Sabtu, 27 Mei 2017

Islam, Tuhan, dan Manusia

Meningkahi usianya yang akan memasuki 60 tahun, Haidar Bagir mengumpulkan tulisantulisannya selama satu dekade terakhir. Melalui proses koleksi-seleksi-eliminasi-publikasi lahirlah ini buku.
“Kalaupun saya menulis biografi, maka saya katakan kepada temanteman, bentuknya adalah semacam-istilah saya sendiri-‘mistakografi’ atau ‘errografi’,” tulis Haidar, yang sesungguhnya, keberatan ulang tahunnya dirayakan (h.xxvi).
Keterbitan buku ini, agaknya, menghadirkan sebuah ironi. Apa pasal? Begini. Pada bab I, ada sebuah tulisan berjudul “Dunia Kita yang Sedang Meluruh”. Tulisan tersebut merupakan karya perdana Haidar yang dimuat Harian Kompas pada tahun 1985 alias 32 tahun silam.

Dalam tulisan tersebut, Haidar mengutip beberapa pandangan futurolog, di antaranya, John Naisbitt, Marylin Ferguson, dan Alvin Toffler, mengenai tarik ulur antara pesimisme dan optimisme untuk melihat kondisi dunia yang mengalami peluruhan.
Peluruhan ini ditandai dengan kondisi “…telah tercabikcabik, seperti partikel-partikel sosial kemanusiaan yang sedang menggandakan (membelah) diri menjadi bagian-bagian penyusunnya, yakni suku, klan, fundamentalisme keagamaan segala agama, geng kota, kelompok maut, gerakan teroris dan gerilya, serta kelompok yang mementingkan diri lagi berang,” (h.18).
Dan ironi pun menyembul dari kenyataan bahwa Haidar kala itu, agaknya, berusia 28 tahun, yang bertanya seperti ini, “Lalu, apa yang mesti kita perbuat sebagai suatu bangsa menghadapi segala kedahsyatan ini, supaya semuanya itu tak hanya menampilkan ketakberdayaan kita?” (h.24).
Apa artinya? 30 tahun lebih sudah berlalu, saat persoalan tersebut telah dipolemikkan. Dan agaknya kita memang tak beranjak kemanamana. Rajin mengulang kesalahan yang ituitu saja.
Pada situasi sepert itulah, Haidar mengajukan tawaran, spiritualisme menemukan momentum kehadirannya. Inilah yang, agaknya, melambari gerak hidup selanjutnya Haidar dalam menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama: Mengembalikan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat maupun pemikiran dan penghayatan Islam di kalangan umat Islam di Indonesia.
Ini terutama dalam merespon keangkuhan sains kekiwarian. “Di Dunia Islam, kenyataan pelepasan sains dari filsafat keagamaan ini bahkan lebih buruk lagi,” tulis Haidar mengenang kemajuan sains Islam, (h.94-95), “…Metode kritis dan analitis serta kekayaan kosmologi filsafat yang dikombinasikan dengan semangat-dalam istilah Iqbal-antiklasik al-Qur’an ini telah terbukti telah menjadi kekuatan luar biasa bagi pengembangan sains di dunia Muslim pada masa itu.”
Tentu saja, spiritualitas di sini bukan spiritualitas yang mengilhami umat manusia mengistirahatkan akal lalu menjadi fatalistik: Yang memandang dunia secara pesimis, yang menduga Tuhan adalah raja yang gila puji dan hormat, dsb.
Bukan pula spiritualitas yang melepaskan diri dari cangkangnya, agama. Meski kita tahu, agama seringkali dipakai untuk membodohi dan membohongi umat, yang pada gilirannya menampilkan agama sebagai yang berwajah suram bagi peradaban.
Buku ini diawali oleh, sebut saja, ‘Manifesto Keberagamaan Haidarbagirian’, berjudul “Aku dan Islamku…” (h.xii-xxiv). Ada sepuluh poin di situ. Selebihnya, sampai halaman 271, agaknya, hanyalah penjelasan lebih lanjut atawa bahkan catatan kaki dari Manifesto tersebut.
Marilah kuajak mencicipi secuil dari Manifesto poin pertama. Begini bunyinya:
“Aku percaya bahwa akal adalah anugerah-Nya yang menjadikan manusia makhluk paling mulia (ahsan taqwim). Maka, aku bahkan akan melepaskan segenap keyakinan-keislamanku dari segala bentuk otoritas tafsir atas Islam yang tidak sesuai dengan akalku, termasuk otoritas keulamaan. Toh, otoritasotoritas keulamaan itu juga berbeda pendapat juga…” (h.xii).
Buku ini, kiranya, akan kian bertenaga bila kita menyingkirkan sejenak ungkapan pakar semiotika, Roland Barthes, bahwa ‘penulis telah mati’. Haidar Bagir, besar kemungkinan, adalah sosok pemikir yang darurat untuk diperbanyak, digugu-tiru. Ia sosok yang mampu memakcomblangkan alias memadu-padankan antara dua aspek yang kerap diduga bertentangan, keilmuan dan kewirausahaan.
Kemampuan tersebut, agaknya, memang disadari Haidar. Misalnya, ketika ia mengkomparasikan antara dua pendekar Fiqh, Imam Syafi’i dan Imam Abu Hanifah.
“Berbeda dengan Imam Syafi’i yang dikenal sebagai ‘abid (ahli ibadah) yang saleh, yang sangat detail dan berhati-hati dalam hal istinbath (perumusan) hukum-hukum ibadah, Imam Abu Hanifah yang berprofesi pedagang justru lebih detail dan rumit dalam hal hukum-hukum yang terkait mua’malah (hubungan transaksional),” (h.127).
Bila dikaitkan dengan diri Haidar, seolaholah, ia ingin berbagi nasihat, “Kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual adalah bagian dari kemerdekaan ukhrawi. Kecerdasaan finansial adalah kemerdekaan duniawi. Antara keduanya tak perlu ada dikotomi.”
Meski dikumpulkan dari pelbagai sumber dan ditulis dalam rentang waktu dan kondisi yang berbedabeda, namun kumpulan tulisan ini membentuk jalinan satu kesatuan yang indah. Niatan penulis untuk menggebuk sikap fanatisme dalam beragama mewarnai lembar demi lembar ini buku.
Buku ini hanya punya dua masalah yang sungguh tidak terlalu serius. Pertama, penggunaan kata ganti orang pertama (pronoun) pada beberapa bab tak konsisten. Sesekali ‘aku’, sesekali ‘saya’. Namun, masalah ini kiranya tak berarti bila dipahami bahwa buku ini memang merupakan kumpulan tulisan yang diambil dari pelbagai sumber.
Kedua, beberapa penggunaan transliterasi tak sesuai dengan aturan main bahasa aslinya. Misalnya, pada kalimat “…aku juga yakin bahwa banyak juga teks-teks (nashsh).” ‘Nashsh’ artinya satu teks. Sedangkan ‘nushÅ«sh’lah yang bermakna jamak, teksteks (h.xxi).
Generasi muda yang tergelitik memahami Islam non-sektarian, rahmah lil 'alamin, perlu menyeksamai pergulatan spiritual-intelektual kakek ini. Tidak menggurui, apalagi mendoktrin.
Buku ini memaksa kita agar saling mencintai sesama manusia, sesama makhluk Tuhan. Meskipun kita tak pernah bosan secara suka rela untuk saling membenci, atas nama Tuhan pula.
Load disqus comments

0 komentar