Langsung ke konten utama

Tengok



Kalau ada buku yang harus kupilih sebagai buku favorit, maka itu adalah buku diary. Buku diary, dengan pengertian tertentu, terhimpun oleh luapan kejujuran si penulis ihwal dirinya.
Pada perbincangan mendalam seseorang kepada dirinya sendirilah, kita dapat menilik sekaligus mengkonfirmasi sisi kemanusiaan kita yang bersamasama kita punyai. Mematutmatut diri.
Dan pada lembar demi lembar buku ini, saya mengeja kejujuran itu: kejujuran kisah perjalanan ‘naik’ seorang insan merindukan Sang Sumber nun jauh di ‘atas’. Sebuah perjalanan naik yang "hanya dilakukan oleh ‘yang mau’ (murid) saja” (hal.27).
Dari segenap refleksi penulis mengenai perjalanan hidupnya, ini bagian yang paling estetis. “Saya suka filsafat. Filsafat adalah dunia saya. Awalnya, saya suka eksistensialisme, terutama Jean Paul Sartre. Sartre menyeret saya sampai di bibir jurang ‘kehampaan makna’. Rumi menyelamatkan saya!” (h.38).


Buku setebal 264 halaman ini, sarat ajaran sufistik. Ia juga menyinggung pelbagai ajaran filsafat dan agama lain. Berdiskusi menemukan titik temu. Ada pembahasan menarik di situ, yakni filsafat perennialisme, sebuah formula holistik guna mengentaskan krisis peradaban kekinian umat manusia.
Bagi mereka yang pesimis atawa sinis dengan ajaran sufistik yang diduga keras melestarikan doktrin fatalisme yang mendidik agar berlari dari perkara dunia, buku ini hadir mewartakan ihwal yang sama sekali lain.
“Sufi sejati,” begitu tertulis (h.39), “adalah mereka yang berteriak lantang di depan trinitarianisme sosial: penguasa penindas, pemodal tamak, dan para agamawan palsu.”
Secara garis besar buku ini merangkum tiga hal: melampaui pencarian jati diri atas dasar daya pikir belaka, namun tanpa menafikan daya pikir itu sendiri; menghimbau mengejar kebahagiaan sejati yang bersifat rohani-spiritual, namun tanpa mengabaikan begitu saja jasmani-materil; meyakini keberadaan Tuhan tanpa semata berlandaskan wahyu belaka, namun pula diperkokoh dengan pencarian rasional dan spiritual.
Penulis mengantarkan kita pada penegasan eksistensi diri dengan mengatasi dua slogan filosofis: “Aku berpikir, maka aku ada” dan “Aku ada, maka aku berpikir”.
Lalu? “Aku tiada, maka aku ada.”
Indah dan berlimpah permenungan mendalam. Untuk menjelaskan buku ini dalam satu kalimat, saya kira kidung ini adalah tepat, “Dan (juga) pada dirimu sendiri, tidakkah kamu perhatikan?” (QS. 51:21).
Buku ini baik dibaca siapa saja yang tengah dihantui keingintahuan jawaban atas pertanyaan dasar kehidupan:
“Siapakah aku?”,
“Dari mana asalku?,
“Apa yang harus kulakukan?”,
dan “Kemana aku hendak menuju?” (h.131)
Di tengah penampakan kekinian wajah Islam yang murung, gersang dan murka durjana, buku ini menemukan momentumnya. Ia menghadirkan dimensi lain dari Islam yang sejuk, spiritual. Anda yang diamdiam jengah merasakan krisis tersebut, juga berhak tahu isi ini buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…