Sabtu, 04 Maret 2017

Tengok



Kalau ada buku yang harus kupilih sebagai buku favorit, maka itu adalah buku diary. Buku diary, dengan pengertian tertentu, terhimpun oleh luapan kejujuran si penulis ihwal dirinya.
Pada perbincangan mendalam seseorang kepada dirinya sendirilah, kita dapat menilik sekaligus mengkonfirmasi sisi kemanusiaan kita yang bersamasama kita punyai. Mematutmatut diri.
Dan pada lembar demi lembar buku ini, saya mengeja kejujuran itu: kejujuran kisah perjalanan ‘naik’ seorang insan merindukan Sang Sumber nun jauh di ‘atas’. Sebuah perjalanan naik yang "hanya dilakukan oleh ‘yang mau’ (murid) saja” (hal.27).
Dari segenap refleksi penulis mengenai perjalanan hidupnya, ini bagian yang paling estetis. “Saya suka filsafat. Filsafat adalah dunia saya. Awalnya, saya suka eksistensialisme, terutama Jean Paul Sartre. Sartre menyeret saya sampai di bibir jurang ‘kehampaan makna’. Rumi menyelamatkan saya!” (h.38).


Buku setebal 264 halaman ini, sarat ajaran sufistik. Ia juga menyinggung pelbagai ajaran filsafat dan agama lain. Berdiskusi menemukan titik temu. Ada pembahasan menarik di situ, yakni filsafat perennialisme, sebuah formula holistik guna mengentaskan krisis peradaban kekinian umat manusia.
Bagi mereka yang pesimis atawa sinis dengan ajaran sufistik yang diduga keras melestarikan doktrin fatalisme yang mendidik agar berlari dari perkara dunia, buku ini hadir mewartakan ihwal yang sama sekali lain.
“Sufi sejati,” begitu tertulis (h.39), “adalah mereka yang berteriak lantang di depan trinitarianisme sosial: penguasa penindas, pemodal tamak, dan para agamawan palsu.”
Secara garis besar buku ini merangkum tiga hal: melampaui pencarian jati diri atas dasar daya pikir belaka, namun tanpa menafikan daya pikir itu sendiri; menghimbau mengejar kebahagiaan sejati yang bersifat rohani-spiritual, namun tanpa mengabaikan begitu saja jasmani-materil; meyakini keberadaan Tuhan tanpa semata berlandaskan wahyu belaka, namun pula diperkokoh dengan pencarian rasional dan spiritual.
Penulis mengantarkan kita pada penegasan eksistensi diri dengan mengatasi dua slogan filosofis: “Aku berpikir, maka aku ada” dan “Aku ada, maka aku berpikir”.
Lalu? “Aku tiada, maka aku ada.”
Indah dan berlimpah permenungan mendalam. Untuk menjelaskan buku ini dalam satu kalimat, saya kira kidung ini adalah tepat, “Dan (juga) pada dirimu sendiri, tidakkah kamu perhatikan?” (QS. 51:21).
Buku ini baik dibaca siapa saja yang tengah dihantui keingintahuan jawaban atas pertanyaan dasar kehidupan:
“Siapakah aku?”,
“Dari mana asalku?,
“Apa yang harus kulakukan?”,
dan “Kemana aku hendak menuju?” (h.131)
Di tengah penampakan kekinian wajah Islam yang murung, gersang dan murka durjana, buku ini menemukan momentumnya. Ia menghadirkan dimensi lain dari Islam yang sejuk, spiritual. Anda yang diamdiam jengah merasakan krisis tersebut, juga berhak tahu isi ini buku.
Load disqus comments

0 komentar