Selasa, 22 Oktober 2013

Tips Belajar Filsafat di AF UIN Jakarta

Agus Darmaji, Kajur AF UIN JKT:
“Jangan Mikir Bekerja, tapi Belajar”
Perhelatan OPAK menandai dimulainya perkuliahan tahun ajaran baru.Wajah-wajah baru mahasiswa baru (maba) tampak menghiasi Jurusan Akidah Filsafat. Meminjam Martin Vanbee, “Belajarlah dari kesalahan orang lain. Anda tidak dapat hidup cukup lama untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri,” maka agar mudah kita perlu belajar bagaimana menapak jejak di Akidah Filsafat. Bagaimana tips menjalani perkuliahan di AkidahFilsafat? 

Berikut kutipan wawancara falsafah denganKepalaJurusan (Kajur) AF, Agus Darmadji saat ditemui di tengah kesibukannya di ruang kerjanya. Lantai 4  Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (9/9).


Pesan-pesan Anda untuk Maba

Ya, rajin belajar aja. Saya pesan ya rajinbelajar, banyak membaca. Jangan takut tidak bisa bekerja. Orang kang itu mikirnya. AF nanti pas lulus mau ke mana. Jangan dipikirin, tuh. Kalau yang masuk AF pada umumnya jangan mikir bekerja, tapi belajar. Habis belajar baru bekerja. Ikuti kelompok studi, seperti organisasi. Belajar kan bukan hanya di kelas, bisa di luar kelas. UKM, organisasi ekstra dan intra, ya, nggak masalah. Yang penting membaca dan belajar.

Fenomena mahasiswa AF telat lulus?

Lewat tujuh tahun kemudian di-DO itu aturan.Kalau saya sih, menurut saya itu adalah jatah. Kalau kita kuliah bener, ya, semester 7 kan udah nggak ada mata kuliah lagi. Tinggal KKN dan skripsi doang. Harusnya, semester delapan itu emang sudah selesai. Ya, memang 4 tahun. Mau ngapain sampai 7 tahun? Kalaupun aktif (berorganisasi) boleh saja, tapi kewajiban, ya, tetap kuliah lah. Harus disiplin. Ketika di luar, organisasi, lembaga apa. Kadang larut, lantur gitu. Mementingkan organisasinya, lembaganya. Kuliahnya terlantar. Itu kebijakan.

Tentang mahasiswa asal SMA yang belajar bahasa Arab, yang dari pesantren belajar pemikiran Barat mengalami perbenturan?

Kalau tentang yang dari SMA di sini belajar bahasa Arab, ya, bisa dipelajari. Di sini juga Arabnya nggak terlalu berat. Belum terlalu beratlah. Kalau dia memang mau belajar, pasti bisa. Kesempatan itu banyak. Kalau memang mau belajar menurut saya bisa. Itu sudah banyak pengalaman orang ekstensi, belajar kemudian pintar bahasa Arab.
Kemudian kalau tentang mahasiswa dari pesantren banyak berbenturan dengan pemikiran Barat, menurut saya, tidak semuanya. Kita ambil yang baiknya aja. Ambil isinya, buang kulitnya. Itu aja kali. Menurut sayaAl-Qur’an dan Hadits juga begitu. Ambil yang baik-baiknya aja.

Kalau belajar filsafat, kan, hanya sebaga intellectual exercise, latihan intektual. Jadi, bagaimana cara berpikir, mengambil kesimpulan, bukan kemudian memihak pada satu. Menurut saya itu tidak pas. Filsafat kan pertarungan ide. Ide ini, ide A, ide B. Mungkin benar, tapi kan sebagian. Kita kan kalau begitu, ya, gabungin aja. Jadikan intellectual exercise. Kita latihan berifikir, kita menjadi rasional,  cerdas, argumentatif. Maka dipakai sebagai itu. Jangan sebagai way of life. Kalau sebagai way of life filsafatya berat. Latihan intelektual! (Raka)

Load disqus comments

0 komentar