Minggu, 10 Januari 2016

Pekerjaan

Presiden Jokowi Widodo pada saat usai dilantik menjadi Presiden RI ke tujuh menggemakan slogan, “Kerja, kerja, kerja”. Slogan tersebut menghimbau masyarakat agar meningkatkan semangat membangun negara dengan bekerja. Slogan tersebut tentu saja punya arti yang sangat positif bagi bangsa ini karena dengan bekerjalah bangsa Indonesia dapat mewujudkan cita-citanya. Sebuah impian hanya akan menjadi impian belaka bila tidak dibersamai dengan kerja guna mewujudkannya.




Setiap hari manusia pasti melakukan aktifitas berupa pekerjaan. Posisi kerja sungguh demikian sentral bagi peradaban umat manusia. Pekerjaan adalah modus peradaban itu sendiri. Dalam perbincangan sehari-hari misalnya, dapat kita temui pertanyaan mengenai pekerjaan seseorang akan segera menyusul setelah menanyakan kabar. “Bagaimana kabarmu?”, “Sekarang kerja apa?”

Saban tahun ada ribuan bahkan jutaan manusia yang mencari pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya. Nyaris separuh waktu manusia habis untuk menggeluti pekerjaannya. Oleh karena itu, tak pelak pekerjaan punya implikasi sangat besar terhadap kualitas hidup, tingkat kesehatan dan kadar kebahagiaan seseorang.

Mengingat pentingnya peran dan arti pekerjaan bagi manusia, ia pun kerap menjadi bahan  perbincangan serius lintas zaman, tak terkecuali oleh para filosof. Meski kemudian tidak semua filosof menganggap pekerjaan adalah hal yang penting bagi manusia, bahkan terkesan merendahkannya. Hal tersebut, misalnya, kita dapati pada pemilahan Plato akan dua entitas yang terdapat pada manusia, yakni psyche (jiwa) dan soma (tubuh).

Psyche diandaikan sebagai entitas utama, berifat immateri, yang harus mampu memisahkan diri dari soma agar manusia dapat sampai pada kesejatian. Soma sendiri sebagai hasrat yang mencintai duniawi, entitas materi, dan bersifat badani. Bagi mereka yang mencintai kesejatian, haruslah terlebih dahulu menafikan soma-nya.[1] Berfilsafat, sebagai kegiatan manusia yang pantas, berkata “tidak!” pada pekerjaan karena dianggap bukan bagian dari pencarian kesejatian, kepada yang bukan bukan psyche.

Aristoteles pun berpendapat dengan nada yang tampak serupa. Pekerjaan olehnya dimasukkan ke dalam poiѐsis (pembuatan dari sesuatu) yang kurang bernilai dari daripada praksis (tindakan, khususnya berpolitik) dan dalam pandangan orang Yunani dihubungkan dengan ponos (pikulan berat, penderitaan). Pekerjaan adalah ponos, beban berat, syukur kalau kita terbebas daripadanya.[2] Tak hanya Filsafat Barat, Filsafat Timur pun juga berabad-abad mendiamkan ihwal pekerjaan. Filsafat India cenderung mementingkan roh dan menegaskan kefanaan hidup di dunia ini, yang pada gilirannya tidak melihat suatu nilai tersendiri dalam mengerjakan dunia.[3]

Makalah ini akan mencoba memaparkan ihwal manusia dan pekerjaan melalui sudut pandang filosofis. Pendapat dari tiga orang filosof, Wilhem Friedrich Hegel (1770-1831 M.), Karl Marx (1818-1883) dan Muhammad bin Zakariya al-Razi, masyhur disebut Ar-Razi (846-925 M.), akan penulis uraikan mengenai manusia dan pekerjaan.

Pekerjaan sebagai Pernyataan Diri Manusia

Pandangan Hegel mengenai realitas sebagai bukan sesuatu yang statis, bulat, suatu “substansi”, melainkan berkembang, sebuah proses menjadi Roh Absolut,[4] tampak pula pada pandangannya mengenai manusia dan pekerjaan. Sebagaimana Roh Absolut merupakan proses menyatakan dirinya sendiri, manusia pun dalam pandangan Hegel merupakan subyek yang harus menjadi, berkembang dan menemukan diri. Manusia menemukan diri apabila ia menyadari diri sepenuhnya dan memiliki diri sebagai kesadaran itu dalam dunia objektif. Dengan menemukan diri manusia semakin nyata. Dalam menyadari dan memiliki diri, pekerjaan mengambil posisi yang penting. Hegel tentu tidak mengajukan suatu teori tentang pekerjaan, melainkan menggali apa yang terkandung dalam pengalaman yang kita sadari sendiri, yang pada gilirannya akan menegaskan bahwa pekerjaan adalah cara manusia menyatakan diri.[5]

Pemahaman mengenai cara manusia menyadari diri dapat kita mulai dari pengandaian bahwa apa yang di luar diri kita adalah objek. Apa yang kita dengar, cium, sentuh, lihat, dan sebagainya, merupakan objek. Dalam kesadaran tentang objek-objek itulah manusia menyadari dirinya sendiri. Namun bukan sebagai objek, melainkan subjek. Fakta bahwa manusia menyadari dirinya sendiri sebagai bukan subjek yang berhadapan dengan objek-objek, mengandung dua segi, negatif dan positif. [6]

Segi negatif berarti sebagai yang bukan objek. Kita tidak memiliki diri kita sebagai identitas yang bulat, melainkan dalam membedakan diri dari semua objek. Jadi, ini adalah sebuah gerak negasi. Kesatuan ini dalam istilah Hegel disebut “kesatuan negatif”. Ringkasnya, “Saya adalah bukan pohon, bukan mobil, bukan orang itu, bukan dingin; kesatuan, karena semua objek itu bersatu dalam kenyataan bahwa sayalah yang menyadari mereka”. Segi positif berarti tak ada kesadaran-diri tanpa adanya objek. Kita hanya dapat menyadari diri dalam membedakan diri terhadap terhadap objek-objek itu: “Tak ada objek, ‘aku’ pun tak ada.” Dalam rangka pembenaran diri, atas dasar di atas itulah Hegel tidak menegasikan objek, karena itu sama menghilangkan subjek atau diri kita sendiri.[7]

Objek itu punya bentuk alamiah yang asing bagi manusia dan dapat mencelakakannya. Ia harus dihilangkan, agar tidak mengancam. Tetapi objek sendiri tidak boleh dihilangkan, melainkan sebagai titik terjang keakuan. Singkatnya, manusia membenarkan diri apabila dunia objektif menjadi objektifikasi dari keakuan itu sendiri. Itulah yang tercapai dalam pekerjaan.[8]

Apa yang akan terjadi bila manusia bekerja? Seorang manusia masuk ke hutan, menebang pohon besar, membersihkan cabang dan dedaunannya, mengupas batangnya, dipotong sepanjang lima meter lalu dilubangi tengahnya, dihiasi dengan cat, lalu jadilah sebuah perahu yang indah. Pada mulanya perahu itu hanya ada dalam pikiran si tukang perahu, dan pohon hanyalah pohon. Pohon lalu berubah menjadi bentuk baru setelah manusia tersebut mengobjektifkan kemampuannya pada sebatang pohon tersebut. Pohon tersebut kehilangan bentuk alamiahnya dan mendapat bentuk baru, yaitu bentuk manusia. Tentu bukan bentuk tubuh manusia, melainkan bentuk manusia dalam arti sesuai dengan apa yang dipikirkan, diinginkan, dikehendaki dan dicita-citakan oleh manusia.[9]

Gambaran di atas kiranya menjelaskan bahwa pekerjaan manusia tersebut menghilangkan bentuk alamiah objek. Ia lalu diberi bentuk dengan bentuk baru yang ada dalam kepala manusia. Maka pada hasil kerjaan bakat, cita-cita, tujuan dan harapan si pekerja dilahirkan ke dalam objektifitas. Ia tidak lagi berbentuk kemungkinan dan keinginan karena telah menjadi kenyataan, dengan menjadi bentuk objek itu. Objek yang dikerjakan itu menjadi cermin dari si pekerja itu sendiri. Dengan demikian, pekerjaan itu proses di mana manusia menyatakan diri.[10]

Pekerjaan sebagai Ciri Khas Kemanusiaan

Mengikuti Hegel, Karl Marx menjelaskan bahwa melalui pekerjaan seseorang menjadi nyata.[11] Ambil contoh seorang seniman. Ia nyata sebagai seniman apabila sudah mengerjakan alam menjadi karya seni. Misalnya, sepotong kayu dari hutan ia ubah menjadi patung kuda. Ternyatalah dirinya sebagai seorang seniman dengan tiada syak: “aku seniman!”

Marx nampaknya hadir melengkapi Hegel. Baginya, pekerjaan lebih dari sekadar menyatakan keakuan, melainkan ciri khas manusia itu sendiri sebagai makhluk yang bebas dan universil. Bebas karena manusia tidak hanya melakukan apa yang langsung menjadi kecondongannya (seperti hewan), namun ia dapat merencanakan tindakannya. Meskipun, misalnya, seseorang lapar, namun ia dapat menunda makanannya untuk mengerjakan sesuatu yang lebih penting dulu. Disebut universil karena manusia tidak terikat pada lingkungan alam yang terbatas.[12]

Pekerjaan, menurut Marx, juga menegaskan posisi manusia sebagai makhluk sosial dan sejarah. Disebut makhluk sosial karena seseorang tidak akan pernah bekerja untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Misalnya, si pembuat perahu tentu tidak bekerja untuk dirinya sendiri, melainkan fungsi dari perahu perahu itu sendiri pada gilirannya akan bermanfaat bagi manusia lain, seperti menangkap ikan, menyeberangi sungai. Marx menulis, “barang (kerjaan) adalah pembenaran langsung daripada individualitas pembuatnya, dan sekaligus kenyataannya bagi orang lain, kenyataan dia, dan kenyataan dia adalah untuknya.”[13]

Manusia disebut sebagai makhluk sejarah karena, menurut Marx, pekerjaan yang bersifat sosial tidak semata hanya dalam dimensi ruang, artinya pekerjaan tidak sekadar hanya menghubungkan manusia-manusia yang hidup pada saat yang sama, melainkan juga mencakup dimensi waktu. Pekerjaan itu tindakan manusia selama seluruh sejarahnya. Alam yang mengelilingi manusia sekarang sesungguhnya dibangun berturut-turut oleh umat manusia sejak permulaannya. Sejak awal, selangkah demi selangkah, demi memenuhi dan menyesuaikan dengan kebutuhan hidupnya, manusia bekerja. Proses ini berlangsung dari generasi ke generasi. Maka melalui pekerjaannya manusia menyejarah.[14]

Setiap generasi mewariskan apa yang dikerjakan kepada generasi berikutnya: alat-alat kerja yang digunakan, irigasi sawah yang diperbaiki, gedung-gedung, candi-candi, universitas-universitas, bahkan seluruh harta benda, faham, fikiran, tradisi, susunan hukum dan sebagainya. Fakultas Ushuluddin yang ada dan terus berkembang hingga kini merupakan pekerjaan yang bersinambungan manusia. Pekerjaanlah yang menjadi simpul pemersatu lintas generasi ke generasi manusia dalam panggung sejarah. Bekerja adalah cara manusia menyejarah.

Meski demikian agung Karl Marx menilai pekerjaan, namun pekerjaan juga punya daya rusak bagi manusia, alienasi. Alienasi bisa digambarkan secara longgar seperti tiadanya makna dalam diri individu. Tiadanya realisasi-diri mengambil bentuk terpenting dari alienasi.[15] Mestinya manusia senang bekerja, karena pekerjaan, sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, menurut Hegel, adalah tindakan pernyataan-diri manusia, tetapi banyak orang benci akan pekerjaan mereka.

Lantas, bagaimana alienasi atau keterasingan dalam pekerjaan itu dapat diterangkan? Menurut Marx, pekerjaan itu mengasingkan manusia karena bersifat upahan. Pendapat ini merupakan pendapat dasar dalam teori Marx. Pekerjaan upahan berarti: orang tidak bekerja karena ia senang bekerja, melainkan karena ia dibayar dan karena ia memerlukan bayaran itu. Maka ia tidak mengerjakan apa yang sesuai dengan bakatnya, atau apa yang diinginkannya sendiri, melainkan apa yang disuruhkan oleh majikannya. Alhasil, universalitas dan kebebasan manusia dalam bekerja justeru menjadi terasing dalam pekerjaan upahan.[16]

Mengapa pekerjaan menjadi pekerjaan upahan? Menurut Marx itu karena kapitalisme. Kapitalisme berarti: modal-alat kerja, mesin, pabrik, seluruh proses produksi-adalah milik si kapitalis, si pemilik modal. Buruh tidak punya modal, ia punya tenaga kerja, tenaga kerja itu memang dibutuhkan oleh si kapitalis, maka buruh menjual tenaga kerja kepada si kapitalis. Jadi ia tidak lagi menjadi pemilik tenaga kerjanya sendiri, oleh karenanya ia harus mengerjakan apa yang diperintahkan oleh si kapitalis. Untuk itu ia dibayar dan demi bayaran itu buruh itu bekerja. Guna meniadakan keterasingan itu, Marx hanya melihat satu jalan saja, yaitu penghapusan sistem kerja upahan, dan itu berarti penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Buruh sendiri harus memiliki model kerjanya: pabrik, mesin, jadi menentukan sendiri apa dan bagaimana ia harus bekerja.[17]

Pekerjaan sebagai Saling Tolong Menolong

Jauh sebelum Hegel dan Marx menyinggung ihwal pekerjaan, seorang filosof Muslim yang akrab disebut ar-Razi telah membahasnya. Bila Hegel dan Marx menyatakan bahwa pekerjaan adalah pernyataan akan keakuan manusia, Ar-Razi menempatkan posisi pekerjaan obat bagi ruhani manusia. Hal tersebut agaknya  tertegaskan melalui penempatan ihwal pekerjaan pada dua bab (bab ketujuh belas dan kedelapan belas) dalam karyanya yang berjudul Al-Ṭībb al-rūḥānī (Pengobatan Ruhani).

Tesis Ar-Razi mengenai pekerjaan sebagai pengobatan ruhani berangkat dari pemahamannya bahwa akal merupakan anugerah teragung yang Tuhan berikan kepada manusia. Akal menduduki posisi sentral dalam ajaran Ar-Razi. Sehingga, dalam hal apapun, akal senantiasa harus menjadi tolak ukur bagi manusia guna mencapai kebahagiaan, termasuk dalam pekerjaan. Dengan akal, manusia akan selamat dari hawa nafsu yang ingin mencelakakannya. Puncak tertinggi dari optimalisasi akal akan menghantarkan manusia kepada anugerah dan berkah Tuhan.[18]

Menurut Ar-Razi, basis utama pekerjaan manusia adalah kerja sama dan tolong menolong. Setiap manusia, menurutnya, hanya dapat mengerjakan satu jenis pekerjaan. Seorang peternak tidak dapat menjadi seorang tukang tembok, seorang tukang tembok tidak dapat menjadi seorang penenun. Jika beberapa orang sepakat untuk bekerjasama dan saling tolong-menolong, mereka akan membuat satu aturan yang saling menguntungkan mereka. Setiap orang akan mengerjakan suatu pekerjaan hingga selesai, sehingga orang menjadi pelayan dan menjadi majikan, melayani sekaligus dilayani oleh orang lain. Dengan cara ini, kata Ar-Razi, semua merasa senang, dan semua merasakan nikmat berkelimpahan, meskipun terdapat perbedaan yang besar di antara mereka. Dengan demikian tidak ada seorang pun yang tidak melayani dan dilayani, serta semua kebutuhan mereka terpenuhi.[19]

Dari penjelasan di atas, Ar-Razi agaknya lebih optimis dalam memandang pekerjaan ketimbang Marx. Marx melihat pekerjaan mengandaikan adanya pertentangan antara kelas buruh dan majikan, di sana konfrontasi yang menuntut revolusi. Ar-Razi menekankan bahwa pekerjaan merupakan sarana saling-tolong manusia satu sama lain. Tidak ada pertentangan kelas. Perbedaan posisi dan jenis pekerjaan bukan hal mengacu kepada stratifikasi, melainkan diferensiasi. Setiap orang harus saling bermanfaat bagi manusia lain dengan masing-masing pekerjaannya.

Lebih jauh, menurutnya, kehidupan hanya dapat disempurnakan dan diorganisasikan dengan efektif melalui kerja sama dan saling tolong menolong, oleh karenanya tiap manusia harus setia satu sama lain, saling membantu sesuai kekuatan dan kemampuannya untuk secara bersama-sama menghilangkan dua titik ekstrem, yaitu berkelebihan dan berkekurangan. Di dalam berkekurangan terkandung arti kelemahan dan kehinaan, karena ia menjadikan manusia jatuh menjadi pengemis yang meminta-minta kepada orang lain. Sementara berkelebihan mengandung arti kerja paksa dan perbudakan. Ar-Razi menulis,

Jika seseorang tidak mempunyai batasan dalam mencari pendapatan, dan tidak berusaha membatasi dirinya, maka pelayanan yang diberikannya menjadi jauh lebih besar dari pelayanan orang lain kepada dirinya, dan ia semakin terjerumus kepada perbudakan abadi. Jika  seseorang bekerja dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk memperoleh pendapatan melebihi yang diperlukan untuk belanja kebutuhannya dan untuk menyimpan cadangan jika ada sesuatu kebutuhan mendesak, maka ia telah merugi dalam jangka panjang, yang tanpa sadar telah terperdaya dan diperbudak.[20]

Ar-Razi mengupayakan penghindaran terhadap dua ekstrem berkekurangan dan berkelebihan. Kekurangan akan menjadikan kehidupan seseorang tidak bermakna, sementara kebutuhannya tetap ada; layaknya seorang yang tengah di padang pasir yang gersang, sementara bekalnya telah habis. Sementara kelebihan dapat memberikan akibat yang sama seperti orang yang terus menerus bekerja tanpa pernah merasa puas. Ia diperbudak oleh pekerjaannya. Himbauan ihwal menjauhi kedua ekstrem tersebut bermuara pada cara manusia menyimpan harta. 

Sikap menengah dalam penyimpanan adalah jika seseorang dapat menentukan jumlah yang perlu disimpannya, sekadar untuk menunjang hidupnya terutama pada keadaan ketika ia tidak mampu mencari pendapatan. Dan cara menyimpan yang terbaik, yang paling tahan lama, paling terhormat dan paling aman adalah dalam bentuk keahlian, terutama keahlian yang selalu diperlukan setiap orang di setiap negara dan setiap bangsa. Kekayaan, bagi Ar-Razi, adalah tanggung jawab seseorang terhadap keahliannya, bukan pada rumah, barang berharga dan harta, karena apa yang disebut terakhir ini tidaklah aman untuk disimpan.[21]

Kesimpulan

Mengikuti Hegel, Karl Marx menjelaskan bahwa melalui pekerjaan seseorang menjadi nyata. Marx nampaknya hadir melengkapi Hegel. Baginya, pekerjaan lebih dari sekadar menyatakan keakuan, melainkan ciri khas manusia itu sendiri sebagai makhluk yang bebas dan universil. Bebas karena manusia tidak hanya melakukan apa yang langsung menjadi kecondongannya (seperti hewan), namun ia dapat merencanakan tindakannya. Meskipun, misalnya, seseorang lapar, namun ia dapat menunda makanannya untuk mengerjakan sesuatu yang lebih penting dulu. Disebut universil karena manusia tidak terikat pada lingkungan alam yang terbatas.

Pekerjaan, menurut Marx, juga menegaskan posisi manusia sebagai makhluk sosial dan sejarah. Disebut makhluk sosial karena seseorang tidak akan pernah bekerja untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain. Misalnya, si pembuat perahu tentu tidak bekerja untuk dirinya sendiri, melainkan fungsi dari perahu perahu itu sendiri pada gilirannya akan bermanfaat bagi manusia lain, seperti menangkap ikan, menyeberangi sungai.

Bila Hegel dan Marx menyatakan bahwa pekerjaan adalah pernyataan akan keakuan manusia, Ar-Razi menempatkan posisi pekerjaan obat bagi ruhani manusia. Meski demikian dapatlah kiranya kita tarik pandangan ketiga filosof tersebut mengarah kepada kesimpulan bahwa dengan bekerja manusia mendudukkan dirinya di tengah-tengah manusia.

Ar-Razi agaknya lebih optimis dalam memandang pekerjaan ketimbang Marx. Marx melihat pekerjaan mengandaikan adanya pertentangan antara kelas buruh dan majikan. Ar-Razi menekankan bahwa pekerjaan merupakan sarana saling-tolong manusia satu sama lain. Tidak ada pertentangan kelas. Perbedaan posisi dan jenis pekerjaan bukan hal menegaskan struktur stratifikasi, melainkan diferensiasi.







[1] Alfathri Adlin, “Esai Pembuka, Apakah Filsafat Itu?”, dalam What is Philosophy, Reinterpretasi atas Filsafat, Sains dan Seni, terj. Muh. Indra Purnama (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), cet-2, hlm.vi-viii.
[2] Franz Magnis Suseno, Manusia dan Pekerjaan, Makalah Extension Course STF Driyarkara Semester I, disampaikan pada 15 September 2014, pukul 18.00 wib, hlm 1. 
[3] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, Bunga Rampai Tentang Filsafat Manusia (Jakarta: PT Gramedia, 1985), cet-5, hlm.72.
[4] Budi Hardiman, Pemikiran-Pemikiran yang Membentuk Dunia Modern (Dari Machiavelli sampai Nietzsche) (Jakarta: Erlangga, 2011), cet-17, hlm.154. 
[5] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.75-77.
[6] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.76.
[7] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.76.
[8] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.77.
[9] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.78.
[10] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.79.
[11] Franz Magnis Suseno, Manusia dan Pekerjaan, hlm.2.
[12] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.84.
[13] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.85.
[14] K. Bertens ,ed. Sekitar Manusia, hlm.85.
[15] Jon Elster, Karl Marx, Marxisme-Analisis: Sebuah Analisis Kritis Tokoh Historis Pengguncang Dunia Perlukah Kita Menolak Komunisme, terj. Sudarmaji (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya, 2000), hlm.57 .
[16] Franz Magnis Suseno, Manusia dan Pekerjaan, hlm.4.
[17] Franz Magnis Suseno, Manusia dan Pekerjaan, hlm.4.
[18] Muhammad ibn Zakaria al-Razi, Pengobatan Ruhani, terj. M.S. Nasrullah (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 32.
[19]  Muhammad ibn Zakaria al-Razi, Pengobatan Ruhani, hlm.103.
[20] Muhammad ibn Zakaria al-Razi, Pengobatan Ruhani, hlm.103.
[21] Muhammad ibn Zakaria al-Razi, Pengobatan Ruhani, hlm.105.

Load disqus comments

0 komentar