Jumat, 31 Januari 2014

Anhar Gonggong: “Saya tidak kritik anak muda, saya kritik pemerintahnya”

Kalau ingin menghancurkan suatu bangsa, hancurkanlah sejarahnya. --Milan Kundera

Sejarah Indonesia telah terdistorsi oleh kepentingan penguasa di masa lalu. Ingatan pendek kolektif masyarakat Indonesia tentang pengetahuan sejarahnya berimplikasi kepada tabiat masyarakat Indonesia yang menjadi permisif dan lupa belajar dari kesalahan di masa lalu. 

Sikap permisif itu tampaknya telah menggerogoti masyarakat Indonesia. Ingatan kolektif tentang sejarah kelam Indonesia yang dibelokkan, telah dirombak dan dihadirkan kembali dengan cerita dan citra teranyar. Buktinya? Menjelang pemilihan umum presiden 2014-2019, beberapa wajah lama sekaligus pentolan Orde Baru yang telah menggoreskan sejarah kelam di Indonesia, dengan penuh percaya diri mencalonkan diri sebagai pemimpin Indonesia.


Sabtu (17/11) siang kalau cuaca tak terlalu panas. Saat tiba, rintik tipis membasahi bumi di bilangan Pondok Gede, Bekasi. Tepatnya di kediaman sejarahwan Indonesia, Anhar Gonggong. “Silahkan masuk, wah, ini mahasiswa IAIN (UIN) Ciputat. Ayo masuk,” katanya kepada beberapa wartawan media lain yang saat itu juga tengah melakukan wawancara. 

Bagaimana agar sejarah, sebagai jati diri bangsa, menemukan posisinya dalam membangun wawasan kita dalam membangsa dan bernegara, terutama bagi kaum muda sebagai generasi penerus bangsa? Berikut kutipan wawancaraku, Rahmat Kamaruddin.

Bagaimana agar sejarah diminati?

Itu mulai dari pendidikan. Ya seperti sekarang, ada nggak sejarah diajarkan di UIN? Bukan hanya sejarah Islam, tapi sejarah dalam pengertian universal dan umum. Ya, mulai dari pendidikan. Nah, celakanya, pendidikan sejarah itu pernah dibelokkan Soeharto untuk kepentingan dia. Sekarang, sejarah sangat minim. Nah, bagaimana anak muda mau tahu sejarah kalau mereka tidak pernah diajari? Iya kan? Jadi, sistem pendidikan kita seharusnya memasukkan sejarah sebagai mata pelajaran yang penting untuk memahami ke-Indonesiaan kita. Bagaimana Anda mau tahu tentang Indonesia? Kan itu persoalannya.

Terkait dengan perbedaan versi dalam sejarah?

Itu tergantung dengan siapa Anda  ngomong untuk mendapatkan fakta. Ada orang yang mengatakan G30SPKI karena konflik internal TNI, kan? Tapi, apakah benar? Lalu, ada yang mengatakan yang terlibat Soekarno. Apa itu benar? Ada yang mengatakan bahwa PKI tak terlibat.  Apa itu benar? Kan itu pertanyaan-pertanyaan yang harus dilakukan dengan penelitian. Banyak teori tentang itu.

Ambil contoh Gerakan 30 September 1965. Kan gerakannya seperti itu. Kan itu pernyataan yang menguntungkan. Dewan revolusi menggerakkan apa yang disebut dengan Gerakan G 30 September, tanpa kata ‘PKI’. Setelah dia kalah, lalu Soeharto dan Nasution mengatakan bahwa yang melakukan pemberontakan ini adalah PKI. Karena Soeharto itu tahu bahwa Untung itu PKI, karena ia dibina oleh PKI selama Untung jadi anak buah Soeharto. Jadi, langsung Soeharto mengatakan, bahwa yang melakukan pemberontakan ini adalah PKI. Oleh karena itu, Gerakan 30 S di belakangnya ditambah dengan kata ‘PKI’. 

Nama gerakannya sendiri hanya Gerakan 30 September 1965 yang dilakukan oleh dewan revolusi. Tapi, setelah dia kalah, dan Soeharto mengatakan bahwa Untung itu PKI,  maka disimpulkan oleh Soeharto dan Nasution serta pendukungnya yang mengatakan bahwa yang melakukan pemberontakan itu adalah PKI, sehingga dikatakan G30S/PKI. Jadi, selama Orde baru G 30S itu dikaitkan dengan PKI. 

Nah, sekarang setelah reformasi ada yang tidak (memakai kata PKI) lagi. Malah jadi permasalahan, kan? Taufik Ismail pernah marah karena dia temukan tulisan dengan kata PKI-nya dihilangkan. Maka, dia datang ke DPR. Kata Taufik, “Nggak bener, memang yang terlibat itu PKI kok. Maka G 30S/PKI.” Begitu. Karena apa? Taufik Ismail adalah orang yang pernah dihabisi oleh PKI.

Perbedaan versi sejarah yang membuat orang kemudian enggan membaca sejarah, menurut Anda?

Ya karena memang sejarah tergantung sumbernya, kok. Kalau enggan mempelajari itu salah Anda. Ya memang sejarah seperti itu. Saya mungkin berbeda pendapat dengan Azyumardi Azra karena sumber saya berbeda dengan apa yang saya baca. Atau menafsirkan sesuatu, berbeda. Sejarah itu kan--salah satu yang terpenting--adalah tafsiran dari fakta yang ditemukan. Contoh sederhana, Hatta pelaku dalam proses Proklamasi. Adam Malik juga pelaku, --sebagai orang muda--pelaku dalam proses itu. Tapi,  Adam Malik dan Hatta berbeda penafsirannya tentang peranan pemuda dalam proses proklamasi 17 Agustus itu. 

Adam Malik di dalam bukunya yang membicarakan riwayat proklamasi mengatakan, peranan pemuda itu sangat besar dalam mendorong proklamasi 17 Agustus. Hatta mengatakan, nggak ada itu, malah pemuda itu bikin ricuh. Padahal dia adalah orang yang sama-sama berada di lingkaran proses terjadinya Proklamasi. 

Tapi, satunya pemuda. Satunya wakil ketua PPKI, dan diculik oleh pemuda,  lalu dibawa ke Rengasdengklok. Nah, tafsirannya tentang pemuda berbeda. Artinya, itu hal biasa. Tergantung mana yang saya percaya atau tidak. Jadi, nggak perlu bingung. Memang sejarah seperti itu. 

Penafsiran sejarah orang-orang Marxis dengan penafsiran orang-orang kapitalistis, ya berbeda.  Biasa itu. Nggak ada sesuatu yang salah di situ karena orang menafsirkan fakta yang ia temukan dari sumber yang ia temukan. 

Peran pemerintah sejauh ini dalam pembelajaran sejarah, menurut Anda?

Seharusnya pemerintah punya peran, dan dia yang menentukan kurikulum, kan? Oleh karena itu, dalam kaitannya, seharusnya pemerintah memberikan mata pelajaran Sejarah sebagai sesuatu yang penting di dalam kurikulum, sehingga dia ditempatkan di kurikulum itu untuk semua jenjang pendidikan, misalnya. Kalau di perguruan tinggi kan sudah ada jurusannya sendiri. Orang mau masuk atau tidak, itu urusan lain. Tapi, kalau di tingkat SD kelas 4 sampai SMA itu seharusnya pemerintah merancang dengan baik. Dari dulu sampai sekarang masih di… nggak tahu apakah kurikulum dulu sampai sekarang masih berbeda. Tapi, dulu kan cuma dimasukkan dalam mata pelajaran kewarganegaraan, sehingga porsinya sedikit. 

Padahal di negara lain, Amerika misalnya,  sejarah itu menjadi pelajaran tersendiri. Mereka bangga belajar sejarah. Nah, di kita tidak. Dimasukkan seperti Australia, dimasukkan ke dalam ilmu sosial. Nah, dia lupa Australia nggak punya sejarah. 

Kalau kita kan punya sejarah yang panjang. Nah ini yang sering tidak dipahami orang. Jadi kalau Australia menempatkan sejarah sebagai bagian dari ilmu sosial, ya wajar aja. Lha, dia mau bicara apa? Dia baru ada sejarahnya pada abad 19, kok. Kalau kita kan punya sejarah panjang. Amerika punya sejarah panjang, maka dia letakkan sejarahnya sebagai sesuatu yang penting dalam ilmu mereka.

Dampak ketidakpedulian kita terhadap sejarah negara sendiri?

Lha, sederhana. Anda tidak mengerti diri anda siapa. Itu jawabnya. Bagaimana anda mau mengenal diri sendiri kalau nggak tahu sejarah diri Anda. Anda sebagai pribadi punya sejarah, kan? Begitu juga negara. Nah, kalau Anda tidak mengerti diri Anda, tidak mengerti proses membangsa Indonesia, bagaimana Anda mau yakin tentang diri Anda? Kan itu. Anda nggak ngerti siapa itu Prabowo, siapa itu Wiranto, siapa itu Tommi. Tiba-tiba suatu saat, ia tampil sebagai tokoh, Anda tidak tahu siapa dia, karena Anda belum tahu.

Kritik terhadap pemuda yang tak tahu sejarah negaranya?

Saya tidak kritik anak muda, saya kritik pemerintahnya. Bagaimana anak muda tahu, kalau pemerintahnya tidak memberikan sejarah pada mereka. Di sekolah, dia tidak diberikan sejarah, bagaimana tahu sejarah. Jadi, saya nggak mengkritik anak-anak muda yang tak tahu sejarah itu. Justru pemerintahnya yang saya kritik, justru orangtua yang saya kritik. Salah pemerintahnya, kenapa nggak mengajarkan sejarah secara benar.    

"Masa depan Indonesia adalah laut. Laut menyimpan banyak kekayaan dan energi."

Load disqus comments

1 komentar: