Sabtu, 21 September 2013

Pabelan

Beberapa waktu lalu aku berkesempatan berkunjung ke pondok pesantren Pabelan, Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya hanya beberapa kilometer dari kawasan pariwisata Candi Borobudur. Kurang lebih 3 hari berada di sana (30-31 September dan 1 Agustus). Di pondok tersebut sedang berlangsung acara ‘Kenduri Milad 48 Tahun Pondok Pabelan 1965-2013’. Dihadiri oleh banyak alumninya yang datang dari pelbagai nusantara. Dulu, pondok tersebut diasuh oleh Kyai “Nyentrik” Almarhum Hamam Dja’far.
Pondok ini menelurkan banyak agents of social change.


Perjalanan menuju ke sana cukup mudah, karena lokasinya berada di pinggir jalan raya. Cukup dengan naik bus dari Terminal Lebak Bulus yang menuju ke arah Magelang-Semarang-Yogkarta, nanti minta turun di Pondok Pabelan. Setelah itu tinggal jalan kaki beberapa meter ke dalam.


Suasana desa tersebut sangat damai. Itulah kesan utama saat tiba di sana. Dalam kondisi melelahkan usai naik bus semalaman, aku tiba-tiba bahagia sekali saat melihat serombongan anak SD pulang dari sekolah. Suatu pemandangan yang menyita perhatian. Indah.

“Abis dari mana nih?”

“Pulang sekolah, kakak.”
Mengeja masa depan dengan langkah mungil. Amboi.


Tak seperti di Ibukota, anak-anak dapat dengan tentram jalan bersama, bergandengan tangan, melangkah dengan kaki-kaki kecil mereka. Sepertinya mereka tak perlu khawatir dengan penculikan ataupun kecelakan yang akan menghadang mereka di sepanjang jalan menuju rumah. 

3 hari di Pabelan tak banyak kegiatan yang kulakukan. Paling sering memotret kegiatan para alumni. Aku banyak diam dan berfikir. Suasana kampung di sini meneduhkan hati. Hamparan sawah, barisan pegunungan, kicau burung, suara ayam, penduduk desa yang ramah, harga makanan yang murah. 

Aku sempat berkenalan dan bercanda dengan para santri di sana. Tak hanya dari berasal dari daerah sekitar, beberapa dari santri pondok Pabelan juga ada yang dari luar pulau Jawa, seperti Sumatera, Ambon, dan lain-lain. Menyaksikan interaksi para santri, hatiku jadi sangat rindu dengan kehidupanku saat di pesantren dulu. Rasanya ingin kembali ke masa lalu untuk sekadar berteduh dari teriknya perjalanan kehidupan di luar pesantren.

“Abang wartawan, ya?”
Khusuk menekuri kisah Kyai Hamam dari alumni.


“Alumni tahun berapa, Bang?”

Beberapa santri menanyaiku seperti itu. Aku bergeming.

Pondok Pabelan sangat dekat dengan masyarakat. Tak ada pagar tinggi yang membatasi antara pesantren dan masyarakat sekitar. Jamaah masjid terdiri dari masyarakat dan para santri. Pada dinding bangunan pesantren, banyak terdapat tulisan kata-kata mutiara.

Konon, kata-kata tersebut berguna untuk membakar kembali semangat dan daya juang para santri yang tengah didera rasa malas, sedih, rindu dengan keluarga ataupun karena sakit.
Ada sebuah mahfudhat yang aku suka yang setiap hari diteriakkan secara bersama-sama oleh santri di sini: 

Inna al-fataa man yaquulu haa anaa dzaa, walakin al-fataa man yuquulu haa ana dzaa

Artinya, kira-kira, begini: “Seorang pemuda adalah yang berkata, ‘Hai, Inilah aku!’, dan bukanlah seorang pemuda yang berkata ‘Dia adalah bapakku’.”
Tulisan di dinding samping koperasi santri


Di antara rangkaian acara reuni alumni tersebut, aku paling suka acara Malam Kita Bersama, Jejak Pemikiran dan Pengasuhan Almarhum K. H. Hamam Dja’far. Beberapa santri didik sang Kyai satu per satu diminta menjadi pembicara. Aku terharu mendengar kisah-kisah beliau dalam mendidik santrinya. Andai beliau masih hidup dan menyaksikan pencapaian para anak didiknya. Salah satu nasehat belaiu kepada para santri adalah, 

“Batas lelah adalah pingsan. Kalau belum pingsan, teruslah berupaya dengan keras.”
Pada kisah kita bijak lan arif kita belajar tanpa tergurui.



Sebelum pulang kembali ke Jakarta, aku sempat ke Candi Borobudur. Ini kali kedua aku menginjak salah satu bagunan warisan peninggalan berharga di dunia ini. Ongkos masuknya lumayan mahal, 30.000 perorang. Sebelum mendaki candi, pengunjung diwajibkan menggunakan kain biru untuk diikat di pinggang yang telah disediakan pengelola tempat wisata tersebut.
Hallo, Alam!


Kali pertama ke sini, tahun 2010 lalu aku bersama rombongan Basic English Course (BEC) dibimbing oleh Mr. Kalend, guru bahasa Inggrisku di Pare, Kediri, Jawa Timur. Kala itu aku tengah mengikuti ujian bahasa Inggris, yakni dengan berbincang dengan turis asing. Saat berada di tingkat Arupadatu, aku teringat sosok beliau. Semoga Tuhan selalu merahmatinya.

Selain Candi Borobudur, aku sempat mampir sejenak di Pondok Pesantren Muallimat
Muhammadiyah Yogyakarta dan Universitas Gajah Mada. Kampusnya megah sekali. Saat beristirahat di masjid kampus, seseorang berjanggut plus celana cingkrang menghampiriku sembari bertanya.

“Anda sudah sholat belum? Silakan sholat dulu, ya.”

“Iya, mas. Saya musafir, nih,” jawabku sekenanya.

Sebelum mentari terbit, kira-kira pukul 3 subuh aku tiba di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, usai duduk manis di kereta selama kurang lebih 12 jam dari Stasiun Tugu, Yogyakarta.

See you next time, Pondok Pabelan. 
Beberapa santri duduk santai di pelataran masjid

Santri itu seperti kepompong. Mendekam sejenak di "penjara suci",
sebelum terbang bebas menyusuri kehidupan.

Absen usai shalat Jumat.

Membaca adalah investasi paling berharga. Bacalah! Apa saja!
Tak usah takut suatu saat kita akan tahu kita adalah dungu. 
Sisi dalam masjid pondok Pabelan


Kaligrafi klasik di atas pintu masuk masji pondok Pabelan.

Kadang, kita hanya perlu diam menarasikan keindahan mentari di pagi hari saat dalam perjalanan.
"Berusahalah menjadi yang terbaik, kalau tidak jangan menjadi yang terburuk."

Rumah salah satu penduduk desa Mungkid, Pabelan. "Si Mumu lagi gaya apaan sih?"

Pemandangan senja di desa Munkid, Pabelan.

Kenapa rumput hijau? langit biru? awan putih?

Nah, ini agak keren dikit gayanya.


Senja. "Untuk mengenal pagi, kita perlu mengunjugi malam."


Load disqus comments

1 komentar: