Jumat, 27 Mei 2016

Deyah







Bagaimana Anda menghadapi kenyataan bila seluruh pakaian tekstil Anda menghilang begitu saja? Mungkin tak semua dari kita siap. Namun, seorang Ali Ancen, punya jawaban optimis atas pertanyaan imajinatif itu, “Kita bisa bikin pakaian dari kulit kayu.”


Di Lapangan Bola Basket Wahana Tepian, jelang pukul 12.00 siang, Rabu (6/4), Ali Ancen tampak sumringah. Ia berlalu pamit meninggalkanku sejenak. Langkahnya pelan namun pasti menuju panggung. Sejurus kemudian ia kembali dengan tangan menggenggam piala dan sertifikat. Baru saja kelompok seni yang ia pimpin, Bajalin Jaya, ditahbiskan sebagai juara pertama pada even Karnaval Budaya Hari Jadi Balangan ke-13, Kalimantan Selatan.

Ali Ancen menerima hadiah dari Pemkab Balangan

Perpaduan atraksi eksotis tarian dan busana yang ia kenakan rupanya telah menyita perhatian dewan juri. Ali Ancen sendiri tak menyadari akan tersebut. Baginya, diundang untuk menghadiri acara karnaval adalah hal yang sudah sangat menyenangkan, alih-alih meraih hadiah. “Kami bahagia. Kami akan selalu siap diundang lagi. Kami merasa dianggap sebagai warga Balangan. Maklum, tempat tinggal kami jauh di Kecamatan Halong,” kata dia.

Kami berbincang dengan nada tinggi, namun suara kami lamat-lamat terdengar. Pasalnya, sound system di sekitaran panggung karnaval berbunyi lebih keras menalukan lelaguan. Di penghujung obrolan kami bertukar nomor kontak, lalu berjanji akan bertemu di lain hari. “Kalau telpon nggak masuk, SMS aja, ya,” ujarnya. “Di Halong sinyal susah.”

Merawat Budaya

Selasa siang (12/4), 13.00 WITA, sinar matahari cukup panas melingkupi Bumi Sanggam. Aku dan kawanku bergegas dari Kecamatan Paringin menuju Desa Liyu, Kecamatan Halong, bersepeda motor menemui Ali Ancen. Setiba di kediaman, kami disambut oleh istri dan anaknya. 

“Bapak lagi tidak ada di rumah. Di sawah. Mau balik dulu atau tunggu di rumah saja?”ujar sang istri. Jarak tempuh menuju ke Halong yang cukup melelahkan membuat kami menerima tawaran tuan rumah. “Naik aja ke rumah. Istirahat dulu,” katanya sembari menyodorkan bantal dan karpet. Dalam hitungan menit pun kami segera terlelap oleh terpaan desir angin sejuk Desa Liyu.

Aku terbangun saat seseorang menggamit pundakku. Alin Ancen rupanya. Mataku terbuka bersamaan dengan sirnanya lelahku. Temanku masih lelap. Tak jauh di sisiku, dua ekor anjing kecil berwarna hitam juga tengah tertidur pulas. Kutengok jam dinding telah menunjukkan pukul empat sore. “Saya tadi mau nginap di sawah. Dijemput sama anak, katanya ada tamu,” kata Ali Ancen.

Kujabat tangan Ali Ancen dan berterima kasih karena telah menyambut kami. Ia menyuguhkan minuman air mineral, teh manis dan biskuit. Kami pun memulai obrolan. “Dulu juga pernah ada rombongan wartawan dari Jakarta main ke sini. Nginep di rumah ini selama tiga hari,” katanya.









Memasuki era teknologi dan industri, sebagai seorang Balian Adat masyarakat Dayak Deah, Ali Ancen berupaya merawat ingatan masyarakat Dayak berupa identitas. Kepada pakaian kayu, ia titipkan semangat primordialisme. Pakaian, baginya, adalah simbol perlawanan atas arogansi sifat lupa milik umat manusia. “Anak jaman sekarang udah mulai lupa sama budaya sendiri,”seloroh Ali Ancen.

Ali Ancen adalah pengrajin pakaian khas Dayak Deah. Tak banyak orang Dayak yang seperti dirinya. Di tangannya, telah lahir pelbagai corak pakaian yang ia buat sendiri dari alat dan bahan tradisional. Karena pembuatan pakaian menggunakan cara tradisional, prosesnya pun relatif lebih lama, pula dengan kuantitas yang terbatas.

Bahan utama pembuatan pakaian adalah kulit kayu. “Kayu apa saja bisa, tapi yang paling bagus kayu dari pohon tarap,” kata Ali Ancen. Mulanya kulit kayu tarap dikupas dari batangnya, lalu ditumbuk dengan alat khusus hingga halus. Tahap selanjutnya, hasil tumbukan tadi dibentuk menjadi bagian-bagian tipis lalu dijemur hingga kering. Setelah jadi kain, barulah dibentuk sesuai kebutuhan. “Bikin baju, rok, dan topi bisa,” imbuhnya.

Meski terkesan mudah, namun beberapa orang yang pernah mencoba membuat kain kerap gagal. “Pernah ada yang mau bikin, hasilnya keras. Nggak bisa dipakai,” kata Ali Ancen. Dirinya sendiri mengaku pada saat awal memulai membuat baju kayu tiga tahun silam sering gagal. “Kain kayu harus halus, tipis dan lembut supaya bisa dipakai,” imbuhnya.

Bakat seni dalam diri Ali Ancen tak ubahnya pemberian alam. Kemampuan alami itu menemukan titiannya dalam semangat Ali Ancen untuk terus berkarya. Tak hanya pakaian, pria kelahiran 6 Agustus 1958 ini juga bisa membuat kerajinan tangan khas Dayak lainnya seperti, patung, alat musik, senjata, tas dan mahkota.

Kemampuan membuat pakaian Ali Ancen peroleh dari penjelasan orang tuanya. Ketika masih kecil orang tuanya mengisahkan riwayat pakaian kulit kayu tersebut. Mulai dari proses pembuatan hingga saat-saat penggunaannya. Bentuk dan corak baju menandai stratifikasi dan diferensiasi fungsi pada prosesi upacara adat dan ritual. “Mamaklah yang dulu memberi tahu saya cara membuat baju,” kenangnya.

Tekstur dan komposisi biologis manusia berbeda dengan binatang. Tubuh manusia tak terdesain menerima iklim alam secara apa adanya. Tapi, kata Ali Ancen, fungsi pakaian bukan pula sekadar alat untuk menutupi dan melindungi tubuh. Pakaian kulit kayu menyimpan unsur primordial berupa identitas manusia Dayak. Sebuah titik keberangkatan manusia Dayak meniti jalan menuju proses harmonisasi dengan alam. “Alam telah berbuat baik dengan manusia, manusia harus harus bersahabat dengan alam,” katanya.

Sebagai Pakaian Menari

Dahulu pakaian kulit kayu merupakan sandang sehari-hari suku Dayak Deyah. Seiring waktu berjalan, fungsinya bergeser sebagai simbol kebudayaan masyarakat Dayak Deyah. Ia hanya dipakai untuk keperluan ritual dan upacara tertentu. Upacara pertanian, perkawinan dan kematian, misalnya. “Bulan Oktober ini kami akan mengadakan upacara pertanian. Silakan datang kalau mau lihat pakaian kulit kayu dipakai saat prosesi,” kata Ali Ancen.


Pada mulanya adalah gerak.
Khidmat menekuri gerak




Pakaian kulit kayu punya relasi kuat dengan tarian suku Dayak. Gerakan rancak tarian Dayak akan kian eksotis bila berpadu dengan pakaian kulit kayu. Selain pakaian, tarian juga punya arti yang penting bagi suku Dayak. Tariannya bermacam-macam. Tarian Ape Manukkurung digunakan untuk ritual Aruh Buntang, yakni upacara kematian. Bila sedang berbahagia atau untuk menghibur orang, mereka punya tarian khusus bernama Gintur. “Tarian Gintur lebih mudah karena gerakannya bebas, memang untuk bersenang-senang,” jelas Ali Ancen.

Suku Dayak Deyah punya cara lain dalam merespon suatu bencana ataupun penyakit. Ia melampaui cara pandang mekanistik-laboratoristik biomedis kedokteran dalam melihat tubuh manusia. Penyakit seseorang, misalnya, dapat disembuhkan dengan melibatkan dimensi sosial-spiritual. Adalah tarian Balian Bawo namanya. Tarian ini berfungsi untuk menyembuhkan penyakit, menjauhkan marabahaya dan menolak bencana. 

Selain sebagai pasangan tarian, hal yang tak kalah penting dari arti pakaian kulit kayu adalah aspek sejarah. Pakaian kulit kayu adalah napak tilas kehidupan nenek moyang terdahulu. “Sekarang sudah modern. Bikin pakai mesin lebih mudah Tapi aspek sejarah dari pakaian kulit kayu tak tergantikan. Ini yang penting,” kata pungkas Ali Ancen.

Tak semua tarian dapat ditampilkan untuk kegiatan festival. Beberapa tarian hanya digunakan untuk acara tertentu.






Alat untuk membuat pakaian kayu. 
Ali Ancen dan  Ibnu, kawanku.


Tengkorak monyet

Diapit anak didik Ali Ancen yang tergabung dalam sanggar kesenian Bajalin Jaya, Dayak Deyah, Desa Liyu,
Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.

Diapit Ali Ancen dan Duli

Berbincang di tengah bising

Membawa piala
Jalan menuju Desa Liyu:

Siang hari yang hening. Bila ban kendaraan bocor tiada guna melambaikan tangan ke kamera. ;v (apaan dah, mat?)


Kami duluan, ya, Bu. Semangat dong nge-gowesnya.

Sepanjang jalan hanya ada dua jenis tumbuhan: pohon karet dan non-karet. Balangan memang terkenal penghasil karet. Pasutri ini baru saja memanen karet (manurih).
.Gambar yang terakhir ini abaikan saja. Abaikan!








Load disqus comments

0 komentar