Selasa, 22 Oktober 2013

Akidah Filsafat Gelar Studium General Hermeneutik

“Siapa mau masuk surga?”
Seluruh penghuni kelas serentak mengangkat tangan. “Saya, Bu!”
Ricki bergeming. Diam. Tak kehabisan akal sang guru bertanya kembali, 
“Siapa mau masuk surga? Ayo, berdiri!” Semua murid berdiri kecuali Ricki.
“Kamu tak ingin masuk surga?” tanya sang guru.
“Emangnya mau berangkat sekarang, ya, Bu?” jawabnya polos.



Faris Pari, selaku moderator (belakang), dosen AF.
Agus Darmaji, Kajur AF, tengah memberi cindera mata
kepada Haryatmoko
Demikian kisah jenaka yang disampaikan oleh Haryatmoko saat menerangkan tentang perlunya menghayati teks dalam kehidupan sehari-hari, dalam Studium General bertema  ‘Hermeneutika Sebagai Metode Filsafat’ di ruang teater Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF), lantai IV, Rabu (18/9).

Dosen filsafat pasca Universitas Indonesia itu mempresentasikan sumbangsih tokoh Paul Ricoeur dalam perkembangan hermeneutika terkait dengan teori narasi, apropriasi dan filsafat kecurigaan. Dalam sambutannya, Dekan FUF Zainun Kamal mengatakan, hermeneutik merupakan disiplin ilmu penting untuk dipelajari, namun masih sedikit di Indonesia mendalami ilmu tersebut. 

Hal itu, menurutnya, dikarenakan pandangan masyarakat Indonesia yang belum sepenuhnya bisa menerima hermeneutik, mengingat tak jarang bersinggungan dengan persoalan penafsiran doktrin keagamaan yang dianggap telah mapan. “Kalau di UIN Jakarta sendiri, hermeneutik hanya dipelajari di Ushuluddin, yaitu pada jurusan Akidah Filsafat dan Tafsir Hadits,” ujarnya.

Haryatmoko mengatakan tugas hermeneutik adalah membantu menguak makna teks. Teks adalah wacana yang sudah terpateri di dalam tulisan. Mengutip Paul Riceour, menurutnya, bahasa dan wacana punya perbedaan. Wacana disertai empat ciri, pertama, ada subjek yang menyatakan; berikutnya, yakni isi pernyataan atau preposisi yang merupakan dunia atau wahana yang mau digambarkan atau direpresentasikan; setelah itu, kepada siapa pernyataan itu disampaikan; dan yang terakhir, terkait dengan temporalitas, artinya, menurutnya, konteks waktu penyampaian pernyataan itu. “Wacana yang terpateri dalam tulisan adalah objek hermeneutika,” katanya. 

Teks, ungkapnya, memisahkan antara tindakan menulis dan tindakan membaca. “Penulis tidak hadir pada saat teks dibaca. Pembaca tidak hadir pada saat teks ditulis,” katanya. Oleh karena itu, tugas hermeneutik, jelasnya, mencari di dalam teks itu sendiri dinamika yang diarah oleh strukturasi karya; dan mencari di dalam teks kemampuan untuk memproyeksikan diri ke luar dari dirinya dan melahirkan suatu dunia yang merupakan halnya atau pesan utama teks itu.

Setiap teks punya pesan utama. Untuk mengetahui pesan utama sebuah teks, harus seseorang harus mengetahui struktur-strukturnya secara keseluruhan dan memahami bagian-bagiannya. Dalam teks keagamaan, hermeneutik dapat membongkar kesewenangan menafsir teks kitab suci. “Kalau saya tidak salah, mohon dikoreksi kalau salah,” ujarnya,” pesan utama dari agama Islam itu keadilan dan kesetaraan.”

Tentang pesan utama dari “teks” seorang dosen yang perlu diapropriasi. Ia jenaka mengatakan, “‘Pesan utama’ seorang dosen, ya, membantu mahasiswa. Masak dosen senang melihat mahasiswa kesusahan?” ujarnya sembari disambut tawa ceria dan riuh tepuk tangan segenap dosen dan mahasiswa Akidah Filsafat.

Stadium general yang dimoderatori dosen AF, Faris Pari, berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga waktu Dhuhur. Diskusi ditutup setelah sebelumnya berlangsung sesi tanya jawab. Haryatmoko berpesan kepada mahasiswa pegiat filsafat bahwa tanda kesuksesan orang yang mempelajari filsafat adalah mampu menyederhanakan hal-hal yang rumit, dapat melihat dan menyelesaikan permasalahan dari akarnya. “Kalian jangan bangga kalau orang lain tak dapat memahami istilah dan bahasa rumit filsafat!” tegasnya. 

Load disqus comments

0 komentar