Senin, 14 April 2014

Karir, Keluarga, dan Cinta



“Indri, kalau kamu sudah menikah, kamu harus memilih. Jadi ibu rumah tangga atau wanita karir?”
“Oh, saya merasa, di indonesia, menjadi perempuan saya lebih beruntung.”

Kutipan di atas merupakan kisah perbincangan Indrianti Wirjanto dengan kawannya yang berwarga negara Jerman. Bagi Indri, menjadi wanita karir di Indonesia mudah. Apa pasal? “Karena di sini lebih murah. Nah, di sana mahal. Gaji bisa habis untuk bayar pembantu. Saya merasa lebih beruntung daripada mereka,” katanya sembari tersenyum.


Sebagai perempuan, dirinya mengungkapkan bahwa ada peran yang harus dimilikinya, yakni sebagi istri dan ibu dari anak-anak. Itulah salah satu kendala menurutnya.

“Tapi, untungnya di Indonesia, kita punya support sistem, kita masih punya domestic helper, contohnya, suster, pembantu. Tapi yang nomor satu menurut saya adalah dukungan suami. Karena perempuan tidak mungkin bisa menjadi pemimpin yang baik di perusahaan, mencapai karir yang tinggi, kalau dia tidak punya support sistem, baik dari suami, dan juga dari anak-anaknya,” jelasnya. 

Kondisi sosio-eko-kultural Indonesia merupakan aspek utama bagi Indri dapat terus berkarir hingga kini menjadi Division Head MRA Print Media. Perempuan kelahiran Cirebon, 23 April 1968 tersebut mengatakan, di Jerman biaya support sistem, seperti pembantu, bertarif mahal. Tak seperti di Indonesia. 
“Kuncinya adalah kita harus punya dukungan yang kuat, baik itu dari suami dan dari support sistem yang ada di Indonesia, seperti pembantu. Dan, tentu saja, expensive family, misalnya nenek, saudara, dan kerabat lainnya,” katanya.

Kreatifitas dan kerja keras

Indri adalah sosok perempuan yang mencintai kreatifitas dan kerja keras. Perempuan yang mengawali karirnya pada tahun 1995 sebagai financial controller tersebut mengungkapkan, hal yang paling berarti baginya sebagai pemimpin MRA adalah ketika bisa mengedukasi pembaca. “Saya bangga karena bisa memandaikan pembaca dengan isi berita yang kami sampaikan kepada mereka. Bagi saya, itulah suatu kepuasan yang sangat berkesan,” ungkapnya.

Bak perkataan filsuf Cina, Konfusius, ‘Pilihlah pekerjaan yang kamu sukai, maka kamu tidak akan perlu bekerja lagi sepanjang sisa hidupmu’, Indrianti memilih berkarir di industri media karena mencintai kreatifitas dan suka mengikuti perkembangan jaman. “Sejak lulus kuliah saya senantiasa bekerja, sembari telah melahirkan dua anak, sampai sekarang,” kata alumni S1 Universitas Parahyangan dan S2 Universitas Trisakti.

Industri media adalah industri kreatif. Indri pun memupuk nilai-nilai kreatifitas kepada karyawannya dengan memberikan ruang agar termotivasi.  “Kalau mereka diberikan ruang untuk mengekspresikan kreatifitas, otomatis mereka menjadi betah, mereka mencintai pekerjaan mereka. Karena apa yang mereka keluarkan dari ide-ide mereka, they can see it happened. Orang-orang kreatif itu harus diberikan ruang. Kalau misalnya mereka nggak diberi ruang, ya, mereka tak termotivasi,” jelasnya.

Pemilik hobi travelling dan wisata kuliner itu mengaku dalam berkarir dirinya terinspirasi dari banyak orang, terutama sosok Ibu yang dahulu membesarkannya beserta kelima saudaranya. Darah pekerja keras dari orang tua rupanya juga mengalir dalam dirinya. “Beliau bisa menghidupi lima orang anaknya, beliau seorang bisnis woman. Jadi, itulah salah satu yang menginspirasi saya,” kenangnya.

Para pemimpin besar perempuan di dunia baginya juga sumber inspirasi. “Saya salut dengan Benazir Bhutto, di tengah negara Pakistan yang sangat patriarkat, ia mampu memimpin,” katanya. Istri Henry Indranada itu punya dua prinsip dalam menjalani hidup, berdoa dan terus berusaha melakukan yang terbaik.

#Tulisan ini hasil liputan saya untuk rubrik sosok saat magang di Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat. Sukses selalu, Bu Indri.
Load disqus comments

0 komentar