Langsung ke konten utama

Akidah Filsafat Gelar Studium General Hermeneutik

“Siapa mau masuk surga?”
Seluruh penghuni kelas serentak mengangkat tangan. “Saya, Bu!”
Ricki bergeming. Diam. Tak kehabisan akal sang guru bertanya kembali, 
“Siapa mau masuk surga? Ayo, berdiri!” Semua murid berdiri kecuali Ricki.
“Kamu tak ingin masuk surga?” tanya sang guru.
“Emangnya mau berangkat sekarang, ya, Bu?” jawabnya polos.



Faris Pari, selaku moderator (belakang), dosen AF.
Agus Darmaji, Kajur AF, tengah memberi cindera mata
kepada Haryatmoko
Demikian kisah jenaka yang disampaikan oleh Haryatmoko saat menerangkan tentang perlunya menghayati teks dalam kehidupan sehari-hari, dalam Studium General bertema  ‘Hermeneutika Sebagai Metode Filsafat’ di ruang teater Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), lantai IV, Rabu (18/9).

Dosen filsafat pasca Universitas Indonesia itu mempresentasikan sumbangsih tokoh Paul Ricoeur dalam perkembangan hermeneutika terkait dengan teori narasi, apropriasi dan filsafat kecurigaan. Dalam sambutannya, Dekan FUF Zainun Kamal mengatakan, hermeneutik merupakan disiplin ilmu penting untuk dipelajari, namun masih sedikit di Indonesia mendalami ilmu tersebut. 

Hal itu, menurutnya, dikarenakan pandangan masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya bisa menerima hermeneutik, mengingat tak jarang bersinggungan dengan persoalan penafsiran doktrin keagamaan yang dianggap telah mapan. “Kalau di UIN Jakarta sendiri, hermeneutik hanya dipelajari di Ushuluddin, yaitu pada jurusan Akidah Filsafat dan Tafsir Hadits,” ujarnya.

Haryatmoko mengatakan tugas hermeneutik adalah membantu menguak makna teks. Teks adalah wacana yang sudah terpateri di dalam tulisan. Mengutip Paul Riceour, menurutnya, bahasa dan wacana punya perbedaan. Wacana disertai empat ciri, pertama, ada subjek yang menyatakan; berikutnya, yakni isi pernyataan atau preposisi yang merupakan dunia atau wahana yang mau digambarkan atau direpresentasikan; setelah itu, kepada siapa pernyataan itu disampaikan; dan yang terakhir, terkait dengan temporalitas, artinya, menurutnya, konteks waktu penyampaian pernyataan itu. “Wacana yang terpateri dalam tulisan adalah objek hermeneutika,” katanya. 

Teks, ungkapnya, memisahkan antara tindakan menulis dan tindakan membaca. “Penulis tidak hadir pada saat teks dibaca. Pembaca tidak hadir pada saat teks ditulis,” katanya. Oleh karena itu, tugas hermeneutik, jelasnya, mencari di dalam teks itu sendiri dinamika yang diarah oleh strukturasi karya; dan mencari di dalam teks kemampuan untuk memproyeksikan diri ke luar dari dirinya dan melahirkan suatu dunia yang merupakan halnya atau pesan utama teks itu.

Setiap teks punya pesan utama. Untuk mengetahui pesan utama sebuah teks, harus seseorang harus mengetahui struktur-strukturnya secara keseluruhan dan memahami bagian-bagiannya. Dalam teks keagamaan, hermeneutik dapat membongkar kesewenangan menafsir teks kitab suci. “Kalau saya tidak salah, mohon dikoreksi kalau salah,” ujarnya,” pesan utama dari agama Islam itu keadilan dan kesetaraan.”

Tentang pesan utama dari “teks” seorang dosen yang perlu diapropriasi. Ia jenaka mengatakan, “‘Pesan utama’ seorang dosen, ya, membantu mahasiswa. Masak dosen senang melihat mahasiswa kesusahan?” ujarnya sembari disambut tawa ceria dan riuh tepuk tangan segenap dosen dan mahasiswa Akidah Filsafat.

Stadium general yang dimoderatori dosen AF, Faris Pari, berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga waktu Dhuhur. Diskusi ditutup setelah sebelumnya berlangsung sesi tanya jawab. Haryatmoko berpesan kepada mahasiswa pegiat filsafat bahwa tanda kesuksesan orang yang mempelajari filsafat adalah mampu menyederhanakan hal-hal yang rumit, dapat melihat dan menyelesaikan permasalahan dari akarnya. “Kalian jangan bangga kalau orang lain tak dapat memahami istilah dan bahasa rumit filsafat!” tegasnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…