Langsung ke konten utama

Argumentasi Pluralisme Agama



Dulu, Utsman bin Affan melalui kekuatan politiknya menunggalkan Al-Qur’an. Pelbagai Al-Qur’an milik sahabat yang berbeda dari mushaf versi Utsman diberangus. Salah satu alasan penunggalan tersebut adalah pertikaian para sahabat akibat perbedaan versi Al-Qur’an, terutama ihwal bacaan. Padahal, para sahabat tersebut juga hidup bersama dan menerima langsung (talaqqi) Al-Qur’an dari Muhammad.


Panitia seleksi ayat untuk pembukuan (kodifikasi) Al-Qur’an pada waktu itu, agaknya, tak pernah menduga bila beberapa ayat yang mereka loloskan untuk menjadi bagian dari Al-Qur’an yang dapat kita baca saat ini, di kemudian hari menjadi dalil suci guna merayakan pertikaian. Suatu perkara yang dahulu melambari mereka menegaskan penunggalan.



Di kemudian hari beberapa ayat Al-Qur’an Mushaf Utsmani menjadi amunisi pengikut Muhammad untuk mempersonanongratakan ‘yang liyan’. Ini terutama ketika pengikut Muhammad yang di kemudian hari berubah menjadi komunitas distingtif kaum beriman. Agama baru. Islam nama agamanya, Muslim sebutan anggotanya.

Kukutipkan beberapa ayatayat polemik itu. Sedikit saja. Bukalah Al-Qur’an, banyak di sana. Terutama kepada dua agama seniornya: Yahudi dan Nasrani. 

“Orangorang Yahudi dan Nasrani tiada pernah akan bahagia kepadamu sampai kamu mengikuti millat mereka…” (QS al-Baqarah [2]: 120)

“Mereka jadikan oranorang alimnya, dan rahibrahib mereka sebagai Tuhan selain Allah, dan juga (sebagian) mereka memper-Tuhan-kan al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya diperintah menyembah Tuhan Maha Esa…..” (QS al-Tawbah [9]: 31).

Selain dua contoh di atas, masih banyak ayatayat polemik dalam Al-Qur’an. Lalu, bagaimana memahami ayatayat di atas, sementara pada ayatayat lain terpampang nyata bahwa Tuhan sendirilah pelaku utama bagi terselenggaranya perbedaan agama? 

Pada ihwal inilah buku setebal 441 halaman ini bekerja. Ia memahamkan kita ihwal penjelasan lebih lanjut ayatayat di atas yang selama ini agaknya hanya menjadi Pekerjaan Rumah yang tidak dikerjakan. Buku ini menuntaskan PR tersebut.

Selain ihwal di atas, buku ini juga membahas beberapa kosakata Qur’ani yang paling favorit dalam dunia percacimakian, yakni: kafir, murtad, dan musyrik. Sesungguhnya, masingmasing kata tersebut punya makna otentik yang terlalu penting untuk tidak dipahami.

Semisal, buku ini mengeksplorasi wawasan lebih lanjut mengenai arti murtad secara spesifik. Murtad atawa riddah bukan keluar dari agama lalu masuk agama lain, melainkan bentuk pemberontakan ataupun aksi separatisme terhadap Negara. Ancaman pembunuhan bagi orang Murtad lebih merupakan ‘manifestasi politik’, dan bukan ‘manifestasi iman’ (h.237).

Meski bersifat teologis, bila tiga kosakata tersebut dipahami secara baik, akan berimplikasi positif bagi peta sosial-politik kita. Terutama guna meredam kebisingan yang kontraproduktif pada hampir setiap pagelaran pilkada/pres demokrasi elektoral kita.

Apakah konsep toleransi agama semata proyek intelektual Amerika dan Barat demi meredam upaya balas dendam kebangkitan umat Islam atas imperialisme dan kolonialisme di masa lalu? Tidak demikian kiranya.

Konstruksi perbincangan pluralisme agama dalam buku ini diracik dari rahim intelektualitas umat Islam sendiri. Bertabur pada lembar demi lembar buku ini referensi kitab kuning, dari klasik hingga kontemporer. 

Tiada syak, pluralisme bukan barang baru dari tradisi dan agama manapun yang padanya umat Islam hanya membebek. Senyatanya, Islam punya konsep pluralisme yang argumentatif.

Sebagai celoteh tambahan. Jika benar bahwa penguasaan terhadap gramatika bahasa Arab merupakan prasyarat utama untuk memahami agama Islam, maka penulis buku amatlah otoritatif. Dulu, saat mengikuti mata kuliah yang diampu penulis buku ini, Ulumul Qur’an, beliau kerap kali saat mendedah hukum bacaan teks bahasa Arab seraya merapalkan syairsyair klasik Ilmu Nahwu, salah satunya dari Kitab Alfiyyah!

KataKita penerbitnya. Judulnya begitu gamblang: Argumentasi Pluralisme dalam Al-Qur'an. Diprologi KH. Husein Muhammad, diepilogi Gus Dur, buku ini pun menjadi kian berenergi. Ini karya serius hasil disertasi program doktoral di UIN Ciputat. Buku ini punya kandungan informasi yang begitu ciamik untuk mewujudkan Islam yang kasih sayangnya berkesejagatan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengertian Agama

A.Pengertian Agama

Para pakar memiliki beragama pengertian tentang agama. Secara etimologi, kata “agama” bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan diambil dari istilah bahasa Sansekerta yang menunjuk pada sistem kepercayaan dalam Hinduisme dan Budhisme di India. Agama terdiri dari kata “a” yang berarti “tidak”, dan “gama” berarti kacau. Dengan demikian, agama adalah sejenis peraturan yang menghindarkan manusia dari kekacauan, serta mengantarkan menusia menuju keteraturan dan ketertiban.
 Ada pula yang menyatakan bahwa agama terangkai dari dua kata, yaitu a yang berarti “tidak”, dan gam yang berarti “pergi”, tetap di tempat, kekal-eternal, terwariskan secara turun temurun. Pemaknaan seperti itu memang tidak salah karena dala agama terkandung nilai-nilai universal yang abadi, tetap, dan berlaku sepanjang masa. Sementara akhiran a hanya memberi sifat tentang kekekalan dankarena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

Akal dan Wahyu dalam Islam

A.Pendahuluan
Di dalam ajaran agama yang diwahyukan ada dua jalan untuk memperoleh pengetahuan, pertama, jalan wahyu dalam arti komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua jalan akal, yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.
Makalah ini akan mencoba membahas kedua hal tersebut. Sebuah topik pembahasan yang sarat dengan dialektika para ulama, baik yang terdahulu hingga kini; sebuah telaah sederhana guna mencoba memahami pemikiran-pemikiran ulama terdahulu yang telah terlebih dahulu hanyut dalam perdebatan panjang.

Awal Masuknya Islam ke Indonesia

Agama Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali ke Indonesia. Ada banyak teori dan pendapat yang terdapat pada kisah masuknya ajaran Islam ke Indonesia. Berikut ini dipaparkan teori dan pendapat para sejarawan asal mula masuknya Islam ke Indonesia.  
Masuknya Islam ke Indonesia
Masalah masuknya Islam ke Indonesia  dan dari daerah atau negara mana Islam datang, banyak teori yang dikemukakan oleh para ahli sejarah. Pertama, Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriah atau abad ke-7. Di antara ilmuwan yang menganut teori ini adalah, J.C. Van Leur, Hamka, Abdullah bin Nuh, D. Shahab dan T.W Arnold.
Menurut J. C. Van Leur, pada tahun 675 di pantai Barat Sumatera telah terdapat perkampungan Arab Islam. Dengan pertimbangan bangsa Arab telah mendirikan perkampungan perdagangannya di Kanton pada abad ke-4. Perkampungan perdagangan ini mulai dibicarakan pada tahun 618 M dan 628 M. Tahun-tahun berikutnya perkembangan perkampungan perdagangan ini mulai mempraktikan ajara…