalau tidak salah, umat Islam akan berlebaran. Aku sebagai manusia yang terlahir dari keluarga muslim; tumbuh dan besar dalam negara dan kebudayaan muslim, “mau tak mau” ikut hanyut dalam festival Ramadhan kali kesekianku ini.

Seiring berjalannya waktu, aku sedikit tersadar banyak hal selama ini kusalahapahami tentang diri-Mu. Susah rasanya menjabarkannya. Ah, Kau ini…dasar. Gemar membuat manusia penasaran. Dalam sebuah hadits qudsi, Kau katakan bahwa diriMu itu “harta karun yang terpendam” lantas Kau persilakan hamba-Mu menemukan-Mu.


Tuhan, hari ini aku ingin menyapa-Mu dengan lebih dekat. Sebagai seorang sahabat. Maaf, ya, kalau kurang sopan. Aku lelah menganggap-Mu sebagai sosok yang Mahagalak, Super Algojo, si gila hormat dan puji, atau apapun itu yang membuatku merasa terhalangi mendekati-Mu dalam nuansa akrab dan intim.

Benarkah, han, kemuliaan-Mu itu akan memudar jika umat manusia (ataupun seluruh makhluk ciptaan-Mu lainnya) tak acuh lagi pada-Mu? Atau, sebaliknya, kemuliaan-Mu semakin bertambah apabila semuanya menyanjung dan berserah diri kepada-Mu? Engkau membutuhkan itu semua untuk menjadi Tuhan? Engkau berketergatungan kepada makhluk yang kau sebut lemah itu?

Tuhan, terlahir dan hidup di era sekian, aku tersadar bahwa aku bukan satu-satunya yang membincang-Mu. Engkau telah menjadi topik utama di seluruh generasi umat manusia ini. Tak jarang manusia merasa telah memahami dan mengartikan-Mu dengan baik, berperang atas nama-Mu, saling membenci karena-Mu. Betapa sunyinya kehidupan ini tanpa perbincangan tentang-Mu.

Apakah benar Engkau ciptakan semua ini, hanya supaya semesta jagat ini tahu bahwa Engkau adalah Tuhan? Narsis? Oleh karena itu Engkau wajib disembah (sebagai rasa syukur, balas budi, takut, cinta)? Engkau ini ada-ada saja. Engkau ciptakan segala jenis perintah dan larangan, setelah itu bagi yang melanggar akan masuk ke neraka, dan bagi yang patuh ke surga. Kau bilang hidup itu hanyalah permainan belaka. Kau berbuat sesuka-Mu. 

Enak, ya, jadi seperti Engkau, han. Bebas melakukan aktifitas sebebas-bebasnya, tanpa perlu takut ataupu merasa khawatir suatu saat disiksa. O, iya, han. Menurut-Mu, manusia-manusia seperti Karl Marx, Friedrich Engels, Nietszche, Sartre bagaimana? Benar Engkau tak suka dengan mereka? Jika benar, mengapa mereka ada? Bukankah mereka dan segala isi pikiran mereka adalah hasil karya-Mu? Kukira mereka adalah perindu sejati-Mu.

Aku suka gaya-Mu, han. Kau ciptakan beragam perbedaan di muka bumi ini, sembari kau sematkan di hati kami ini, sebuah insting yang tak selalu cinta perbedaan. Oleh karena itu, bertempurlah kami satu sama lain demi membela keagungan-Mu, dan pelbagai kepentingan kami masing-masing. Kukira Kamu itu tuhan semesta alam, iya, semesta alam. Bukan hanya bagi mereka yang mengaku Islam (wa nahnu lahuu muslimuun).

Aku percaya Engkau itu Satu, Mahasatu. Meskipun di dunia ini ada banyak agama, sekte, hingga bayangan masing-masing individu tentang diri-Mu itu: Hinduisme, Kristianisme, Buddhaisme, Islam, Sikhisme, Konfusianisme, Taoisme, Zoroastrianisme, Sintoisme, Baha’i; Syi’ah, Khawarij, Muktazilah, Murji’ah, Qaramithah, Asy’ariyah, Wahabiah, Salafiah, Ahmadiyah; Wedanta, Sankya, Hinduisme Yoga, Hinduisme Jainisme, Wisnuisme, Ciwaisme, Brahmaisme, Tantrisme; Mahayana, Hinayana, Tantrayana. Dll (ada lagi, nggak, ya?).

Ramadhan ini aku terdasarkan satu hal bahwa Engkau Mahatakterdefinisi. Upaya manusia membincang-Mu, kukira, hanyalah sebatas kemampuan mereka sebagai manusia, dengan segala instrumen dan pengalaman yang ada padanya. Membincang-Mu menarik sisi kemanusiaanku kepada batas yang kau sendiri tak tahu apakah memang ada batasan antara Engkau dan hamba-Mu.

Tuhan, izinkan aku mencintai-Mu tidak hanya dalam keadaan suka, tunduk, pasrah akan kebesaran-Mu, tapi juga dengan pemberontakan dan kemarahan yang ada dalam diriku yang selalu terlalu cepat puas memahami-Mu. Han, pernahkah Kau tahu betapa sakit aku merindu-Mu, sementara Engkau tahu aku, tapi aku tak sekalipun tahu Engkau itu “siapa” dan “apa”? Aku tak perlu penjelasan orang lain tentang-Mu, tidak pula oleh bahasa. Aku ingin aku dan Engkau saja.

Han, aku mencintai-Mu karena kelemahanku memahami-Mu.

Load disqus comments

0 komentar