Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2014

Filsafat Dobrak Kemacetan Berpikir

 “Filsafat itu ruwet, tapi sebenarnya hidup bisa lebih ruwet akibat cara berpikir yang kacau, tak sistematis dan dasarnya lemah. Filsafat tampak ruwet karena ia hendak menyiangi benang kusut kenyataan, justru agar petanya lebih jelas dan inti terdalam persoalannya lebih gamblang…”  --Bambang Sugiharto, Guru Besar Ilmu Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung.

Kutipan di atas hanyalah merupakan salah satu tujuan dari filsafat. Revolusi peradaban
suatu bangsa selalu berangkat dari revolusi berfikir. Di Indonesia, kebobrokan pemerintah dalam membuat undang-undang dan menciptakan kehidupan sejahtera bagi masyarakat tampak begitu nyata. Seringkali. solusi yang dihadirkan hanya menuntaskan permasalahan pada ranah permukaan, tidak mendasar, sehingga justru melahirkan permasalahan baru.

Anhar Gonggong: “Saya tidak kritik anak muda, saya kritik pemerintahnya”

Kalau ingin menghancurkan suatu bangsa, hancurkanlah sejarahnya. --Milan Kundera

Sejarah Indonesia telah terdistorsi oleh kepentingan penguasa di masa lalu. Ingatan pendek kolektif masyarakat Indonesia tentang pengetahuan sejarahnya berimplikasi kepada tabiat masyarakat Indonesia yang menjadi permisif dan lupa belajar dari kesalahan di masa lalu. 

Sikap permisif itu tampaknya telah menggerogoti masyarakat Indonesia. Ingatan kolektif tentang sejarah kelam Indonesia yang dibelokkan, telah dirombak dan dihadirkan kembali dengan cerita dan citra teranyar. Menjelang pemilihan umum presiden 2014-2019 ini, beberapa wajah lama yang adalah merupakan bagian daripada Orde Baru yang telah menggoreskan sejarah kelam di Indonesia, mencalonkan diri sebagai pemimpin Indonesia.