Langsung ke konten utama

Tips Belajar Filsafat di AF UIN Jakarta

Agus Darmaji, Kajur AF UIN JKT:
“Jangan Mikir Bekerja, tapi Belajar”
Perhelatan OPAK menandai dimulainya perkuliahan tahun ajaran baru.Wajah-wajah baru mahasiswa baru (maba) tampak menghiasi Jurusan Akidah Filsafat. Meminjam Martin Vanbee, “Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tidak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri,” maka agar mudah kita perlu belajar bagaimana menapak jejak di Akidah Filsafat. Bagaimana tips menjalani perkuliahan di AkidahFilsafat? 

Berikut kutipan wawancara falsafah denganKepalaJurusan (Kajur) AF, Agus Darmadji saat ditemui di tengah kesibukannya di ruang kerjanya. Lantai 4  Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (9/9).


Pesan-pesan Anda untuk Maba

Ya, rajin belajar aja. Saya pesan ya rajinbelajar, banyak membaca. Jangan takut tidak bisa bekerja. Orang kang itu mikirnya. AF nanti pas lulus mau ke mana. Jangan dipikirin, tuh. Kalau yang masuk AF pada umumnya jangan mikir bekerja, tapi belajar. Habis belajar baru bekerja. Ikuti kelompok studi, seperti organisasi. Belajar kan bukan hanya di kelas, bisa di luar kelas. UKM, organisasi ekstra dan intra, ya, nggak masalah. Yang penting membaca dan belajar.

Fenomena mahasiswa AF telat lulus?

Lewat tujuh tahun kemudian di-DO itu aturan.Kalau saya sih, menurut saya itu adalah jatah. Kalau kita kuliah bener, ya, semester 7 kan udah nggak ada mata kuliah lagi. Tinggal KKN dan skripsi doang. Harusnya, semester delapan itu emang sudah selesai. Ya, memang 4 tahun. Mau ngapain sampai 7 tahun? Kalaupun aktif (berorganisasi) boleh saja, tapi kewajiban, ya, tetap kuliah lah. Harus disiplin. Ketika di luar, organisasi, lembaga apa. Kadang larut, lantur gitu. Mementingkan organisasinya, lembaganya. Kuliahnya terlantar. Itu kebijakan.

Tentang mahasiswa asal SMA yang belajar bahasa Arab, yang dari pesantren belajar pemikiran Barat mengalami perbenturan?

Kalau tentang yang dari SMA di sini belajar bahasa Arab, ya, bisa dipelajari. Di sini juga Arabnya nggak terlalu berat. Belum terlalu beratlah. Kalau dia memang mau belajar, pasti bisa. Kesempatan itu banyak. Kalau memang mau belajar menurut saya bisa. Itu sudah banyak pengalaman orang ekstensi, belajar kemudian pintar bahasa Arab.
Kemudian kalau tentang mahasiswa dari pesantren banyak berbenturan dengan pemikiran Barat, menurut saya, tidak semuanya. Kita ambil yang baiknya aja. Ambil isinya, buang kulitnya. Itu aja kali. Menurut sayaAl-Qur’an dan Hadits juga begitu. Ambil yang baik-baiknya aja.

Kalau belajar filsafat, kan, hanya sebaga intellectual exercise, latihan intektual. Jadi, bagaimana cara berpikir, mengambil kesimpulan, bukan kemudian memihak pada satu. Menurut saya itu tidak pas. Filsafat kan pertarungan ide. Ide ini, ide A, ide B. Mungkin benar, tapi kan sebagian. Kita kan kalau begitu, ya, gabungin aja. Jadikan intellectual exercise. Kita latihan berifikir, kita menjadi rasional,  cerdas, argumentatif. Maka dipakai sebagai itu. Jangan sebagai way of life. Kalau sebagai way of life filsafatya berat. Latihan intelektual! (Raka)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…